Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Agama Kristen. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Agama Kristen. Tampilkan semua postingan

    Pemuda Papua Siap ‘berjihad’ Menolak dan Melawan Jihad FUI

    Pemuda Papua Siap Menolak dan Melawan Jihad FUI

    Ketua Forum Gerakan Pemuda Baptis Papua (FGPBP), Turius Wenda mewakili organisasi kepemudaan Kristen di Tanah Papua menyesalkan pernyataan provokatif yang menyesatkan dari Forum Umat Islam (FUI) pada 23 Desember 2011 yang menyatakan akan berjihad untuk ‘mempertahankan’ Papua.

    Menurut Turius, penanganan konflik di Papua sebenarnya dapat di selesaikan oleh pemerintah Indonesia, sehingga tidak ada organisasi atau lembaga manapun secara sepihak dapat intervensi pemerintah khususnya untuk penyelesaian masalah Papua.

    “Harusnya mereka [FUI] mengerti dan memahami akar persoalan Papua. kalau tidak tahu persoalan papua jangan omong sembarangan. karena pernyataan begini bisa berakibat fatal atau mengarah pada konflik SARA atau konflik agama.” ujarnya di Jayapura, pada Senin (26/11/2011).

    Selain itu menurutnya, masalah Papua sesungguhnya bukan masalah makan – minum yang sering mereka [FUI] alami di daerah mereka, namun ini adalah masalah ideologi dan sejarah integrasi yang penuh kontrovesi dan muslihat. Sehingga wajar jika masalah Papua tidak bisa menyelesaikan dengan cara – cara kekerasan atau melalu jihad yang sering kali di dengungkan oleh kelompok-kelompok radikal yang bernafsu melakukannya demi cita-citanya membuat negara ini menjadi negara islam.

    Lanjutnya, pernyataan ‘berjihad di Papua’ yang di lontarkan Ketua Dewan Penasehat FUI Habib Rizieq Shihab, Muhammad Al Khathath dan Mantan Ketua YLBHI Munarman adalah satu pukulan berat dan pernyataan yang sangat diskriminatif bagi kaum beragama minoritas di Indonesia terutama umat Kristen di Papua

    “Kerukunan umat beragama di Papua sudah terjalin dan terpelihara dari dulu, sehingga siapun yang membongkar dan merongrong kerukunan ini, maka semua orang yang hidup di Papua harus melawan dan menolak isu berjihad seperti statement FUI beberapa waktu lalu.” tegasnya.
    Disayangkan karena pernyataan ini hanyalah komentar tanpa dasar yang dapat memicu sentimen agama. Sentimen ini dapat dilihat dari aksi mereka selama ini di Ambon, Maluku. Isu yang mereka angkat di Maluku adalah aksi yang mereka cap sebagai aksi ‘melawan RMS’ yang mereka asosiasikan dengan umat Kristen di Maluku. Apalagi melihat pernyataan mereka yang secara membabi buta menuduh gereja di Papua serta Vatikan sebagai pendukung pelaksanaan referendum Papua.

    Sebab baginya, para tokoh Papua dan tokoh Gereja bersama elemen pencinta perdamaian sedang berupaya untuk menyelesaikan konflik Papua dengan cara damai dan bermartabat, sehingga umat Kristen di Papua tidak akan memberi satu celah untuk menghidupkan lagi cara-cara kekerasan yang hanya merugikan warga Papua. termasuk diantaranya pendekatan jihad islam dan kekerasan militerisme.


    Pemuda Papua siap ‘berjihad’
    Dengan tegas Turius Wenda mengatakan, “jika seruan jihad dan kekerasan direalisasikan di Papua maka para pemuda dari semua elemen umat beragama di Papua akan tegas menolak dan melawan”.
    Kami juga menghimbau kepada semua umat beragama di Papua jangan mudah terporvokasi isu SARA dan jihad di Papua, dan diharapkan untuk menciptakan rasa damai dan keamanan setiap dimanapun kita berada, karena Tanah Papua adalah tanah damai.

    Senada dengan Turius, Buctar Tabuni, Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menyatakan siap berjihad melawan para intoleran yang ingin merongrong kedamaian di Papua.
    “Kami di Papua siap berjihad, apabila Forum Umat Islam mau berjihad di Papua.” ujarnya via seluler kepada Suara Babtis Papua, pada Selasa, (27/11/2011).
    Tabuni menambahkan, pernyataan gila Forum Umat Islam itu akan dilawan agar tidak terjadi Papua. Sebab, kalau terjadi di Papua, maka akan berakibat konflik agama.

    Mohon Doa Restu Pembangunan Kantor Klasis Walak (GKIP) di Yalengga, Wamena Papua

    Mohon Doa Restu Pembangunan Kantor Klasis Walak (GKIP) di Yalengga, Wamena Papua

    Kantor Klasis Walak (GKIP) di Yalengga, Wamena- Papua. Kantor Klasis Walak yang sedang dalam penyelesaian pembangunan sekitar 10 persen lagi. Tolong doakan dalam proses penyelesaian sekitar 10% pembangunan. Harapa akhir tahun ini diresmikan. 
    Kantor Klasis Walak (GKIP) di Yalengga, Wamena- Papua.

      Pdt. Otopianus Kilungga (Ketua Klasis Walak GKIP)

    umat Islam yang mengucapkan selamat Natal hukumnya haram.

    Atribut natal
    Atribut natal


    'Ulama yang Izinkan Ucapkan Selamat Natal Harus Syahadat Lagi'

    REPUBLIKA.CO.ID,TEBET–Ucapan selamat Natal selalu menjadi kontroversi di kalangan ulama dan masyarakat.

     

    Salah satu pendapat kontra seperti yang disampaikan oleh Koordinator Gerakan Masyarakat  Jakarta KH Endang. “Ulama yang mengizinkan umat Islam mengucapkan selamat Natal harus syahadat lagi,” ujarnya, Selasa (23/12).

    Konteksnya, Kiai Endang menyindir mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafi’i Maarif dan pengasuh Ponpes Tebuireng KH Salahudin Wahid yang akrab dipanggil Gus Solah.
    Pelarangan ucapan selamat Natal, ujarnya, sudah ada dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dikeluarkan Buya Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Hamka) pada 7 Maret 1981. Dalam fatwa itu, umat Islam yang mengucapkan selamat Natal hukumnya haram.
    Dalam fatwa tersebut juga berisi larangan penggunaan atribut Natal. Hingga kini pun, fatwa tersebut belum dicabut.

    Selain menyuruh syahadat lagi, Ketua Umum MUI Din Syamsuddin dimintanya untuk memperdalam agama Islam lagi. “Tanya ke orang yang mengerti,” katanya. Sumbernya KLIK DISINI

    Namun "Hidayat Nur Wahid" mengatakan : Islam Harus Toleran dengan Umat Kristen yang Rayakan Natal.


    Ketua Umum MUI Din Syamsuddin menyatakan bahwa umat Muslim tidak dilarang untuk mengucapkan selamat Natal kepada kaum Kristiani. Pernyataan serupa juga dinyatakan oleh Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

    "Secara prinsip kan Indonesia saling toleransi, oleh karena itu Islam jangan mengganggu saudara-saudara Kristiani yang merayakan Natal. Di Islam sendiri kan tak membolehkan kita mengganggu kepercayaan orang lain," ujar Hidayat kepada wartawan, Selasa (23/12/2014).

    Hendaknya, menurut Hidayat, sikap toleransi dilakukan bersama-sama. Dia pun mengimbau agar tidak ada pihak yang memaksa umat Muslim untuk ikut merayakan Natal.

    "Jadi jangan sampai ada pemaksaan, misalnya ada umat Muslim diwajibkan pakai pakaian Santa Klaus. Tapi kalau tidak keberatan ya tidak apa-apa. Toh, waktu Idul Fitri pun kita tak memaksa saudar-saudara agama lain untuk pakai jilbab. Marilah kita saling menjaga rasa toleransi bersama-sama," tutur Hidayat.

    Anggota Majelis Syuro PKS ini berharap suasana Natal tetap tenang sehingga kaum Kristiani dapat beribadah dengan khusyuk. Menurut dia, Islam adalah agama yang cinta damai.

    "Jadi jangan dibikin suasana seolah akan ada apa-apa. Mari kita jaga bersama. Kemudian kalau soal ucapan, itu memang sebagian pihak masih memperdebatkan. Jadi jangan ikut masuk dalam perdebatan itu," pungkas Hidayat.

    Sumbernya KLIK DISINI
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif