Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Pulau Papua. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Pulau Papua. Tampilkan semua postingan

    GENOSIDA MANUSIA PRIBUMI PAPUA DI KOTA NABIRE DENGAN SISTEMATIS MEMBARA

    GENOSIDA MANUSIA PRIBUMI PAPUA DI KOTA NABIRE DENGAN SISTEMATIS MEMBARA

     
    Kota nabire salah satu kabupaten di papua barat di negara kolonial negara Indonesia, situasi memakan manusia papua secara sistematik begitu mencekam genosida. Situasi kota nabire dalam trauma genosida atas selalu terjadi, pada masyarakat  pribumi papua di kota Nabire selalu terkesan dengan kejadian-kejadian kota nabire begitu halus memakan melalui berbagai lantaran-lantarannya.

    Pemerintah Kabupaten Nabire pun Buta kebijakan diantara situasi yang begitu mencekam di bawah tekanan Genosida. Yang di permainkan oleh kaki tangan Negara colonial Indonesia Polisi,  Brimob, tentara, Intel, Bin, Bais,  Premania dan bariasan Merah Putih. Persoalan sangat berat Kebijakan Pemerintah begitu membiarkan terkait mengamankan situasi sedang memakan manusia papua secara halus lantarannya.

    Selama tahun 2014 sedang berjalan, Genosida kota nabire sangat kisah parah melalui lantaran-lantarannya di lakukan oleh kaki tangan Merah Putih, Polisih, Brimop, Tentara, Bin, Bais, dan Premania; yaitu :
    1. Genosida melalui Tabrak Mobil dan Motor di beberapa titik di kota nabire sangat rawan, dengan sistematis Mencuri arah jalan kiri dan kanan dibuat  sengaja, sampai nyawa mati tempat.
    2. Genosida melalui Penculikan sangat rawan beberapa titik di kota nabire di lakukan oleh Tim-Tim kaki tangan, Intel, Bin, Bais, Preman dan Barisan Merah Putih. Dengan memakai mobil operasional kaca gelap secara sistematis.
    3. Genosida melalui Pengobatan di rumah sakit Sriwini sangat memakan manusia, sebagai bagian dari saham utama membunuh manusia sistematik di permainkan oleh Intel, Bin, Bais, dan barisan merah putih. Bekerja sama dengan Direktur rumah sakit tanpa kebijakan apapun untuk selamatkan manusia.
    4. Genosida melalui Minuman Keras di dagangkan oleh Polisi, Brimob, Bin, Bais, Intel di titipkan kios-kios pendatang  bercap “Khusus Papua” di campuri dengan obat kimia “air getir dan air tuba” berfungsi bisa membunuh diri dengan tidak sadar.
    5. Dan lain-lain
    Memang kota nabire papua barat di bawah garis merah Genosida manusia pribumi papua barat melalui berbagai lantaran-lantarannya, di bawah senjatai oleh Polisi, Brimob dan tentara misi di tembak tanpa masalah proses hukum.  

    Mengamankan dan meredakan situasi genosida di kota nabire, dimana pemerintaha bupati kabupaten nabire,  Polresta, Danlamir, semua adalah pasilitator semua kejadian situasi nabire dengan kaki tangan sistematis.

    Pasang strategis Semua Lini keterlibatan oleh Polisi, Brimob, Intel, Bin, Bais, Tentara, Premania, dan Barisan Merah Putih merek di libatkan berbagai tempat sebagai berikut :
    1. Menjadi Sopir-sopir mobil angkutan penumpang,
    2. Menjadi Sopir-sopir trek usaha PT, CV, UD,
    3. Menjadi Pangkalan Ojek-ojek di pelosok nabire;
    4. Menjadi pangkalan proyektor di pelosok kata nabire;
    Semua lini telah di libatkan dengan tidak sadar merasa aturan-aturan negara Indonesia telah melanggar oleh Militer negara indonesi sendiri. Menjadi negara pembuatan Buronan Militer negara menjadi buronan diri sendiri.

    Namun Kota nabire perlu di  bicarakan mengenai kebijakan rambu-rambu kewaspadaan  sebab dalam tahun 2014 berjalan sangat parah yang di lakukan dan di jalankannya oleh Militer kaki tangan negara colonial negara Indonesia di nabire tanah.

    Bupati Kabupaten Nabire Mekanismenya di bayar dengan Uang tutup mulut di bawah tekanan todong senjata oleh Polresta, Danlamir, Militer jajarannya. Pimpinan Semua jadi pasilitator bagian dari genosida, aturan Daerah Kabupaten nabire siapa yang atur dan amankan………..???

    Maka berdasarkan situasi pemerintah kabupaten Nabire dengan jajarannya  perlu punya kebijakan terkhusus untuk mengamankan situasi memakan manusia dengan Genosidarakyat pribumi.

    Pantau Situasi Kota nabire Rakyat Pribumi Ppaua di bawah tekanan Genosida sangat berat, maka Rakyat pribumi Kota nabire di pertanyakan kepada :
    1. Siapa Mereka POLISI, dengan tugasnya……???
    2. Siapa Mereka BRIMOB, dengan tugasnya….???
    3. Siapa Mereka Intelijen, dengan Tugasnya…..???
    4. Siapa Mereka INTEL, BAIS dengan tugasnya….???
    5. Siapa Mereka BARISAN MERAH PUTI dengan tugasnya…..???
    6. Siapa Mereka PREMANIA dengan tugasnya…….???
    7. Siapa Mereka TENTARA dengan tugasnya…….???
    Mereka adalah Koki kaki tangan Negara colonial negara Indonesia sedang pasang strategi yang pernah sedang membunuh manusia pribumi papua barat sebagai pelaku diatas tanah papua.

    Maka Rakyat Pribumi kota nabire papua barat  membuka mata dan waspada situasi memakan genosida di lakukan pasilitasi oleh negara penjajahan negara colonial indonesia)*

    Amoyepai Papuans)* ……Pantau Situasi Membara di Kota Nabire……

    Tolak Kehadiran Militer dalam PAUD di Tanah Papua

    Penulis : Andreas M. Yeimo            

    Aliansi Mahasiswa Papua
    Sebelum melihat kehadiran militer dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), penulis ingin menjelaskan beberapa pengetian kata dasar yaitu Sistem, Pendidikan, dan Militer.

    Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, kata sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu systema yang berarti  cara atau strategi. Dalam bahasa Inggris, sistem berarti system, jaringan, susunan, cara. Sistem juga diartikan sebagai suatu strategi atau cara berpikir.

    Kata Pendidikan adalah suatu strategi atau cara yang akan dipakai untuk melakukan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar para pelajar dapat secara aktif memahami apa yang disampaikan oleh gurunya.

    Kata Militer adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI), organisasinya yang merupakan kekuatan bersenjata dan yang harus menjaga dan mengamankan kedaulatan negara.

    *** 

    Di beberapa pelosok pedalaman Papua, di sana ada beberapa personil TNI dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang sedang mengajar di beberapa daerah, misalnya di pesisir pantai Papua, yaitu di Biak bagian kampung, dan di pegunungan Papua yaitu di kabupaten Puncak Jaya.

    Beberapa orang Papua memandang bahwa tidak salah, jikalau TNI dan Polri mengajar di tanah Papua. Karena tiap tahun walaupun ratusan bahkan ribuan mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan di jenjang  studi S1, S2 dan S3.  

    Semua mahasiswa Papua maunya mencari kepentingan dan kesejahteraan pribadi dengan tidak menjadi guru. Padahal, guru sangat dibutuhkan dibandung profesi lain di Papua.

    Memang sangat benar faktanya bahwa banyak mahasiswa Papua yang sudah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi sudah malas untuk mengajar di tanah airnya sendiri. Tetapi jika dilihat dampak dan efeknya, sangat membahayakan, bila generasi muda Papua yang berpendidikan tidak kembali perhatikan PAUD.

    Bayangkan bila PAUD di Papua ditangani militer seperti sekarang. Bagi anak-anak, apa yang mereka lihat mereka perbuat langsung. Maka pada dasarnya harus ditanamkan dengan sistem pendidikan yang ada agar anak usia dini tidak terpengaruh oleh sistem militerisme.

    *** 

    Pendidikan dan militer memiliki sistem, tujuan dan fungsi yang berbeda. Mereka berada di bawah satu payung besar yaitu negara.  

    Ketika kita berbicara masalah organisasi, ada Visi dan Misi. Mereka juga punya sistem yang berbeda. Pendidikan punya sitem pendidikan sesuai perkembangan usia dan tingkatan pengetahuan. Juga dengan sistim Militerisme.

    Ketika militer menjadi guru, maka bisa jadi sitem militerlah yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar, sementara pendidikan anak-anak punya sistemnya sendiri. Militer berpotensi menjadikan anak Papua menjadi sama wataknya dengan militer. Maka sudah sepantasnya, militer yang menjadi guru di Papua harus ditolak, karena akan merusak pembentukan manusia Papua melalui sistem pendidikan yang telah ada.

    Kita harus tahu fungsi pendidikan dan militer. Militer bukan untuk mengajar, melainkan untuk mengamankan negara. Begitu pun dengan sistem pendidikan, bukan untuk mengamankan Negara, melainkan mendidik seorang anak agar mampu dan memahami nilai-nilai pendidikan, agar menjadi garam dan terang bagi sesamanya dalam dunia modern ini.

    *** 

    Harapan dan impian tak kunjung terealisasi melalui fakta dalam hidupku, di atas tanah air Papua yang tercinta. Berbagai macam masalah harus kutempuh dan kuperjuangkan. Entah itu masalah pendidikan, perekonomian, kesehatan, dan masih ada banyak lagi.

    Harapan kita ada pada anak muda Papua yang akan mengenyam pendidikan dengan baik, melalui sistem pendidikan yang baik, yang diajar oleh guru yang profesional, bukan oleh militer. 

    Pemerintah Papua melalui Dinas Pemuda dan Olah Raga baik itu Provinsi, Kabupaten/kota dan Distrik harus menyekolahkan anak-anak Papua yang masih menganggur dan tidak bersekolah di tanah air Papua. 

    Pemerintah juga beri beasiswai mahasiswa yang akan jadi guru, agar mereka benar menjadi guru profesional, untuk kembali ke tanah Papua, mengajar, mencerdaskan kehidupan orang Papua. Dengan semakin banyaknya guru yang berkualitas, maka dominasi militer dalam dunia pendidikan, khususnya PAUD di Papua akan semakin berkurang. 

    Dan itu akan jadi langkah maju untuk bangsa Papua.


    Penulis adalah mahasiswa Papua, kuliah di Yogyakarta.

    Untukmu Papua Aku Berjuang

    Penulis : Tabita      
    Untukmu Papua aku berjuang. Berjuang dalam konteks menanam pendidikan yang sebagai alat demi mengelola tanah dan kekayaan alam yang sudah sedikit lagi tinggal cerita. 

    Perjuangan melawan ketidakberdayaan dengan pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah dan gampang, tetapi perjuangan untuk menjadi asing di kota studi adalah hak mutlak yang ada pada setiap pelaku (pejuang). 

    Kekawatiran, rasa memiliki, rasa bertanggungjwab, tetapi juga rasa bersalah ketika menjadi yudas di ranah politik, birokrasi, yang menusuk ke sumsum sehingga terus berjuang demi menjaga rona awal itu tetap ada dan terus dinikmati sampai pada anak-anak tanah. 

    Perjuangan dalam konteks pendidikan yang dirasakan oleh setiap anak bangsa Papua yang menggeluti itu terasa di setiap kelompok, yang melatarbelakangi etnis dan daerah yang berbeda tapi satu tujuan yaitu pendidikan. Pendidikan sebagai jembatan untuk menjembatani setiap keluh kesah dalam ketidakadilan akan pribadi, kelompok yang didesain sebaik mungkin untuk menemukan rasa tenang akan ketidakpuasannya suatu problem. 

    Banyak problem yang selau datang silih berganti hingga mengikis tujuan awal dari pendidikan. Segala sesuatu yang bergerak dalam suatu konstitusi ini sering tidak terlepas dari apa yang disebut dengan kost, back to money begitulah slogan yang trend dan marak.  

    Untuk menempuh suatu pendidika bukanlah suatu yang gampang tetapi juga gratis, semua ini perlu suatu dukungan dari biaya, tetapi juga dari diri itu sendiri. 

    Banyak sanggahan, temuan di lapangan akan eksistensi pendidikan dalam konteks penghambat semangat dikarenakan biaya. Sadar atau tidak sadar inilah yang sebagai universal dan juga sebagai virus psikolog yang dengan mudah dan cepat bergerak mematikan setiap pertahana semangat. 

    Kemudian dari pada itu timbul pertanyaan: untuk apa, dan untuk siapa saya berjuang?  

    Perjuangan yang ideal adalah perjuangan yang tanpa ditopang dengan menyuapkan ini dan itu demi Papua. Tetapi lahir dari rasa memilikinya akan segala kekurangan dan kekayaan akan Papua. 

    Otonomi Khusus yang adalah sentral bantuan yang diberikan demi terciptanya apa yang diinginkan masyarakt Papua sehingga dikemas dan diatur sesistematis mungkin itu tidak menjaminnya suatu perjuangan akan pendidikan itu. 

    Secara kasat mata hal ini hanyala suatu senyawa yang diberikan dan tentunya ada reaksi dari senyawa lain karena proses fiksasi. Otonomi Khusus diberikan bukan dilihat dari implementasi suatu harapan masyarakat Papua, tetapi adalah suatu yang diberikan oleh karena suatu tekanan akan tujuan yang mereduksi dari setiap keluh kesah. 

    Pemberian yang baik bukan dilihat dari balasan ataupun keharusan akan suatu pemberian namun dilihat dari suatu perhatian ingin mendengar. Otonomi Khusus diberikan hanya keterpaksaan saja, bukan dari suatu kerelaan. 

    Karena di dalam tujuan diberlakukannya itu ada suatu perjanjian akan suatu daerah demi menjaga dan menandatangani suatu pernyataan, yang tentunya di kemudian hari ketika terdapat kesalahan yang sama, maka secara tidak langsung kekuasaan sepenuhnya diatur oleh yang memberi Otonomi Khusus tanpa melihat dan merasa akan sesamanya. 

    Oleh sebab itu, kalau temuan pincangnya perjalaan Otonomi Khusus bagi Papua yang kurang lebih 13 tahun dan tinggal sedikit ini adalah bagian yang sudah ditanam sejak lahirnya UU Nomor 21 tahun 2001, niscaya akan begini hasilnya. Apa yang ditanam akan dituai sama seperti sekarang ini. Dan apa yang dialami sekarang ini merupakan apa yang dilakukan waktu itu.     


    Pemuda Kekinian Papua
    Pemuda jika dipandang dari fisik adalah alligator yang siap untuk memangsa setiap musuh yang datang dan ingin merampas haknya. 

    Pemuda Papua dalam era globalisasi ini hilang rasa bertanggungjawab akan dirinya sebagai ciptaan (imagodey) yang sama dan diadakan untuk melakukan tanggung jawab moral, iman kepada Yesus yang adalah sumber dari segalanya. 

    Pemuda Papua pada masa kekinian bukanlah pemuda berwibawa, berbudi perkerti, cakap, arif, militansi, pahlawan, melainkan pathogen yang sebagai musuh alami yang ingin merusak akan kelompok, komunitas bangsa dari citra budaya akan Papua. 

    Pemudi Papua tidak lagi menjaga kesuciannya sebagai penerus akan tanah ini, tentunya akan melahirkan anak yang beradat, karena kandungan serta mulut sengaja dinodai dengan kenikmatan duniawi akibat dari rasa kecewa akan kekasih, begitu juga sebaliknya bagi pemuda Papua.

    Pemuda yang adalah penerus tongkat estafet kini mati dan tidak berjalan dalam melakukan gebrakan-gebrakan demi terwujudnya suatu tujuan yang jelas dan hasilnya membawa perubahan. Pemuda hanya dilahirkan sebagai pelengkap akan jagat raya dengan begitu dapat dipakai sebagai pelengkap untuk suatu daerah baru. 

    Banyak pemuda Papua yang merusak harga diri dengan alkohol, HIV/AIDS, sex bebas, dan narkoba sebagai sahabat karib sehidup-semati. Apakah dengan begitu keberadaan Papua ke depan mungkinkah lebih baik atau justru lebih buruk?

    Jelas buruk. Sehingga Sodom dan Gemora akan terjadi di tanah yang penuh akan susu dan madu ini karena perilaku demikian. 

    Keterlibatan pemuda akan pengembangan diri dalam oganisasi kepemudaan, tetapi juga gereja dan masih banyak lagi sangatlah minim, kewajiban akan panggilan akan suatu organisasi kepemudaan tidak serta merta mencari dan menemukan pemuda Papua. 

    Pemuda Papua harus berjuang dan belajar serta jaga diri untuk masa depan Papua. Semoga!



    Tabita Nasadit adalah Mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Ilmu Biologi Konsentrasi Lingkungan, Universitas Kristen Tomohon Manado, Sulawesi Utara.
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif