Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label About Us. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label About Us. Tampilkan semua postingan

    Tentang Kami

    Tentang Kami Papua Untuk Semua yang berdomain di www.papua.us merupakan website portal informasi tentang tanah Papua dari Waisai, Raja Ampat hingga Merauke. Termasuk pula informasi dari negara tetangga, Papua Nugini. Papua Untuk Semua menyediakan berita-berita terbaru tentang Tanah Papua dari berbagai media baik elektronik audio, visual, dan dunia maya maupun cetak, dengan maksud agar memperkenalkan Tanah Papua yang memiliki kekayaan alam dan keragaman budaya dan kehidupan, sehingga banyak orang semakin mengenal Papua bukan dari satu sudut tertentu saja melainkan dari berbagai sisi. Portal Papua Untuk Semua juga dimaksudkan sebagai pusat informasi tentang tanah Papua yang diharapkan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya dan untuk kepentingan bersama, mempromosikan Tanah Papua kepada dunia internasional. Kami megucapkan terima kasih kepada berbagai media yang menyediakan informasi tentang Tanah Papua sehingga banyak orang semakin mengenal Papua dengan segala keindahannya. --- Untuk informasi kontak lebih lanjut anda dapat menghubungi kami melalui email kami web[at]papua[dot]us Creative Commons License Papua Untuk Semua by Papua.us is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License. Based on a work at http://www.papua.us. Permissions beyond the scope of this license may be available at http://www.papua.us/p/tentang.html. Protected by Copyscape Duplicate Content Software

    Lebih lanjut tentang berita ini klik: http://www.papua.us/p/tentang.html
    Copyright © 2013 Papua Untuk Semua
    Tentang Kami Papua Untuk Semua yang berdomain di www.papua.us merupakan website portal informasi tentang tanah Papua dari Waisai, Raja Ampat hingga Merauke. Termasuk pula informasi dari negara tetangga, Papua Nugini. Papua Untuk Semua menyediakan berita-berita terbaru tentang Tanah Papua dari berbagai media baik elektronik audio, visual, dan dunia maya maupun cetak, dengan maksud agar memperkenalkan Tanah Papua yang memiliki kekayaan alam dan keragaman budaya dan kehidupan, sehingga banyak orang semakin mengenal Papua bukan dari satu sudut tertentu saja melainkan dari berbagai sisi. Portal Papua Untuk Semua juga dimaksudkan sebagai pusat informasi tentang tanah Papua yang diharapkan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya dan untuk kepentingan bersama, mempromosikan Tanah Papua kepada dunia internasional. Kami megucapkan terima kasih kepada berbagai media yang menyediakan informasi tentang Tanah Papua sehingga banyak orang semakin mengenal Papua dengan segala keindahannya. --- Untuk informasi kontak lebih lanjut anda dapat menghubungi kami melalui email kami web[at]papua[dot]us Creative Commons License Papua Untuk Semua by Papua.us is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License. Based on a work at http://www.papua.us. Permissions beyond the scope of this license may be available at http://www.papua.us/p/tentang.html. Protected by Copyscape Duplicate Content Software

    Lebih lanjut tentang berita ini klik: http://www.papua.us/p/tentang.html
    Copyright © 2013 Papua Untuk Semua
    Tentang Kami Papua Untuk Semua yang berdomain di www.papua.us merupakan website portal informasi tentang tanah Papua dari Waisai, Raja Ampat hingga Merauke. Termasuk pula informasi dari negara tetangga, Papua Nugini. Papua Untuk Semua menyediakan berita-berita terbaru tentang Tanah Papua dari berbagai media baik elektronik audio, visual, dan dunia maya maupun cetak, dengan maksud agar memperkenalkan Tanah Papua yang memiliki kekayaan alam dan keragaman budaya dan kehidupan, sehingga banyak orang semakin mengenal Papua bukan dari satu sudut tertentu saja melainkan dari berbagai sisi. Portal Papua Untuk Semua juga dimaksudkan sebagai pusat informasi tentang tanah Papua yang diharapkan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya dan untuk kepentingan bersama, mempromosikan Tanah Papua kepada dunia internasional. Kami megucapkan terima kasih kepada berbagai media yang menyediakan informasi tentang Tanah Papua sehingga banyak orang semakin mengenal Papua dengan segala keindahannya. --- Untuk informasi kontak lebih lanjut anda dapat menghubungi kami melalui email kami web[at]papua[dot]us Creative Commons License Papua Untuk Semua by Papua.us is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License. Based on a work at http://www.papua.us. Permissions beyond the scope of this license may be available at http://www.papua.us/p/tentang.html. Protected by Copyscape Duplicate Content Software

    Lebih lanjut tentang berita ini klik: http://www.papua.us/p/tentang.html
    Copyright © 2013 Papua Untuk Semua
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Perjuangan Masyarakat Adat Menuju Negara Demokrasi Kesukuan di Papua Barat

    Perjuangan Masyarakat Adat Menuju Negara Demokrasi Kesukuan di Papua Barat

    Perjuangan Masyarakat Adat Koteka Wilayah Badlima
    Menuju Kedaulatan Negara Demikrasi Kesukuan Papua Barat


    Dewan Musyawarah Masyarakat Adat Koteka (DEMMAK) lahir dari hasil prakarsa anak bangsa yang stelah melihat hasil perjuangan melalui Presidium Dewan Papua (PDP) dibawah pimpinan Alm.Theys Hiyo Eluay, tidak lagi konsisiten memperjuangan aspirasi masyarakat Papua yang telah lama hidup di bawah cengkeraman kolonial NKRI selama 30 tahun. Segala Harapan dan aspirasi masyarakat saat itu ada pada pimpinan dan Pilar PDP, namun aspirasi dan harapan rakyat itu tidak diperjuangan semaksimal sesuai harapan Rakyat Papua, terlihat PDP semakin akrab dengan NKRI, dan seolah ada  permainan dari pimpinan PDP dalam memperjuangan hak-hak dasar serta aspirasi menentukan nasib sendiri bagi rakyat Papua, Maka DEMMAK di dirikan oleh anak Koteka yang setelah melihat semua keganjilan yang terjadi di tubuh PDP.

    DeMMaK di dirikan setelah Musyawarah  Besar Papua ke II tahun 2000, DEMMAK berdiri  sebagai Organisasi masyarakat adat yang menyuarakan hak-hak dasar masyarakat Adat Papua yang telah dan sedang menuju kepunahan dan kehancuran.
    Perjuangan DEMMAK tidak melalui dalam Negeri, perjuangan dan Kampanye Papua mulai dari luar Negeri, dengan kantor pusatnya di Ireland, Ingggris Raya, vanuatu dan beberapa negara di Eropa... Perjuangan ini di dukung penuh oleh Masyarakat Adat Koteka yang ada di Pegunungan Tengah Papua, terutama Suku Walak yang hingga hari ini masih Eksis memperjuangan melalui Dukungan Dana dan Doa dalam men capai Negara Demokrasi Kesukuan.

    Perjuangan keras Masyarakat Adata Koteka di Wilayah Pegunungan,Tengah Papua  sehingga kantor DEMMAK dan Lobi politik di sejumlah negara berhasil dan sedang mendukung Penuh untuk Merdeka. Dalam rangka mendukung Perjuangan DEMMAK di luar negeri , Masyarakat Adat Adat Koteka di wilayah Badlima, berbagai cara mencari dana untuk mendukung Perjuangan lobi Politik di luar negeri,

    Sejarah Bangsa Papua, dan dunia akan mencatat, sebuah sejarah baru dimana Masyarakat adat Kooteka wilayah Badlima telah menjual anak-anak gadisnya dengan harga yang murah demi mendukung dana Perjuangan Papua, Koordinator DEMMAK wilayah Badlima Tuan Jafet Togodly melakukan tindakan penjualan gadis-gadis papua di wilayah badlima kepada masyarakat disekitarnya untuk demi mendapatkan uang untuk perjuangan Politik Papua di Luar Negeri.

    Sejarah ini akan selalu mencatat di papua barat, bahwa begitu jerih payahnya Perjuangan masyarakat Adat Koteka wilayah Badlima untuk mendorong proses Perjuangan Papua menuju Kemerdekaan Penuh dengan negara Demokarasi Kesukuan...

    Perjuangan panjuang Masyarakat Adat Koteka seperti di wilayah Badlima, adakah perjuangan seperti ini dilakukan juga masyarakat lain di Papua??? Ataukah hanya mengahrapkan kemerdekaan dan Kebebasan itu datang begitu saja dari Surga? dari PBB?, atau orang kulit putih??? TIDAK!!!

    Perjuangan harus dari masyarakat Papua sendiri dengan penuh keyakinan, tanggungjawab, terhadap Perjuangan ini...

    DEMMAK Koordinator Wilayah Badlima, hingga hari ini masih Eksis dan semangat dalam perjuangan menuju Kemerdekaan Penuh dengan Negara Demokrasi Kesukuan, Moto Perjuangan masyarakat Adat Koteka Wilayah Badliama adalah, " Perjuangan Melawan Antara TIPU dan Benar"" BENAR LAWAN TIPU" ...

    Dasar Perjuangan Masyarakat Adat Koteka Papua adalah X1414,  Benar bahwa Allah menjadikan Tanah Papua dan penjaga atas ciptaaan tanah ini adalah orang Papua, kulitnya hitam, rambut Keriting, bukan orang rambut dan kulit lain... Kalau Allah kehendaki orang Papua yang menghuni di atas negeri ini, kenapa ada orang lain yang datang merampas, mencuri dan membunuh dengan seenaknya saja atas keberadaban manusia Papua???

    Allah sebagai Panglima Perang akan Berperang Bagi Umatnya, dan tugas kami adalah bekerja keras, mendukung  impian dan harapan itru terwujud dengan memberikan dukungan dana,kepada Diplomat anak Koteka yang ada di Luar Negeri.

    Bersama Kebenaran Sejarah Sang Bintang Kejora !!! Kita Pasti meraih Kemerdekaan dan Pembebasan Nasional Bagi Rakyat Papua Barat.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Visi dan Misi KBK Papua (FAMKP)

    - Pernyataan Visi dan Misi KBK Papua/ FAMKP
    Visi
    Visi PKBK Papua/FAMKP ialah mewujudkan dunia penutur bahasa Melayu yang melek akan persoalan Politik Papua dalam konteks politik NKRI dan politik Melanesia.
    Dengan kemelekan dimaksud menyatakan sikap terhadap status politik Tanah Papua di dalam NKRI secara proporsional, demokrasi, bermoral dan bermartabat.

    Tujuan Akhir
    Mewujudn-yatakan sebuah West Papua (wilayah di Pulau New Guinea bagian Barat) yang bebas, merdeka dan berdaulat, berdasarkan KEBENARAN sejati yang menghadirkan keadilan, keutuhan, kerukunan, kedamaian dan keserasian berdasarkan kebenaran nilai-nilai dan norma-norma ke-Melanesia-an sebagai wujud nilai dan norma kemanusiaan universal, yaitu dengan menjunjung tinggi kehidupan berdasarkan KEBENARAN yang berkeadilan sebagai nilai tertinggi di atas hak asasi, keadilan sosial, kedamain abadi, kestabilan ataupun demokrasi.
    • Bebas dan merdeka artinya terlepas dari NKRI beserta antek-antek dan majikan-majikannya; bebas dari segala macam bentuk pemerkosaan, pengekangan, penindasan, terror dan intimidasi, pembantaian, penjarahan yang berdampak perusakan alam Bumi Cenderawasih dan penghilangan kelompok etnis Papua ras Melanesia dari tanah leluhurnya, Pulau New Guinea;
    • Berdaulat berarti terlepas dari segala macam kekangan dan ikatan dengan dan oleh pihak asing seperti NKRI dan Belanda;
    • West Papua berarti Tanah Papua (dari Sorong sampai Samarai);
    • KEBENARAN yang berkeadilan sebagi nilai tertinggi berarti yang terpenting dari semuanya bukanlah demokrasi, bukan HAM, bukan keadilan. Menurut KBK Papua (FAMKP), KEBENARAN ialah sumber dari semuanya dan segalanya:  entah itu HAM, demokrasi, kedamaian, keadilan, modernisasi, kesejahteraan dan kemakmuran.
    Untuk pada akhirnya menciptakan hidup dan bergerak demi mewujudkan masyarakat yang beradab (kemanusiaanya), demokratis (dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara), maju (dalam paradigma dan pola berpikir srta bertindak), yang penuh kebijaksanaan dan kearifan (didasarkan pada nilai-nilai dan norma serta pandangan hidup warisan nenek-moyang orang Melanesia) yang berkerabat dengan sesama manusia dan harmonis dengan alam sekitarnya.


    Misi
    Misi utama pemberitaan KBK Papua / FAMKP sebagai bagian dari WPNews Group Online Services karya The Diary of OPM (Online Papua Mouthpiece) ialah menginjili dunia dengan KEBENARAN sejati dari Tanah dan Bangsa Papua menyangkut aneksasi dan pendudukan NKRI atas bangsa dan Tanah Papua dengan:
    • "Memberitakan berita apa adanya", yaitu  menyampaikan berita sebagaimana adanya, dari dan tentang Tanah Papua (Sorong sampai Samarai), baik yang telah terjadi, sedang terjadi ataupun yang akan terjadi;
    • Mendidik masyarakat penutur bahasa Melayu di manapun Anda berada tentang sisi-sisi negativ dan sisi-sis positiv serta keuntungan dan kerugian dari "tipu daya" dan "muslihat" terkait pendudukan NKRI atas Tanah dan bangsa Papua dan keindahan dan kemegahan dari "kebenaran" sejarah proses pencaplokan dan pendudukan NKRI atas Bumi Cenderawasih;
    • Memberi pelajaran yang mendidik masyarakat penutur bahasa Melayu di manapun Anda berada tentang kasus pendudukan Negara Kesatuan Republik Indonesia di atas Tanah Papua dengan sebuah proses Pencaplokan (Annexation) yang berujung kepada Pendudukan dan Penjajahan (Occupation and Colonialism) di era pascamodern ini (1961 – sekarang).

    Motto dan Slogan
    Motto: Speaking for the Truth (Bersuara Karena dan Untuk KEBENARAN!)
    Slogan: Educating the World, for a Free and Independent West Papua (Mendidik Dunia untuk sebuah West Papua yang Bebas dan Berdaulat).

    Pernyataan Sikap
    Kami menyatakan, dengan ini dengan sesunggunya
    Berpihak kepada Kebenaran itu sendiri, bukan kebenaran saya, bukan kebenaran Kami, bukan kebenaran Anda, bukan juga kebenaran Mereka, tetapi KEBENARAN itu sendiri, terlepas dari semuanya
    Karena
    1. KEBENARAN itu membenarkan...
    2. BENENARAN itu memerdekakan...
    3. KEBENARAN Itu pasti dan selalu MENANG.

    Papua Merdeka News mengakui dan
    • mengukuhkan bahwa Masyarakat Adat berhak untuk Menentukan Nasib Sendiri, berdasar atas hak tersebut mereka dengan bebas menentukan status politik mereka dan mengusahakan pembanguna ekonomi, sosial dan budaya mereka (Pasal 3,Resolusi di Adopsikan oleh Majelis Umum PBB. 61/295. Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat.)
    • memproklamirkan bersama NKRI bahwa "kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh karena itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan (Preambule UUD 1945 NKRI);
    • menyatakan bahwa KEBENARAN selalu dan pasti menang, entah bagaimanapun juga. KEBENARAN tidak dapat dikalahkan oleh siapapun, kapanpun, di manapun dan bagaimanapun juga. KEBENARAN selalu dan pasti menang, dari masa ke masa, di mana-mana, di hadapan siapapun dan bagaimanapun juga adanya. Oleh karena itu, "KEBEBARAN" seputar persiapan dan Pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 di Irian Barat ialah keberpihakan kami, tanpa kompromi, karena kami yakin, kebenaran itu pasti terungkap dan akhirnya pasti menang, sekali untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, Papua Merdeka News Bersuara Karena & Untuk KEBENARAN!
    Yang artinya:
    1. "Bersuara karena KEBENARAN!" artinya kalau tidak ada kebenaran tidak perlu bersuara, dan/ atau kalau tidak salah kenapa takut?
    2. "Bersuara untuk KEBENARAN!" maksudnya karena kami yakin kebenaran pasti menang dan menang untuk selama-lamanya.
    3. "Bersuara Karena & Untuk KEBENARAN!" berarti kami tidak berusaha membenarkan diri, dan tidak mengkleim diri sebagai yang benar, apalagi kami tidak berpihak kepada dan menentang upaya menutup-nutupi atau membelokkan kebenaran atau upaya membenarkan kesalahan. Artinya "KEBENARAN" itu kami pandang dan suarakan sebagai kebenaran secara terpisah dari kemauan atau aspirasi bangsa Papua ataupun kleim dan dalik NKRI. "KEBENARAN" itu terlepas dari kepentingan ataupun kelompok, ia secara terpisah dan utuh sebagai "KEBENARAN" itu sendiri: bukan kebenaran orang Papua, bukan juga kebenaran NKRI, tetapi "KEBENARAN" itu sendiri.
    Oleh karena itulah ami hanya berjuang untuk menjadi salah satu dari suara-suara yang memercikkan cahaya KEBENARAN itu sendiri, karena pada akhirnya dan pastinya KEBENARAN itu sendiri akan membela dan memenangkan dirinya.
    Kami tahu KEBENARAN tidak butuh kami, tetapi kami butuh KEBENARAN itu untuk diwujud-nyatakan dan menyatakan kemenangannya yang mutlak dan abadi itu di Tanah Papua, di Bumi Cenderawasih, di pulau New Guinea, di muka Bumi ini.

    Penjelasan Tambahan
    1. Tulisan PAPUA Merdeka! News di mana “PAPUA” ditulis dalam huruf besar, “Merdeka!” ditulis dengan huruf “M” besar, lalu diakhiri dengan tanda seru “!”, dan “News”. Ungkapan “PAPUA Merdeka!” menunjukkan sebuah tekad dan perjuangan untuk kemerdekaan Negara West Papua, kemerdekaan bangsa dan Tanah Papua dari segala bentuk dan macam penjajahan;
    2.  "KEBENARAN", dalam cetakan huruf besar berarti bukan sesuatu yang saya anggap benar, yang kami anggap benar atau yang Anda anggap benar atay yagn mereka anggap benar. Bukan juga perihal yang saya dan kami atau yang Anda atau mereka benarkan. Dia adalah "kebenaran" itu sendiri, sebagai sebuah obyek, subyek, identitas, oknum "benar" itu sendiri secara terpisah dan mandiiri, tanpa kepentingan siapapun, tanpa tempelan kemauan makhluk manapun. "Kebenaran" yang dimaksud di sini ialah fakta sebagaimana adanya tanpa embel-embel atau bayangan atau bumbu kepentingan apapun, kacamata apapun, tafsiran apapun.
    3.  KEBENARAN! di sini bukanlah “KEBENARAN” sebagaimana dimaksud dalam Kita Suci agama modern. Kebenaran dalam Kitab Suci Agama Modern ialah kebenaran yang bersifat “dogma” yang diimani, yang berisi harapan dan janji: janji keselamatan, janji hidup kekal, janji upah, janji berkat dan kelimpahan, yang terkait dengan makhluk ilahi. KEBENARAN! Dalam hal ini bukanlah yang menjadi KEBENARAN karena saya yakin dia sebuah kebenaran. Tidak perduli engkau dan saya percaya atau tidak percaya, dia tetap kebenaran.
    4. KEBENARAN di sini tidak bermaksud membela pendirian Bintang Kejora atau dalil Merah-Putih, kebenaran NKRI atau kebenaran West Papua. Kebenaran dimaksud ialah "kebenaran" itu sendiri, tanpa tambahan NKRI atau West Papua, tanpa Bintang Kejora ataupun Merah-Putih. Karena ini sebuah kebenaran terkait dengan sebuah fakta sejarah, sebuah peristiwa, sebuah insiden sejarah, yang telah tercatat dalam sejarah peri-kemanusiaan, khususnya dalam memori kolektiv manusia Papua, yang terus-menerus selama lebih dari setengah abad disegel dengan nyawa dan darah sebuah bangsa, yang sedang menunggu waktu sesuai kehendak-Nya untuk menyatakan jatidirinya sebagai KEBENARAN yang mutlak untuk selama-lamanya.
    5.  Tanda Seru "!" di akhir kata "KEBENARAN" menegaskan keteguhan hati, pernyataan sikap, kebulatan tekad untuk memagari dan memfasilitasi KEBENARAN itu menyatakan dirinya, pertaruhan raga, jiwa dan semangat untuk merayakan "KEBENARAN" itu sendiri.

    Ini cerita para Polwan digerebek suami saat selingkuh

    Ini cerita para Polwan digerebek suami saat selingkuh

    Merdeka.com - Menjadi seorang Polisi Wanita (Polwan) tidaklah mudah. Seorang Polwan harus mau ditugaskan di mana saja dan kapan saja oleh Polri.

    Selain itu, seorang Polwan juga harus bisa menjaga perilaku dan ucapannya. Sebab, segala macam perilaku dan ucapan Polwan akan berpengaruh kepada citra Polri.

    Namun, tak semua Polwan dapat berprilaku positif. Salah satu contoh kasus adalah ada sejumlah Polwan yang tertangkap tengah berselingkuh dengan pria lain.

    Padahal, Polwan tersebut diketahui telah bersuami. Bahkan tak jarang sang suami juga merupakan anggota Polri.

    Berikut cerita Polwan yang terpergok selingkuh seperti dirangkum merdeka.com.

    6 Tips untuk mahasiswa agar siap bersaing di dunia kerja

    6 Tips untuk mahasiswa agar siap bersaing di dunia kerja

     

    1. Raih nilai bagus

    Merdeka.com - Kata-kata 'IPK harus tinggi' memang terdengar klise bagi banyak mahasiswa. IPK yang tinggi memang tidak menjanjikan kesuksesan, namun paling tidak dengan memiliki IPK yang tinggi, Anda akan dilirik oleh perusahaan-perusahaan tujuan saat mengajukan lamaran. Dengan IPK tinggi, perusahaan akan melihat Anda sebagai orang yang mau berkompetisi dan mengembangkan diri. Apalagi, tahap seleksi administrasi saat proses rekrutmen pegawai memang tidak memungkinkan perusahaan untuk melihat kualitas Anda secara langsung. Jadi, IPK-lah yang dijadikan patokan

    2. Jangan segan bertanya

    Merdeka.com - Dosen-dosen Anda pasti akan dengan senang hati menjadi konsultan Anda untuk soal karir. Mereka tentu memiliki banyak koneksi dari para mahasiswa mereka yang sudah lulus sebelum Anda yang bisa memberi Anda peluang kerja yang keren. Jadi, jangan ragu untuk mengobrol dengan dosen yang Anda percaya di luar jam kuliah untuk menggali banyak peluang emas demi kesuksesan Anda

    3. Pengalaman berorganisasi

    Merdeka.com - Berorganisasi akan memberikan Anda gambaran tentang bagaimana caranya bekerja dengan efektif dalam satu tim. Banyak perusahaan yang tidak hanya mengandalkan kualitas individu, tetapi juga memperhitungkan kemampuan memimpin dan berkoordinasi dari para pegawainya. Anda juga perlu berpartisipasi dalam acara-acara komunitas atau sukarela seperti kampanye WWF atau juga pelestarian hutan kota di tempat Anda berkuliah. Menjadi sukarelawan bisa memberi nilai plus untuk Anda, karena perusahaan akan melihat Anda sebagai orang yang memiliki passion dalam hidup. Orang-orang yang seperti ini biasanya memiliki banyak ide yang bisa dikembangkan.

    4. Pengalaman magang

    Merdeka.com - Tugas PKL untuk mahasiswa akhir bisa Anda jadikan ajang untuk menambah koneksi di dunia kerja sekaligus untuk belajar memahami ritme manusia karir. Dunia kerja seringnya membutuhkan orang-orang yang sudah memiliki pengetahuan mendasar tentang karir. Jadi, jangan sia-siakan mata kuliah PKL, ya.

    5. Perbanyak pengalaman kerja

    Merdeka.com - Liburan semester genap anak kuliah biasanya cukup panjang, mayoritas hingga 3 bulan lamanya. Nah, daripada Anda menghabiskan waktu dengan senang-senang saja atau traveling ke sana-sini tiap tahunnya, akan lebih baik jika Anda mengisi salah satu libur panjang dengan bekerja. Bekerja di sini tidak sama dengan magang. Untuk pengalaman kerja ini, Anda harus betul-betul berfokus pada satu bidang keahlian yang Anda minati dan Anda bisa mendapatkan uang darinya. Pengalaman ini nantinya akan membuat Anda terlihat 'cemerlang' di antara pelamar-pelamar lainnya saat interview kerja di masa mendatang.

    6. 'Bersihkan' akun Facebook

    Merdeka.com - Sekarang ini sudah banyak sekali perusahaan nasional maupun internasional yang mengandalkan Facebook review untuk menilai para calon pegawai mereka. Tentunya foto atau status updates yang alay atau kekanakan yang ada di akun Facebook Anda akan bisa merugikan Anda jika hal ini terjadi. Oleh karena itu, jaga 'kebersihan' halaman Facebook Anda sejak dari kuliah sehingga Anda tak perlu melakukan perombakan besar-besaran atau malah menghapus akun Facebook Anda nantinya.
    Jangan lupa kuatkan doa, ya, supaya mendapatkan pekerjaan idaman!

     

    SUARA PAPUA MERDEKA 2013

    PROFIL

    Nama Negara : PAPUA BARAT (WEST PAPUA)
    Lambang Negara : BURUNG MAMBRUK
    Nama Parlemen : NIEUW-GUINEA RAAD/PAPUA VOLKS-RAAD
    Semboyan : "ONE PEOPLE ONE SOUL" (SEJIWA SEBANGSA)
    Bendera Negara : BINTANG KEJORA
    Nama Bangsa : PAPUA
    Lagu Kebangsaan : HAI TANAHKU PAPUA.
    Mata Uang : Golden
     * NAMA  NEGARA : WEST PAPUA (PAPUA BARAT)





















    BANGSA/NEGARA PAPUA BARAT TELAH MERDEKA BERDAULAT ADIL DAN MAKMUR SECARA DEMOKRATIS,*NKRPB*"NEGARA KESATUAN REPUBLIK PAPUA BARAT". DENGAN GARIS TERITORIAL SORONG SAMPAI MERAUKE YANG TAK MEMECAH BELAH MENJUNJUNG TINGGI BERSATU PADU, BERBAGAI SUKU BANGSA BERRAS KULIT HITAM YANG MENDIAMI DITENGAH KEKAYAAN ALAM DAN KEKAYAAN BUDAYANYA DIATAS BUMI PAPUA. NKRPB MEMPUNYAI SEJARAH REVOLUSI PENJAJAHAN YANG SANGAT MENGSIGNIFIKAN DI ALAMI OLEH RAKYAT PAPUA DARI BANGSA-BANGSA LAIN YAITU; PORTUGIS, JEPANG, BELANDA, DAN NEGARA-NEGARA LAINNYA DARI EROPA DAN INDONESIA ASIA TENGGARA. NEGARA PAPUA BARAT MEMPUNYAI DASAR-DASAR YAITU:
    1. HAK
    2. BUDAYA
    3. LATARBELAKANG SEJARAH
    4. KEADAAN SEKARANG
    ad 1. Hak
    Kemerdekaan adalah »hak« berdasarkan Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration on Human Rights) yang menjamin hak-hak individu dan berdasarkan Konvenant Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik yang menjamin hak-hak kolektif di dalam mana hak penentuan nasib sendiri (the right to self-determination) ditetapkan.
    »All peoples have the right of self-determination. By virtue of that right they freely determine their political status and freely pursue their economic, social and cultural development - Semua bangsa memiliki hak penentuan nasib sendiri. Atas dasar mana mereka bebas menentukan status politik mereka dan bebas melaksanakan pembangunan ekonomi dan budaya mereka«
    (International Covenant on Civil and Political Rights, Article 1). Nation is used in the meaning of People (Roethof 1951:2) and can be distinguished from the concept State - Bangsa digunakan dalam arti Rakyat (Roethof 1951:2) dan dapat dibedakan dari konsep Negara (Riop Report No.1). Riop menulis bahwa sebuah negara dapat mencakup beberapa bangsa, maksudnya kebangsaan atau rakyat (A state can include several nations, meaning Nationalities or Peoples).
    Ada dua jenis the right to self-determination (hak penentuan nasib sendiri), yaitu external right to self-determination dan internal right to self-determination.
    External right to self-determination yaitu hak penentuan nasib sendiri untuk mendirikan negara baru di luar suatu negara yang telah ada. Contoh: hak penentuan nasib sendiri untuk memiliki negara Papua Barat di luar negara Indonesia. External right to self-determination, or rather self-determination of nationalities, is the right of every nation to build its own state or decide whether or not it will join another state, partly or wholly (Roethof 1951:46) - Hak external penentuan nasib sendiri, atau lebih baiknya penentuan nasib sendiri dari bangsa-bangsa, adalah hak dari setiap bangsa untuk membentuk negara sendiri atau memutuskan apakah bergabung atau tidak dengan negara lain, sebagian atau seluruhnya (Riop Report No.1). Jadi, rakyat Papua Barat dapat juga memutuskan untuk berintegrasi ke dalam negara tetangga Papua New Guinea. Perkembangan di Irlandia Utara dan Irlandia menunjukkan gejala yang sama. Internal right to self-determination yaitu hak penentuan nasib sendiri bagi sekelompok etnis atau bangsa untuk memiliki daerah kekuasaan tertentu di dalam batas negara yang telah ada. Suatu kelompok etnis atau suatu bangsa berhak menjalankan pemerintahan sendiri, di dalam batas negara yang ada, berdasarkan agama, bahasa dan budaya yang dimilikinya. Di Indonesia dikenal Daerah Istimewa Jogyakarta dan Daerah Istimewa Aceh. Pemerintah daerah-daerah semacam ini biasanya dilimpahi kekuasaan otonomi ataupun kekuasaan federal. Sayangnya, Jogyakarta dan Aceh belum pernah menikmati otonomi yang adalah haknya.
    ad 2. Budaya
    Rakyat Papua Barat, per definisi, merupakan bagian dari rumpun bangsa atau ras Melanesia yang berada di Pasifik, bukan ras Melayu di Asia. Rakyat Papua Barat memiliki budaya Melanesia. Bangsa Melanesia mendiami kepulauan Papua (Papua Barat dan Papua New Guinea), Bougainville, Solomons, Vanuatu, Kanaky (Kaledonia Baru) dan Fiji. Timor dan Maluku, menurut antropologi, juga merupakan bagian dari Melanesia. Sedangkan ras Melayu terdiri dari Jawa, Sunda, Batak, Bali, Dayak, Makassar, Bugis, Menado, dan lain-lain.
    Menggunakan istilah ras di sini sama sekali tidak bermaksud bahwa saya menganjurkan rasisme. Juga, saya tidak bermaksud menganjurkan nasionalisme superior ala Adolf Hitler (diktator Jerman pada Perang Dunia II). Adolf Hitler menganggap bahwa ras Aria (bangsa Germanika) merupakan manusia super yang lebih tinggi derajat dan kemampuan berpikirnya daripada manusia asal ras lain. Rakyat Papua Barat sebagai bagian dari bangsa Melanesia merujuk pada pandangan Roethof sebagaimana terdapat pada ad 1 di atas.
    ad 3. Latarbelakang Sejarah
    Kecuali Indonesia dan Papua Barat sama-sama merupakan bagian penjajahan Belanda, kedua bangsa ini sungguh tidak memiliki garis paralel maupun hubungan politik sepanjang perkembangan sejarah. Analisanya adalah sebagai
    berikut:
    Pertama: Sebelum adanya penjajahan asing, setiap suku, yang telah mendiami Papua Barat sejak lebih dari 50.000 tahun silam, dipimpin oleh kepala-kepala suku (tribal leaders). Untuk beberapa daerah, setiap kepala suku dipilih secara demokratis sedangkan di beberapa daerah lainnya kepala suku diangkat secara turun-temurun. Hingga kini masih terdapat tatanan pemerintahan tradisional di beberapa daerah, di mana, sebagai contoh, seorang Ondofolo masih memiliki kekuasaan tertentu di daerah Sentani dan Ondoafi masih disegani oleh masyarakat sekitar Yotefa di Numbai. Dari dalam tingkat pemerintahan tradisional di Papua Barat tidak terdapat garis politik vertikal dengan kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia ketika itu.
    Kedua: Rakyat Papua Barat memiliki sejarah yang berbeda dengan Indonesia dalam menentang penjajahan Belanda dan Jepang. Misalnya, gerakan Koreri di Biak dan sekitarnya, yang pada awal tahun 1940-an aktif menentang kekuasaan Jepang dan Belanda, tidak memiliki garis komando dengan gerakan kemerdekaan di Indonesia ketika itu. Gerakan Koreri, di bawah pimpinan Stefanus Simopiaref dan Angganita Menufandu, lahir berdasarkan kesadaran pribadi bangsa Melanesia untuk memerdekakan diri di luar penjajahan asing.
    Ketiga: Lamanya penjajahan Belanda di Indonesia tidak sama dengan lamanya penjajahan Belanda di Papua Barat. Indonesia dijajah oleh Belanda selama sekitar 350 tahun dan berakhir ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949. Papua Barat, secara politik praktis, dijajah oleh Belanda selama 64 tahun (1898-1962).
    Keempat: Batas negara Indonesia menurut proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah dari »Aceh sampai Ambon«, bukan dari »Sabang sampai Merauke«. Mohammed Hatta (almarhum), wakil presiden pertama RI dan lain-lainnya justru menentang dimasukkannya Papua Barat ke dalam Indonesia (lihat Karkara lampiran I, pokok Hindia Belanda oleh Ottis Simopiaref).
    Kelima: Pada Konferensi Meja Bundar (24 Agustus - 2 November 1949) di kota Den Haag (Belanda) telah dimufakati bersama oleh pemerintah Belanda dan Indonesia bahwa Papua Barat tidak merupakan bagian dari negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Status Nieuw-Guinea akan ditetapkan oleh kedua pihak setahun kemudian. (Lihat lampiran II pada Karkara oleh Ottis Simopiaref).
    Keenam: Papua Barat pernah mengalami proses dekolonisasi di bawah pemerintahan Belanda. Papua Barat telah memiliki bendera national »Kejora«, »Hai Tanahku Papua« sebagai lagu kebangsaan dan nama negara »Papua Barat«. Simbol-simbol kenegaraan ini ditetapkan oleh New Guinea Raad / NGR (Dewan New Guinea). NGR didirikan pada tanggal 5 April 1961 secara demokratis oleh rakyat Papua Barat bekerjasama dengan pemerintah Belanda. Nama negara, lagu kebangsaan serta bendera telah diakui oleh seluruh rakyat Papua Barat dan pemerintah Belanda.
    Ketujuh: Dari 1 Oktober 1962 hingga 1 Mei 1963, Papua Barat merupakan daerah perwalian PBB di bawah Unhted Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) dan dari tahun 1963 hingga 1969, Papua Barat merupakan daerah perselisihan internasional (international dispute region). Kedua aspek ini menggaris-bawahi sejarah Papua Barat di dunia politik internasional dan sekaligus menunjukkan perbedaannya dengan perkembangan sejarah Indonesia bahwa kedua bangsa ini tidak saling memiliki hubungan sejarah.
    Kedelapan: Pernah diadakan plebisit (Pepera) pada tahun 1969 di Papua Barat yang hasilnya diperdebatkan di dalam Majelis Umum PBB. Beberapa negara anggota PBB tidak setuju dengan hasil Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) karena hanya merupakan hasil rekayasa pemerintah Indonesia. Adanya masalah Papua Barat di atas agenda Majelis Umum PBB menggaris-bawahi nilai sejarah Papua Barat di dunia politik internasional. Ketidaksetujuan beberapa anggota PBB dan kesalahan PBB dalam menerima hasil Pepera merupakan motivasi untuk menuntut agar PBB kembali memperbaiki sejarah yang salah. Kesalahan itu sungguh melanggar prinsip-prinsip PBB sendiri. (Silahkan lihat lebih lanjut pokok tentang Pepera dalam Karkara oleh Ottis Simopiaref).
    Kesembilan: Rakyat Papua Barat, melalui pemimpin-pemimpin mereka, sejak awal telah menyampaikan berbagai pernyataan politik untuk menolak menjadi bagian dari RI. Frans Kaisiepo (almarhum), bekas gubernur Irian Barat, pada konferensi Malino 1946 di Sulawesi Selatan, menyatakan dengan jelas bahwa rakyatnya tidak ingin dihubungkan dengan sebuah negara RI (Plunder in Paradise oleh Anti-Slavery Society). Johan Ariks (alm.), tokoh populer rakyat Papua Barat pada tahun 1960-an, menyampaikan secara tegas perlawanannya terhadap masuknya Papua Barat ke dalam Indonesia (Plunder in Paradise oleh Anti-Slavery Society). Angganita Menufandu (alm.) dan Stefanus Simopiaref (alm.) dari Gerakan Koreri, Raja Ati Ati (alm.) dari Fakfak, L.R. Jakadewa (alm.) dari DVP-Demokratische Volkspartij, Lodewijk Mandatjan (alm.) dan Obeth Manupapami (alm.) dari PONG-Persatuan Orang Nieuw-Guinea, Barend Mandatjan (alm.), Ferry Awom (alm.) dari Batalyon Papua, Permenas Awom (alm.), Jufuway (alm.), Arnold Ap (alm.), Eliezer Bonay (alm.), Adolf Menase Suwae (alm.), Dr. Thomas Wainggai (alm.), Nicolaas Jouwe, Markus Wonggor Kaisiepo dan lain-lainnya dengan cara masing-masing, pada saat yang berbeda dan kadang-kadang di tempat yang berbeda memprotes adanya penjajahan asing di Papua Barat.
    ad 4. Realitas Sekarang
    Rakyat Papua Barat menyadari dirinya sendiri sebagai bangsa yang terjajah sejak adanya kekuasaan asing di Papua Barat. Kesadaran tersebut tetap menjadi kuat dari waktu ke waktu bahwa rakyat Papua Barat memiliki identitas tersendiri yang berbeda dengan bangsa lain. Di samping itu, penyandaran diri setiap kali pada identitas pribadi yang adalah dasar perjuangan, merupakan akibat dari kekejaman praktek-praktek kolonialisme Indonesia. Perlawanan menjadi semakin keras sebagai akibat dari (1) penindasan yang brutal, (2) adanya ruang-gerak yang semakin luas di mana seseorang dapat mengemukakan pendapat secara bebas dan (3) membanjirnya informasi yang masuk tentang sejarah Papua Barat. Rakyat Papua Barat semakin mengetahui dan mengenal sejarah mereka. Kesadaran merupakan basis untuk mentransformasikan realitas, sebagaimana almarhum Paulo Freire (profesor Brasilia dalam ilmu pendidikan) menulis. Semangat juang menjadi kuat sebagai akibat dari kesadaran itt sendiri.
    Pada tahun 1984 terjadi exodus besar-besaran ke negara tetangga Papua New Guinea dan empat pemuda Papua yaitu Jopie Roemajauw, Ottis Simopiaref, Loth Sarakan (alm.) dan John Rumbiak (alm.) memasuki kedutaan besar Belanda di Jakarta untuk meminta suaka politik. Permintaan suaka politik ke kedubes Belanda merupakan yang pertama di dalam sejarah Papua Barat. Gerakan yang dimotori Kelompok Musik-Tari Tradisional, Mambesak (bahasa Biak untuk Cendrawasih) di bawah pimpinan Arnold Ap (alm.) merupakan manifestasi politik anti penjajahan yang dikategorikan terbesar sejak tahun 1969. Kebanyakan anggota Mambesak mengungsi dan berdomisili di Papua New Guinea sedangkan sebagian kecil masih berada dan aktif di Papua Barat.
    Dr. Thomas Wainggai (alm.) memimpin aksi damai besar pada tanggal 14 Desember 1988 dengan memproklamirkan kemerdekaan negara Melanesia Barat (Papua Barat). Setahun kemudian pada tanggal yang sama diadakan lagi aksi damai di Numbai (nama pribumi untuk Jayapura) untuk memperingati 14 Desember. Dr. Thom Wainggai dijatuhkan hukuman penjara selama 20 tahun, namun beliau kemudian meninggal secara misterius di penjara Cipinang. Papua Barat dilanda berbagai protes besar-besaran selama tahun 1996. Tembagapura bergelora bagaikan air mendidih selama tiga hari (11-13 Maret). Numbai terbakar tanggal 18 Maret menyusul tibanya mayat Thom Wainggai. Nabire dijungkir-balik selama 2 hari (2-3 Juli). Salah satu dari aksi damai terbesar terjadi awal Juli 1998 di Biak, Numbai, Sorong dan Wamena, kemudian di Manokwari. Salah satu pemimpin dari gerakan bulan Juli 1998 adalah Drs. Phillip Karma. Drs. P. Karma bersama beberapa temannya sedang ditahan di penjara Samofa, Biak sambil menjalani proses pengadilan. Gerakan Juli 1998 merupakan yang terbesar karena mencakup daerah luas yang serentak bergerak dan memiliki jumlah massa yang besar. Gerakan Juli 1998 terorganisir dengan baik dibanding gerakan-gerakan sebelumnya. Di samping itu, Gerakan Juli 1998 dapat menarik perhatian dunia melalui media massa sehingga beberapa kedutaan asing di Jakarta menyampaikan peringatan kepada ABRI agar menghentikan kebrutalan mereka di Papua Barat. Berkat Gerakan Juli 1998 Papua Barat telah menjadi issue yang populer di Indonesia dewasa ini. Di samping sukses yang telah dicapai terdapat duka yang paling dalam bahwa menurut laporan dari PGI (Persekutuan Gereja Indonesia) lebih dari 140 orang dinyatakan hilang dan kebanyakan mayat mereka telah ditemukan terdampar di Biak. Menurut laporan tersebut, banyak wanita yang diperkosa sebelum mereka ditembak mati. Realitas penuh dengan represi, darah, pemerkosaan, penganiayaan dan pembunuhan, namun perjuangan tetap akan dilanjutkan. Rakyat Papua Barat menyadari dan mengenali realitas mereka sendiri. Mereka telah mencicipi betapa pahitnya realitias itu. Mereka hidup di dalam dan dengan suatu dunia yang penuh dengan ketidakadilan, namun kata-kata Martin Luther King masih disenandungkan di mana-mana bahwa »We shall overcome someday!« (Kita akan menang suatu ketika!).
    Masa depan: Tidak diikut-sertakannya rakyat Papua Barat sebagai subjek masalah di dalam Konferensi Meja Bundar, New York Agreement yang mendasari Act of Free Choice, Roma Agreement dan lain-lainnya merupakan pelecehan hak penentuan nasib sendiri yang dilakukan oleh pemerintah (state violence) dalam hal ini pemerintah Indonesia dan Belanda. (Untuk Roma Agreement, silahkan melihat lampiran pada Karkara oleh Ottis Simopiaref). Rakyat Papua Barat tidak diberi kesempatan untuk memilih secara demokratis di dalam Pepera. Act of Free Choice disulap artinya oleh pemerintah Indonesia menjadi Pepera. Di sini terjadi manipulasi pengertian dari Act of Free Choice (Ketentuan Bebas Bersuara) menjadi Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Ortiz Sans sebagai utusan PBB yang mengamati jalannya Pepera melaporkan bahwa rakyat Papua Barat tidak diberikan kebebasan untuk memilih. Ketidakseriusan PBB untuk menerima laporan Ortiz Sans merupakan pelecehan hak penentuan nasib sendiri. PBB justru melakukan pelecehan HAM melawan prinsip-prinsipnya sendiri. Ini merupakan motivasi di mana rakyat Papua Barat akan tetap berjuang menuntut pemerintah Indonesia, Belanda dan PBB agar kembali memperbaiki kesalahan mereka di masa lalu. Sejak pencaplokan pada 1 Mei 1963, pemerintah Indonesia selalu berpropaganda bahwa yang pro kemerdekaan Papua Barat hanya segelintir orang yang sedang bergerilya di hutan. Tapi, Gerakan Juli 1998 membuktikan yang lain di mana dunia telah menyadari bahwa jika diadakan suatu referendum bebas dan adil maka rakyat Papua Barat akan memilih untuk merdeka di luar Indonesia. Rakyat Indonesia pun semakin menyadari hal ini.
    Menurut catatan sementara, diperkirakan bahwa sekitar 400 ribu orang Papua telah meninggal sebagai akibat dari dua hal yaitu kebrutalan ABRI dan kelalaian politik pemerintah. Sadar atau tidak, pemerintah Indonesia telah membuat sejarah hitam yang sama dengan sejarah Jepang, Jerman, Amerikat Serikat, Yugoslavia dan Rwanda. Jepang kemudian memohon maaf atas kebrutalannya menduduki beberapa daerah di Asia-Pasifik pada tahun 1940-an. Sentimen anti Jerman masih terasa di berbagai negara Eropa Barat. Ini membuat para pemimpin dan orang-orang Jerman menjadi kaku jika mengunjungi negara-negara yang pernah didukinya, apalagi ke Israel. Berbagai media di dunia pada 4 Desember 1998 memberitakan penyampaian maaf untuk pertama kali oleh Amerika Serikat (AS) melalui menteri luarnegerinya, Madeleine Albright. "Amerika Serikat menyesalkan »kesalahan-kesalahan yang amat sangat« yang dilakukannya di Amerika Latin selama perang dingin", kata Albright. AS ketika itu mendukung para diktator bersama kekuatan kanan yang berkuasa di Amerika Latin di mana terjadi pembantaian terhadap berjuta-juta orang kiri. Semoga Indonesia akan bersedia untuk merubah sejarah hitam yang ditulisnya dengan memohon maaf kepada rakyat Papua Barat di kemudian hari. Satu per satu para penjahat perang di bekas Yugoslavia telah diseret ke Tribunal Yugoslavia di kota Den Haag, Belanda. Agusto Pinochet, bekas diktator di Chili, sedang diperiksa di Inggris untuk diekstradisikan ke Spanyol. Dia akan diadili atas terbunuhnya beribu-ribu orang selama dia berkuasa di Chili. Suatu usaha sedang dilakukan untuk mendokumentasikan identitas dan kebrutalan para pemimpin ABRI di Papua Barat. Dokumentasi tersebut akan digunakan di kemudian hari untuk menyeret para pemimpin ABRI ke tribunal di Den Haag. Akhir tahun ini (1998) dunia membuka mata terhadap beberapa daerah bersengketa (dispute regions), yaitu Irlandia Utara, Palestina dan Polisario (Sahara Barat). Kedua pemimpin di Irlandia Utara yang masih dijajah Inggris menerima Hadiah Perdamaian Nobel (Desember 1998). Bill Clinton, presiden Amerikat, yang mengunjungi Palestina, tanggal 14 Desember 1998, mendengar pidato dari Yaser Arafat bahwa daerah-daerah yang diduki di Palestina harus ditinggalkan oleh Israel. Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan, yang mengadakan tour di Afrika Utara mampir di Aljasaria untuk mencoba menengahi konflik antara Front Polisario dan Maroko. Front Polisario dengan dukungan Aljasaria masih berperang melawan Maroko yang menduduki Polisario (International Herald Tribune, Nov. 30, 1998). Mengapa ada konflik di Irlandia Utara, Palestina dan Polisario? Karena rakyat-rakyat di sana menuntut hak mereka dan memiliki budaya serta latar-belakang sejarah yang berbeda dari penjajah yang menduduki negeri mereka. Realitas sekarang menunjukkan bahwa rakyat-rakyat di sana masih tetap berjuang untuk membebaskan diri dari penjajahan. Realitas sekarang di Papua Barat membuktikan adanya perlawanan rakyat menentang penjajahan Indonesia. Ini merupakan manifestasi dari makna faktor-faktor budaya, latar-belakang sejarah yang berbeda dari Indonesia dan terlebih hak sebagai dasar hukum di mana rakyat Papua Barat berhak untuk merdeka di luar Indonesia.
    Sejarah Papua Barat telah menjadi kuat, sarat, semakin terbuka dan kadang-kadang meledak. Perjuangan kemerdekaan Papua Barat tidak pernah akan berhenti atau dihentikan oleh kekuatan apapun kecuali ketiga faktor (hak, budaya dan latarbelakang sejarah) tersebut di atas dihapuskan keseluruhannya dari kehidupan manusia bermartabat. Rakyat Papua Barat akan meneruskan perjuangannya untuk menjadi negara tetangga yang baik dengan Indonesia. Rakyat Papua Barat akan meneruskan perjuangannya untuk menjadi bagian yang setara dengan masyarakat internasional. Perjuangan akan dilanjutkan hingga perdamaian di Papua Barat tercapai. Anak-anak, yang orang-tuanya dan kakak-kakaknya telah menjadi korban kebrutalan ABRI tidak akan hidup damai selama Papua Barat masih merupakan daerah jajahan. Mereka akan meneruskan perjuangan kemerdekaan Papua Barat. Mereka akan meneriakkan pekikan Martin Luther King, pejuang penghapusan perbedaan warna kulit di Amerka Serikat, "Lemparkan kami ke penjara, kami akan tetap menghasihi. Lemparkan bom ke rumah kami, dan ancamlah anak-anak kami, kami tetap mengasihi". Rakyat Papua Barat mempunyai sebuah mimpi yang sama dengan mimpinya Martin Luther King, bahwa »kita akan menang suatu ketika«.

    Tulisan di atas dipetik dari diktat berjudul Karkara karangan Ottis Simopiaref. Ottis Simopiaref lahir tahun 1953 di Biak, Papua Barat dan sedang berdomisi di Belanda sejak 14 Maret 1984 setelah bersama tiga temannya lari dan meminta suaka politik di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta tanggal 28 Februari 1984. 



    **LAGU KEBANGSAAN PAPUA BARAT : HAI TANAH KU PAPUA

    Lagu Kebangsaan : HAI TANAHKU PAPUA.

    HAI TANAHKU PAPUA


    1. Hai Tanahku Papua,
      Kau Tanah Lahirku,
      Ku Kasih Akan Dikau,
      Sehingga Ajalku.
    1. Kukasih Hutan-hutan,
      Selimut Tanahku,
      Ku Suka Mengembara,
      Dibawah Naungmu.
    1. Kukasih Pasir Putih,
      Dipantaimu Senang,
      Dimana Lautan Biru,
      Berkilat Dalam Trang.
    1. Kukasih Engkau Tanah,
      Yang Dengan Buahmu,
      Membayar Kerajinan,
      Dan Pekerjaanku.
    1. Kukasih Bunyi Ombak,
      Yang Pukul Pantaimu,
      Nyanyian Yang Selalu,
      Senangkan Hatiku.
    1. Syukur Bagi-Mu Tuhan,
      Kaubrikan Tanahku,
      Bri Aku Rajin Juga,
      Sampaikan Maksud-Mu.
    1. Kukasih Gunung-gunung,
      Besar Mulialah,
      Dan Awan Yang Melayang,
      Keliling Puncaknya.



    ***LAMBANG  NEGARA  : BURUNG MAMBRUK 
     
    Nama Parlemen : NIEUW-GUINEA RAAD/PAPUA VOLKS-RAAD 














     Semboyan : "ONE PEOPLE ONE SOUL" (SEJIWA SEBANGSA) 

    Bendera Negara : BINTANG KEJORA


    JIKA KAMI INGAT KEADAAN SEKARANG, KAMI LIHAT:



    MERAH melambangkan api politik yang sedanf merajalela dan hendak memperkosa nasib, tanah dan bangsa Papua.
    BINTANG PUTIH ditengah merah itu melambangkan bangsa Papua yang sedang bangkit mendesak ditengah api politik itu untuk memperoleh tempatnya sendiri disamping bangsa-bangsa lain di bumi.
    TUJUH BARIS MEMBUMI BIRU mengibaratkan tersebarnya bangsa Papua diantara enam keresidenan yang dilambangkan oleh
    ENAM BARIS PUTIH MEMBUMI
    pula.




    JIKA KAMI PANDANG KEMUDIAN HARI, KAMI LIHAT:

    BINTANG PUTIH (BINTANG KEJORA) adalah bangsa Papua yang penuh perasaan suci dan hukum mengambil tempatnya diantara bangsa-bangsa didunia ini.
    Bintang Putih diatas lapangan MERAH adalah bangsa Papua yang bersedia pula dengan berani dan hati jujur mempertahankan tempatnya didunia yang penuh pertempuran dengan sekalian berusaha sepenuh tenaganya membangun negara yang makmur dan bahagia.

    TUJUH BARIS BIRU diantara ENAM BARIS PUTIH melambangkan semua suku bangsa, dengan berbagai bahasa dan kebiasaan hidupnya yang bersama-sama hidup diberbagai residentie sekarang ini yang nanti akan menjadi propinsi dikemudian hari.


    Nama Bangsa : PAPUA 
      
    Mata Uang : Golden

    Profil Papua Merdeka

    PROFIL

    Nama Negara : PAPUA BARAT (WEST PAPUA)
    Lambang Negara : BURUNG MAMBRUK
    Nama Parlemen : NIEUW-GUINEA RAAD/PAPUA VOLKS-RAAD
    Semboyan : "ONE PEOPLE ONE SOUL" (SEJIWA SEBANGSA)
    Bendera Negara : BINTANG KEJORA
    Nama Bangsa : PAPUA
    Lagu Kebangsaan : HAI TANAHKU PAPUA.
    Mata Uang : Golden
     * NAMA  NEGARA : WEST PAPUA (PAPUA BARAT)





















    BANGSA/NEGARA PAPUA BARAT TELAH MERDEKA BERDAULAT ADIL DAN MAKMUR SECARA DEMOKRATIS,*NKRPB*"NEGARA KESATUAN REPUBLIK PAPUA BARAT". DENGAN GARIS TERITORIAL SORONG SAMPAI MERAUKE YANG TAK MEMECAH BELAH MENJUNJUNG TINGGI BERSATU PADU, BERBAGAI SUKU BANGSA BERRAS KULIT HITAM YANG MENDIAMI DITENGAH KEKAYAAN ALAM DAN KEKAYAAN BUDAYANYA DIATAS BUMI PAPUA. NKRPB MEMPUNYAI SEJARAH REVOLUSI PENJAJAHAN YANG SANGAT MENGSIGNIFIKAN DI ALAMI OLEH RAKYAT PAPUA DARI BANGSA-BANGSA LAIN YAITU; PORTUGIS, JEPANG, BELANDA, DAN NEGARA-NEGARA LAINNYA DARI EROPA DAN INDONESIA ASIA TENGGARA. NEGARA PAPUA BARAT MEMPUNYAI DASAR-DASAR YAITU:
    1. HAK
    2. BUDAYA
    3. LATARBELAKANG SEJARAH
    4. KEADAAN SEKARANG
    ad 1. Hak
    Kemerdekaan adalah »hak« berdasarkan Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration on Human Rights) yang menjamin hak-hak individu dan berdasarkan Konvenant Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik yang menjamin hak-hak kolektif di dalam mana hak penentuan nasib sendiri (the right to self-determination) ditetapkan.
    »All peoples have the right of self-determination. By virtue of that right they freely determine their political status and freely pursue their economic, social and cultural development - Semua bangsa memiliki hak penentuan nasib sendiri. Atas dasar mana mereka bebas menentukan status politik mereka dan bebas melaksanakan pembangunan ekonomi dan budaya mereka«
    (International Covenant on Civil and Political Rights, Article 1). Nation is used in the meaning of People (Roethof 1951:2) and can be distinguished from the concept State - Bangsa digunakan dalam arti Rakyat (Roethof 1951:2) dan dapat dibedakan dari konsep Negara (Riop Report No.1). Riop menulis bahwa sebuah negara dapat mencakup beberapa bangsa, maksudnya kebangsaan atau rakyat (A state can include several nations, meaning Nationalities or Peoples).
    Ada dua jenis the right to self-determination (hak penentuan nasib sendiri), yaitu external right to self-determination dan internal right to self-determination.
    External right to self-determination yaitu hak penentuan nasib sendiri untuk mendirikan negara baru di luar suatu negara yang telah ada. Contoh: hak penentuan nasib sendiri untuk memiliki negara Papua Barat di luar negara Indonesia. External right to self-determination, or rather self-determination of nationalities, is the right of every nation to build its own state or decide whether or not it will join another state, partly or wholly (Roethof 1951:46) - Hak external penentuan nasib sendiri, atau lebih baiknya penentuan nasib sendiri dari bangsa-bangsa, adalah hak dari setiap bangsa untuk membentuk negara sendiri atau memutuskan apakah bergabung atau tidak dengan negara lain, sebagian atau seluruhnya (Riop Report No.1). Jadi, rakyat Papua Barat dapat juga memutuskan untuk berintegrasi ke dalam negara tetangga Papua New Guinea. Perkembangan di Irlandia Utara dan Irlandia menunjukkan gejala yang sama. Internal right to self-determination yaitu hak penentuan nasib sendiri bagi sekelompok etnis atau bangsa untuk memiliki daerah kekuasaan tertentu di dalam batas negara yang telah ada. Suatu kelompok etnis atau suatu bangsa berhak menjalankan pemerintahan sendiri, di dalam batas negara yang ada, berdasarkan agama, bahasa dan budaya yang dimilikinya. Di Indonesia dikenal Daerah Istimewa Jogyakarta dan Daerah Istimewa Aceh. Pemerintah daerah-daerah semacam ini biasanya dilimpahi kekuasaan otonomi ataupun kekuasaan federal. Sayangnya, Jogyakarta dan Aceh belum pernah menikmati otonomi yang adalah haknya.
    ad 2. Budaya
    Rakyat Papua Barat, per definisi, merupakan bagian dari rumpun bangsa atau ras Melanesia yang berada di Pasifik, bukan ras Melayu di Asia. Rakyat Papua Barat memiliki budaya Melanesia. Bangsa Melanesia mendiami kepulauan Papua (Papua Barat dan Papua New Guinea), Bougainville, Solomons, Vanuatu, Kanaky (Kaledonia Baru) dan Fiji. Timor dan Maluku, menurut antropologi, juga merupakan bagian dari Melanesia. Sedangkan ras Melayu terdiri dari Jawa, Sunda, Batak, Bali, Dayak, Makassar, Bugis, Menado, dan lain-lain.
    Menggunakan istilah ras di sini sama sekali tidak bermaksud bahwa saya menganjurkan rasisme. Juga, saya tidak bermaksud menganjurkan nasionalisme superior ala Adolf Hitler (diktator Jerman pada Perang Dunia II). Adolf Hitler menganggap bahwa ras Aria (bangsa Germanika) merupakan manusia super yang lebih tinggi derajat dan kemampuan berpikirnya daripada manusia asal ras lain. Rakyat Papua Barat sebagai bagian dari bangsa Melanesia merujuk pada pandangan Roethof sebagaimana terdapat pada ad 1 di atas.
    ad 3. Latarbelakang Sejarah
    Kecuali Indonesia dan Papua Barat sama-sama merupakan bagian penjajahan Belanda, kedua bangsa ini sungguh tidak memiliki garis paralel maupun hubungan politik sepanjang perkembangan sejarah. Analisanya adalah sebagai
    berikut:
    Pertama: Sebelum adanya penjajahan asing, setiap suku, yang telah mendiami Papua Barat sejak lebih dari 50.000 tahun silam, dipimpin oleh kepala-kepala suku (tribal leaders). Untuk beberapa daerah, setiap kepala suku dipilih secara demokratis sedangkan di beberapa daerah lainnya kepala suku diangkat secara turun-temurun. Hingga kini masih terdapat tatanan pemerintahan tradisional di beberapa daerah, di mana, sebagai contoh, seorang Ondofolo masih memiliki kekuasaan tertentu di daerah Sentani dan Ondoafi masih disegani oleh masyarakat sekitar Yotefa di Numbai. Dari dalam tingkat pemerintahan tradisional di Papua Barat tidak terdapat garis politik vertikal dengan kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia ketika itu.
    Kedua: Rakyat Papua Barat memiliki sejarah yang berbeda dengan Indonesia dalam menentang penjajahan Belanda dan Jepang. Misalnya, gerakan Koreri di Biak dan sekitarnya, yang pada awal tahun 1940-an aktif menentang kekuasaan Jepang dan Belanda, tidak memiliki garis komando dengan gerakan kemerdekaan di Indonesia ketika itu. Gerakan Koreri, di bawah pimpinan Stefanus Simopiaref dan Angganita Menufandu, lahir berdasarkan kesadaran pribadi bangsa Melanesia untuk memerdekakan diri di luar penjajahan asing.
    Ketiga: Lamanya penjajahan Belanda di Indonesia tidak sama dengan lamanya penjajahan Belanda di Papua Barat. Indonesia dijajah oleh Belanda selama sekitar 350 tahun dan berakhir ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949. Papua Barat, secara politik praktis, dijajah oleh Belanda selama 64 tahun (1898-1962).
    Keempat: Batas negara Indonesia menurut proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah dari »Aceh sampai Ambon«, bukan dari »Sabang sampai Merauke«. Mohammed Hatta (almarhum), wakil presiden pertama RI dan lain-lainnya justru menentang dimasukkannya Papua Barat ke dalam Indonesia (lihat Karkara lampiran I, pokok Hindia Belanda oleh Ottis Simopiaref).
    Kelima: Pada Konferensi Meja Bundar (24 Agustus - 2 November 1949) di kota Den Haag (Belanda) telah dimufakati bersama oleh pemerintah Belanda dan Indonesia bahwa Papua Barat tidak merupakan bagian dari negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Status Nieuw-Guinea akan ditetapkan oleh kedua pihak setahun kemudian. (Lihat lampiran II pada Karkara oleh Ottis Simopiaref).
    Keenam: Papua Barat pernah mengalami proses dekolonisasi di bawah pemerintahan Belanda. Papua Barat telah memiliki bendera national »Kejora«, »Hai Tanahku Papua« sebagai lagu kebangsaan dan nama negara »Papua Barat«. Simbol-simbol kenegaraan ini ditetapkan oleh New Guinea Raad / NGR (Dewan New Guinea). NGR didirikan pada tanggal 5 April 1961 secara demokratis oleh rakyat Papua Barat bekerjasama dengan pemerintah Belanda. Nama negara, lagu kebangsaan serta bendera telah diakui oleh seluruh rakyat Papua Barat dan pemerintah Belanda.
    Ketujuh: Dari 1 Oktober 1962 hingga 1 Mei 1963, Papua Barat merupakan daerah perwalian PBB di bawah United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) dan dari tahun 1963 hingga 1969, Papua Barat merupakan daerah perselisihan internasional (international dispute region). Kedua aspek ini menggaris-bawahi sejarah Papua Barat di dunia politik internasional dan sekaligus menunjukkan perbedaannya dengan perkembangan sejarah Indonesia bahwa kedua bangsa ini tidak saling memiliki hubungan sejarah.
    Kedelapan: Pernah diadakan plebisit (Pepera) pada tahun 1969 di Papua Barat yang hasilnya diperdebatkan di dalam Majelis Umum PBB. Beberapa negara anggota PBB tidak setuju dengan hasil Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) karena hanya merupakan hasil rekayasa pemerintah Indonesia. Adanya masalah Papua Barat di atas agenda Majelis Umum PBB menggaris-bawahi nilai sejarah Papua Barat di dunia politik internasional. Ketidaksetujuan beberapa anggota PBB dan kesalahan PBB dalam menerima hasil Pepera merupakan motivasi untuk menuntut agar PBB kembali memperbaiki sejarah yang salah. Kesalahan itu sungguh melanggar prinsip-prinsip PBB sendiri. (Silahkan lihat lebih lanjut pokok tentang Pepera dalam Karkara oleh Ottis Simopiaref).
    Kesembilan: Rakyat Papua Barat, melalui pemimpin-pemimpin mereka, sejak awal telah menyampaikan berbagai pernyataan politik untuk menolak menjadi bagian dari RI. Frans Kaisiepo (almarhum), bekas gubernur Irian Barat, pada konferensi Malino 1946 di Sulawesi Selatan, menyatakan dengan jelas bahwa rakyatnya tidak ingin dihubungkan dengan sebuah negara RI (Plunder in Paradise oleh Anti-Slavery Society). Johan Ariks (alm.), tokoh populer rakyat Papua Barat pada tahun 1960-an, menyampaikan secara tegas perlawanannya terhadap masuknya Papua Barat ke dalam Indonesia (Plunder in Paradise oleh Anti-Slavery Society). Angganita Menufandu (alm.) dan Stefanus Simopiaref (alm.) dari Gerakan Koreri, Raja Ati Ati (alm.) dari Fakfak, L.R. Jakadewa (alm.) dari DVP-Demokratische Volkspartij, Lodewijk Mandatjan (alm.) dan Obeth Manupapami (alm.) dari PONG-Persatuan Orang Nieuw-Guinea, Barend Mandatjan (alm.), Ferry Awom (alm.) dari Batalyon Papua, Permenas Awom (alm.), Jufuway (alm.), Arnold Ap (alm.), Eliezer Bonay (alm.), Adolf Menase Suwae (alm.), Dr. Thomas Wainggai (alm.), Nicolaas Jouwe, Markus Wonggor Kaisiepo dan lain-lainnya dengan cara masing-masing, pada saat yang berbeda dan kadang-kadang di tempat yang berbeda memprotes adanya penjajahan asing di Papua Barat.
    ad 4. Realitas Sekarang
    Rakyat Papua Barat menyadari dirinya sendiri sebagai bangsa yang terjajah sejak adanya kekuasaan asing di Papua Barat. Kesadaran tersebut tetap menjadi kuat dari waktu ke waktu bahwa rakyat Papua Barat memiliki identitas tersendiri yang berbeda dengan bangsa lain. Di samping itu, penyandaran diri setiap kali pada identitas pribadi yang adalah dasar perjuangan, merupakan akibat dari kekejaman praktek-praktek kolonialisme Indonesia. Perlawanan menjadi semakin keras sebagai akibat dari (1) penindasan yang brutal, (2) adanya ruang-gerak yang semakin luas di mana seseorang dapat mengemukakan pendapat secara bebas dan (3) membanjirnya informasi yang masuk tentang sejarah Papua Barat. Rakyat Papua Barat semakin mengetahui dan mengenal sejarah mereka. Kesadaran merupakan basis untuk mentransformasikan realitas, sebagaimana almarhum Paulo Freire (profesor Brasilia dalam ilmu pendidikan) menulis. Semangat juang menjadi kuat sebagai akibat dari kesadaran itu sendiri.
    Pada tahun 1984 terjadi exodus besar-besaran ke negara tetangga Papua New Guinea dan empat pemuda Papua yaitu Jopie Roemajauw, Ottis Simopiaref, Loth Sarakan (alm.) dan John Rumbiak (alm.) memasuki kedutaan besar Belanda di Jakarta untuk meminta suaka politik. Permintaan suaka politik ke kedubes Belanda merupakan yang pertama di dalam sejarah Papua Barat. Gerakan yang dimotori Kelompok Musik-Tari Tradisional, Mambesak (bahasa Biak untuk Cendrawasih) di bawah pimpinan Arnold Ap (alm.) merupakan manifestasi politik anti penjajahan yang dikategorikan terbesar sejak tahun 1969. Kebanyakan anggota Mambesak mengungsi dan berdomisili di Papua New Guinea sedangkan sebagian kecil masih berada dan aktif di Papua Barat.
    Dr. Thomas Wainggai (alm.) memimpin aksi damai besar pada tanggal 14 Desember 1988 dengan memproklamirkan kemerdekaan negara Melanesia Barat (Papua Barat). Setahun kemudian pada tanggal yang sama diadakan lagi aksi damai di Numbai (nama pribumi untuk Jayapura) untuk memperingati 14 Desember. Dr. Thom Wainggai dijatuhkan hukuman penjara selama 20 tahun, namun beliau kemudian meninggal secara misterius di penjara Cipinang. Papua Barat dilanda berbagai protes besar-besaran selama tahun 1996. Tembagapura bergelora bagaikan air mendidih selama tiga hari (11-13 Maret). Numbai terbakar tanggal 18 Maret menyusul tibanya mayat Thom Wainggai. Nabire dijungkir-balik selama 2 hari (2-3 Juli). Salah satu dari aksi damai terbesar terjadi awal Juli 1998 di Biak, Numbai, Sorong dan Wamena, kemudian di Manokwari. Salah satu pemimpin dari gerakan bulan Juli 1998 adalah Drs. Phillip Karma. Drs. P. Karma bersama beberapa temannya sedang ditahan di penjara Samofa, Biak sambil menjalani proses pengadilan. Gerakan Juli 1998 merupakan yang terbesar karena mencakup daerah luas yang serentak bergerak dan memiliki jumlah massa yang besar. Gerakan Juli 1998 terorganisir dengan baik dibanding gerakan-gerakan sebelumnya. Di samping itu, Gerakan Juli 1998 dapat menarik perhatian dunia melalui media massa sehingga beberapa kedutaan asing di Jakarta menyampaikan peringatan kepada ABRI agar menghentikan kebrutalan mereka di Papua Barat. Berkat Gerakan Juli 1998 Papua Barat telah menjadi issue yang populer di Indonesia dewasa ini. Di samping sukses yang telah dicapai terdapat duka yang paling dalam bahwa menurut laporan dari PGI (Persekutuan Gereja Indonesia) lebih dari 140 orang dinyatakan hilang dan kebanyakan mayat mereka telah ditemukan terdampar di Biak. Menurut laporan tersebut, banyak wanita yang diperkosa sebelum mereka ditembak mati. Realitas penuh dengan represi, darah, pemerkosaan, penganiayaan dan pembunuhan, namun perjuangan tetap akan dilanjutkan. Rakyat Papua Barat menyadari dan mengenali realitas mereka sendiri. Mereka telah mencicipi betapa pahitnya realitias itu. Mereka hidup di dalam dan dengan suatu dunia yang penuh dengan ketidakadilan, namun kata-kata Martin Luther King masih disenandungkan di mana-mana bahwa »We shall overcome someday!« (Kita akan menang suatu ketika!).
    Masa depan: Tidak diikut-sertakannya rakyat Papua Barat sebagai subjek masalah di dalam Konferensi Meja Bundar, New York Agreement yang mendasari Act of Free Choice, Roma Agreement dan lain-lainnya merupakan pelecehan hak penentuan nasib sendiri yang dilakukan oleh pemerintah (state violence) dalam hal ini pemerintah Indonesia dan Belanda. (Untuk Roma Agreement, silahkan melihat lampiran pada Karkara oleh Ottis Simopiaref). Rakyat Papua Barat tidak diberi kesempatan untuk memilih secara demokratis di dalam Pepera. Act of Free Choice disulap artinya oleh pemerintah Indonesia menjadi Pepera. Di sini terjadi manipulasi pengertian dari Act of Free Choice (Ketentuan Bebas Bersuara) menjadi Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Ortiz Sans sebagai utusan PBB yang mengamati jalannya Pepera melaporkan bahwa rakyat Papua Barat tidak diberikan kebebasan untuk memilih. Ketidakseriusan PBB untuk menerima laporan Ortiz Sans merupakan pelecehan hak penentuan nasib sendiri. PBB justru melakukan pelecehan HAM melawan prinsip-prinsipnya sendiri. Ini merupakan motivasi di mana rakyat Papua Barat akan tetap berjuang menuntut pemerintah Indonesia, Belanda dan PBB agar kembali memperbaiki kesalahan mereka di masa lalu. Sejak pencaplokan pada 1 Mei 1963, pemerintah Indonesia selalu berpropaganda bahwa yang pro kemerdekaan Papua Barat hanya segelintir orang yang sedang bergerilya di hutan. Tapi, Gerakan Juli 1998 membuktikan yang lain di mana dunia telah menyadari bahwa jika diadakan suatu referendum bebas dan adil maka rakyat Papua Barat akan memilih untuk merdeka di luar Indonesia. Rakyat Indonesia pun semakin menyadari hal ini.
    Menurut catatan sementara, diperkirakan bahwa sekitar 400 ribu orang Papua telah meninggal sebagai akibat dari dua hal yaitu kebrutalan ABRI dan kelalaian politik pemerintah. Sadar atau tidak, pemerintah Indonesia telah membuat sejarah hitam yang sama dengan sejarah Jepang, Jerman, Amerikat Serikat, Yugoslavia dan Rwanda. Jepang kemudian memohon maaf atas kebrutalannya menduduki beberapa daerah di Asia-Pasifik pada tahun 1940-an. Sentimen anti Jerman masih terasa di berbagai negara Eropa Barat. Ini membuat para pemimpin dan orang-orang Jerman menjadi kaku jika mengunjungi negara-negara yang pernah didukinya, apalagi ke Israel. Berbagai media di dunia pada 4 Desember 1998 memberitakan penyampaian maaf untuk pertama kali oleh Amerika Serikat (AS) melalui menteri luarnegerinya, Madeleine Albright. "Amerika Serikat menyesalkan »kesalahan-kesalahan yang amat sangat« yang dilakukannya di Amerika Latin selama perang dingin", kata Albright. AS ketika itu mendukung para diktator bersama kekuatan kanan yang berkuasa di Amerika Latin di mana terjadi pembantaian terhadap berjuta-juta orang kiri. Semoga Indonesia akan bersedia untuk merubah sejarah hitam yang ditulisnya dengan memohon maaf kepada rakyat Papua Barat di kemudian hari. Satu per satu para penjahat perang di bekas Yugoslavia telah diseret ke Tribunal Yugoslavia di kota Den Haag, Belanda. Agusto Pinochet, bekas diktator di Chili, sedang diperiksa di Inggris untuk diekstradisikan ke Spanyol. Dia akan diadili atas terbunuhnya beribu-ribu orang selama dia berkuasa di Chili. Suatu usaha sedang dilakukan untuk mendokumentasikan identitas dan kebrutalan para pemimpin ABRI di Papua Barat. Dokumentasi tersebut akan digunakan di kemudian hari untuk menyeret para pemimpin ABRI ke tribunal di Den Haag. Akhir tahun ini (1998) dunia membuka mata terhadap beberapa daerah bersengketa (dispute regions), yaitu Irlandia Utara, Palestina dan Polisario (Sahara Barat). Kedua pemimpin di Irlandia Utara yang masih dijajah Inggris menerima Hadiah Perdamaian Nobel (Desember 1998). Bill Clinton, presiden Amerikat, yang mengunjungi Palestina, tanggal 14 Desember 1998, mendengar pidato dari Yaser Arafat bahwa daerah-daerah yang diduki di Palestina harus ditinggalkan oleh Israel. Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan, yang mengadakan tour di Afrika Utara mampir di Aljasaria untuk mencoba menengahi konflik antara Front Polisario dan Maroko. Front Polisario dengan dukungan Aljasaria masih berperang melawan Maroko yang menduduki Polisario (International Herald Tribune, Nov. 30, 1998). Mengapa ada konflik di Irlandia Utara, Palestina dan Polisario? Karena rakyat-rakyat di sana menuntut hak mereka dan memiliki budaya serta latar-belakang sejarah yang berbeda dari penjajah yang menduduki negeri mereka. Realitas sekarang menunjukkan bahwa rakyat-rakyat di sana masih tetap berjuang untuk membebaskan diri dari penjajahan. Realitas sekarang di Papua Barat membuktikan adanya perlawanan rakyat menentang penjajahan Indonesia. Ini merupakan manifestasi dari makna faktor-faktor budaya, latar-belakang sejarah yang berbeda dari Indonesia dan terlebih hak sebagai dasar hukum di mana rakyat Papua Barat berhak untuk merdeka di luar Indonesia.
    Sejarah Papua Barat telah menjadi kuat, sarat, semakin terbuka dan kadang-kadang meledak. Perjuangan kemerdekaan Papua Barat tidak pernah akan berhenti atau dihentikan oleh kekuatan apapun kecuali ketiga faktor (hak, budaya dan latarbelakang sejarah) tersebut di atas dihapuskan keseluruhannya dari kehidupan manusia bermartabat. Rakyat Papua Barat akan meneruskan perjuangannya untuk menjadi negara tetangga yang baik dengan Indonesia. Rakyat Papua Barat akan meneruskan perjuangannya untuk menjadi bagian yang setara dengan masyarakat internasional. Perjuangan akan dilanjutkan hingga perdamaian di Papua Barat tercapai. Anak-anak, yang orang-tuanya dan kakak-kakaknya telah menjadi korban kebrutalan ABRI tidak akan hidup damai selama Papua Barat masih merupakan daerah jajahan. Mereka akan meneruskan perjuangan kemerdekaan Papua Barat. Mereka akan meneriakkan pekikan Martin Luther King, pejuang penghapusan perbedaan warna kulit di Amerka Serikat, "Lemparkan kami ke penjara, kami akan tetap menghasihi. Lemparkan bom ke rumah kami, dan ancamlah anak-anak kami, kami tetap mengasihi". Rakyat Papua Barat mempunyai sebuah mimpi yang sama dengan mimpinya Martin Luther King, bahwa »kita akan menang suatu ketika«.

    Tulisan di atas dipetik dari diktat berjudul Karkara karangan Ottis Simopiaref. Ottis Simopiaref lahir tahun 1953 di Biak, Papua Barat dan sedang berdomisi di Belanda sejak 14 Maret 1984 setelah bersama tiga temannya lari dan meminta suaka politik di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta tanggal 28 Februari 1984. 



    **LAGU KEBANGSAAN PAPUA BARAT : HAI TANAH KU PAPUA

    Lagu Kebangsaan : HAI TANAHKU PAPUA.

    HAI TANAHKU PAPUA


    1. Hai Tanahku Papua,
      Kau Tanah Lahirku,
      Ku Kasih Akan Dikau,
      Sehingga Ajalku.
    1. Kukasih Hutan-hutan,
      Selimut Tanahku,
      Ku Suka Mengembara,
      Dibawah Naungmu.
    1. Kukasih Pasir Putih,
      Dipantaimu Senang,
      Dimana Lautan Biru,
      Berkilat Dalam Trang.
    1. Kukasih Engkau Tanah,
      Yang Dengan Buahmu,
      Membayar Kerajinan,
      Dan Pekerjaanku.
    1. Kukasih Bunyi Ombak,
      Yang Pukul Pantaimu,
      Nyanyian Yang Selalu,
      Senangkan Hatiku.
    1. Syukur Bagi-Mu Tuhan,
      Kaubrikan Tanahku,
      Bri Aku Rajin Juga,
      Sampaikan Maksud-Mu.
    1. Kukasih Gunung-gunung,
      Besar Mulialah,
      Dan Awan Yang Melayang,
      Keliling Puncaknya.



    ***LAMBANG  NEGARA  : BURUNG MAMBRUK 
     
    Nama Parlemen : NIEUW-GUINEA RAAD/PAPUA VOLKS-RAAD 














     Semboyan : "ONE PEOPLE ONE SOUL" (SEJIWA SEBANGSA) 

    Bendera Negara : BINTANG KEJORA


    JIKA KAMI INGAT KEADAAN SEKARANG, KAMI LIHAT:



    MERAH melambangkan api politik yang sedang merajalela dan hendak memperkosa nasib, tanah dan bangsa Papua.
    BINTANG PUTIH ditengah merah itu melambangkan bangsa Papua yang sedang bangkit mendesak ditengah api politik itu untuk memperoleh tempatnya sendiri disamping bangsa-bangsa lain di bumi.
    TUJUH BARIS MEMBUMI BIRU mengibaratkan tersebarnya bangsa Papua diantara enam keresidenan yang dilambangkan oleh
    ENAM BARIS PUTIH MEMBUMI
    pula.




    JIKA KAMI PANDANG KEMUDIAN HARI, KAMI LIHAT:

    BINTANG PUTIH (BINTANG KEJORA) adalah bangsa Papua yang penuh perasaan suci dan hukum mengambil tempatnya diantara bangsa-bangsa didunia ini.
    Bintang Putih diatas lapangan MERAH adalah bangsa Papua yang bersedia pula dengan berani dan hati jujur mempertahankan tempatnya didunia yang penuh pertempuran dengan sekalian berusaha sepenuh tenaganya membangun negara yang makmur dan bahagia.

    TUJUH BARIS BIRU diantara ENAM BARIS PUTIH melambangkan semua suku bangsa, dengan berbagai bahasa dan kebiasaan hidupnya yang bersama-sama hidup diberbagai residentie sekarang ini yang nanti akan menjadi propinsi dikemudian hari.


    Nama Bangsa : PAPUA 
      
    Mata Uang : Golden
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif