Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

    Misi Terselubung Islamisasi Papua oleh Dakwah AFKN


    Misi Terselubung Islamisasi Papua

    Anak2 Papua
    Saat ini dakwah Islam di Papua makin gencar. Buku Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua) yang ditulis Ali Atwa menyebut, bahwa Islam yang pertama ada di Papua, bukan Kristen. Tahun 1997, pernah ada seminar di Kabupaten Fakfak dan di Jayapura  menyebutkan, sebelum para misionaris Kristen menginjakkan kakinya di Tanah Papua, katanya, sudah terlebih dahulu muballigh Islam hadir di sana.

    “Islam masuk pertama kali di bagian barat Papua. Di Fak Fak, jumlah Muslim hampir separuh populasi.” Kabupaten Fakfak sendiri yang memiliki luas wilayah 38.474 km2 dan berpenduduk sebanyak 50.584 jiwa, justru sangat kental dengan Islam.

    Saksi bisu sejarah Islam, Masjid Patimburak, hingga kini masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya. “Dulu di sini ramai, tapi satu-satu mereka pergi,” ujar Daud Iba, sekretaris kampung Patimburak. 

    Tetapi cerita di atas mengaburkan fakta lain. Sesungguhnya yang pertama agama Kristen Protestan di daerah Manokwari, tahun 1855 sudah jelas. Missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler datang menjadi missionaris. 

    Fadzlan merasa benar sendiri. “Orang Kristen tidak boleh cemburu. Yang seharusnya cemburu adalah umat Islam, karena selama ini umat Islam di Papua kurang sekali mendapat fasilitas. Justru yang sering mendapat fasilitas adalah mereka (Kristen), baik dari negara maupun hasil kekayaan alam negeri yang mereka ambil. Otsus itu mereka yang makan semua, sementara umat Islam tidak mendapat. Bukankah selama ini seluruh orang Kristen, misionaris dan gereja, menggunakan pesawat modern, tapi umat Islam tidak pernah menggangu. Kok dengan kapal kecil saja mereka cemburu. Tidak ada yang melarang. Yang jelas, saat ini belum ada gangguan terhadap dakwah AFKN.  Irian itu negeri Muslim kok,” katanya

    Kapal Dakwah AFKN Papua Gegerkan Aktivis Gereja

    Kapal Dakwah AFKN Papua Gegerkan Aktivis Gereja

    KAPAL AFKN Operasi di papua
    Beberapa waktu lalu (18/7), Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) baru saja melakukan serah terima kapal dakwah kepada AFKN di Putri Duyung, Ancol, Jakarta . Hadir dalam acara tersebut, antara lain: Ustadz Harry Moekti, Opick, Dr Bambang Sardjono dari Departemen Kesehatan, Dr Kholiqurrahman Raus DAP (Ketua Dewan Pembina AFKN), Djuwono Banukisworo (Senior Vice President BNI Syariah), Ustadz Ihsan Salam (Direktur BWA).

    Kapal Dakwah yang dinamakan AFKN Khilafah I itu berasal dari donatur umat Islam. Uang yang terkumpul tersebut dikoordinir oleh BWA melalui kegiatan penggalanan dana yang diberi tajuk “Papua Muslim Care” di Balai Kartini, Jakarta (9/1). Dana yang terkumpul pada malam itu, cukup fantastis, yakni, mencapai Rp 2 Milyar. 

    Selain kapal dakwah, BWA juga mengajak para donator untuk berkomitmen dalam  program wakaf khusus, dalam pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di pedalaman Papua, rencananya akan ditempatkan di Kaimana. Ini merupakan program jangka panjang untuk Muslim Papua.
    Kapal laut dakwah untuk Muslim Papua itu sendiri dibeli seharga Rp 600 juta. Kapal yang memiliki panjang 13,5 m dan lebar 3,3 meter ini mampu menampung 20 penumpang dan beban seberat 10 ton, juga dilengkapi standar keselamatan seperti rakit penyelamat, ringboy, karet pelampung serta alat komunikasi. Mengingat, perairan di Papua sangat luas, maka masalah transportasi menjadi sangat penting sebagai sarana dakwah.

    Jika sebelumnya, AFKN harus menyewa kapal dengan biaya yang sangat mahal, belum lagi bahan bakarnya. Per liter bisa dikenakan Rp 23 ribu. “Terkadang, kita harus berhari-hari mengarungi laut dengan perahu. Jika menyewa boat, biaya pun habis untuk bahan bakar. Padahal, amanah berupa sedekah dari umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia melalui AFKN harus disampaikan untuk Muslim Papua yang ada di pedalaman,” tutur Ustadz Fadzlan.

    Islamisasi Papua Semakin Gencar, Gereja, Pemuda, Tokoh Masyarakat Berdiam Diri

    Islamisasi Papua Semakin Gencar, Gereja Berdiam Diri

     Oleh: Turius Wenda



    Johan G Geissler

     "Dalam Nama Allah kami menginjak kaki di Tanah ini" Inilah Kalimat awal yang ucapkan oleh dua misionaris papua yakni Johan Gottlob Geissler dan C.W. Ottow, Pada tanggal 5 Februari 1855 dengan Kapal Ternate membuang sauhnya di depan pulau Manansbari (Mansinam) Manokwari -Papua barat).




    Perkembangan gereja masa kini, telah merakar di seantoro tanah papua, dan akhirnya orang papua telah mengenal injil Yesus Kristus sebagai keyakinan atau agama yang menjadi penganut mayoritas orang papua.




    Dengan masuknya injil di tanah papua, Umat Tuhan sepanjang itu berada dalam hidup damai dan telah mengenal Tuhan Yesus sebagai Penyelamat para akhirat.
    Samapai sekarang Gereja telah berkebang pesat dengan berbagai denominasi yang lahir di papua.



    Perebutan Papua


    Photo Ilustrasi POS TNI Puncak Jaya

    Tepanya 1945, Indonesia secara resmi memprokolamasikan Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh Ir. Sukarno. Namun papua saat itu masih dalam daerah penjajahan Belanda. 



    Setelah perang dunia II pecah dan issu komunis di asia tenggara memuncak, tanggal 1 mei 1963 secara administrasi belanda di desak oleh Amerika sebagai sekutu untuk melepaskan papua kepada indonesia atas perjanjian new york melaui UNTEA atau badan PBB yang mengurus persengketaan bangsa papua.



    Secara resmi papua di integrasikan melalui PBB atas dasar pelaksanaan PEPERA 1969, sekitar 24 atau 25 tahun dari 1945 setelah Indonesia merdeka taggal 17 agustus 1945.



    Ada agama lain di dunia



    Setelah bergabung dengan NKRI, barulah orang papua tahu bahwa ada banyak agama lain di dunia, ini setelah masuknya para imigran dari luar papua yang datang kepapua dan mengetahui kalau mereka  memeluk agama lain yakni agama islam.



    Sampai perkembangannya, di tahun 1970-an orang papua benar-benar di jajah di bawah otoritas Suharto sampai 1998. Kebebasan agama, kebebasan budaya, kebebasan hak hidup masyarakat papua saat itu benar-benar di bungkam dan di musnakan terbukti ada penghilangan sosiolog papua Arnol App dan lainnya.






    Setelah satu abad Lebih Telihat banyak agama berdatangan di Tanah Kristen Papua



    Integrasi ke papua kedalam Indonesia berhasil, secara otomatis 5 Agama berlaku seluruh Indonesia, termasuk papua, Papua yang dulunya hanya satu agama, kini menjadi 5 Agama secara nasinal. Penyebaran agama dengan legalitas 5 agama di indonesia, papua benar-benar target penyebaran agama secara terbuka bahkan target utama dalam perebutan tanah papua sebagai mayoritas agama Kristen. 

    Dengan dukungan finansial dari negara, khususnya agama islam telah melakukan berbagai upaya dalam penyebaran agama di papua. Buktinya banyak mesjid dan pesantren di mana-man di papua.



    Imigran dari luar papua yakni pemeluk agama Islam berdatangan tanpa kontrol dan menyebar ke seluruh papua. Misis penyebaran agama terus berlaju dan tersebar secara nyata bahkan gelap di papua hampir 50 tahun sejak integrasi papua kedalam NKRI.






    Acaman Penlenyapan Agama Kristen di Papua



    Papua sedang dalam ancaman besar. Wilayah berpenduduk mayoritas Kristen & Katolik sudah berada dalam target Islamisasi, yaitu proses peng-Islam-an orang-orang Kristen pedalaman yang minim pengetahuan tentang Kekristenan.



    Kegiatan AFKN di Papua

    Organisasi Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), lembaga Islam yang sedang berusaha menggencarkan Islamisasi di kota Injil. Pemimpin AFKN yaitu Ustadz Muhammad Zaaf Fadzlan Rabbani Al Garamatan atau yang lebih dikenal dengan Ustadz Fadzlan, pemilik Pesantren yang berada di wilayah Bekasi. Sebuah awal yang sungguh mencengangkan. AFKN telah membeli kapal khusus untuk menuju Papua demi suksesnya Islamisasi. 



    Kapal laut dakwah itu sendiri dibeli seharga Rp 600 juta. Kapal yang memiliki panjang 13,5 m dan lebar 3,3 meter ini mampu menampung 20 penumpang dan beban seberat 10 ton, juga dilengkapi standar keselamatan seperti rakit penyelamat, ringboy, karet pelampung serta alat komunikasi. Bahkan, sempat beredar kabar, AFKN akan membagikan 55 ribu Al-Qur'an yang siap disebar di seluruh Papua. Ustadz Fadzlan juga menyampaikan pendapatnya bahwa orang Kristen tidak perlu iri dengan strateginya






    “Ustadz Fadzlan Berkata: Orang Kristen tidak boleh cemburu. Yang seharusnya cemburu adalah umat Islam, karena selama ini umat Islam di Papua kurang sekali mendapat fasilitas. Justru yang sering mendapat fasilitas adalah mereka (Kristen), baik dari negara maupun hasil kekayaan alam negeri yang mereka ambil. Otsus itu mereka yang makan semua, sementara umat Islam tidak mendapat. Bukankah selama ini seluruh orang Kristen, misionaris dan gereja, menggunakan pesawat modern, tapi umat Islam tidak pernah menggangu. Kok dengan kapal kecil saja mereka cemburu. Tidak ada yang melarang. Yang jelas, saat ini belum ada gangguan terhadap dakwah AFKN.  Irian itu negeri Muslim kok,” katanya.


    Dia juga berkata “AFKN ingin membangun keadilan dengan cara mendatangi semua lembaga Islam, majelis taklim dan semua umat Islam, dan menyerukan umat Islam agar menyelamatkan Muslim Irian. Karena umat Islam Irian adalah bagian dari NKRI. Apa yang dilakukan AFKN adalah upaya untuk mendukung program pemerintah. Ketika umat Islam kurang mendapat perhatian dan fasilitas, maka AFKN ingin terlibat untuk membantu umat, khususnya muslim Papua.” Dan yang santer di pemberitaan media Islam, kepala suku Asmat Senansius Kayimtel masuk Islam beserta seluruh anggota keluarganya dan berganti nama menjadi Umar Abdullah Kayimtel pada tanggal 19 Februari 2012. Dan seperti tradisi yang berlaku di pedalaman Papua, seluruh anggota suku akan mengikuti agama pemimpinnya!





    Istilah Sebutan Papua NUU WAAR (PAPUA)



    Pengobatan Gratis AFKN Papua

    "Kegiatan yang rutin kami laksanakan setiap tahun ini merupakan bentuk sumbangsih AFKN dalam menyemai dakwah di bumi Nuu Waar (Papua)," kata ustadz kelahiran Fakfak ini.



    Menurut Ustadz Fadzlan Garamatan, ketua umum AFKN, kegiatan ini akan dilaksanakan di beberapa kabupaten dengan target peserta khitan sebanyak 8.000 orang Papua Akan di sunat.



    AFKN juga membagikan jilbab kepada muslimah di pedalaman Bumi Nuu Waar. ”Tahun ini, Jilbab yang bisa kita bagikan jumlahnya 1.700.000 jilbab. Sedangkan tahun sebelumnya sebanyak dua juta jilbab. Kegiatan ini semua dilakukan dalam rangka mengantarkan dakwah Islamiyah dengan memperbaiki tauhid saudara-saudara kita di Papua, baik yang sudah lama masuk Islam mau pun yang baru memeluk Islam, sehingga keimanan bertambah kuat,” jelasnya.






    Selain menyelenggarakan khitanan massal bagi 7500 warga di Bumi Nuu Waar, menurut Ustadz Fadzlan, saat ini AFKN juga sedang mengadakan pengobatan Tibbunnabawi (pengobatan ala Rasulullah saw). Diakuinya, banyak warga Nuu Waar yang selama ini mengonsumsi berbagai makanan yang tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw, yang akhirnya menjadi racun di dalam tubuhnya.



    Misi Terselubung Islamisasi Papua



    Anak2 Papua

    Saat ini dakwah Islam di Papua makin gencar. Buku Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua) yang ditulis Ali Atwa menyebut, bahwa Islam yang pertama ada di Papua, bukan Kristen. Tahun 1997, pernah ada seminar di Kabupaten Fakfak dan di Jayapura  menyebutkan, sebelum para misionaris Kristen menginjakkan kakinya di Tanah Papua, katanya, sudah terlebih dahulu muballigh Islam hadir di sana.



    “Islam masuk pertama kali di bagian barat Papua. Di Fak Fak, jumlah Muslim hampir separuh populasi.” Kabupaten Fakfak sendiri yang memiliki luas wilayah 38.474 km2 dan berpenduduk sebanyak 50.584 jiwa, justru sangat kental dengan Islam.



    Saksi bisu sejarah Islam, Masjid Patimburak, hingga kini masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya. “Dulu di sini ramai, tapi satu-satu mereka pergi,” ujar Daud Iba, sekretaris kampung Patimburak. 



    Tetapi cerita di atas mengaburkan fakta lain. Sesungguhnya yang pertama agama Kristen Protestan di daerah Manokwari, tahun 1855 sudah jelas. Missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler datang menjadi missionaris. 



    Fadzlan merasa benar sendiri. “Orang Kristen tidak boleh cemburu. Yang seharusnya cemburu adalah umat Islam, karena selama ini umat Islam di Papua kurang sekali mendapat fasilitas. Justru yang sering mendapat fasilitas adalah mereka (Kristen), baik dari negara maupun hasil kekayaan alam negeri yang mereka ambil. Otsus itu mereka yang makan semua, sementara umat Islam tidak mendapat. Bukankah selama ini seluruh orang Kristen, misionaris dan gereja, menggunakan pesawat modern, tapi umat Islam tidak pernah menggangu. Kok dengan kapal kecil saja mereka cemburu. Tidak ada yang melarang. Yang jelas, saat ini belum ada gangguan terhadap dakwah AFKN.  Irian itu negeri Muslim kok,” katanya





    Kapal Dakwah Papua Gegerkan Aktivis Gereja



    KAPAL AFKN Operasi di papua

    Beberapa waktu lalu (18/7), Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) baru saja melakukan serah terima kapal dakwah kepada AFKN di Putri Duyung, Ancol, Jakarta . Hadir dalam acara tersebut, antara lain: Ustadz Harry Moekti, Opick, Dr Bambang Sardjono dari Departemen Kesehatan, Dr Kholiqurrahman Raus DAP (Ketua Dewan Pembina AFKN), Djuwono Banukisworo (Senior Vice President BNI Syariah), Ustadz Ihsan Salam (Direktur BWA).




    Kapal Dakwah yang dinamakan AFKN Khilafah I itu berasal dari donatur umat Islam. Uang yang terkumpul tersebut dikoordinir oleh BWA melalui kegiatan penggalanan dana yang diberi tajuk “Papua Muslim Care” di Balai Kartini, Jakarta (9/1). Dana yang terkumpul pada malam itu, cukup fantastis, yakni, mencapai Rp 2 Milyar. 



    Selain kapal dakwah, BWA juga mengajak para donator untuk berkomitmen dalam  program wakaf khusus, dalam pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di pedalaman Papua, rencananya akan ditempatkan di Kaimana. Ini merupakan program jangka panjang untuk Muslim Papua.

    Kapal laut dakwah untuk Muslim Papua itu sendiri dibeli seharga Rp 600 juta. Kapal yang memiliki panjang 13,5 m dan lebar 3,3 meter ini mampu menampung 20 penumpang dan beban seberat 10 ton, juga dilengkapi standar keselamatan seperti rakit penyelamat, ringboy, karet pelampung serta alat komunikasi. Mengingat, perairan di Papua sangat luas, maka masalah transportasi menjadi sangat penting sebagai sarana dakwah.



    Jika sebelumnya, AFKN harus menyewa kapal dengan biaya yang sangat mahal, belum lagi bahan bakarnya. Per liter bisa dikenakan Rp 23 ribu. “Terkadang, kita harus berhari-hari mengarungi laut dengan perahu. Jika menyewa boat, biaya pun habis untuk bahan bakar. Padahal, amanah berupa sedekah dari umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia melalui AFKN harus disampaikan untuk Muslim Papua yang ada di pedalaman,” tutur Ustadz Fadzlan.



    2013, Media Australia Membocorkan 2700 anak – anak papua di bawa ke pesantren Jakarta



    Oleh : Michael Bachelard di Smh.com.au melaporkan



    Anak2 papua di pesantren jakarta

    Anak-anak Papua sementara dibawa dari Papua ke sekolah-sekolah Islam di Jawa untuk “dididik kembali”, tulis Michael Bachelard.



    Johanes Lokobal duduk di atas rumput yang menjadi alas dari lantai kayu rumah kecilnya yang hanya terdiri atas satu ruangan. Dia menghangatkan tangannya pada perapian yang terletak di tengah ruangan. Sementara itu dari waktu ke waktu seekor babi, tidak tampak karena berada di ruangan sebelah, menjerit dan membentur-benturkan tubuhnya dengan keras ke dinding rumah.



    Kampung Megapura yang terletak di tengah pegunungan di provinsi paling timur Indonesia yaitu papua barat merupakan kampung yang sangat terpencil sehingga penyedian barang-barang hanya dapat dilakukan melalui perjalanan udara atau dengan berjalan kaki. Johanes Lokobal telah tinggal di sana sepanjang hidupnya. 



    Dia tidak tahu dengan tepat berapa usianya, “Tua saja” katanya dengan suara parau. Ia juga miskin. “Saya bekerja di kebun. Pendapatan saya kira-kira Rp. 20.000 per hari. Saya juga membersihkan halaman sekolah.” Tetapi di kehidupannya yang sudah berat, terjadi kemalangan yang paling menyakiti dia. Pada tahun 2005, putra tunggalnya, Yope, dibawa pergi ke Jakarta. Lokobal tidak ingin Yope pergi. Anak itu masih berumur sekitar 14 tahun, tapi dia berbadan besar dan kuat, seorang pekerja yang baik. 



    Namun orang-orang itu tetap membawa dia pergi. Beberapa tahun kemudian, Yope meninggal. Tidak ada yang bisa mengatakan kepada Lokobal bagaimana atau kapan tepatnya anaknya meninggal, dan dia juga tidak tahu di mana anaknya dimakamkan. Yang dia tahu secara pasti adalah, bahwa hal ini tidak seharusnya terjadi.



    anak2 papua pesantren jakarta

    Para pemisi terselubung menguraikan Sekitar 1400 anak-ana Generasi Muslim Nuu Waark Papua disekolahkan secara cuma-cuma alias gratis. Awalnya dimasukkan ke berbagai pesantren di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, kemudian menempuh jenjang perguruan tinggi, dalam dan luar negeri. Ratusan di antaranya tengah menempuh jenjang S-1, dan sudah 29 orang yang meraih gelar S-2


    Untuk membawa anak-anak Papua belajar ke Jakarta, Sumatera, dan Surabaya, AFKN menjalin hubungan kerjasama dengan stakeholder pimpinan pesantren, rektorat, pimpinan yayasan hingga Baitul Mal wa Tamwil. Bahkan pendekatan secara pribadi dengan mereka yang memiliki kepedulian dengan perjuangan AFKN mengangkat harkat dan martabat masyarakat Muslim Papua.

    Di antara dermawan, ada yang bersedia menjadi ayah angkat, dan membiayai hidup mereka selama belajar di pesantren atau kampus, tempat anak-anak Papua menuntut ilmu. Adapun anak-anak Papua yang datang ke kota besar tersebut, berasal dari kabupaten yang berbeda. Ada dari Kaimana, Fakfak, Bintuni, Raja Ampat, Wamena, Sorong, Nabire, dan wilayah Papua lainnya.




    Kegiatan Islamisasi Papua

    Setidaknya ada 11 anak (Putra-putri) Muslim Papua yang mendapatkan kesempatan belajar di Univesitas Indonusa Unggul, sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Mereka adalah Muksin Patipi, Yusuf Sayop, Usman Iba, Siti Adia Akatian, Siti Woretma, Fitria Patiran, Siti Rahayu Gwas Gwas, Hajija Rumakabes (semua dari Fakfak), Eric Arta Saiyof (Sorong), Nasir Tonoi (Bintuni), Yahya Boimasa (Kaimana). Selain di Kampus Indonusa Unggul, sejumlah mahasiswa asal Papua juga mendapatkan beasiswa di Kampus Universitas Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, Ciputat, salah seorang mahasiswanya adalah Muhammad Mudzakkir Asso yang baru saja meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).



    Bagimana Reaksi gereja Papua Atas Misi Islamisasi Papua?

    Tanah yang damai, Tanah diberkati Tuhan, Tanah Pilihan Tuhan dan Lainnya menjadi slogan orang Kristen di papua benar-benar di injak dan di bungkam, kenyataan ini apakah kita berdiam diri ataukah mengambil langkah strategis untuk menghentikan semua program terselubung ini.



    Kanapa para pimpinan gereja di papua hanya diam saja, apakah ini bukan menjadi ancaman generasi Kristen di papua?

    Kami berharap Gereja-Gereja di papua harus bertindak dan melakukan berbagai upaya untuk mencegah islamisasi di papua.



    Penulis

    Turius wenda ( www.twitter.com/TuriusWenda)

    Ketua Forum Gerakan Pemuda Baptis Papua (FGBP)

    2700 anak – anak papua di bawa ke pesantren Jakarta untuk menjadikan islam

    2013, Media Australia Membocorkan 2700 anak – anak papua di bawa ke pesantren Jakarta

    Oleh : Michael Bachelard di Smh.com.au melaporkan


    Anak2 papua di pesantren jakarta

    Anak-anak Papua sementara dibawa dari Papua ke sekolah-sekolah Islam di Jawa untuk “dididik kembali”, tulis Michael Bachelard.



    Johanes Lokobal duduk di atas rumput yang menjadi alas dari lantai kayu rumah kecilnya yang hanya terdiri atas satu ruangan. Dia menghangatkan tangannya pada perapian yang terletak di tengah ruangan. Sementara itu dari waktu ke waktu seekor babi, tidak tampak karena berada di ruangan sebelah, menjerit dan membentur-benturkan tubuhnya dengan keras ke dinding rumah.



    Kampung Megapura yang terletak di tengah pegunungan di provinsi paling timur Indonesia yaitu papua barat merupakan kampung yang sangat terpencil sehingga penyedian barang-barang hanya dapat dilakukan melalui perjalanan udara atau dengan berjalan kaki. Johanes Lokobal telah tinggal di sana sepanjang hidupnya. 



    Dia tidak tahu dengan tepat berapa usianya, “Tua saja” katanya dengan suara parau. Ia juga miskin. “Saya bekerja di kebun. Pendapatan saya kira-kira Rp. 20.000 per hari. Saya juga membersihkan halaman sekolah.” Tetapi di kehidupannya yang sudah berat, terjadi kemalangan yang paling menyakiti dia. Pada tahun 2005, putra tunggalnya, Yope, dibawa pergi ke Jakarta. Lokobal tidak ingin Yope pergi. Anak itu masih berumur sekitar 14 tahun, tapi dia berbadan besar dan kuat, seorang pekerja yang baik. 



    Namun orang-orang itu tetap membawa dia pergi. Beberapa tahun kemudian, Yope meninggal. Tidak ada yang bisa mengatakan kepada Lokobal bagaimana atau kapan tepatnya anaknya meninggal, dan dia juga tidak tahu di mana anaknya dimakamkan. Yang dia tahu secara pasti adalah, bahwa hal ini tidak seharusnya terjadi.



    anak2 papua pesantren jakarta

    Para pemisi terselubung menguraikan Sekitar 1400 anak-ana Generasi Muslim Nuu Waark Papua disekolahkan secara cuma-cuma alias gratis. Awalnya dimasukkan ke berbagai pesantren di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, kemudian menempuh jenjang perguruan tinggi, dalam dan luar negeri. Ratusan di antaranya tengah menempuh jenjang S-1, dan sudah 29 orang yang meraih gelar S-2


    Untuk membawa anak-anak Papua belajar ke Jakarta, Sumatera, dan Surabaya, AFKN menjalin hubungan kerjasama dengan stakeholder pimpinan pesantren, rektorat, pimpinan yayasan hingga Baitul Mal wa Tamwil. Bahkan pendekatan secara pribadi dengan mereka yang memiliki kepedulian dengan perjuangan AFKN mengangkat harkat dan martabat masyarakat Muslim Papua.

    Di antara dermawan, ada yang bersedia menjadi ayah angkat, dan membiayai hidup mereka selama belajar di pesantren atau kampus, tempat anak-anak Papua menuntut ilmu. Adapun anak-anak Papua yang datang ke kota besar tersebut, berasal dari kabupaten yang berbeda. Ada dari Kaimana, Fakfak, Bintuni, Raja Ampat, Wamena, Sorong, Nabire, dan wilayah Papua lainnya.




    Kegiatan Islamisasi Papua

    Setidaknya ada 11 anak (Putra-putri) Muslim Papua yang mendapatkan kesempatan belajar di Univesitas Indonusa Unggul, sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Mereka adalah Muksin Patipi, Yusuf Sayop, Usman Iba, Siti Adia Akatian, Siti Woretma, Fitria Patiran, Siti Rahayu Gwas Gwas, Hajija Rumakabes (semua dari Fakfak), Eric Arta Saiyof (Sorong), Nasir Tonoi (Bintuni), Yahya Boimasa (Kaimana). Selain di Kampus Indonusa Unggul, sejumlah mahasiswa asal Papua juga mendapatkan beasiswa di Kampus Universitas Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, Ciputat, salah seorang mahasiswanya adalah Muhammad Mudzakkir Asso yang baru saja meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).



    Bagimana Reaksi gereja Papua Atas Misi Islamisasi Papua?

    Tanah yang damai, Tanah diberkati Tuhan, Tanah Pilihan Tuhan dan Lainnya menjadi slogan orang Kristen di papua benar-benar di injak dan di bungkam, kenyataan ini apakah kita berdiam diri ataukah mengambil langkah strategis untuk menghentikan semua program terselubung ini.



    Kanapa para pimpinan gereja di papua hanya diam saja, apakah ini bukan menjadi ancaman generasi Kristen di papua?

    Kami berharap Gereja-Gereja di papua harus bertindak dan melakukan berbagai upaya untuk mencegah islamisasi di papua.



    Penulis : Turius wenda ( www.twitter.com/TuriusWenda)
    Ketua Forum Gerakan Pemuda Baptis Papua (FGBP)

    ANAK KRISTEN PAPUA YANG SELAMAT DARI ISLAMISASI BERDALIH PENDIDIKAN GRATIS

     photo burungrastacopy_zpsde5488d6.jpg
    IBLIS ISLAM MELAKUKAN PEMAKSAAN UNTUK MENGIKUTI AJARAN IBLIS ALLOH SWT,INI SALAH SATU KESAKSIAN DARI PERANGKAP JEBAKAN MAUT KESESATAN, SEBARKAN KESELURUH DUNIA JUGA DI PAUA AGAR MEREKA SEGERA SADAR AKAN HAL TERSEBUT, SEMOGA TUHAN SELALU MEMBERKATI ANDA SEKALIAN.
    DEMI ISLAMISASI, PENIPUAN TERHADAP ANAK2 PAPUA PUN DIHALALKAN
    ----------------------------------------------------------
    DEMIANUS DAN SETH GOBAY, ANAK KRISTEN PAPUA YANG SELAMAT DARI ISLAMISASI BERDALIH PENDIDIKAN GRATIS

    JAKARTA - Ketika orang tua dari Demianus dan Seth Gobay meninggal di desa kecil mereka di Kabupaten Nabire, kira-kira lima tahun yang lalu, kedua anak ini bersama ke enam saudaranya tidak mampu untuk sekolah. Sehingga, ketika paman mereka yang telah lama menetap di Jawa, Jupri Gobay , menawarkan sekolah gratis untuk si anak bungsu, Demianus, keluarga itupun tidak melewatkan kesempatan tersebut. Namun. Demianus yang saat itu berumur lima tahun dijanjikan akan dibawa ke Jakarta ketika umurnya lebih tua.

    Bagi Demianus, ini adalah sebuah petualangan. Tetapi berbeda dengan pendidikan yang dibayangkan, ketika tiba di Jakarta, anak muda Kristen ini dipaksa masuk Islam dan dibawa ke sebuah pesantren yang ketat. Di sana ia dipaksa belajar hal yang bertentangan dengan tujuan awal, yakni mempelajari agama Islam seperti cara melantunkan ayat-ayat Al-Quran dan berkhotbah tentang agama itu. Namanya kemudian diubah untuk membuatnya terdengar lebih Muslim, ia juga dilarang mengadakan kontak dengan keluarganya dan dipukuli jika dia menyimpang dari kurikulum pendidikan. Saat diwawancarai oleh Michael Bachelard, Demianus menunjukkan bekas luka di mana ia pernah dibakar dengan rokok akibat sebuah pelanggaran.

    Beberapa tahun kemudian, tanpa sepengetahuan Demianus, kakaknya, Seth juga dibawa dari rumahnya di Nabire ke Jakarta. Pada akhir tahun 2013 lalu, dua anak laki-laki yang sekarang menjadi remaja ini akhirnya bersatu kembali setelah melarikan diri dari sekolah itu dengan bantuan seorang mahasiswa Papua. Cerita mereka merupakan bukti bahwa banyak anak-anak Kristen yang telah diambil dari Tanah Papua dan diajak masuk Islam, praktek ini secara resmi disangkali oleh Pemerintah Indonesia setelah terungkap dalam majalah Good Weekend-nya Fairfax tahun lalu.

    Hal ini untuk pertama kalinya memperjelas adanya kesadaran dari elit politik Indonesia yang telah lama mengetahui adanya praktek seperti ini. Di Indonesia, pindah agama (dengan pemaksaan) kepada setiap orang terutama anak muda adalah hal yang melanggar hukum, dan PBB menganggap perpindahan walaupun itu hal kecil, seperti pendidikan sekalipun, merupakan sebuah perdagangan. Sekalipun pesantren As-Syafiiyah yang menjadi tempat "menimba ilmu" kedua anak laki-laki itu dijalankan oleh Tutty Alawiyah, mantan Menteri Peranan Wanita pada era pemerintahan Suharto dan kini menjadi seorang pembicara terkemuka.

    Wanita yang dikenal sebagai Ibu Tutty ini menyatakan dirinya terlalu sibuk sehingga tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan "kecil'' seperti itu yang secara politis sangat terhubung dengan Jakarta. Di lain sisi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa pernah difoto saat bertemu dengan anak-anak Papua di sekolah tersebut, Menteri Agama Suryadharma Ali pernah memimpin perayaan di sekolah itu sedangkan, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menegaskan ia pernah menjadikan Demianus sebagai anak angkat.

    Demianus adalah seorang anak desa yang naif ketika ia dibawa pergi oleh pamannya dengan kapal penumpang, Labobar. Selain dia ada sekitar 12 anak-anak Papua yang berada disekolah itu sebagian besar dari mereka adalah perempuan. Gadis-gadis Kristen itu diharuskan memakai jilbab. Setelah mereka tiba di Jakarta, Demianus mengatakan, kelompok itu dibawa ke sebuah masjid terdekat. Kemudian mereka diperintah untuk berpakaian Islami dan diajarkan untuk mengatakan ''syahadat", sebuah doa untuk mengkonversikan mereka ke Islam. Sejak saat itu, Demianus diberitahu oleh ulama bahwa namanya berubah menjadi "Usman ". Nama aslinya dianggap "haram" dan dilarang untuk digunakan. Dari pelabuhan, anak-anak itu dibawa ke berbagai pesantren di Jakarta dan Bogor.

    Demianus dibawa ke As-Syafiiyah yang dikelola oleh Ibu Tutty. Ia mengakui telah tinggal selama dua tahun sebelum melarikan diri, kemudian ditangkap lagi dan dibawa ke pesantren lain di Bogor. Beberapa tahun kemudian, saudara tua Demianus, Seth juga dibawa ke Jakarta oleh paman mereka, Jupri Gobay. Ia mengatakan bahwa ia dan dua gadis yang berada dikapal telah dipaksa masuk Islam segera setelah kedatangan mereka di Jakarta.
    Seth, sama seperti saudaranya tidak mengira pengalamannya akan seperti ini, meskipun Demianus lebih awal keluar dari pesantren itu. Mereka mengalami pengalaman yang sama. Bertahun-tahun kemudian, meskipun mereka terkurung di pesantren itu, cara hidup mereka identik. Keduanya bosan dengan pelajaran yang hanya terfokus pada studi agama dan nyanyian Arab. Mereka juga selalu dihukum karena terlambat dengan doa-doa mereka, juga akibat meninggalkan pesantren, menonton TV dan menggunakan internet. ''Mereka mengatakan kepada kami : Kau akan nakal jika kau pergi ke warnet'', kata Seth.

    Demianus mengakui telah mengecap beberapa pesantren yang berbeda sehingga ia sulit untuk membedakan sekolah tempat kejadian itu terjadi. Tapi dikatakan, dirinya dipukuli pada kaki dengan bambu, di bagian belakang kepala dengan ikat pinggang sampai berdarah kemudian tubuhnya ditempeli abu rokok yang membara jika ia melawan. Sambil menunjukkan bekas luka melingkar di tangannya Demianus berujar, '' Jika kami tidak membaca Alquran dan berdoa pada waktu-waktu tertentu dalam sehari, kami dikurung dan kemudian [tubuh] dibakar [dengan rokok]." Seth, yang hanya sekolah di As-safiiyah, mengatakan ia juga dipukuli. Anak-anak dari Papua yang ada ditempat itu tidak diberikan akses ke telepon untuk menelepon keluarga mereka. Kesehatan mereka pun tidak diperhatikan, makanan yang diberikan secukupnya, sering terdapat kutu di nasinya, mereka juga tidak diperbolehkan untuk makan daging babi - yang secara tradisional merupakan makanan khas orang Papua. Ketika kami sakit, "mereka tidak melakukan apa-apa untuk kita", kata Demianus mengakui bahwa mereka sama sekali tidak memberikan perhatian kepada anak-anak Papua. Diakui Demianus, salah satu guru di As-Safiiyah, yaitu Usman Musa, selalu mengatakan kepadanya agar ketika dewasa nanti, ia diwajibkan untuk kembali ke Papua dan meng"Islamisasi"orang Papua.

    Ibu Tutty Alawiyah yang dikenal karena berkerja untuk anak-anak dan anak yatim piatu. Menjadi pemilik pesantren As- safiiyah, yang didirikan oleh ayahnya, bersama dengan sekolah dan universitas Islam lainnya. Dia adalah Menteri Urusan Perempuan pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Suharto dan pada tahun 2003 gagal menjadi calon presiden dari Partai Golkar. Stafnya menolak undangan untuk wawancara, dengan alasan bahwa dia terlalu sibuk dan juga menyatakan tidak menjawab daftar pertanyaan tertulis. Salah satu anggota staf bersikeras bahwa semua anak-anak yang datang ke sekolah mereka sebelumnya sudah menjadi muslim dari daerah asal mereka. Sebuah artikel di sebuah situs web Islam bernama ''Mualaf Centre Online'', menyatakan bahwa Ibu Tutty tidak peduli terkait islamisasi siswa non-muslim di sekolahnya. Anak-anak Papua yang berusia 5 hingga 18 tahun itu digambarkan sebagai "anak-anak kecil dan remaja berwajah ceria '' yang '' berkulit gelap dan dengan rambut keriting ''. Artikel itu juga mengatakan bahwa anak-anak itu merupakan "muslim baru".

    Sebagai mayoritas Kristen, Etnis Melanesia di Papua secara bertahap, kalah jumlah, baik secara ekonomi dan sosial oleh migrasi dari daerah lain di Indonesia, Kini Papua juga harus menghadapi Islamisasi anak sebagai serangan langsung untuk menghapus identitas mereka. Meski hal ini merupakan pelanggaran HAM, kelompok Muslim dalam organisasi hak asasi manusia nasional Indonesia, Komnas HAM, telah membuat kasus ini menjadi sulit untuk diselidiki, meski isu-nya telah diangkat oleh media besar sekelas Fairfax. Usaha penutupan ini merupakan kemungkinan untuk menghilangkan keberadaan jaringan agen kecil yang mencari anak-anak non-muslim yang rentan. Tidak jelas apakah orang-orang ini dibayar untuk pekerjaan mereka, atau yang mungkin juga didanai, tetapi ada kecurigaan bahwa uangnya berasal dari hasil minyak dari Arab Saudi.

    Paman dari kedua anak itu, Jupri Gobay, rupanya secara teratur melakukan perjalanan ke Papua dan menurut Demianus, Jupri sendiri sudah diboyong ke Jawa sebagai seorang anak dan diubah dan dididik dalam Islam. Saat dimintai untuk berkomentar, Jupri Gobay mengatakan bahwa ia hanya "membantu" anggota keluarga, sebelum mengakhiri panggilan.

    Ibu Tutty bukan satu-satunya pejabat dari Jakarta yang ditemui Seth dan Demianus Gobay. Pada awal 2012 , Demianus melarikan diri dari pesantren dekat Bogor dan mulai hidup di jalanan di pinggiran Jakarta. Ia dibantu oleh sebuah keluarga yang kemudian membawa mereka bertemu dengan Menteri Kehutanan, Zulkifli, yang kemudian membawa Demianus untuk tinggal di rumahnya di Jakarta Timur. Zulkifli sendiri pernah menegaskan peristiwa ini dengan mengatakan bahwa anaknya sendiri, Ray, yang seorang mahasiswa , telah mendapati "Usman" dan dijadikan anak angkat karena dia memiliki hati yang baik. Dalam masyarakat elit di Jakarta, anak-anak Papua sering dianggap sebagai usaha mencari amal . Pada acara tahun lalu yang diselenggarakan oleh Ibu Tutty dengan 350 anak yatim , Menteri Urusan Ekonomi, Hatta Rajasa digambarkan telah membantu anak yatim sebagai '' salah satu cara kami untuk mendapatkan tiket ke surga ." [TheAge]

    Misi Terselubung Islamisasi Papua


    Misi Terselubung Islamisasi Papua



    Anak2 Papua

    Saat ini dakwah Islam di Papua makin gencar. Buku Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua) yang ditulis Ali Atwa menyebut, bahwa Islam yang pertama ada di Papua, bukan Kristen. Tahun 1997, pernah ada seminar di Kabupaten Fakfak dan di Jayapura  menyebutkan, sebelum para misionaris Kristen menginjakkan kakinya di Tanah Papua, katanya, sudah terlebih dahulu muballigh Islam hadir di sana.



    “Islam masuk pertama kali di bagian barat Papua. Di Fak Fak, jumlah Muslim hampir separuh populasi.” Kabupaten Fakfak sendiri yang memiliki luas wilayah 38.474 km2 dan berpenduduk sebanyak 50.584 jiwa, justru sangat kental dengan Islam.



    Saksi bisu sejarah Islam, Masjid Patimburak, hingga kini masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya. “Dulu di sini ramai, tapi satu-satu mereka pergi,” ujar Daud Iba, sekretaris kampung Patimburak. 



    Tetapi cerita di atas mengaburkan fakta lain. Sesungguhnya yang pertama agama Kristen Protestan di daerah Manokwari, tahun 1855 sudah jelas. Missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler datang menjadi missionaris. 



    Fadzlan merasa benar sendiri. “Orang Kristen tidak boleh cemburu. Yang seharusnya cemburu adalah umat Islam, karena selama ini umat Islam di Papua kurang sekali mendapat fasilitas. Justru yang sering mendapat fasilitas adalah mereka (Kristen), baik dari negara maupun hasil kekayaan alam negeri yang mereka ambil. Otsus itu mereka yang makan semua, sementara umat Islam tidak mendapat. Bukankah selama ini seluruh orang Kristen, misionaris dan gereja, menggunakan pesawat modern, tapi umat Islam tidak pernah menggangu. Kok dengan kapal kecil saja mereka cemburu. Tidak ada yang melarang. Yang jelas, saat ini belum ada gangguan terhadap dakwah AFKN.  Irian itu negeri Muslim kok,” katanya.


    Pemaksaan Masuk Islam – Dahulu dan Sekarang

    Sebagaimana yang terus menerus terjadi di sepanjang sejarah, orang-orang Muslim hari ini secara reguler “mengundang” orang-orang Kristen untuk masuk Islam, seringkali dengan mempresentasikan Islam sebagai satu-satunya penyembuh atas penderitaan yang mereka alami – yaitu penderitaan yang terjadi karena ulah orang-orang Muslim itu sendiri. 
    Para pemrotes orang Kristen Palestina yang meratapi kekasih-kekasih mereka yang telah diculik serta dipaksa masuk Islam

    Oleh Raymond Ibrahim pada 16 Mei 16, 2013 dalam Islam, Muslim Persecution of Christians

    Sejarah hilangnya orang-orang Kristen yang dipaksa masuk Islam – atau mati – muncul kembali, baik secara figuratif maupun literal. Menurut laporan BBC: Paus Francis telah mengumumkan orang-orang suci pertama dari pontifikasinya dalam sebuah upacara (minggu lalu) yang dilangsungkan di Vatikan – sebuah daftar memasukkan nama-nama 800 korban kejahatan keji yang dilakukan oleh pasukan Ottoman di tahun 1480. Leher mereka dipenggal di kota Otranto di sebelah selatan Italia setelah menolak untuk memeluk Islam.”

    BBC menambahkan: “Para martir Otranto adalah 813 orang Italia yang dipenggal lehernya karena menolak seruan yang disampaikan oleh para penginvasi Turki agar mereka menyangkali iman Kristiani mereka. Pasukan Turki ini dikirim oleh Mohammed II, yang pada saat itu telah menduduki wilayah “Roma Kedua” yaitu Konstantinopel.

    Teks-teks sejarah disepanjang abad dipenuhi dengan anekdot-anekdot yang mirip, termasuk “60 orang martir Gaza,” yaitu para tentara Kristen yang dieksekusi karena menolak untuk memeluk Islam selama 7 abad invasi Islam terhadap Yerusalem. 7 abad kemudian, selama invasi Islam Georgia, orang-orang Kristen yang menolak untuk memeluk Islam dipaksa masuk ke dalam gedung gereja yang kemudian dikunci dan dibakar. Witnesses for Christ mencatat 200 peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang Kristen – termasuk beberapa orang Kristen yang dibakar hidup-hidup, dilemparkan ke atas tombak besi, dimutilasi, dirajam, ditikam, ditembak mati, ditenggelamkan, disalibkan dan berbagai cara eksekusi lainnya – karena telah menolak Islam. 

    Jika sejarah berguncang, faktanya adalah, hari ini, pria, wanita dan anak-anak Kristen masih tetap dipaksa masuk Islam. Paus Francis menyinggung penderitaan mereka saat pelaksaan seremonial: “Saat kita memperingati para martir Otranto, marilah kita memohon agar Tuhan meneguhkan banyak dari orang Kristen yang, pada hari-hari ini dan di banyak bagian dunia, masih mengalami penganiayaan, dan agar Tuhan memberikan pada mereka keberanian dan iman untuk merespon kejahatan dengan kebaikan.”

    Perhatikanlah beberapa catatan terkini:
    Di Pakistan, seorang “Kristen yang saleh” dicincang oleh beberapa laki-laki Muslim “menggunakan kampak (ketika diautopsi ditemukan 24 bekas sabetan kampak) karena ia telah menolak untuk memeluk Islam.” Dua orang pria Kristen lainnya ketika pulang dari gereja diserang oleh enam orang Muslim yang berusaha memaksa mereka untuk memeluk Islam, tetapi “kedua orang Kristen ini menolak untuk meninggalkan Kristen.” Kemudian orang-orang Muslim itu memukuli mereka dengan sadis, berteriak-teriak supaya mereka berpaling ke Islam atau siap-siap mati. Kedua orang Kristen itu kemudian jatuh pingsan, dan orang-orang Muslim muda yang memukuli mereka berasumsi bahwa mereka telah membunuh kedua orang itu.”

    Di Bangladesh, 300 anak-anak Kristen telah diculik di tahun 2012 dan dijual ke pondok-pondok pesantren, dimana “para imam telah memaksa mereka untuk menyangkali Kekristenan.” Kemudian anak-anak itu dipukuli dan dipaksa masuk Islam. Setelah indoktrinasi sepenuhnya, kepada mereka ditanyakan apakah mereka “siap untuk memberi hidup mereka untuk Islam,” yaitu dengan menjadi para pelaku bom bunuh diri. (Di sini bisa kita lihat pola-pola yang tak lagi bisa disangkali, yang terjadi di sepanjang sejarah: selama berabad-abad, anak-anak Kristen diambil secara paksa, dipaksa masuk Islam dan diindoktrinasikan dalam Islam, dilatih untuk menjadi para jihadis, kemudian dipisahkan dari keluarga-keluarga Kristen mereka. Hal seperti ini bisa kita temukan di masa kekuasaan Janisaris dan Mamlukh)

    Pada tahun 2012 di Palestina, orang-orang Kristen di Gaza memprotes aksi “penculikan dan pemaksaan masuk Islam terhadap orang-orang Kristen”. Komunitas Kristen membunyikan lonceng gereja sambil menyerukan “dengan roh kami, dengan darah kami, kami akan mengorbankan diri kami kepadaMu, ya Yesus.”

    Seperti yang terjadi di sepanjang sejarah, orang-orang Muslim hari ini secara reguler “mengundang” orang-orang Kristen kepada Islam, seringkali dengan mempresentasikan Islam sebagai satu-satunya penyembuh terhadap penderitaan mereka – yaitu penderitaan yang terjadi karena ulah orang-orang Muslim itu sendiri. 

    Di Pakistan, satu pasangan Kristen ditangkap atas tuduhan palsu dan kemudian dipukuli dengan bengis oleh polisi. Sang isteri yang tengah hamil ‘dipukuli, ditendang dan ditinju wajahnya” sementara para interogatornya mengancam bahwa mereka akan membunuh bayinya. Seorang polisi menawarkan akan membatalkan tuntutan jika sang suami bersedia “menyangkali iman Kristianinya dan memeluk Islam,” tetapi sang suami menolak.  

    Di Uzbekistan, seorang wanita Kristen usia 26 tahun, yang sejak muda telah lumpuh sebagian tubuhnya, serta ibunya yang sudah tua, secara brutal diserang oleh orang-orang yang menyerbu masuk ke dalam rumah mereka. Kemudian orang-orang itu melecehkan “ikon-ikon, Alkitab, kalender religius dan buku-buku doa.” Di kantor polisi, Perempuan yang cacat itu “ditawarkan untuk masuk Islam.” Ia menolak dan kemudian hakim “memutuskan bahwa kedua wanita itu telah melawan polisi dan telah menyimpan benda-benda religius yang terlarang di rumah mereka, serta melakukan aktifitas-aktifitas misionaris. Hakim mendenda mereka dengan masing-masing sebesar 20 bulan gaji. 

    Di Sudan, orang Muslim menculik seorang gadis usia 15 tahun; kemudian gadis ini diperkosa, dipukuli dan dipaksa masuk Islam. Ketika ibunya pergi melaporkan kasus ini ke polisi, petugas polisi Muslim yang tergabung dalam “Unit Perlindungan Keluarga dan Anak” mengatakan kepadanya: “Engkau harus berpaling ke Islam, jika engkau ingin anak gadismu kembali.”

    Sesungguhnya, karena kaum perempuan Kristen adalah segmen paling lemah dalam masyarakat Islam, mereka menjadi target khusus untuk dipaksa masuk Islam. Tahun 2012, kongres Amerika mendengar kesaksian mengenai “meningkatnya penculikan, pemaksaan masuk Islam dan pemaksaan pernikahan terhadap perempuan-perempuan Koptik Kristen (ada 550 kasus hanya dalam 5 tahun terakhir). Kaum perempuan itu mengalami teror dan dimarginalkan setelah terbentuknya Mesir yang baru dibawah pemerintahan presiden Morsi. 

    Dalam dokumen-dokumen di buku saya yang baru Crucified Again: Exposing Islam’s New War on Christians, di mana ada sejumlah besar orang-orang Muslim – baik di dunia Arab, Afrika, Asia bahkan di Barat – selalu ada orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan. Usaha pemaksaan masuk Islam bagaikan puncak gunung es, dan tentu saja ini bukanlah sebuah anomali sejarah.

     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif