Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Watikam Voice. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Watikam Voice. Tampilkan semua postingan

    One People One Soul, One Country, One Papua New Gunea










    Dalam menjalankan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya , setiap orang harus tunduk hanya pada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan yang layak terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan orang lain , dan untuk memenuhi syarat-syarat yang adil dalam hal kesusilaan , ketertiban dan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis .

    Ol raits i mas igat lo i stap long lukautim raits bilong ol narapela , raits bilong yu no inap daunim raits bilong narapela .

     Setiap orang berhak atas taraf hidup yang menjamin kesehatan dan kesejahteraan untuk dirinya dan keluarganya , termasuk pangan , pakaian , perumahan dan perawatan kesehatannya serta pelayanan sosial yang diperlukan , dan berhak atas jaminan pada saat menganggur , menderita sakit , cacat , menjadi janda , mencapai usia lanjut atau mengalami kekurangan mata pencarian yang lain karena keadaan yang berada di luar kekuasaannya .

    Yumi olgeta igat rait long stap gut na lukautim femili bilong yumi , long halivim olsem , kaikai , klos , haus na marasin . Sapos manmeri i no gat wok , em sik , kisim bagarap long sampela hap long bodi , lapun stret , na ol narapela samting i mekim sindaun i hat . Yum igat rait long askim gavman long halivim .

     Setiap orang berhak atas bantuan yang efektif dari pengadilan nasional yang kompeten untuk tindakan pelanggaran hak-hak dasar yang diberikan kepadanya oleh undang-undang dasar atau hukum .

    Olgeta manmeri igat rait long kot , long sanap long kot na kisim kompensesen sapos narapela manmeri o gavman i no bihainim Mama Lo bilong kantri bilong yumi .

    Setiap orang , dalam persamaan yang penuh , berhak atas pengadilan yang adil dan terbuka oleh pengadilan yang bebas dan tidak memihak , dalam menetapkan hak dan kewajiban-kewajibannya serta dalam setiap tuntutan pidana yang dijatuhkan kepadanya .

    Ol manmeri igat rait long sanap na harim kot long ples klia , na husat i harim kot i mas stap fri long ol kainkain tingting long wokim gutpela tingting .

    Orang-tua mempunyai hak utama untuk memilih jenis pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anak mereka .
    Olgeta papa mama igat rait long painim wanem kain skul i gutpela long pikinini bilong ol .


     Mereka mempunyai hak yang sama dalam soal perkawinan , di dalam masa perkawinan dan pada saat perceraian .

    Ol Manmeri i bikpela pinis igat rait long marit , maski blek o wait , wanem lotu o wanem lotu o wamem kantri yu kam long em .

    Semua berhak atas perlindungan yang sama terhadap setiap bentuk diskriminasi yang bertentangan dengan Pernyataan ini dan terhadap segala hasutan yang mengarah pada diskriminasi semacam itu .

    Sapos lo ino luksave long yumi wankain , yumi gat rait long tokaut long lo .

    Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan , keadilan dan perdamaian di dunia ,

    Long luksave olsem olgeta manmeri mas igat respek , na olgeta manmeri long dispela graun igat wankain raits long bihainim laik bilong ol , long gat lo na oda na gat gutpela sindaun .

     sebagai satu standar umum keberhasilan untuk semua bangsa dan semua negara , dengan tujuan agar setiap orang dan setiap badan dalam masyarakat dengan senantiasa mengingat Pernyataan ini , akan berusaha dengan jalan mengajar dan mendidik untuk menggalakkan penghargaan terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan tersebut , dan dengan jalan tindakan-tindakan progresif yang bersifat nasional maupun internasional , menjamin pengakuan dan penghormatannya secara universal dan efektif , baik oleh bangsa-bangsa dari Negara-Negara Anggota sendiri maupun oleh bangsa-bangsa dari daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan hukum mereka .

    Tokaut long dispela toksave long raits bilong manmeri long olgeta hap bilong dispela giraun . Long kamapim wanpela wei bilong olgeta manmeri na olgeta kantri , na olgeta wanwan manmeri , na olgeta samting I save mekim kamap komuniti , tingim dispela toksave , ol I mas skulim ol man meri bilong strongim , insait long wanwan kantri na tu long ol narapela kantri .

    Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai pribadi di mana saja ia berada .

    Olgeta manmeri long olgeta hap igat rait long luksave blong lo .

    Tok Pisin to Indonesia : Negara Harus Bebas, Kemerdekaan adalah Hak Segala Bangsa


    Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan , keadilan dan perdamaian di dunia ,

    Long luksave olsem olgeta manmeri mas igat respek , na olgeta manmeri long dispela graun igat wankain raits long bihainim laik bilong ol , long gat lo na oda na gat gutpela sindaun .

    sebagai satu standar umum keberhasilan untuk semua bangsa dan semua negara , dengan tujuan agar setiap orang dan setiap badan dalam masyarakat dengan senantiasa mengingat Pernyataan ini , akan berusaha dengan jalan mengajar dan mendidik untuk menggalakkan penghargaan terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan tersebut , dan dengan jalan tindakan-tindakan progresif yang bersifat nasional maupun internasional , menjamin pengakuan dan penghormatannya secara universal dan efektif , baik oleh bangsa-bangsa dari Negara-Negara Anggota sendiri maupun oleh bangsa-bangsa dari daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan hukum mereka .

    Tokaut long dispela toksave long raits bilong manmeri long olgeta hap bilong dispela giraun . Long kamapim wanpela wei bilong olgeta manmeri na olgeta kantri , na olgeta wanwan manmeri , na olgeta samting I save mekim kamap komuniti , tingim dispela toksave , ol I mas skulim ol man meri bilong strongim , insait long wanwan kantri na tu long ol narapela kantri .

     Dalam menjalankan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya , setiap orang harus tunduk hanya pada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan yang layak terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan orang lain , dan untuk memenuhi syarat-syarat yang adil dalam hal kesusilaan , ketertiban dan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis .

    Ol raits i mas igat lo i stap long lukautim raits bilong ol narapela , raits bilong yu no inap daunim raits bilong narapela .


     Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai pribadi di mana saja ia berada .

    Olgeta manmeri long olgeta hap igat rait long luksave blong lo .

    Tok Pisin : Vanuatu i redi gut long West Papua miting

    Ol Melanesian Spearhead Grup gavman ofisa bai stap tu long Vanuatu West Papua miting
    Olgeta wok blong redi-im bikpla miting blong ol lida blong West Papua long Vanuatu igo hed gut.

    Pastor Alan Nafuki, siaman blong West Papua re-unification komiti we emi redi-im despla miting itok samting olsem 200 pipal blong West Papua bai stap long despla miting em bai stat wantem bikpla lotu long 30 November  na bai pinis long namba 4 December long Port Vila.
    As tingting blong despla miting em blong bungim ol lida blong West Papua long toktok na kamapim wanpla strongpa grup long halvim askim blong ol long joinim Melanesian Spearhead Grup.

    Pastor Nafuki itok tu olsem ol memba kantri blong Melanesian Spearhead group olsem Papua New Guinea, Solomon Islands na Fiji bai salim ol gavman ofisa blong ol igo long despla miting.

    Tok Pisin : West Papua 53rd Anniversary long Melbourne


    West Papua 53rd Anniversary long Melbourne

    Sampela pipol blong West Papua na ol sapota blong rait blong ol West Papua pipal long kisim indipendans i bung long Federation Square long Melbourne blong makim dei blong ol.
    Tede emi 53 yar  we ol pipal blong West Papua i makim olsem National Day blong ol long 1961.
    Despla dei, nambawan December i makim dei we ol pipal blong West Papua ibin apim Morning star flag blong ol aninit long ol wok em gavman blong netherlands ibin wok long redi-im ol long kisim indipendans, tasol long 1962 histori blong ol ibin senis taem Indonesia ibin go insaet na kisim nating West Papua.
    Ol pipal blong West Papuans long olgeta hap blong wold wantem tu hia long Australia ibin makim despla dei tede na long Melbourne oli bin mekim wankaen bung.
    Ol West Papuan pipal blong  Victoria, wantem tu ol saporta BLONG Australia na ol aborigini pipal ibin bung long Federation Square we oli bin holim na soim ol morning star flag, taem stori blong ol na wari ibin kamap long wanpla bikpla vidio screen.

    PIDATO PM VANUATI DALAM SIDANG UMUM PBB 29 SEPTEMBER 2014

    PIDATO PM VANUATI DALAM SIDANG UMUM PBB 29 SEPTEMBER 2014

    PM Vanuatu Joe Natuman (foto, FWP)
    LA PAGO, Internasional - Perdana Menteri Vanuatu, Joe Natuman, membayar upeti kepada almarhum Dr John Otto Ondowame dalam pidatonya kepada Majelis Umum pada 29 September 2014 di new York.

    Setelah menyebutkan dukungan penuh dari Vanuatu ke perjuangan untuk penentuan nasib sendiri Rakyat Kanak, Perdana Menteri mengatakan hal berikut di Papua Barat: 

    "Mr Ketua, saya tidak bisa tutup bagian pidato saya tanpa membayar upeti kepada almarhum Dr John Ondowame, pejuang kemerdekaan dari Papua Barat yang meninggal bulan lalu, sementara di pengasingan di negara saya. Ia dimakamkan di negara saya sebagai pahlawan yang telah berjuang untuk hak untuk menentukan nasib sendiri bagi Rakyat Papua Barat. Dia bermimpi bahwa suatu hari PBB dan semua negara yang mendukung dan mempromosikan prinsip-prinsip demokrasi akan mendengar tangisan mereka dan memberikan janji-janji untuk masa depan yang ditentukan sendiri. Saat upacara penguburan, saya menyatakan bahwa perjuangannya untuk kebebasan dan keadilan akan terus menjadi perjuangan kita sampai kolonialisme diberantas. "
     

    Hak Penentuan Nasib Sendiri


    Hak Penentuan Nasib Sendiri


    Masyarakat adat memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri, yang berarti bahwa mereka dengan bebas menentukan sistem dan pengembangan politik, ekonomi, sosial dan budaya mereka.

    Pasal 3 dari UNDRIP mengatakan: “Masyarakat adat mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri. Berdasarkan hak tersebut, mereka secara bebas menentukan status politik mereka dan secara bebas mengembangkan kemajuan ekonomi, sosial dan budaya mereka.”

    Masyarakat adat berhak melestarikan dan memperkuat institusi politik, hukum, ekonomi, sosial dan budaya mereka sendiri, sambil mempertahankan hak mereka untuk ikut serta secara penuh dalam kehidupan bernegara dalam aspek-aspek tersebut. Mereka memiliki hak untuk menentukan sendiri identitas dan keanggotaan mereka; serta struktur dan pemilihan ketua kelembagaan mereka sesuai dengan prosedur, adat dan tradisi mereka sendiri.

    Memberikan kewenangan penuh kepada PBB dan Amerika untuk membuka kembali kasus negara Papua Barat bagi suatu penyelesaian Internasional.

    Gerakan Mahasiswa Papua

    Catatan sejarah Papua membuktikan bahwa, 
    ideology untuk membentuk negara Papua Barat muncul dari Intelektual, Pelajar dan Mahasiswa asal Papua Barat.


    Mahasiswa, dalam pentas sejarah Papua Barat, memang tidak sekadar menampilkan dirinya menjadi sosok manusia elitis terpelajar yang kemudian menjelmakan dirinya menjadi mesin intelektual yang hanya bekerja dalam dunianya saja. Lebih dari itu, sejarah perlawanan, dinamika pergolakan, gelombang protes, dan keterlibatan dalam gejolak pembaruan adalah semangat dan peristiwa yang tak pernah sepi dari dunia mahasiswa Papua. Sejarah telah bercerita tentang itu. Gerakan mahasiswa di Papua secara terus-menerus terlibat dalam pergulatan, perlawanan, dan perjuangan. Dari merencanakan sebuah negara dan membuat pengorganisasian masa rakyat, dari gerakan di kampus, di kampung hingga di hutan. Yang kemudian disaat kebangkita mahasiswa ketiga ini  pergerakan mahasiswa Papua mulai berani dan radikal dengan melakukan pergerakan dan perlawanan  di pusat ibu kota negara  dari pemerintahan dan Bangsa Republik Indonesia.

    Berkaca dari sejarah awal gerakan Papua, sebenarnya yang mampu meradikalisasi dan mengentalkan gerakan mahasiswa menjadi gerakan perlawanan adalah kondisi ketertindasan rakyat dan ketidakadilan yang  menjamur dan sangat meresahkan. Mungkin bagi banyak kalangan mahasiswa Papua yang tau hanya ke kampus, makan-minum, main  dan  tidur,  akan sangat terdengar klise, namun itu adalah kenyataan yang tidak bisa dibohongi dan bukan romantisme belaka. Represi yang dilakukan oleh rezim yang berkuasa “Kolonial Belanda dan Indonesia saat itu”, ketidakadilan yang merata, kebijakan yang menindas rakyat kecil, dan terlebih lagi penyalahgunaan kekuasaan, seperti KKN, yang mengakibatkan terenggutnya hak dari tangan yang sangat membutuhkan, akan selalu merangsang dan memformat mahasiswa untuk melakukan gerakan perbaikan yang tidak hanya identik dengan studi, namun lebih dari itu ia akan mengkatalisasi gerakannya menjadi gerakan perlawanan, tidak peduli siapa yang harus dihadapi.

    1. Kenyataan Sejarah Pergerakan Mahasiswa tahun 1960-an

    Pada masa rekolonisasi akan dilakukan di Papua Barat, perlawanan secara tradisional memang belum mampu menghasilkan kemerdekaan buat bangsa Papua yang di maulai di Biak sekitar tahun 1934. Lantas segelintir Mahasiswa Papua atau lebih dikenal dengan orang-orang terpelajar yang didik oleh van Baal yang secara resmi mendirikan dan membangun kantor Gubernur perwakilan Belanda di Jayapura, Mereka yang didik pada saat itu antara lain adalah; N. Jouwe, M.W. Kaiseppo, P. Torei,  M.B. Ramendey, A.S. Onim, N. Tanggakma, F.Poana dan Andullah Arfan. Mereka ini boleh dikatakan orang didikan (mahasiswa/pelajar) pertama di Papua bagian Barat yang melakukan perlawanan secara intelektual. Mereka melakukan suatu gerakan untuk mengusir penjajahan dari muka bumi Papua dengan melakukan gerakan dan menetakan anggota Dewan Nieuw Guinea Raad , serta merancang lambang-lambang negara West Papua. (Saya akan biacara seputar gerakan mahasiswa saja). Akibat dari pembacaan akan terjadi privilege dari penjajah, namun saat itu ternyata tokoh-tokoh terpelajar bangsa Papua barat itu mampu menjadi pioner dan menumbuhkan gerakan dengan cara baru yang bukan hanya memperkaya khazanah metode perlawanan namun juga membuat gerakan memperjuangkan kemerdekaan menjadi lebih efektif dan terarah. Namun sayang Ketika kemerdekaan telah direbut, ternyata arus pergerakan kaum terpelajar didalam mereka sendiri tidak bisa diredam ketika pemerintah colonial Indonesia saat itu telah menyeludup masuk dalam khubuh mereka sendiri “seperti Silas Papare DKK” yang berdampak pada perubahan melenceng adengan murni dari semangat kemerdekaan, ini yang kadang kita sebut dengan istilah kasar “oh didalam tubuh mereka ada juga judas-judas, sehingga Gerakan mereka dipatahkan oleh orang Papua itu sendiri. Karena memang saat itu kaum terpelajar kita bansa Papua bisa dihitung dengan sepuluh jari kita. Memang ini mungkin hanya dimotori oleh beberapa orang terpelajar yang masih belajar juga, tapi ingat bahwa manuver mereka cukup dashyat, hingga saat ini sejarah bangsa-bangsa di dunia mencatatatnya.

    Setelah selama hampir 5 tahun pergerakan dipatahkan, kembali pada tahun 1969, mahasiswa  Papua Barat mengkonsilidasikan diri dan turun ke jalan untuk melakukan protes atas hasil Pelaksanaan Pepera 1969, kita bisa mendengar dan juga menyaksikan lewat CD, dimana  riak-riak kecil protes mahasiswa dan masyarakat Papua Barat yang menemukan ada kecurangan yang terjadi pada saat pelaksanaan PEPERA 1969. Kita bisa melihat bagimana para nasional Papua merangkul beberapa mahasiswa untuk melakukan perjuangan, karena ada kecurangan dimana pihak Indonesia yang sedang memperebutkan Papua Barat justru yang melakukan PEPERA, tidak sesuai dengan kertetapan New York Agrremant  yang menetapkan harus ada dibawah kendali UNTHEA. Hal ini dapat kita buktikan dengan Aksi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa dan rakyat Papua sebelum pepera dilakukan pada tanggal 12 Februari 1969. Dalam demontrasi ini, mereka menyanyikan lagu-lagu rohani, lagu-lagu perjuangan dan yel-yel perlawanan rakyat Papua Barat. Demonstrasi ini di Pimpin oleh  Herman Wayoi dan Permenas Hans Torrey. BA.  Para demonstran ini menujuh ke kediam utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), agar pepera harus dilaksanakan sesuai dengan perjanjian New York yakni “ One Man One Vote” dan menolak keingin Indonesia untuk melaksanakannya atas asas musyawara mufakat melalui Dewan Musyawarah Pepera (DMP). Demontrasi ini mengundang amarah Indonesia, sehingga Indonesia melalui ABRI melakukan penembakan dan penangkapan terhadap para pimpinan Papua yang tidak ikut gabung dengan Indonesia. Ini adalah sejarah kelabuh yang harus kita mahasiswa kritisi untuk dilakukan riviewu ulang pelaksanaan PEPEPRA 1969.

    Pada aksi ini juga menuntut Pemerintah Indonesia untuk mempertanggungjawabkan penjarahan besar-besar yang dilakukan oleh tentara dan para birokrasi yang tanpa malu-malu mengambil dan mengangkut ke daerah mereka  barang-barang peninggalan Belanda, seperti mesin-mesin, kulkas dan barang-barang mewah, perlengkapan militer, perabot rumah, kantor-kantor pemerintah danlainnya. Semua dokumen-dokumen Papua, baik perpustakaan sekolah maupun surat-surat penting lainnya di baker habis oleh Ali Mortopo dan pasukan ABRI lndonesia dibawah komando Soeharto atar perintah Soekarno.

    2. Gerakan Mahasiswa Tahun 70-80-an

    Gerakan kebangkitan Mahasiswa berikutnya adalah, gerakan kebangkitan Seni dan Budayan Papua Barat yang di polopori oleh Arnol Aap, Sam kapisa dan kawan-kawan mahasiswa uncen di Jayapura. Gerakan mahasiswa yang bergerak di seni dan budaya ini lahir pada tahun 1972 yang dimulai dari gereja-geraja, panggung hingga terakhir di RRI nusantara lima Jayapura. Gerakan ini tumbuh dan berkembang, yangn kemudian pada tanggal 15 Agustus 1978 menjadikan hari jadi mambesak. Musik ini oleh Sam Kapisa dan Arnold Aap mengganggap sebagai musik yang suci sehingga mereka menamainya Mambesak, Nuri, yang menurut orang Biak adalah burung suci, tujuannya adalah untuk menghibur hati masyarakat Papua yang sedang di intimidasi, di aniaya, di perkosa dan di binasakan. Musik-musik mambesak memberikan kekuatan perlawanan rakyat Papua dan mengembalikan jadi diri sebagai komunitas yang beda dari bangsa Indonesia.

    Gerakan Mambesak memberikan ispirasi yang kuat dan membangkitan nasionalisme bangsa Papua, sehingga perlawananpun semakin lama mulai menguat di daerah-derah Papua lainnya. Namun sayang, karena oleh pemerintah Indonesia menganggapnya gerakan ini sangat berbahay sehingga mereka menangkap Arnol Ap dan membunuhnya tanpa alasan politik dan keamanan yang jelas terhadap kesalahan yang di Lakukan oleh Al arnol Ap. Gerakan ini melahirkan protes besar-besar bangsa Papua atas kehadiran Indonesia, dengan melakukan Suaka politik dan pengungsian besar-besaran.

    Di Jayapura sekitar 800 Masyarakat Papua melakukan pelarian ke Perbatasan Indonesia – PNG sebagai  protes mereka atas sikap tidak manusiawi Indonesia terhadap bangsa Papua Barat. Sementara di Jakarta, Simon Otis Piaref, Johannes Rumbiak, Jopie Rumanjau dan Loth Sarakan, mempertanyakan nasib Arnold Ap ke DPR-RI, karena dikejar-kejar maka mereka melakukan lompat pagar dan meminta suaka politik di kedutaan Belanda.  Sikap yang diambil oleh Simon O Piaref dan kawan-kawan ini, adalah sikap protes atas sikap dan tindakan Indonesia yang tidak manusiawi di tanah Papua Barat. Pada hari yang sama sekitar 300 masyarakat Papua melakukan long mark mengatar mayat Al. Arnol Ap dari Jayapura menujuh tanah hitam, tempat peristerahatan terakhir Al. Arnold Ap.

    3.  Gerakan Mahasiswa Tahun 90- an Melahirkan AMP

    Kemudian gerakan mahasiswa Papua lainnya adalah pada tahun 1996, di Jayapura - Abepura mahasiswa Uncen dibawah pimpinan Beni Wenda melakukan protes atas kematian Al. Dr Thomas Wanggai yang tidak wajar, “setelah diberikan racun dengan minuman”. Mahasiswa menyambut mayat al. Thomas Wanggai didepan kampus untuk penghormatan terakhir, namun apa yang terjadi, bahwa ada konspirasi penipuan Kolonial Indonesia disana, sehingga terjadi pemberontakan atas penipuan kolonial Indonesia, terjadi pembakaran mobil, toko-toko dan pasar raya Abepura. Dalam insiden ini 4 Mahasiswa dan 1 Anggota TNI pribumi meninggal dunia. Peristiwa ini adalah sejarah gerakan Mahasiswa Papua yang ada dalam memori masyarakat Papua.

    Gerakan mahasiswa berikutnya adalah pecah pada tahun 1997, dimana mahasiswa Papua memprotes Pembantaian TNI di Mapenduma, Jila, Bela dan Alama. Protes ini dilakukan setelah mendapatkan laporan pelanggaran HAM oleh 3 gereja besar di Papua. Gereja itu antara Lain, Katolik, KIGMI dan GKIIJ. Gerakan ini berdampak hingga ke Luar Pulau Papua. Apa lagi kemudian di Picu lagi dengan Surat Senator Amerika serikat yang meminta kepada pemerinta BJ Habibi untuk  memberikan kesempatan kepada Timor-Timor dan Papua Barat.

    Gerakan tahun 1997 ini  kemudian melahirkan organ politik mahasiswa Papua terbesar yang kemudian di kenal dengan naka Alinsi Mahasiswa Papua (AMP). Sedikit sejarahnya adalah. Aliansi Mahasiswa Papua (Selanjutnya disebut AMP) didirikan pada tanggal 30 Mei 1998 di Jl. Guntur Kawi, Manggarai, Jakarta Selatan.  Organisasi ini lahir ditengah situasi represi NKRI di Tanah Papua Barat, khsusnya di Biak, yang kita kenal dengan Peristiwa Biak Berdarah. Ditengah situasi politik Indonesia yang mulai goyah akibat tekanan-tekanan politik dari gerakan prodemokrasi Indonesia terhadap regime Soeharto dan mulai menguatnya tuntutan Reformasi Politik bagi sebuah perubahan yang berkeadilan serta terbukanya ruang demokrasi.

    Ditengah situasi politik yang demikian di Indonesia, para mahasiswa Papua Barat dari berbagai kota di Indonesia berinisiatif membentuk sebuah organisasi politik yang akan mewadahi tuntutan-tuntutan politik mahasiswa Papua Barat secara jelas kepada Indonesia, terutama dalam hal “hak menentukan nasib sendiri sebagai bangsa yang merdeka” seperti yang selama 40 tahun terakhir diperjuangkan oleh OPM dan berbagai faksi organisasi Gerakan Pembebasan Nasional Papua Barat Barat lainnya.

    Semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari Neo-Kolonialisme Indonesia itulah yang telah mampu membangkitkan semangat perlawanan mahasiswa Papua Barat dan mendorong para mahasiswa untuk berkumpul dan membentuk wadah perlawanan yang efektif bagi perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat, terutama dikalangan mahasiswa Papua Barat yang selama itu masih bersifat apolitis, karena memang tidak memiliki alat-alat perjuangan yang jelas untuk sebuah sikap politik yang tegas terhadap perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat.

    Dari sinilah cikal bakal perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat secara modern mulai ditorehkan secara efektif di Indonesia. Dalam perjalanan awal AMP banyak sekali kendala yang dihadapi karena tidak adanya pengetahuan bersama soal penerapan mekanisme organisasi gerakan politik (bukan paguyuban) dalam amanat perjuangan lebih besar. Tetapi sesuai dengan berjalannya waktu, AMP telah menata sejumlah mekanisme baru yang lebih efektif dalam menggerakan organisasi ini sebagai organisasi dengan kader-kader yang terdidik, terpimpin dan terorganisir rapi ditiap basis perjuangan mahasiswa Papua, baik di Papua, Indonesia maupun Internasional.

    Pada tanggal 16 Januari 2001, AMP Korwil Yogyakarta direstrukrisasi dengan penempatan sejumlah kawan-kawan baru untuk mencoba menata kembali organisasi ini mulai dari tingkat kota Yogya dan terus membantu Ketua Umum di Jakarta untuk melebarkan jaringan politik dengan gerakan prodemokrasi Indonesia. Selain itu di Papua, AMP juga diefektifkan dengan mendorong pembentukan AMP Numbay dan menempatkan sejumlah kawan yang militan untuk memimpin organisasi dan mempertahankan semangat juang  dibasis utama perubahan kita, Tanah Papua. Selain itu, sejak tahun 2000 AMP juga telah mencoba membangun kekutan jaringan ditingkat internasional dengan basis utama di Irlandia dan Inggris.

    Ditengah represi Neo-Kolonialisme Indonesia yang begitu kuat, AMP yang ada di Papua, Indonesia dan Internasional tetap berjuang menjaga semangat juang dikalangan mahasiswa Papua, ditengah-tengah rakyat Papua dan juga diantara kawan-kawan jaringan kita di Indonesia dan Internasional yang semakin lama semakin membesar sampai hari ini. Inilah tugas suci yang musti diemban oleh setiap kader Aliansi Mahasiswa Papua sampai kemenangan politik kita capai, yaitu KEMERDEKAAN SEJATI SEBAGAI  BANGSA PAPUA BARAT  yang telah dianeksasi oleh  pihak Amerika, Indonesia, Belanda dan PBB.
    ***

    Untuk pertama kalinnya, Aliansi Mahasiswa Papua melakukan Aksi besar-besaran pada tahun 1998. Ditengah-tengah maraknya tuntutan Kemerdekaan Papua Barat, pada tanggal, 20 Juli 1998, Seluruh mahasiswa perantau dari Sulawesi diantaranya ( Menado, toraja serta Ujung Pandang), Bali, Jawa diantaranya (kota Surabaya, Malang, Semarang, Solo, Salatiga, Yogyakarta, Bandung serta Jakarta) dan Sumatera yang berjumlah sekitar 665 orang mahasiswa melakukan demonstrasi di depan kantor Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jakarta. Aksi demonstrasi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) ini mengajukan tiga (3) buah pernyataan sikap politik yang menuntutu PBB agar segera mengembalikan kemerdekaan Papua Barat yang telah di Proklamasihkan pada tanggal, 1 Desember 1961. Mendesak Kepada mahkama Internasional agar segera menggugat Indonesia yang dengan sengaja menghilangkan hak-hak kebangsaan (national right) tanah dan hak bangsa Papua Barat selama 35 tahun. Memberikan kewenangan penuh kepada PBB dan Amerika untuk membuka kembali kasus negara Papua Barat bagi suatu penyelesaian Internasional.

    Ini adalah gerakan-gerakan Mahasiswa Papua yang perlu kita catat dan memberikan penghargaan tertingga dalam kehidupan kita. Penghargaanya adalah dengan melakukan renungan kembali, kekuaragannya, kelebihannya dan kekuatannya, lalu kita mendukung dan mendorong sobat-sobat progresif yang sedang melakukan perlawanan setiap hari. Sobat saya H.G. pernah mengatakan kepada saya begini: “……… Sobat Jimmy… Orang Papua tidak pernah akan  mengerti kalau kita sedang jalan kaki, berkeringat dingin saat ini dalam melakukan perjuangan…..orang Papua tidak pernah akan mengerti kalau kita sedang susah naik angkot untuk menghadiri pertemuan-pertemuan itu…..orang Papua tidak akan membantu kita untuk menangis bersama dan menghapuskan air mata kita…hanya diri kita yang tau….kalau kita sedang menderita dalam melakukan perlawanan terhadap neocolonial Indonesia, neoliberalisme dan militerisme di Papua Barat….itulah masa-masa kita yang paling Indah…..”. Setelah saya pikir-pikir ternyata benar juga. Hanya kepada mereka yang terpangil dan melek saja yang tidak akan mengeluarkan kata-kata profokatif. ***  

    10 Pekerjaan yang Tak Perlu Ijazah Sarjana

    10 Pekerjaan yang Tak Perlu Ijazah Sarjana


    Dalam dunia kerja, masih banyak perusahaan yang mempertimbangkan latar belakang pendidikan calon karyawan. Dalam syarat penerimaan pegawai baru, sejumlah perusahaan mencantumkan syarat untuk melampirkan ijazah perguruan tinggi.



    Fakta ini menggelisahkan pencari kerja, terutama yang tak berijazah. Tak heran Nick Corcodilos dari Ask The Headhunter mendapat banyak pertanyaan dari komunitasnya. Misal, seorang pencari kerja bertanya,”Saya memiliki pengalaman kerja selama 20 tahun di bidang akuntansi tapi tak memiliki gelar kesarjanaan. Bagaimana saya menulis lamaran pekerjaan kepada pemimpin perusahaan tanpa gelar yang dibutuhkan?”



    Menanggapi itu, Nick Corcodilos mengatakan, untuk profesi tersebut banyak lulusan perguruan tinggi jurusan akuntansi punya pengalaman kerja. Namun pengalaman kerja selama 20 tahun dapat dengan mudah menggantikan gelar.



    Oleh karena itu, suka atau tidak suka kandidat harus bersaing. Corcodilos menyarankan, tenaga kerja bisa mengambil program khusus tanpa harus kuliah di perguruan tinggi demi memperoleh gelar. Sekarang banyak “program pembelajaran jarak jauh”. Ini adalah perguruan tinggi yang akan memberikan kursus melalui internet. 



    Namun ia menyarankan agar tenaga kerja memeriksa program pendidikan online secara detail sebelum mendaftar. Pastikan lembaga tersebut terakreditasi. 



    Sebenarnya banyak orang bisa sukses tanpa gelar kesarjanaan. Bill Gates, pendiri Microsoft, tidak pernah lulus kuliah. Begitu pula Michael Dell atau Steve Jobs. Di luar dunia teknologi, ada Richard Branson. Tanpa ijazah perguruan tinggi, mereka memulai usaha sendiri dan kemudian sukses.



    Anda tentu saja bisa mengikuti jejak mereka dengan mulai mencari ide untuk mendirikan sebuah usaha, kemudian belajar secara otodidak untuk mengembangkan perusahaan tersebut. Namun jika Anda masih ingin bekerja pada orang lain di sebuah perusahaan, berikut ini beberapa pekerjaan yang bisa Anda raih tanpa perlu gelar sarjana.



    1. Jurnalis
    Media massa biasanya mensyaratkan ijazah perguruan tinggi bagi semua pelamarnya. Namun jika Anda memulai sejak dini terjun sebagai wartawan di majalah sekolah, buletin kampus, atau surat kabar lokal di kota Anda, biasanya perusahaan akan memperhitungkan pengalaman Anda. Kemudian, jurnalis baru biasanya akan mendapat pelatihan di tempat kerjanya.



    2. Sales/marketing
    Banyak perusahaan mempekerjakan kandidat sales dengan melihat pengalaman kerja dan tidak mempertimbangkan gelar. 



    3. Pengembang web 
    Prospek kerja dan potensi penghasilan bagi para pengembang web (termasuk pengembang aplikasi) diperkirakan akan tumbuh lebih cepat dibandingkan pekerjaan lain.



    4. Sekretaris
    Sekretaris ataupun petugas administrasi melakukan tugas seperti penyusunan pesan, penjadwalan rapat, dan memberikan dukungan untuk staf kantor lainnya.



    5. Asisten paralegal
    Paralegal dan asisten hukum melakukan berbagai pekerjaan untuk mendukung pengacara, termasuk memelihara dan mengatur file, melakukan penelitian hukum, dan penyusunan dokumen. Gelar sarjana atau sertifikat dalam studi paralegal biasanya diperlukan untuk calon entry level.



    6. Desainer 
    Untuk menjadi desainer, baik itu desainer mode ataupun atau desainer artistik di media, baik web maupun media cetak, yang dibutuhkan adalah keahlian dan portofolio karya. Cukup kursus agar mengerti lebih baik tentang teknis yang lebih rumit. Dan yang lebih diutamakan: bakat.
    7. Teknisi
    Dalam hal ini, mekanik atau teknisi bekerja mengontrol kualitas dari sistem permesinan yang tak rumit. Misalnya, sistem pendinginan di berbagai gedung, atau mekanik pada sistem perbengkelan kendaraan.



    8. Tenaga survei
    Tenaga survei bekerja untuk membuat pengukuran yang tepat, melakukan survei dan pemetaan, serta mengumpulkan data.



    9. Asisten eksekutif 
    Asisten Eksekutif memberikan dukungan administrasi termasuk melakukan penelitian, pembuatan laporan, penanganan permintaan informasi, dan juga dapat mengatur panggilan rapat serta acara perusahaan. 



    10. Agen asuransi
    Agen asuransi menjual produk perlindungan kesehatan, properti, otomotif. Menjadi agen asuransi menjanjikan penghasilan yang baik dan memungkinkan pengembangan karir. 



    by: Marmi Panti Hidayah (Kontributor KBK Papua)

    Untukmu Papua Aku Berjuang

    Penulis : Tabita      
    Untukmu Papua aku berjuang. Berjuang dalam konteks menanam pendidikan yang sebagai alat demi mengelola tanah dan kekayaan alam yang sudah sedikit lagi tinggal cerita. 

    Perjuangan melawan ketidakberdayaan dengan pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah dan gampang, tetapi perjuangan untuk menjadi asing di kota studi adalah hak mutlak yang ada pada setiap pelaku (pejuang). 

    Kekawatiran, rasa memiliki, rasa bertanggungjwab, tetapi juga rasa bersalah ketika menjadi yudas di ranah politik, birokrasi, yang menusuk ke sumsum sehingga terus berjuang demi menjaga rona awal itu tetap ada dan terus dinikmati sampai pada anak-anak tanah. 

    Perjuangan dalam konteks pendidikan yang dirasakan oleh setiap anak bangsa Papua yang menggeluti itu terasa di setiap kelompok, yang melatarbelakangi etnis dan daerah yang berbeda tapi satu tujuan yaitu pendidikan. Pendidikan sebagai jembatan untuk menjembatani setiap keluh kesah dalam ketidakadilan akan pribadi, kelompok yang didesain sebaik mungkin untuk menemukan rasa tenang akan ketidakpuasannya suatu problem. 

    Banyak problem yang selau datang silih berganti hingga mengikis tujuan awal dari pendidikan. Segala sesuatu yang bergerak dalam suatu konstitusi ini sering tidak terlepas dari apa yang disebut dengan kost, back to money begitulah slogan yang trend dan marak.  

    Untuk menempuh suatu pendidika bukanlah suatu yang gampang tetapi juga gratis, semua ini perlu suatu dukungan dari biaya, tetapi juga dari diri itu sendiri. 

    Banyak sanggahan, temuan di lapangan akan eksistensi pendidikan dalam konteks penghambat semangat dikarenakan biaya. Sadar atau tidak sadar inilah yang sebagai universal dan juga sebagai virus psikolog yang dengan mudah dan cepat bergerak mematikan setiap pertahana semangat. 

    Kemudian dari pada itu timbul pertanyaan: untuk apa, dan untuk siapa saya berjuang?  

    Perjuangan yang ideal adalah perjuangan yang tanpa ditopang dengan menyuapkan ini dan itu demi Papua. Tetapi lahir dari rasa memilikinya akan segala kekurangan dan kekayaan akan Papua. 

    Otonomi Khusus yang adalah sentral bantuan yang diberikan demi terciptanya apa yang diinginkan masyarakt Papua sehingga dikemas dan diatur sesistematis mungkin itu tidak menjaminnya suatu perjuangan akan pendidikan itu. 

    Secara kasat mata hal ini hanyala suatu senyawa yang diberikan dan tentunya ada reaksi dari senyawa lain karena proses fiksasi. Otonomi Khusus diberikan bukan dilihat dari implementasi suatu harapan masyarakat Papua, tetapi adalah suatu yang diberikan oleh karena suatu tekanan akan tujuan yang mereduksi dari setiap keluh kesah. 

    Pemberian yang baik bukan dilihat dari balasan ataupun keharusan akan suatu pemberian namun dilihat dari suatu perhatian ingin mendengar. Otonomi Khusus diberikan hanya keterpaksaan saja, bukan dari suatu kerelaan. 

    Karena di dalam tujuan diberlakukannya itu ada suatu perjanjian akan suatu daerah demi menjaga dan menandatangani suatu pernyataan, yang tentunya di kemudian hari ketika terdapat kesalahan yang sama, maka secara tidak langsung kekuasaan sepenuhnya diatur oleh yang memberi Otonomi Khusus tanpa melihat dan merasa akan sesamanya. 

    Oleh sebab itu, kalau temuan pincangnya perjalaan Otonomi Khusus bagi Papua yang kurang lebih 13 tahun dan tinggal sedikit ini adalah bagian yang sudah ditanam sejak lahirnya UU Nomor 21 tahun 2001, niscaya akan begini hasilnya. Apa yang ditanam akan dituai sama seperti sekarang ini. Dan apa yang dialami sekarang ini merupakan apa yang dilakukan waktu itu.     


    Pemuda Kekinian Papua
    Pemuda jika dipandang dari fisik adalah alligator yang siap untuk memangsa setiap musuh yang datang dan ingin merampas haknya. 

    Pemuda Papua dalam era globalisasi ini hilang rasa bertanggungjawab akan dirinya sebagai ciptaan (imagodey) yang sama dan diadakan untuk melakukan tanggung jawab moral, iman kepada Yesus yang adalah sumber dari segalanya. 

    Pemuda Papua pada masa kekinian bukanlah pemuda berwibawa, berbudi perkerti, cakap, arif, militansi, pahlawan, melainkan pathogen yang sebagai musuh alami yang ingin merusak akan kelompok, komunitas bangsa dari citra budaya akan Papua. 

    Pemudi Papua tidak lagi menjaga kesuciannya sebagai penerus akan tanah ini, tentunya akan melahirkan anak yang beradat, karena kandungan serta mulut sengaja dinodai dengan kenikmatan duniawi akibat dari rasa kecewa akan kekasih, begitu juga sebaliknya bagi pemuda Papua.

    Pemuda yang adalah penerus tongkat estafet kini mati dan tidak berjalan dalam melakukan gebrakan-gebrakan demi terwujudnya suatu tujuan yang jelas dan hasilnya membawa perubahan. Pemuda hanya dilahirkan sebagai pelengkap akan jagat raya dengan begitu dapat dipakai sebagai pelengkap untuk suatu daerah baru. 

    Banyak pemuda Papua yang merusak harga diri dengan alkohol, HIV/AIDS, sex bebas, dan narkoba sebagai sahabat karib sehidup-semati. Apakah dengan begitu keberadaan Papua ke depan mungkinkah lebih baik atau justru lebih buruk?

    Jelas buruk. Sehingga Sodom dan Gemora akan terjadi di tanah yang penuh akan susu dan madu ini karena perilaku demikian. 

    Keterlibatan pemuda akan pengembangan diri dalam oganisasi kepemudaan, tetapi juga gereja dan masih banyak lagi sangatlah minim, kewajiban akan panggilan akan suatu organisasi kepemudaan tidak serta merta mencari dan menemukan pemuda Papua. 

    Pemuda Papua harus berjuang dan belajar serta jaga diri untuk masa depan Papua. Semoga!



    Tabita Nasadit adalah Mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Ilmu Biologi Konsentrasi Lingkungan, Universitas Kristen Tomohon Manado, Sulawesi Utara.
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif