Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Informasi Wanita SPG Bokingan. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Informasi Wanita SPG Bokingan. Tampilkan semua postingan

    Wah SPG cantik ini ternyata Bisa Dibooking, Tarif 10 juta

    Wah SPG cantik ini ternyata Bisa Dibooking, Tarif 10 juta


    Seorang gadis muda membusungkan dadanya saat beberapa pengunjung Indonesia International Motor Show (IIMS) memotretnya, Sabtu (20/9/2014). Bersama tiga rekan sesama sales promotion girl (SPG), dia berpose di depan mobil mewah di salah satu hall di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat.

    Nia (nama samaran) tak sungkan menunjukkan kemolekan tubuhnya sambil terus mengumbar senyum. Dengan balutan dress putih ketat di atas lutut dan tanpa lengan, lekuk tubuh Nia terlihat jelas.

    Mahasiswa perguruan tinggi swasta di Jakarta ini mengaku, menjadi SPG hanya batu loncatan untuknya. "Kalau beruntung, jadi model atau artis. Kalau tidak, ya gitu deh," kata Nia.

    Ia mengatakan, dalam pameran otomotif terbesar di Indonesia ini, banyak agency model yang berburu wanita cantik dengan mengamati para SPG untuk menjadi model mereka. Selain itu, banyak pula pria berduit yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajak para SPG berkencan.

    "Gue gak munafik. Kalau orangnya keren dan gue suka serta bayarannya gede, kenapa enggak, gue ambil, dan gue kasih PIN BB gue," katanya.

    Selama 11 hari pameran IIMS itu, Nia mengaku dibayar Rp 10 juta atau Rp 1 juta per shift (6 jam) dalam sehari. Bayaran itu di luar uang makan dan transportasi yang ditanggung produsen mobil yang mengontrak Nia dan rekan-rekannya.

    "Sebelas hari berdiri di pameran dibayar Rp 10 juta, sementara nemenin cukong seharian dan 'begituan' dibayar Rp 10 juta. Enakan mana coba? Makanya gue bilang gue gak munafik, apalagi kalau orangnya keren, he-he-he," kata Nia seraya tertawa kecil.

    Nia mengatakan, tak sembarang pria dapat mengajaknya tidur atau berkencan. "Gue milih-milih juga. Kalau bayaran standar dan orangnya gue gak suka, gue tolak," ujarnya.

    Menurut Nia, beberapa rekannya melakoni hal yang sama dengannya. "Tetapi gue gak mau dibilang PSK. Gue memilih orang dan lihat orang. Bayarannya juga tentunya," kata dia.

    Biasanya, dia mengatakan, transaksi seks akan dijalani seusai IIMS berakhir. "Kenalnya memang di IIMS, tetapi jalannya setelah IIMS kelar dong," katanya. Alasan dia, selama kontrak menjadi SPG di IIMS, mereka tak boleh absen selama 11 hari itu. "Kalau bolong sehari, potongannya lumayan gede, sampai Rp 2 juta," kata dia.

    Nia sudah menjadi SPG di IIMS untuk yang kali kedua. "Tahun lalu juga jadi SPG di sini. Beberapa teman direkrut jadi model, tetapi gue belum. Teman lain ada yang jadi simpanan pejabat juga," ujarnya.

    Operator telepon seks juga bisa diajak kencan plus


    Operator telepon seks juga bisa diajak kencan plus 
     
    Merdeka.com - Para wanita operator telepon seks tak hanya jago berbicara mesum lewat telepon. Selain pintar membuai pria berlama-lama menelepon, sebagian besar mengaku bisa diajak bertemu di luar dan diajak berkencan.

    Selesai mengobrol lewat layanan premium, biasanya mereka langsung menawari konsumennya untuk berkenalan lebih jauh.

    "Kalau mau ngobrol lagi. Abang telepon aja HP saya. Nanti kita ketemu di mal. Terus nanti, ya nanti abang tahulah," kata Selvi, seorang operator telepon seks saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (23/3).

    Selvi menyebutkan nomor teleponnya dan tempat dia biasa bertemu klien. Sebuah mal di Jakarta Barat. Tapi dia mengaku pilih-pilih teman, tak cuma mencari uang.

    "Kalau orangnya bersih, terus enak diajak ngobrol sama sopan, saya baru mau. Nggak jarang juga saya tolak, pura-pura ke toilet padahal saya tinggal pergi," kata lajang berusia 22 tahun ini.

    Selvi mengaku memasang tarif Rp 500 ribu sekali main, di luar biaya hotel. Dia juga mengaku bukan pekerja seks komersial, karena tak semata-mata mencari uang.

    "Kalo aku gak asal dikasih uang mau. Lihat-lihat dulu. Kalau PSK kan asal ada uang sikat aja," kilahnya.

    Menurutnya kencan plus ini lumayan untuk menambah penghasilan. Selvi bercerita sebagai operator telepon seks premium, gajinya hanya Rp 1 juta. Tentu jumlah ini tak cukup. Dia mengaku bisa melakukan kencan plus dua atau tiga kali sepekan.

    "Ya lumayan buat nongkrong atau beli lipstick," katanya.

    Operator di tempat lain, Sari (31), mengaku melakukan hal serupa. Sari lebih terang-terangan soal kencan plus itu. Menurutnya daripada lama-lama mengobrol di telepon, dia pilih untuk menemui kliennya di luar.

    "Sekarang kita kerja jadi operator, orang nelepon lama yang untung bos-bos kita. Kita nggak dapet apa-apa. Bonus juga kecil. Kalau main di luar kan lumayan untuk tambah-tambah. Gitu sayang," katanya setengah merayu.

    Sari mengaku sudah hampir setahun bekerja sebagai operator telepon seks. Seperti layanan telepon premium lain, tarif telepon seks ini membuat kantong jebol. Untuk mendengar rayuan dan desahan mereka, tarif telepon Rp 1.700 per 30 detik. Silakan kalikan jika mengobrol 20 menit.

    "Tapi gaji aku cuma Rp 800 ribu. Bonus juga kadang cuma Rp 100 ribu. Ada kesempatan kenalan sama cowok ganteng udah gitu enak dan dapet uang. Ya jalanin aja," katanya.

    Sari mengaku memasang tarif Rp 1 juta sekali berkencan. Tapi menurutnya jumlah itu masih bisa ditawar.

    "Ya pokoknya ketemu dulu aja. Nanti sekalian ngobrolin harga biar lebih enak," kata wanita yang mengaku janda ini.
    [war]
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif