Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label GP3PB News. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label GP3PB News. Tampilkan semua postingan

    Gerakan Pembebasan Perempuan Papua Barat (GP3PB)

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Tolak Kehadiran Militer dalam PAUD di Tanah Papua

    Penulis : Andreas M. Yeimo            

    Aliansi Mahasiswa Papua
    Sebelum melihat kehadiran militer dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), penulis ingin menjelaskan beberapa pengetian kata dasar yaitu Sistem, Pendidikan, dan Militer.

    Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, kata sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu systema yang berarti  cara atau strategi. Dalam bahasa Inggris, sistem berarti system, jaringan, susunan, cara. Sistem juga diartikan sebagai suatu strategi atau cara berpikir.

    Kata Pendidikan adalah suatu strategi atau cara yang akan dipakai untuk melakukan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar para pelajar dapat secara aktif memahami apa yang disampaikan oleh gurunya.

    Kata Militer adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI), organisasinya yang merupakan kekuatan bersenjata dan yang harus menjaga dan mengamankan kedaulatan negara.

    *** 

    Di beberapa pelosok pedalaman Papua, di sana ada beberapa personil TNI dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang sedang mengajar di beberapa daerah, misalnya di pesisir pantai Papua, yaitu di Biak bagian kampung, dan di pegunungan Papua yaitu di kabupaten Puncak Jaya.

    Beberapa orang Papua memandang bahwa tidak salah, jikalau TNI dan Polri mengajar di tanah Papua. Karena tiap tahun walaupun ratusan bahkan ribuan mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan di jenjang  studi S1, S2 dan S3.  

    Semua mahasiswa Papua maunya mencari kepentingan dan kesejahteraan pribadi dengan tidak menjadi guru. Padahal, guru sangat dibutuhkan dibandung profesi lain di Papua.

    Memang sangat benar faktanya bahwa banyak mahasiswa Papua yang sudah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi sudah malas untuk mengajar di tanah airnya sendiri. Tetapi jika dilihat dampak dan efeknya, sangat membahayakan, bila generasi muda Papua yang berpendidikan tidak kembali perhatikan PAUD.

    Bayangkan bila PAUD di Papua ditangani militer seperti sekarang. Bagi anak-anak, apa yang mereka lihat mereka perbuat langsung. Maka pada dasarnya harus ditanamkan dengan sistem pendidikan yang ada agar anak usia dini tidak terpengaruh oleh sistem militerisme.

    *** 

    Pendidikan dan militer memiliki sistem, tujuan dan fungsi yang berbeda. Mereka berada di bawah satu payung besar yaitu negara.  

    Ketika kita berbicara masalah organisasi, ada Visi dan Misi. Mereka juga punya sistem yang berbeda. Pendidikan punya sitem pendidikan sesuai perkembangan usia dan tingkatan pengetahuan. Juga dengan sistim Militerisme.

    Ketika militer menjadi guru, maka bisa jadi sitem militerlah yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar, sementara pendidikan anak-anak punya sistemnya sendiri. Militer berpotensi menjadikan anak Papua menjadi sama wataknya dengan militer. Maka sudah sepantasnya, militer yang menjadi guru di Papua harus ditolak, karena akan merusak pembentukan manusia Papua melalui sistem pendidikan yang telah ada.

    Kita harus tahu fungsi pendidikan dan militer. Militer bukan untuk mengajar, melainkan untuk mengamankan negara. Begitu pun dengan sistem pendidikan, bukan untuk mengamankan Negara, melainkan mendidik seorang anak agar mampu dan memahami nilai-nilai pendidikan, agar menjadi garam dan terang bagi sesamanya dalam dunia modern ini.

    *** 

    Harapan dan impian tak kunjung terealisasi melalui fakta dalam hidupku, di atas tanah air Papua yang tercinta. Berbagai macam masalah harus kutempuh dan kuperjuangkan. Entah itu masalah pendidikan, perekonomian, kesehatan, dan masih ada banyak lagi.

    Harapan kita ada pada anak muda Papua yang akan mengenyam pendidikan dengan baik, melalui sistem pendidikan yang baik, yang diajar oleh guru yang profesional, bukan oleh militer. 

    Pemerintah Papua melalui Dinas Pemuda dan Olah Raga baik itu Provinsi, Kabupaten/kota dan Distrik harus menyekolahkan anak-anak Papua yang masih menganggur dan tidak bersekolah di tanah air Papua. 

    Pemerintah juga beri beasiswai mahasiswa yang akan jadi guru, agar mereka benar menjadi guru profesional, untuk kembali ke tanah Papua, mengajar, mencerdaskan kehidupan orang Papua. Dengan semakin banyaknya guru yang berkualitas, maka dominasi militer dalam dunia pendidikan, khususnya PAUD di Papua akan semakin berkurang. 

    Dan itu akan jadi langkah maju untuk bangsa Papua.


    Penulis adalah mahasiswa Papua, kuliah di Yogyakarta.

    Eksistensi Budaya Mahasiswa Papua se-Jawa dan Bali

    Penulis : Tiborius Adii 
                          
    Pencerita, Alfred Viktor Bobii. Foto: Dok. Pribadi


    Bangga sekali jika budaya Papua dipentaskan pada peristiwa perayaan Natal dan Tahun baru setiap tahun di Kota Study di luar Papua (Surabaya, Malang, Semarang, Bali Yogyakarta, Bandung, Bogor, dan Jakarta). Berikut ini makna dan eksistensi budaya Papua serta solidaritas pemerintah, orang tua, yang diceritakan oleh Alfred Viktor Bobii, pelajar SMP Santa Agnes Surabaya, atas pengalaman dan pengamatan perayaan natal, tahun baru, sambil menunjukkan hasil potretannya di kota studi Bandung (26 Desember 2013 s/d 1 Januari 2014).
    *** 


    Gagasan perayaan Natal dan Tahun baru bersama mahasiswa Papua di beberapa kota study di luar Papua terkesan memiliki makna tersendiri dalam kerukunan para mahasiswa dan pelajar di sana.  Sungguh mengugah hatiku kalau menikmati sebuah acara yang dikemas dalam khas budaya di tanah rantauan.  

    Para senior terdahulu dekade 1980-an sudah memprediksi pentingnya acara kebersamaan tersebut. Melalui kegiatan ini menyatukan para mahasiswa dan pelajar yang sedang menekuni berbagai displin ilmu. Momentum seperti ini dicetuskan oleh para senior angkatan tahun 1980-an bahkan sebelumnya, entah tahun berapa saya belum tahu persis. 

    Haru dan tangis, rasanya ingin pulang (ingat) kembali bapak dan mama, sanak saudara di kampung ketika para mahasiswa dan pelajar mementaskan sejumlah atraksi di panggung dengan mengenakan busana adat sejumlah suku yang ada di Tanah Papua. Pasti senior-senior sudah pulang selesai study akan ingat kembali setelah artikel ini dibaca.  

    Drama kelahiran Yesus Kristus mengawali perayaan Natal dan Tahun baru setiap tahun. Partisipasi para mahasiswa untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut terlihat cukup antusias. 

    Kebersamaan sebagai mahasiswa, pelajar di rantauan terlihat sejak terbentuknya panitia penyelenggarah hingga selesai. Bahkan dalam tempat pelaksanaan ditentukan awal tahun usai perayaan natal dan tahun baru dilaksanakan. Maka atas kesepakatan bersama menentukan  tempat/kota study mana yang ditunjuk sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan, sekaligus mempercayakan panitia pelaksanaan tahun berikutnya. Semisal, perayaan Natal 2013 dan memasuki tahun baru 2014 dipusatkan di kota studi Bandung, dan tahun 2014 dipusatkan di kota Studi Semarang. 

    Dalam momentum yang bernuansa budaya ini terlihat keakraban yang cukup tinggi. Pasalnya memperlihatkan drama kelahiran Yesus Juruslamat ala budaya-budaya di Papua. Bergantian tak terkecuali kota study menampilkan drama yang sudah disiapkan sebelumnya dari masing-masing kota studi.  

    Tidak hanya drama, tetapi juga beberapa mata lomba diperlombakan serta seminarkan materi-materi pembinaan spiritual (renungan Alkitab), materi kepemimpinan, dibawakan oleh sejumlah narasumber  dari berbagai kalangan akademisi, kalangan gereja yang diundang panitia.


    Nilai Eksistensi Budaya Papua di Mata Generasi Muda 

    Sudah menjadi buah bibir di berbagai kalangan, menceritakan pentingnya pelestarian budaya. Orang tua selalu menasehati pentingnya pelestarian budaya. Nilai budaya perlu ditempatkan pada urutan teratas. Bahkan untuk menggali kembali budaya yang hilang berbagai pertemuan selalu mempersoalkan/mengangkat nilai-nilai. 

    Menanggapi pentingnya budaya kini pihak gereja serius berbicara tentang budaya. Hal itu dilakukan dengan tujuan mengembalikan tatanan kehidupan manusia Papua pada nilai-nilai adat masa lalu. 

    Berangkat dari pemahaman di atas, para mahasiswa terus eksis mengembangkan budaya. Tidak serta merta karena perayaan natal dan tahun baru, tetapi inti pelaksanaan dari penampilan drama-drama nuansa budaya mengangkat tradisi (adat) merupakan warisan leluhur. Hal itu terlihat ketika seluruh mahasiswa dan mahasiswi mengenakan busana adat (Koteka, Moge). Tak perduli dengan kondisi kota besar.  

    Di tengah-tengah modernisasi para mahasiswa-mahasiswi berani mengangkat eksistensinya sebagai budaya yang adalah dasar pijakan hidup menuju masa depan yang cerah. 

    Sebagai kepedulian terhadap adatnya, hampir semua memiliki busana adat (Koteka, Moge, Ukaa, Mapega), jika datang berlibur di Papua (masing-masing kampung), ataupun hendak ke Jawa melanjutkan studi selalu mereka kantongi sebagai persiapan jika ada kegiatan-kegaiatan adat. Suatu hal yang patut dijempol kepada mahasiswa-mahasiswi di luar Papua mereka menyanyikan lagu-lagu adat sambil memperagakan drama (wani, gowai, ugaa, tupe, dan lain-lain), menandakan bahwa memahami pentingnya memuji Tuhan melalui agama budaya sesuai ajaran Totamana, Toutomana, Toutamana, dan Touyemana. 


    Solidaritas Pemerintah dan Orang Tua

    Salut kepada pemerintah dan orang tua di kampung halaman, bahwa keprihatinan akan pelaksanaan perayaan natal sangat serius. Bantuan pemerintah sering dijawab sekalipun tidak sesuai perincian yang diajukan melalui proposal oleh panitia. Hal itu menunjukkan pemerintah provinsi, kabupaten/kota hendak bersolider untuk mengembangkan tradisi keagamaan di masing-masing kota studi di Jawa-Bali.  

    Solidaritas orang tua dalam keterlibatan perayaan natal di pulau Jawa lebih berharga. Soalnya, menurut tradisi dalam kalangan suku-suku di Papua, jika Natal tiba pastilah setiap keluarga mengurbankan hewan piaraannya (babi, sapi) sebagai tanda persembahan atas kelahiran Sang Juru Selamat.  

    Para orang tua merasa tidak lengkap jika dari anggota keluarga yang sedang studi tidak menikmati perayaan Natal bersama sanak saudara di kampung halamannya. Sebagai bukti solidernya orang tua selalu mengirim dana (uang natal) dari hasil usaha persiapan natal, berjualan kayu, pagar, hasil pertanian, peternakan, perikanan mereka,  disertai dengan iringan doa agar anak-anak mereka selalu dalam lindungan Tuhan dengan harapan kembali ke Papua setelah menyelesaikan studinya. 

    Sekalipun saya sudah pindah di SMP ST. Anthonius Nabire, tetapi saya harap kakak-kakak terus  meningkatkan hal itu karena sangat penting. 


    Ditulis oleh Adii Tiborius berdasarkan cerita Alfred Viktor Bobii. 

    Aturan Bagi Prajurit TPN-OPM, satu peluru satu nyawa

    Aturan Bagi Prajurit TPN-OPM, satu peluru satu nyawa

    Written By LASKAR PAPUA on Minggu, 23 Maret 2014 | 00.59

    Aturan Bagi Prajurit TPN-OPM, satu peluru satu nyawa
    Pendekatan senjata pun bertolak belakang dengan semangat mewujudkan Papua yang telah dicanangkan baik TPN maupun Pemerintah. Dimana kedua belah pihak sepakat membangun suhu perundingan sebagai solusi penyelesaian Papua. Terkait perundingan lihat laporan khusus kami disni.
    Berbeda dengan TPN-OPM ( yang sering muncul di media masa ), menyambut gayung kontak senjata dengan berbagai statemen. Perlu untuk klarifikasi masalah dari pihak TPN untuk menyeimbangkan pemberitaan. Hal ini yang bikin beberapa hari terakhir ini nama seorang Lamberth Pekikir muncul di permukaan. Sosok yang dibesar-besarkan oleh media masa ini memang “doyan” berkomentar di surat kabar walaupun dia ( Lamberth ) sendiri selama ini hanya tenang-tenang saja di markasnya. Dia cenderung memilih memamerkan pasukan dan persenjataanya kepada media.
    Begitu juga, kontak senjata dengan senjata modern patut dipertanyakan. Mengapa? ya, darimana senjata pasukan Papua didapat. Lalu darimana peluru di kirim ke markas Papua. Jalur distribusi Papua belumlah merata seperti di Indonesia bagian lainnya. Tapi harus ingat, TPN OPM sangat hati-hati mengeluarkan tembakan. Bagi mereka, satu peluru satu nyawa. Karena mendapatkan lima peluru saja bisa sampai satu tahun. Apalagi senjata sudah merupakan istri pertama setiap prajurit TPN yang memegangnya.

    KOPASUS MENABRAK MATI DUA WARGA DAN BRIMOB MENEMBAKI EMPAT WARGA ASLI DI DOGIYAI PAPUA

    KOPASUS MENABRAK MATI DUA WARGA DAN BRIMOB MENEMBAKI EMPAT WARGA  ASLI DI DOGIYAI PAPUA
    Kronologis  Peristiwa  Penembakan di Kabupeten Dogiyai Propinsi Papua pada hari Senin tanggal 6 Mei 2014
    Pada Senin 06/05/2014 peristiwa ini berawal dari Truk yang bernomor  Polisi DS 9903 sedang mengangkut stok  Beras Rakyat Miskin (RASKIN), untuk di distribusikan ke Kabupaten Dogiyai. Tiba-tiba, truk ini menabrak mati dua warga Dogiyai, atas nama Jhon Anouw dan Jansen Keakoto.
    Nama Lengkap Korban dan tempat kejadian: 
    Nama Korban:
    1. Jhon Anouw, 16 Tahun,  Suku Mee (tertbrak mati)
    2. Jansen Kegakoto, 18 Tahun, Suku Mee (tertabrak mati)
    Tempat Kejadian              : Depan Bank Papua, Cabang Kabupaten Dogiyai-Papua
    Waktu Kejadian                : Pukul 09:00 WPB( Waktu Papua Barat)
    Rtuk Pemilik Usaha          : Haji Lanusi
     
    Okum Sopir yang menabrak adalah anggota  KOPASUS dari Kartasura-Jawa Tengah, dan namanya  belum di ketahui. Sementara jarak  antara  Kantor Polisi di Kamu dan Pos Brimob hanya 50 Meter, maka sopir Truk yang juga anggota KOPASUS ini pergi lindungi diri dari  Tempat  Kejadian  Perkara (TKP) atau menghindar dari tanggung jawab moral. Maka kedua   keluarga korban datangi kantor Polisi dan Pos Brimob Dogiyai dengan maksud baik, untuk  menyelesaikan secara kekeluargaan atas insiden ini.
    Tetapi tindakan oleh pihak Penegak Hukum dalam arti Polisi tidak harmonis dan arogan, maka secara spontanitas kedua keluarga korban meneriaki Polisi dengan mengeluarkan segala macam kalimat terhadap kepolisian,  termasuk meminta atau menuntut pelaku penabrakan agar segera bertanggungjawab.
    Tuntutan kedua keluarga korban ini disampaikan kepada Polisi, namun polisi melindungi  Pelaku dan menembaki ke arah kerumunan kedua keluarga korban yang sedang  menyaksikan kedua mayat  korban ini  secara brutal. Akibatnya, empat warga yang juga keluarga korban tertembak.
    Nama-Nama Korban Penembakan Brimob:
       No       Nama     Usia    Suku      Agama               Keterangan
    1
    Yulius Anouw
      27 Tahun   Mee   GKIP(Kingmi) Tertembak di rusuk dada kanan  peluru tembus di rusuk kiri (di rujuk di RSUD Nabire )
    2 Kayus Auwe   23 Tahun   Mee   GKIP(Kingmi) Tertembak tulang dada kiri dan kaki kanan paha belakang  pergelangan lutut(di rujuk di RSUD Nabire )
     3 Anton Edowai   28 Tahun   Mee   GKIP(Kingmi) Tertembak diperut, kaki dan jari tangan. (di rujuk di RSUD Nabire )
     4 Paulus Anouw   25 Tahun   Mee   GKIP(Kingmi) Masih menjalani perobatan di Puskemas Moenami

    Berikut lampiran Foto  Korban  Penembakan yang sedang di rawat di RSUD Nabire-Papua

       
                                                       KORBAN: KAYUS AUWE

       
                                                      KORBAN: YULIUS ANOUW
     
                                                    KORBAN: ANTHON EDOWAY
    Dilaporkan langsung dari Paniai oleh Activist Independence Papua (G@D), pada hari Rabu tanggal  7 Mei 2014. Dalam hal ini, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM) melalui Manajemen Sekretariat Pusat mengutuk keras tindakan Aparat Keamanan Indonesia yang Brutal, yang mana telah dan sedang melakukan penembakan terhadap masyarakat Civil Orang Asli Papua di wilayah Dogiyai dan di seluruh Tanah Papua. Dan Pemerintah Indonesia harus pertanggungjawab atas korban jiwa di Dogiyai-Papua. Berita terkait boleh click disini, “ANGGOTA BRIMOB TEMBAK TIGA WARGA DOGIYAI”, http://tabloidjubi.com/2014/05/06/anggota-brimob-tembak-tiga-warga-dogiyai/
    Demikian, laporan ini merupakan fakta yang valid dan dapat dibertanggungjawabkan.
    Published by Admin KOMNAS TPNPB 2013
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif