Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label X1414. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label X1414. Tampilkan semua postingan

    Panitia Natal IKB-PMPJLMYN Se-Jawa dan Bali Harap Pemkab Wilayah La Pago Jawab Proposal Secepatnya

    Panitia Natal, saat memberikan keterangan pers. Foto: Jekson Ikomou

    Bandung, MAJALAH SELANGKAH -- Panitia Natal, Seminar dan Musyawarah Besar Ikatan Keluarga Besar Pelajar dan Mahasiswa La Pago Se-Jawa dan Bali berharap pemerintah daerah yang masuk dalam wilayah adat La Pago segera secepatnya memberikan jawaban atas proposal yang pernah diajukan.

    Ketua panitia, Metinus Kogoya kepada majalahselangkah.com mengatakan, waktu pelaksanaan kegiatan sudah dekat, sehingga diharapkan ada dukungan pemerintah dalam kegiatan mahasiswa tersebut.

    "Pelaksanaan Natal sudah dekat, rencana akan digelar pada 27 Desember 2014-1 Januari 2015, jadi kami mengharapkan pemerintah dari lima kabupaten bisa menjawab proposal kami," ujarnya di kontrakan Mamberamo Tengah, Bandung, Jawa Barat Jumat, (12/12/14).

    "Harus segera dijawab, sebab waktu pelaksanaan sangat mepet sekali. Kami tekankan kepada pemerintah daerah jangan penutup telinga dan hati," kata Metius.

    Ia meminta kesadaran pemerintah dari kelima kabupaten karena selain merayakan hari kelahiran Kristus, di dalam kegiatan tersebut akan digelar banyak kegiatan yang berguna. "Ini bukan acara negatif, tapi sangat positif bagi kami," katanya.

    Menurut dia, sebelumnya kegiatan serupa pernah digelar di beberapa daerah lain di Jawa dan Bali. "Yang terakhir dipusatkan di kota Semarang dan Bali, tetapi pernah batal karena tidak ada dukungan dari pemerintah," beber Metinus.

    Pada kesempatan yang sama, ketua koordinator mahasiswa dari 5 kabupaten mendesak Pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap setiap kegiatan positif dari mahasiswa yang nota bene akan menjadi estafet pembangunan pada waktu mendatang.

    "Kami minta pemerintah jangan tutup telinga dan hati, harus perhatikan kegiatan seperti ini. Kami sangat mengharapkan dukungan penuh dengan menjawab proposal yang pernah kami ajukan agar kegiatan bisa terlaksana," ungkap Fery Cheko Kogoya, ketua mahasiswa Mamberamo Tengah.

    Tak ketinggalan, Meky Waker, salah satu ketua koordinator mahasiswa Lanny Jaya meminta pemerintah tidak membuat celah antara mahasiswa dari wilayah adat La Pago lainnya.

    "Pemerintah kabupaten Lani Jaya, jangan permalukan kami mahasiswa asal Lani Jaya, terkait dengan penolakan proposal oleh pihak pemerintah daerah, pada pekan lalu itu. Kami minta segera jawab proposal kami, agar acara yang sudah kami agendakan dapat terlaksana sesuai dengan apa yang kami targetkan," sambungnya. (Jekson Ikomouw/MS)

    Presidium Dewan Papua

    Presidium Dewan Papua (PDP) adalah organisasi resmi masyarakat kesukuan di Papua Barat. Dewan ini adalah penjelmaan kembali dari Dewan Nugini (Nieuw Guinea Raad) yang dibentuk pada Oktober 1961.
    Presidium Dewan Papua mewakili sekitar 245 kelompok suku dengan lebih dari 2 juta penduduk asli yang menghuni daerah ini sejak lebih dari 10.000 tahun yang lalu. PDP juga mewakili para transmigran yang dikirim dari berbagai wilayah Indonesia lainnya dalam proyek transmigrasi, khususnya selama pemerintahan Orde Baru.


    Organisasi ini pada mulanya didirikan karena adanya gerakan perlawanan rakyat terhadap pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 1-7 Juli 1998. Awal gerakan dimulai dengan menaikkan Bendera Bintang Pagi di seluruh Pulau Papua. Hal ini dipicu karena adanya surat Senator Amerika yang mendesak Presiden Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie untuk segera memberikan referendum kepada Timor Leste, Aceh, dan Papua. Alasannya karena ketiga daerah ini tidak jelas Status Politiknya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Setelah penaikan bendera Bintang Pagi (Morning Star Flag), pada tanggal 7 Juli 1998 pukul 03.00 WIT sekitar 200 lebih jiwa rakyat di Pulau Biak Papua dibunuh oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia). Akibatnya dibentuklah suatu Forum Masyarakat Papua yang diberi nama FORERI Team yang dipersiapkan untuk menghadap Presiden Habibie. Setelah itu Presiden Habibie mengundang 100 tokoh rakyat Papua untuk mendengar secara langsung keluhan rakyat Papua yang disampaikan oleh Team 100 ini. Namun hasil dari team ini diblokir oleh Pejabat Negara lainnya sehingga menambah emosi Rakyat Papua serta Presiden Habibie pun digusur dari Jabatannya dilarang oleh mencalonkan diri sebagai Presiden ke-4 NKRI.

    Terpilihnya Abdurahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden ke-4 membawa perubahan positif bagi rakyat Papua, misalnya mengizinkan penaikan Bendera Bintang Pagi (bukan Bintang Kejora), mengizinkan adanya Kongres II Papua yang melahirkan PDP, dan mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua.
    Tetapi masa jabatan Gus Dur berlangsung singkat, karena ia digusur oleh parlemen Indonesia dan digantikan oleh Megawati Sukarnoputri.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Perjuangan Masyarakat Adat Menuju Negara Demokrasi Kesukuan di Papua Barat

    Perjuangan Masyarakat Adat Menuju Negara Demokrasi Kesukuan di Papua Barat

    Perjuangan Masyarakat Adat Koteka Wilayah Badlima
    Menuju Kedaulatan Negara Demikrasi Kesukuan Papua Barat


    Dewan Musyawarah Masyarakat Adat Koteka (DEMMAK) lahir dari hasil prakarsa anak bangsa yang stelah melihat hasil perjuangan melalui Presidium Dewan Papua (PDP) dibawah pimpinan Alm.Theys Hiyo Eluay, tidak lagi konsisiten memperjuangan aspirasi masyarakat Papua yang telah lama hidup di bawah cengkeraman kolonial NKRI selama 30 tahun. Segala Harapan dan aspirasi masyarakat saat itu ada pada pimpinan dan Pilar PDP, namun aspirasi dan harapan rakyat itu tidak diperjuangan semaksimal sesuai harapan Rakyat Papua, terlihat PDP semakin akrab dengan NKRI, dan seolah ada  permainan dari pimpinan PDP dalam memperjuangan hak-hak dasar serta aspirasi menentukan nasib sendiri bagi rakyat Papua, Maka DEMMAK di dirikan oleh anak Koteka yang setelah melihat semua keganjilan yang terjadi di tubuh PDP.

    DeMMaK di dirikan setelah Musyawarah  Besar Papua ke II tahun 2000, DEMMAK berdiri  sebagai Organisasi masyarakat adat yang menyuarakan hak-hak dasar masyarakat Adat Papua yang telah dan sedang menuju kepunahan dan kehancuran.
    Perjuangan DEMMAK tidak melalui dalam Negeri, perjuangan dan Kampanye Papua mulai dari luar Negeri, dengan kantor pusatnya di Ireland, Ingggris Raya, vanuatu dan beberapa negara di Eropa... Perjuangan ini di dukung penuh oleh Masyarakat Adat Koteka yang ada di Pegunungan Tengah Papua, terutama Suku Walak yang hingga hari ini masih Eksis memperjuangan melalui Dukungan Dana dan Doa dalam men capai Negara Demokrasi Kesukuan.

    Perjuangan keras Masyarakat Adata Koteka di Wilayah Pegunungan,Tengah Papua  sehingga kantor DEMMAK dan Lobi politik di sejumlah negara berhasil dan sedang mendukung Penuh untuk Merdeka. Dalam rangka mendukung Perjuangan DEMMAK di luar negeri , Masyarakat Adat Adat Koteka di wilayah Badlima, berbagai cara mencari dana untuk mendukung Perjuangan lobi Politik di luar negeri,

    Sejarah Bangsa Papua, dan dunia akan mencatat, sebuah sejarah baru dimana Masyarakat adat Kooteka wilayah Badlima telah menjual anak-anak gadisnya dengan harga yang murah demi mendukung dana Perjuangan Papua, Koordinator DEMMAK wilayah Badlima Tuan Jafet Togodly melakukan tindakan penjualan gadis-gadis papua di wilayah badlima kepada masyarakat disekitarnya untuk demi mendapatkan uang untuk perjuangan Politik Papua di Luar Negeri.

    Sejarah ini akan selalu mencatat di papua barat, bahwa begitu jerih payahnya Perjuangan masyarakat Adat Koteka wilayah Badlima untuk mendorong proses Perjuangan Papua menuju Kemerdekaan Penuh dengan negara Demokarasi Kesukuan...

    Perjuangan panjuang Masyarakat Adat Koteka seperti di wilayah Badlima, adakah perjuangan seperti ini dilakukan juga masyarakat lain di Papua??? Ataukah hanya mengahrapkan kemerdekaan dan Kebebasan itu datang begitu saja dari Surga? dari PBB?, atau orang kulit putih??? TIDAK!!!

    Perjuangan harus dari masyarakat Papua sendiri dengan penuh keyakinan, tanggungjawab, terhadap Perjuangan ini...

    DEMMAK Koordinator Wilayah Badlima, hingga hari ini masih Eksis dan semangat dalam perjuangan menuju Kemerdekaan Penuh dengan Negara Demokrasi Kesukuan, Moto Perjuangan masyarakat Adat Koteka Wilayah Badliama adalah, " Perjuangan Melawan Antara TIPU dan Benar"" BENAR LAWAN TIPU" ...

    Dasar Perjuangan Masyarakat Adat Koteka Papua adalah X1414,  Benar bahwa Allah menjadikan Tanah Papua dan penjaga atas ciptaaan tanah ini adalah orang Papua, kulitnya hitam, rambut Keriting, bukan orang rambut dan kulit lain... Kalau Allah kehendaki orang Papua yang menghuni di atas negeri ini, kenapa ada orang lain yang datang merampas, mencuri dan membunuh dengan seenaknya saja atas keberadaban manusia Papua???

    Allah sebagai Panglima Perang akan Berperang Bagi Umatnya, dan tugas kami adalah bekerja keras, mendukung  impian dan harapan itru terwujud dengan memberikan dukungan dana,kepada Diplomat anak Koteka yang ada di Luar Negeri.

    Bersama Kebenaran Sejarah Sang Bintang Kejora !!! Kita Pasti meraih Kemerdekaan dan Pembebasan Nasional Bagi Rakyat Papua Barat.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif