Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

    9 Negara, 20 Kota Aksi Serentak untuk Akses ke Papua

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
    Aksi protes di London - Suplied
    Aksi protes di London - Suplied

    9 Negara, 20 Kota Aksi Serentak untuk Akses ke Papua

    London, Jubi – Rabu, 29 April 2015 puluhan demonstran berbaju hitam melakukan aksi di depan Kedutaan Besar Indonesia untuk memimpin aksi global menentang isolasi panjang di Papua selama 50 tahun. Demonstrasi ini diorganisir oleh TAPOL dan Survival Internasional dan didukung oleh Amnesty Internasional Inggris serta Free West Papua Campaign. Aksi ini diikuti oleh 22 aksi serupa di dunia untuk meminta kebebasan dan keterbukaan akses untuk wilayah yang paling disembunyikan di Indonesia ini. Sejak aneksasi di Papua pada tahun 1963, Indonesia telah memberlakukan blokade media pada wilayah kaya sumber daya alam yang diperebutkan, yang memungkinan pelaku pelanggaran hak asasi manusia bertindak dengan mendapatkan impunitas total. Papua adalah salah satu wilayah konflik yang terisolasi di Papua. Selama beberapa tahun, aparat keamanan di Indonesia secara brutal telah menindas gerakan pro kemerdekaan di Papua.

    Hari Aksi Serentak untuk Kebebasan dan Keterbukaan Akses untuk Papua dilakukan di Papua, Indonesia, Australia, New Zealand, the Solomon Islands, Scotland, Germany, France, Italy dan Spain. Aksi di Los Angeles, New York dan San Francisco dilakukan sehari sebelumnya. Aksi ini adalah upaya koordinasi global, yang pertama dari jenisnya, menunjukkan bahwa solidaritas di seluruh dunia untuk Papua telah mencapai situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Esther Cann dari TAPOL, sebuah organisasi HAM di London yang mengkoordinir aksi ini menyatakan: “Dunia belum pernah tampak melakukan dukungan serupa ini untuk Papua. LSMs, anggota parlemen dan kelompok solidaritas diseluruh dunia memberitahu Indonesia bahwa pelanggaran hak asasi manusia di Papua tidak bisa lagi diabaikan. Suara orang Papua harus didengar. Dalam era informasi ini, sangat mengejutkan bahwa ada daerah tertutup seperti Papua.”

    Dari Pulau Solomon sampai Scotlandia sampai San Fransisco, ratusan demonstran dari 22 kota di 10 negara berbeda bersatu untuk meminta kebebasan dan keterbukaan di Papua. Demonstran menggunakan baju hitam, menunjukkan ketertutupan media di Papua. Mereka bersatu untuk meminta Presiden Joko Widodo memenuhi janji pada masa pemilihan presiden untuk membuka akses bagi jurnalis internasional, kelompok kemanuisaan dan organisasi HAM. Aksi diam 3 menit dilakukan untuk menjadi simbol pembungkaman media di Papua.

    Presiden Jokowi sendiri menyatakan bahwa tidak ada yang disembunyikan di Papua. Lalu mengapa hampir tidak mungkin wartawan dan organisasi HAM melaporkan situasi di Papua? Kita tahu bahwa pelanggaran HAM berat yang terjadi di Papua, tapi kami masih tidak tahu skala pembunuhan dan penyiksaan yang terjadi selama 50 tahun terakhir, ” kata Cann.

    “Hari aksi global ini adalah upaya kami untuk mengatakan kepada pemerintah Indonesia bahwa dunia sedang memperhatikan. Meskipun mereka terus mengisolasi Papua selama 50 tahun, dunia tidak melupakannya. Kebenaran harus terungkap dan harus disampaikan,”kata aktivis hak asasi manusia Peter Tatchell, yang turut serta dalam aksi tersebut.

    Di akhir aksi, sebuah surat kepada Presiden Jokowi yang ditandangani oleh 51 orang dan organisasi dari Papua, Indonesia dan kelompok internasional serta anggota parlemen diserahkan langsung kepada Kedutaan Besar Indonesia di London. Surat tersebut menunjukkan bahwa “blokade media di Papua telah memberangus hak orang-orang Papua untuk didengar suaranya dan membuka ruang pelanggaran HAM seperti pembunuhan, penyiksaan dan penangkapan sewenang-wenang berlangsung tanpa tindakan penghukuman/impunitas… Secara de-fakto, pelarangan jurnalis internasional, LSM dan organisasi kemanusiaan berkontribusi terhadap isolasi kepada jurnalis di Papua dan menyebabkan investigasi independen dan pembuktian hampir tidak mungkin dilakukan. Sebuah petisi Avaaz meminta kebebasan media di Papua telah diinisiasi oleh Free West Papua Campaign dan ditandatangani oleh lebih dari 47,000 dan disampaikan kepada Presiden Jokowi oleh mahasiswa Papua di Jakarta hari ini.

    Reporters without Brothers, salah satu penanda tangan surat bersama, mengkritik kebebasan media yang semakin terbatas. Benjamin Ismail, Kepala Desk Asia-Pasifik di Reporters without Borders mengatakan, “peringkat Indonesia dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia telah memburuk secara dramatis dalam empat tahun terakhir. Pada tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 138 dari 180 negara. Posisi tahun ini terutama adalah hasil dari blokade media di Papua Barat yang dibatasi oleh otoritas negara.”

    Akses untuk pemantau HAM telah ditutup dalam 8 tahun. Beberapa tahun terakhir, kelompok kemanusiaan dan organisasi HAM internasional telah dipaksa unatuk menutup kantor mereka dan meninggalkan Papua. Jurnalis dan lembaga swadaya masyarakat internasional yang bermaksud untuk mengunjungi Papua saat ini disyaratkan untuk menjalani proses visa ketat yang melibatkan persetujuan dari 18 instansi pemerintah yang berbeda-beda yang dikenal dengan Komite Clearing House.

    Pada Oktober tahun lalu, dua orang jurnalis Prancis telah dihukum 11 minggu dalam tahanan atas dakwaaan pelanggaran imigrasi. Pada sidang Dewan HAM bulan lalu, Valentine Bourrat, salah satu dari dua orang jurnalis Prancis yang ditangkap menyatakan: .. menetapkan Papua tertutup bagi jurnalis menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia menyembunyikan pelanggaran HAM. Sebagai jurnalis kami tidak bisa membiarkan pembunuh menang dalam keheningan.”

    Laporan independen yang dilakukan oleh jurnalis lokal dan nasional berada dalam kondisi berbahaya dan beresiko terhadap kematian. Berdasarkan AJI Papua, pada tahun 2014 telah terjadi 20 orang peristiwa kekerasan dan intimidasi yang terjadi kepada jurnalis di Papua.

    “Jurnalis di Papua harus bisa bekerja tanpa intimidasi, teror, dan ancaman dari pihak pemerintah melalui aparat keamanan. Kita harus bisa melaporkan secara independen tanpa takut akan pembatasan, Mengapa hal ini tidak dijamin untuk wartawan di Papua? Kalau dianggap warga negara, mengapa hak-hak kami tidak dihargai?” kata Oktovianus Pogau, wartawan Suara Papua.

    Selama kampanye presiden, Presiden Jokowi secara terbuka menyatakan bahwa tidak ada yang harus disembunyikan di Papua dan berjanji untuk membuka wilayah ini. Sekarang, 6 bulan pada masa pemerintahannya, Papua masih tertutup dari komunitas internasional. Ketika Presiden Jokowi berjanji dalam komitmennya untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, penghukuman terhadap 8 terpidana yang diduga melakukan perdagangan narkoba justru terjadi kurang dari 24 jam yang lalu meragukan arah masa depan HAM di Indonesia. (*)

    Source: TabloidJubi.com, Diposkan oleh : Admin Jubi on April 30, 2015 at 12:27:02 WP [Editor : Victor Mambor]
    http://tabloidjubi.com/2015/04/30/9-negara-20-kota-aksi-serentak-untuk-akses-ke-papua/
     
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Diplomat Indonesia : Masalah Papua Jadi Sorotan Internasional

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Diplomat Indonesia : Masalah Papua Jadi Sorotan Internasional

    by Papua Post
    Jayapura, Jubi – Salah satu Mantan Diplomat Luar Negeri, Fredik Kambu mengungkapkan bahwa Indonesia banyak disoroti negara – negara di dunia atas tindakan pelanggaran HAM yang terus terjadi di Tanah Papua. Lelaki yang pernah bertugas di Dubes Brasil dan Belanda ini mengatakan berbagai tindakan aparat bersenjata yang menghilangkan nyawa khususnya di Papua sering menjadi pemberitaan…
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Sejumlah Reaksi Masyarakat PNG atas Deportasi Benny Wenda dari Port Moresby

    Sejumlah Reaksi Masyarakat PNG atas Deportasi Benny Wenda dari Port Moresby

    by Papua Post
    Lorna Terry This is what our so called government is so good at doing . We are all aware that they have never been for their people . So why would they be for WP? Our fellow Melanesia ? Their actions speak louder than any kundu garamut or bamboo pipes . Cowardless men with no…
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Benny Wenda Meninggalkan Papua Nugini Setelah “Masalah Visa”

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Benny Wenda Meninggalkan Papua Nugini Setelah “Masalah Visa”

    by Papua Post
    Port Moresby, MAJALAH SELANGKAH --  Pemerintah Papua Nugini mengatakan, Juru Bicara The United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda  yang sempat  ditahan  oleh imigrasi Papua Nugini (PNG), Selasa (24/3/15) siang karena masalah visa  telah  diterbangkan ke luar negeri. "Sekarang aku dideportasi," kata Wenda sebelum dibawa ke terminal internasional di bandara Port Moresby itu…

    Group Band BUNT di Polandia akan Konser Dukung Perjuangan Papua Barat

    Group Band BUNT di Polandia akan Konser Dukung Perjuangan Papua Barat

    Salah satu group band asal kota Garwolina, Polandia "BUNT" akan konser di hadapan publik mereka pada tanggal 9 Agustus 2014 mendatang. Konser ini merupakan dukungan kepada para pejuang kemanusiaan yang berjuang untuk kemerdekaan Papua Barat.

    Diketahui group band "Bunt" sebagai band pertama dalam sejarah musik Polandia yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Papua Barat.
     
    Dalam fanpage facebooknya, group "Bunt" mengajak para publik untuk datang memberikan dukungan untuk perjuangan rakyat Papua. "Datanglah ke KONSER DAN MEMBERIKAN OPOSISI ANDA PENYIKSAAN, Rasisme, penangkapan sewenang-wenang dan KEKERASAN," tulis dalam fanpage mereka.
     
    Lanjut mereka, Pelanggaran hak asasi manusia dan kemerdekaan Papua Barat! Band "Bunt" mewakili arus utama musik punk. Menarik perhatian penduduk negara kita ke situasi yang mengkhawatirkan di suatu wilayah, Papua yang terletak di persimpangan Asia dan Oceania.
    Mereka juga menulis, aneksasi Papua ke dalam Indonesia yang terjadi pada tahun 1969 melalui Pepera merupakan pintu masuk untuk militer Indonesia melakukan pelanggaran hak asasi manusia sehingga telah menewaskan lebih dari 100.000 jiwa masyarakat sipil Papua selama beberapa dekade, termasuk sejumlah aktivis Papua ditahan dan dibunuh.
     
    "Orang Papua mengalami sejumlah pelanggaran, termasuk penembakan demonstran damai, pemerkosaan, penyiksaan, pembakaran desa, pembunuhan di luar hukum, penangkapan sewenang-wenang, hukuman penjara yang lama untuk mengekspos simbol kemerdekaan, pemukiman kolektif, perusakan tempat ibadah, penculikan dan perampokan perusakan sumber daya alam".

    Rencananya hasil dari konser akan disumbangkan kepada Organisasi Papua Merdeka yang didirikan oleh Benny Wenda di Inggris.

    PM PNG Sewa Pesawat Berangkatkan Delegasi Papua Barat ke Vanuatu

    PM PNG Sewa Pesawat Berangkatkan Delegasi Papua Barat ke Vanuatu

    PM Papua Nugini, Peter O'Neil (Dok. www.suarapapua.com)
    PM Papua Nugini, Peter O’Neil

    PAPUA NUGINI,  — Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O’Neil dikabarkan menyewa sebuah pesawat untuk memberangkatkan delegasi Papua Barat yang akan mengikuti pertemuan di Port Villa, Vanuatu, sejak 1–4 Desember 2014 mendatang.

    “Sekitar 100 delegasi Papua Barat yang ada di PNG akan diberangkatkan dengan pesawat charteran oleh PM O’Neil ke Vanuatu,” tulis media Vanuatu Daily, Jumat (28/11/2014) siang.

    Dikabarkan, keberangkatan delegasi Papua Barat tersebut untuk keperluan mengikuti Simposium rakyat Papua Barat yang akan berlangsung di Saralana, Vanuatu, tiga hari kedepan.

    “Hari Senin akan berlangsung libur nasional Negara Vanuatu memperingati kemerdekaan Papua Barat. Pertemuan tersebut difasilitas sebuah organisasi gereja, dan mendapatkan dukungan dari Negara Vanuatu,” tulis Vanuatu Daily. (Baca juga : PM Vanuatu : 1 Desember Libur Nasional Kemerdekaan Papua di Vanuatu)
    Selain itu, pengibaran bendera Bintang Kejora sebagai lambang dari pembebasan Papua Barat akan dilangsungkan di seluruh kota di Vanuatu, termasuk menggelar pawai dari Fatumauru Bay ke Saralana.

    Sebelumnya, Ketua Panitia penyelenggara, Pastor Allan Nafuki mengatakan, simposium rakyat Papua Barat yang mengalami penundaan beberapa kali sudah dipastikan digelar pada 1 Desember 2014.

    Kata Pastor Nafuki, pertemuan diharapkan membentuk tawaran konsep baru dari rakyat Papua untuk menjadi anggota Melanesia Spearhead Group (MSG).
    “Sebuah aplikasi keanggotaan formal oleh Koalisi Nasional Papua Barat untuk Pembebasan akan mengetuk kembali MSG, sebab para pemimpin minta organisasi yang lebih representatif,” kata Nafuki.
    Nafuki mengatakan, ia juga berharap konferensi dapat menghasilkan keputusan otonom pada penentuan nasib sendiri untuk kemerdekaan.

    “Kami meminta setiap kelompok, baik pro, atau tidak pro untuk datang, sehingga pada akhir KTT, tidak ada yang akan mengatakan KTT Vanuatu tidak diwakili. Jadi, kami ingin memberikan semua orang kesempatan di KTT ini,” kata Nafuki.

    Inggris Komitmen Berikan Perhatian Untuk Papua

    Inggris Komitmen Berikan Perhatian Untuk Papua

    JAYAPURA – Pemerintah Provinsi Papua telah melakukan beberapa langkah konkrit untuk menunjang implementasi RTRW dalam penguatan kapasitas Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Provinsi Papua terutama dalam perannya untuk pengendalian pemanfatan ruang, penyiapan regulasi-regulasi.

    Regulasi yang disiapkan Provinsi Papua tersebut diantaranya, aturan zonasi, insetif dan disinsetif, perijinan pemanfaatan ruang dan penyiapan sistem informasi tata ruang (SIMTARU) Provinsi Papua serta percepatan penyelesaian Perda RTRW Kabupaten/kota yang diselaraskan dengan RTRW Provinsi Papua.

    Untuk mendukung implementasi RTRW Provinsi Papua tersebut, maka Pemerintah Kerajaan Inggris melalui Unite Kingdom Chimate Change (UKCCU) tetap berkomitmen dan memberi perhatian untuk pembangunan rencah karbon di Provinsi Papua , yang dilakanakan tahun 2014-2015 melalui program Tata Ruang dan Investasi Hijau (Protarih) yang bertujuan untuk membantu Provinsi Papua dalam mewujudkan tujuan penataan ruang melalui pembangunan berkelanjutan di Provinsi Papua.
    Hal ini terungkap dalam sidang Paripurna V DPR Papua dalam agenda jawaban Gubernur Provinsi Papua atas laporan pemandangan umum Fraksi, Komisi/gabungan Komisi DPRP terhadap Raperda tentang APBD tahun anggaran 2015, Kamis (16/10) malam.

    Gubernur Enembe mengungkapkan, salah satu bukti pembangunan yang berkelanjutan itu diantaranya, mewujudkan tata ruang lestari, aman, nyaman, dan produktif untuk menjamin kualitas hidup masyarakat dengan memperhatikan kearifan lokal dan karateristik ekosistem Papua.
    Oleh karenanya, Gubernur Enembe menyampaikan, bahwa pemerintah Provinsi Papua menaruh perhatian yang sungguh-sungguh terhadap kondisi lingkungan hidup di Papua. Baik itu, kerusakan lingkungan di Nabire, Deyai, Pania dan kerusakan hutan di Papua menjati perhatian Pemerintah Provinsi Papua.

    Untuk itu, Pemerintah Provinsi Papua akan memerintahkan SKPD teknis dan penyelidikan terhadap kerusakan lingkungan di daerah tersebut untuk diambil langkah-langkah hukum yang tegas. Disamping itu, Gubernur Enembe menyampaikan, Pemerintah Provinsi Papua juga telah mencanangkan Papua sebagai paru-paru dunia dan terus mendorong untuk melakukan penanaman pohon setiap kali melakukan kunjungan daerah diberbagai wilayah di Papua untuk menjaga Papua sebagai paru-paru dunia.
    “Pemerintah Papua juga terus menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga internasional. Selain inggris, juga berkejasama dengan Amerika Norwegia, Australia, belakanda dan Negara-negara lain untuk bersama-sama mencegah kerusakan hutan dan mengelola lingkungn di Papua,”
    ujar Gubernur Enembe.
    Sementara khusus untuk setiap investasi dan pembangunan yang dilakukan di Papua, maka sebelum melakukan kegiatan di lapangan harus terlebih dahulu dilakukan kajian lingkungan “Analisis mengenai dampak lingkungan” dan harus sesuai dengan RTRW sebelum pemerintah Provinsi Papua mengeluarkan Ijin lingkungan.

    Hal ini dilakukan berdasarkan usulan yang telah disampaikan Komisi D, sehingga Pemerintah Provinsi Papua sangat sependapat dengan saran dan masukan yang disampaikan Komisi untuk mempedomani RTRW dalam pembangunan infrastruktur, khususnya pembangunan jalan dan jembatan.
    “Tentu dalam lakukan melalui proses perijinan pinjam kawasan hutan yang dilalui oleh ruas-ruas jalan nasional, Provinsi dan Kabupaten/kota melalui kementerian kehutanan, serta mengalihkan rute ruas jalan melalui kawasan konservasi,”
    tutupnya.l (Loy/don)
    Sumber:  BinPa

    Pictures of the Benny Wenda ‘Free West Papua’ Concert in Port Moresby Papua New Gunea (PNG)

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online
    free_west_papua_concert
    The West Papua struggle is a difficult one and what outcome will emerge in the years to come is still hard to see. Allot of thoughts crossed my mind on Wednesday night when I attended the Benny Wenda, Free West Papua Concert. But from an Australian perspective, these comments by Daeron on an online forum summed it up quite well for me:
    “Despair would be a natural but unproductive reaction to this SMH article yesterday, http://www.smh.com.au/opinion/politics/carr-helps-to-remove-the-blinkers-20120305-1ue67.html

    Both Bob Carr and Mr Hartcher are products of an American fantasy about Indonesia which benefits Bechtel, Freeport, Exxon, NewMount, Conoco Phillips, to name a few.. Just find a membership listing of the US Indonesia Society lobby to get a full listing. But an Australian foreign minister needs to know the difference between illusion sprouted in US publications and reality, and he needs to understand our regional interests. Bob Carr is a wonderful choice for Indonesia, but not so much for us.I agree the Balinese are a nice people, but Jakarta is not ruled by the people of Indonesia, it is a oligarchy mostly of Indonesian Generals and US corporate interests. The effect of the 1975 invasion of East Timor was that Portugal Oil was replaced by Conoco Phillips, and the effect of the 1962 American deal (the “New York Agreement”) for the UN to trade our neighbours of West Papua to Indonesian rule, was that Freeport got to mine Papua’s gold & copper etc.The NSW Parliament is well aware that West Papua is victim of an illegal UN resolution (resolution 1752 (XVII)) which Australia supported in August 1962, an act which benefited the US corporations and Jakarta but not Australia or our regional interests. Colonialism is good business for Freeport McMoRan Copper & Gold Inc.; and it is the unspoken Australian policy for the indigenous population of West Papua.Over this coming year watch as Bob Carr, just like Kevin Rudd, refuses to answer a simple question; why did Australia support UN General Assembly resolution 1752 (XVII) ?
    Posted by Daeron, Wednesday, 7 March 2012 1:49:53 AM”
    But putting aside Independence hopes and geopolitical hurdles for a minute, why would a group of people be causing so many issues for Indonesia if they were happy?
    .
    Benny Wenda opened his speech with a story of how when he was 6 years old he witnessed his mother being struck down by the butt of a gun at the hands of Indonesian Military and then witnessed as two Aunties who came to help his mother were raped before his eyes. All this at the age of 6.
    .
    It is no wonder that experiences like this from many West Papuan’s have clearly driven them to dispute the fact that they had a legitimate say in self determination in 1962. Again, even if we accepted the UN resolution, has Indonesia given them appropriate rights and services to lead fulfilling lives?
    .
    I’m no authority on this issue and I’ve never been to West Papua, but as far as I know there are quite allot of unhappy indigenous West Papuan’s in the world today.
    .
    So what are they going to do about it? Well Governor Parkop announced on the night that he was going to be setting up a West Papua Office in Port Moresby. Globally as well they would be coordinating with the International Parliamentarians for West Papua, the International Lawyers for West Papua and International Musicians to ramp up the Global Campaign for West Papua’s Freedom.
    .
    I take my hat off to Parkop, this is perhaps the first time I’ve heard an actual plan on how to tackle this issue. Below are some pics of the night and here’s a good wrap up of Parkop’s speech here.
    .
    IMG_2504
    IMG_2535
    IMG_2563
    IMG_2580
    IMG_2597
    IMG_2634
    IMG_2681
    IMG_2673
    IMG_2708
    IMG_2711
    IMG_2715

    Dukungan Melanesia untuk Papua Barat bebas selalu tinggi

    NEGARA-NEGARA MELANESIA GALANG DUKUNGAN UNTUK KEMBALIKAN KEBEBASAN PAPUA BARAT

    Penulis :
    -Wandikbonak
    Powes Parkop dan Benny Wenda (AK Rockefeller)

    Oleh : Airileke Ingram dan Jason MacLeod
    Jayapura, 18/3 (Jubi-NewMatilda)-Pemimpin Papua Nugini dan negara Melanesia lainnya menunjukkan dukungan mereka untuk pembebasan Papua Barat. Bob Carr bergerak melawan arus regional, tulis Airileke Ingram dan Jason MacLeod

    Dukungan Melanesia untuk Pembebasan Papua Barat selalu tinggi. Berjalan di seluruh Papua Nugini Anda akan sering mendengar orang berkata bahwa Papua Barat dan Papua Nugini adalah “Wanpela Graun” – satu tanah – dan bahwa Papua Barat di sisi lain perbatasan adalah keluarga dan kerabat.
    Di Kepulauan Solomon, Kanaky, Vanuatu dan Fiji orang akan memberitahu Anda bahwa “Melanesia belum bebas sampai Papua Barat bebas”. Masyarakat di bagian Pasifik ini sangat menyadari bahwa orang Papua Barat terus hidup di bawah ancaman senjata.

    Kemungkinan Perubahan.

    Rabu terakhir 6 Maret 2013, Powes Parkop, Gubernur Distrik Ibu Kota Nasional, Papua Nugini menancapkan “warna” nya tegas ke “tiang”. Di depan kerumunan 3000 orang Gubernur Parkop menegaskan bahwa “tidak ada pembenaran, sejarah hukum, agama, atau moral bagi pendudukan Indonesia di Papua Barat”.

    Menyambut pemimpin Papua, Benny Wenda, yang berada di Papua New Guinea sebagai bagian dari tur global, Gubernur mengatakan bahwa saat Wenda berada di Papua New Guinea, “tidak ada yang akan menangkapnya, tidak ada yang akan menghentikannya, dan ia dapat merasa bebas untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. ” Ini merupakan hak dasar yang ditolak di Papua Barat, yang terus menerus ditangkap, disiksa dan dibunuh hanya karena warna kulit mereka.

    Gubernur Parkop, yang merupakan anggota dari Parlemen Internasional untuk Papua Barat, yang kini memiliki perwakilan di 56 negara, melanjutkan kegiatannya dengan meluncurkan kampanye Pembebasan Papua Barat. Dia berjanji untuk membuka kantor, mengibarkan bendera Bintang Kejora dari City Hall dan menjanjikan dukungannya untuk tur musisi Melanesia untuk Pembebasan Papua Barat.

    Gubernur Parkop Tak Lagi Sendirian di Melanesia Menyerukan Perubahan.

    Tahun lalu Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O’Neil “merusak” tradisi hubungan dengan Indonesia setelah mengingatkan publik dengan memberikan respon terhadap Pemerintah Indonesia atas kekerasan negara yang sedang berlangsung, pelanggaran hak asasi manusia dan kegagalan pemerintahan. Tergerak oleh 4000 perempuan dari Gereja Lutheran, O’Neill mengatakan kekhawatirannya tentang HAM terhadap pemerintah Indonesia.

    Sekarang Gubernur Parkop ingin menemani Perdana Menteri dalam kunjungan ke Indonesia untuk mempresentasikan gagasannya kepada Indonesia tentang cara memecahkan konflik Papua Barat sekali dan untuk semua.

    Komentator terkenal PNG, Emmanuel Narakobi berkomentar di blog-nya tentang usulan pendekatan multi-cabang dari Parkop, bagaimana memobilisasi opini publik di PNG tentang Papua Barat. “Mungkin adalah pertama kalinya saya mendengar rencana yang sebenarnya tentang bagaimana mengatasi masalah ini (Papua Barat)”. Melalui radio Gubernur Parkop menuduh Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr tidak serius menangani isu Papua Barat, melainkan “membersihkannya di bawah karpet.”

    Di Vanuatu, partai-partai oposisi, Malvatumari Nasional Dewan Chiefs dan uskup Anglikan dari Vanuatu serta Pendeta James Ligo mendesak pemerintah Vanuatu untuk mengubah posisi mereka terhadap isu Papua Barat. Ligo baru-baru ini berada di Sidang Dewan Gereja Pasifik di Honiara, Kepulauan Solomon, yang mengeluarkan sebuah resolusi mendesak Dewan Gereja Dunia untuk menekan PBB untuk mengirim tim pemantau ke wilayah Papua Indonesia.

    “Kita tahu bahwa Vanuatu telah mengambil sisi-langkah itu (masalah Papua Barat) dan kita tahu bahwa pemerintah kita mendukung status pengamat di Indonesia pada MSG (Melanesian Spearhead Group), kita tahu itu. Tapi sekali lagi, kami juga percaya bahwa sebagai gereja kami memiliki hak untuk mengadvokasi dan terus mengingatkan negara-negara dan para pemimpin kita untuk khawatir tentang saudara-saudara Papua Barat kami yang menderita setiap hari.” kata Ligo.

    Masyarakat Papua Barat juga mengorganisir diri mereka, bukan hanya di dalam negeri di mana kemarahan moral terhadap kekerasan negara Indonesia yang sedang berlangsung, tetapi juga di regional. Sebelum kunjungan Benny Wenda ke Papua Nugini, perwakilan Koalisi Nasional Papua Barat untuk Kemerdekaan yang berbasis di Vanuatu resmi diajukan untuk mendapatkan status pengamat di MSG dalam pertemuan MSG tahun ini yang dijadwalkan akan digelar di New Kaledonia pada bulan Juni. New Caledonia, tentu saja, adalah rumah lain dari perjalanan panjang perjuangan penentuan nasib sendiri bangsa-bangsa Melanesia. Di Vanuatu Benny Wenda menambahkan dukungan untuk langkah tersebut, dengan menyerukan pada organisasi perlawanan Papua yang berbeda untuk mendukung “agenda bersama untuk kebebasan”. Sebuah keputusan tentang apakah Papua Barat akan diberikan status pengamat pada pertemuan MSG tahun ini akan dilakukan secepatnya.

    Di Australia Bob Carr mungkin mencoba untuk meredam semakin besarnya dukungan publik untuk Pembebasan Papua Barat tapi di Melanesia arus bergerak ke arah yang berlawanan.*

    LA PAGO News - Air Vanuatu Diterbangkan ke PNG Jemput Delegasi Papua Barat


    Pesawat milik pemerintah Vanuatu. Air Vanuatu. Foto: Ist

    Port Villa, VANUATU -- Pesawat milik pemerintah Vanuatu, Air Vanuatu terpaksa diterbangkan ke bandara Jackson, Port Moresby, guna menjemput delegasi Papua Barat yang tertahan di Papua Nugini.

    Sesuai jadwal delegasi Papua Barat yang jumlahnya lebih dari 70 orang ini telah berada di ibukota negara Vanuatu, Port Villa sejak tanggal 1 Desember 2014, namun hal itu tidak terlaksana karena rencana pemerintah PNG menyewa jet diduga berubah pikiran.

    Ketua Komite Unifikasi Papua Barat, Pastor Allan Nafuki, seperti ditulis dailypost.vu mengatakan, Air Vanuatu Chief Executive Officer, Joseph Laloyer, telah setuju untuk mengizinkan Air Vanuatu terbang ke Bandara Jackson di Port Moresby, Papua Nugini, untuk mengambil delegasi Papua Barat tersisa untuk melakukan simposium di Port Vila.

    "Karena pesawat Air Vanuatu sudah pre-booked untuk rute normal Minggu lalu dan kemarin, akan bebas untuk melakukan perjalanan malam ini tiba kembali di Port Vila, Rabu pagi," kata Nafuki

    Pada tanggal 1 Desember 2014, Perdana Menteri Vanuatu, Joe Natuman secara resmi mengibarkan bendera Bintang Kejora dengan delegasi Papua Barat di Saralana Park, Port Vila. (Baca: PM Vanuatu Kibarkan Bintang Kejora di HUT Papua, Simposium Tertunda Satu Hari)

    Simposium para pemimpin Papua Barat akan berlangsung setelah delegasi tiba pada penerbangan Air Vanuatu.

    Dikabarkan delegasi Papua Barat yang tertahan di PNG termasuk salah satunya
    Powes Parkop, Gubernur Distrik Ibu Kota Nasional PNG. (MC2/Admin/Dailypost.vu/HP)

    Benny Wenda Diusulkan Dalam Nobel Perdamaian Dunia

    Benny Wenda Diusulkan Dalam Nobel Perdamaian Dunia

    London, KNPBnews – Benny Wenda, Pemimpin Papua Merdeka, yang juga koordinator Diplomat West Papua di Internasional kembali dinominasikan untuk memperoleh nobel perdamaian tahunan dari Norwegian Nobel Committe.

    Pemberian Nobel kepada Benny Wenda diusulkan oleh orang-orang terkemuka di internasional, termasuk Mantan Perdana Menteri Vanuatu, Moana Carcasses Kalosil, Anggota Parlemen Vanuatu, Ralph Regenvanu, Anggota Parlemen New Zealand, Catherine Delahunty and the Bishop Oxford dari Kerajaan Inggris, Pendeta John Pritchard.



    Nobel perdamaian diberikan kepada orang-orang yang berhasil memperjuangkan dan mempromosikan solusi-solusi perdamaian bagi konflik. Benny Wenda dianggap sebagai salah satu tokoh pejuang Papua Barat yang kokoh memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua secara damai.

    Pengumuman Nobel Perdamaian akan berlangung pada hari Sabtu ini. Nobel perdamaian ini juga pernah dianugerahi kepada Nelson Mandela, Aung San Suu Kyi,

    Berita Foto : Perayaan HUT ke-53 Papua Barat di Vanuatu 2014. Foto: Peter Woods


     

    Jayapura, LA PAGO --
    Kemarin, 1 Desember 2014, Perdana Menteri Vanuatu, Joe Natuman secara resmi mengibarkan bendera Bintang Kejora dengan delegasi Papua Barat di Saralana Park, Port Vila.

    Pengibaran bendera ini dilakukan untuk menandai pembukaan simposium para pemimpin Papua Barat. Namun, Simposium ditunda sebagian delegasi masih belum tiba di Vanuatu.

    Dikuti

    Dukung Perjuangan Rakyat Papua, Vanuatu Libur Nasional pada 1 Desember 2014


    Ilustrasi. Ist.

    Jayapura, LA PAGO -- Juru Bicara Komite Nasional Papua Barat, (KNPB) Basoka Logo mengatakan kepada seluruh rakyat Papua Barat, negara Vanuatu akan libur nasional pada Senin, 1 Desember 2014 sebagai bentuk dukungan atas perjuangan rakyat Papua.

    "Vanuatu akan libur nasional, peringati HUT ke-53 Papua Barat," kata Logo kepada admin La Pago di Jayapura.

    Secara resmi ialah Vanuatu. Peradana mentri Vanuatu telah mengumumkan untuk libur nasional dan upacara kenegaraan akan dilakukan oleh negara  Vanuatu.

    Selain moment 1 Desember,  juga Vanuatu fasilitasi pemimpin rakyat Papua Barat untuk mengadakan simposium untuk penyatuan faksi perjuangan Papua Barat.

    Symposium secara resmi akan dibuka pada tanggal 01 Desember 2014 dan penutupan akan dilaksanakan pada tanggal 4 Desember 2014. (B Kilungga/HP)

    PM Vanuatu Kibarkan Bintang Kejora di HUT Papua, Simposium Tertunda Satu Hari


    Jayapura, LA PAGO --
    Kemarin, 1 Desember 2014, Perdana Menteri Vanuatu, Joe Natuman secara resmi mengibarkan bendera Bintang Kejora dengan delegasi Papua Barat di Saralana Park, Port Vila.

    Pengibaran bendera ini dilakukan untuk menandai pembukaan simposium para pemimpin Papua Barat. Namun, Simposium ditunda sebagian delegasi masih belum tiba di Vanuatu.

    Dikuti

    Tok Pisin : Vanuatu i redi gut long West Papua miting

    Ol Melanesian Spearhead Grup gavman ofisa bai stap tu long Vanuatu West Papua miting
    Olgeta wok blong redi-im bikpla miting blong ol lida blong West Papua long Vanuatu igo hed gut.

    Pastor Alan Nafuki, siaman blong West Papua re-unification komiti we emi redi-im despla miting itok samting olsem 200 pipal blong West Papua bai stap long despla miting em bai stat wantem bikpla lotu long 30 November  na bai pinis long namba 4 December long Port Vila.
    As tingting blong despla miting em blong bungim ol lida blong West Papua long toktok na kamapim wanpla strongpa grup long halvim askim blong ol long joinim Melanesian Spearhead Grup.

    Pastor Nafuki itok tu olsem ol memba kantri blong Melanesian Spearhead group olsem Papua New Guinea, Solomon Islands na Fiji bai salim ol gavman ofisa blong ol igo long despla miting.

    Tok Pisin : West Papua 53rd Anniversary long Melbourne


    West Papua 53rd Anniversary long Melbourne

    Sampela pipol blong West Papua na ol sapota blong rait blong ol West Papua pipal long kisim indipendans i bung long Federation Square long Melbourne blong makim dei blong ol.
    Tede emi 53 yar  we ol pipal blong West Papua i makim olsem National Day blong ol long 1961.
    Despla dei, nambawan December i makim dei we ol pipal blong West Papua ibin apim Morning star flag blong ol aninit long ol wok em gavman blong netherlands ibin wok long redi-im ol long kisim indipendans, tasol long 1962 histori blong ol ibin senis taem Indonesia ibin go insaet na kisim nating West Papua.
    Ol pipal blong West Papuans long olgeta hap blong wold wantem tu hia long Australia ibin makim despla dei tede na long Melbourne oli bin mekim wankaen bung.
    Ol West Papuan pipal blong  Victoria, wantem tu ol saporta BLONG Australia na ol aborigini pipal ibin bung long Federation Square we oli bin holim na soim ol morning star flag, taem stori blong ol na wari ibin kamap long wanpla bikpla vidio screen.

    1 Desember 2014 bendera West Papua dikibarkan di Kanaky ( New Caledonia)

    1 Desember 2014 bendera West Papua dikibarkan di Kanaky ( New Caledonia)

    Ketika kita mendekati Global pengibaran bendera dan Demonstrasi untuk Free West Papua pada 1 Desember, mengapa tidak mengatur pengumpulan lokal Anda sendiri, mengibarkan bendera Papua Barat dengan teman-teman Anda?
     
    Harap beritahu kami jika Anda ingin kami untuk mempublikasikan setiap pengibaran bendera direncanakan sehingga kita dapat mendorong sebagaimana orang mungkin hadir!
     
    Seperti ini orang di Kanaky / Kaledonia Baru, kelompok di seluruh dunia akan berkumpul bersama pada tanggal 1 Desember untuk menunjukkan dukungan mereka untuk Free West Papua di HUT ke-53 hari kemerdekaan Papua Barat dari Belanda (sebelum Papua Barat diserbu oleh Indonesia) .
    Jika mungkin, jangan mengatur sendiri pertemuan Papua Merdeka Barat Anda pada hari ini dan mengirimkan foto-foto pengibaran bendera. Ingat, orang atau kelompok kita merasa telah mengambil foto terbaik akan menerima poster bebas dari Kampanye, tangan ditandatangani oleh pendiri Kampanye Benny Wenda.
     
    Silakan ambil bagian dalam pengibaran bendera global yang bersejarah ini, mengangkat bukan hanya bendera tapi kesadaran penting dan ROH rakyat Papua Barat untuk KEBEBASAN dan KEADILAN
    Free West Papua!

    Terima kasih banyak

    PIDATO PM VANUATI DALAM SIDANG UMUM PBB 29 SEPTEMBER 2014

    PIDATO PM VANUATI DALAM SIDANG UMUM PBB 29 SEPTEMBER 2014

    PM Vanuatu Joe Natuman (foto, FWP)
    LA PAGO, Internasional - Perdana Menteri Vanuatu, Joe Natuman, membayar upeti kepada almarhum Dr John Otto Ondowame dalam pidatonya kepada Majelis Umum pada 29 September 2014 di new York.

    Setelah menyebutkan dukungan penuh dari Vanuatu ke perjuangan untuk penentuan nasib sendiri Rakyat Kanak, Perdana Menteri mengatakan hal berikut di Papua Barat: 

    "Mr Ketua, saya tidak bisa tutup bagian pidato saya tanpa membayar upeti kepada almarhum Dr John Ondowame, pejuang kemerdekaan dari Papua Barat yang meninggal bulan lalu, sementara di pengasingan di negara saya. Ia dimakamkan di negara saya sebagai pahlawan yang telah berjuang untuk hak untuk menentukan nasib sendiri bagi Rakyat Papua Barat. Dia bermimpi bahwa suatu hari PBB dan semua negara yang mendukung dan mempromosikan prinsip-prinsip demokrasi akan mendengar tangisan mereka dan memberikan janji-janji untuk masa depan yang ditentukan sendiri. Saat upacara penguburan, saya menyatakan bahwa perjuangannya untuk kebebasan dan keadilan akan terus menjadi perjuangan kita sampai kolonialisme diberantas. "
     
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif