Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label LA PAGO News. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label LA PAGO News. Tampilkan semua postingan

    Bupati Yahukimo dan Polda Papua Membuat Kesepakatan

    Bupati Yahukimo dan Polda Papua Membuat Kesepakatan

    Ones Pahabol: Saya Tidak Ingin Ada Gerakan-Gerakan Mengganggu Kedaulatan NKRI Di Yahukimo

     DEKAI -- Situasi di Dekai ibu kota Kabupaten Yahukimo yang mencekam beberapa hari lalu, akibat tindakan brutal Polisi terhadap masa dari Parlemen Rakyat Daerah (PRD) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang menggalang dana untuk korban bencana alam di Vanuatu itu, menewaskan satu orang dan dua orang kritis dan satu lainya masih ditahan di Polres Kabupaten Yahukimo.

    Dekai yang dikenal selama ini bebas dengan masa fanatik dalam menyuarakan isu Papua Merdeka, kini dibatasi dengan dibuatnya kesepakan bersama oleh pihak Polda Papua dan Bupati Yahukimo sendiri. Kesepakatan itu untuk menghilangkan gerakan-gerakan pembebasan bangsa Papua Barat di wilayah Yahukimo. Dalam kesepakatan Bupati Yahukimo bersama pihak Polda Papua tersebut. Bupati Yahukimo mengatakan, "saya sebagai Bupati daerah ini, tidak ingin ada gerakan-gerakan yang melanggar hukum dan mengganggu kedaulatan  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan juga menghambat jalannya pembangunan di daerah ini" tegasnya.

    Sementara, korban penembakan, dari suku Ngalik Distrik Silimo Kabupaten Yahukimo, dimakankan di Tempat pemakaman umum, jalan Logbon Dekai  [hns]
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Ready Papuan youth Refuse and Jihad Against FUI

     Ready Papuan youth Refuse and Jihad Against FUI
     
    Chairman of the Youth Movement Forum Papua Baptist (FGPBP), Turius Wenda represent Christian youth organization in Papua deplores misleading provocative statements from Muslim Forum (FUI) on December 23, 2011 which states will strive to 'maintain' Papua.

    According Turius, handling conflict in Papua can actually be resolved by the Indonesian government, so there is no organization or institution can unilaterally government intervention, especially for problem resolution Papua.

    "Should they [FUI] know and understand the root causes of Papua. if you do not know do not talk carelessly Papua issue. because of statements like this can be fatal or lead to racial conflicts or religious conflict. "he said in Jayapura, on Monday (26/11/2011).

    Moreover he said, the problem is not really a problem Papua eating - drinking that often they [FUI] naturally in their area, but this is a matter of ideology and history that full integration of controversy and deception. So normal that the Papua issue could not finish by the way - through violence or through jihad, often in propounded by radical groups that desire to do so for the sake of her dream to make this country into an Islamic state.

    He continued, the statement 'jihad in Papua' which in catapult Advisory Council Chairman FUI Rizieq Shihab, Muhammad Al Khathath and Former Chairman of the Legal Aid Foundation Munarman is a severe blow and highly discriminatory statements for the religious minorities in Indonesia, especially Christians in Papua

    "Harmony religious communities in Papua has been established and maintained from the beginning, so that any person who dismantle and undermine this harmony, then all the people who live in Papua must resist and reject the issue of jihad as FUI statement some time ago." He said.

    Unfortunate because this statement is just a comment without foundation that can trigger religious sentiments. This sentiment can be seen from their actions during the time in Ambon, Maluku. The issues they raise in Maluku is the action that they stamp as action 'against RMS' that they associate with Christians in Maluku. Especially seeing their statements are blindly accusing the Vatican church in Papua and Papua supporters of the referendum.

    For him, the Papuan leaders and church leaders together elements of peace lovers are trying to resolve the conflict in Papua in a peaceful and dignified, so that Christians in Papua will not give an opening to turn the violent methods that only harm Papuans. including Islamic Jihad approach militarism and violence.

    Papuan youth ready 'jihad'

    Wenda Turius emphatically said, "if the call for jihad and violence in Papua realized the youths of all elements of religious communities in Papua will strongly oppose and fight".

    We also appealed to all religious communities in Papua do not easily terporvokasi racial issues and jihad in Papua, and is expected to create a sense of peace and security every where we are, because Papua is a land of peace.

    In line with Turius, Buctar Tabuni, chairman of the West Papua National Committee (KNPB) expressed readiness to wage jihad against the intolerant who want to undermine peace in Papua.

    "We are ready for jihad in Papua, where Muslim Forum would strive in Papua." He said via cell to Vote Baptist Papua, on Tuesday (27/11/2011).

    Tabuni added, crazy statement Muslim Forum that will be resisted to avoid Papua. Because, if it occurred in Papua, it will result in a conflict of religion...

    LA PAGO News - Air Vanuatu Diterbangkan ke PNG Jemput Delegasi Papua Barat


    Pesawat milik pemerintah Vanuatu. Air Vanuatu. Foto: Ist

    Port Villa, VANUATU -- Pesawat milik pemerintah Vanuatu, Air Vanuatu terpaksa diterbangkan ke bandara Jackson, Port Moresby, guna menjemput delegasi Papua Barat yang tertahan di Papua Nugini.

    Sesuai jadwal delegasi Papua Barat yang jumlahnya lebih dari 70 orang ini telah berada di ibukota negara Vanuatu, Port Villa sejak tanggal 1 Desember 2014, namun hal itu tidak terlaksana karena rencana pemerintah PNG menyewa jet diduga berubah pikiran.

    Ketua Komite Unifikasi Papua Barat, Pastor Allan Nafuki, seperti ditulis dailypost.vu mengatakan, Air Vanuatu Chief Executive Officer, Joseph Laloyer, telah setuju untuk mengizinkan Air Vanuatu terbang ke Bandara Jackson di Port Moresby, Papua Nugini, untuk mengambil delegasi Papua Barat tersisa untuk melakukan simposium di Port Vila.

    "Karena pesawat Air Vanuatu sudah pre-booked untuk rute normal Minggu lalu dan kemarin, akan bebas untuk melakukan perjalanan malam ini tiba kembali di Port Vila, Rabu pagi," kata Nafuki

    Pada tanggal 1 Desember 2014, Perdana Menteri Vanuatu, Joe Natuman secara resmi mengibarkan bendera Bintang Kejora dengan delegasi Papua Barat di Saralana Park, Port Vila. (Baca: PM Vanuatu Kibarkan Bintang Kejora di HUT Papua, Simposium Tertunda Satu Hari)

    Simposium para pemimpin Papua Barat akan berlangsung setelah delegasi tiba pada penerbangan Air Vanuatu.

    Dikabarkan delegasi Papua Barat yang tertahan di PNG termasuk salah satunya
    Powes Parkop, Gubernur Distrik Ibu Kota Nasional PNG. (MC2/Admin/Dailypost.vu/HP)

    Lembaga Parlemen Nasional West Papua (PNWP), beberapa waktu kedepan akan diluncurkan secara resmi di Jayapura, Papua

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    Dewan Parlemen Nasional Papua Barat Telah Diluncurkan
    Ketua PNWP, Bucthar Tabuni ketika berorasi (Foto:Ist)
    PAPUAN, Jayapura --- Lembaga Parlemen Nasional West Papua (PNWP), beberapa waktu kedepan akan diluncurkan secara resmi di Jayapura, Papua, dengan mengdungan delegasi dari berbagai suku di tanah Papua.
    “Dewan Parlemen Nasional Papua Barat diluncurkan sebagai sebuah lembaga yang bertujuan untuk menjawab hak politik rakyat Bangsa Papua Barat ke dunia internasional maupun nasiona, termasuk simpatisan yang mendukung papua merdeka,” ujar Mecky.

    Lanjut Mecky, lembaga ini terdiri dari dua puluh tiga (23) Parlemen Rakyat Daerah yang mencakup seluruh tanah Papua, dan dihadiri oleh semua perwakilan daerah dari Sorong sampai Samarai.

    Diharapkan juga dengan perluncuran parlemen nasional ini mampu menjawab aspirasi seluruh rakyat Papua Barat yang telah lama diperjuangkan.

    Panglima TPNPB-OPM Divisi VII Lapago, Erimbo Enden Wanimbo menegaskan, penyerangan terhadap sejumlah obyek vital dan markas dari aparat keamanan


    Jelang Pilpres, OPM Rencana Serang Dalam Kota
    Panglima TPN-OPM Wilayah La-Pago, Erimbo Enden Wanimbo (Foto: Ist)
    PAPUAN, Jayapura --- Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) mengumumkan rencana penyerangan dalam kota di wilayah Pegunungan Tengah Papua dalam usaha memboikot Pemilihan Presiden RI 2014 yang akan dilaksanakan pada 9 Juli mendatang.
    Panglima Divisi VII Lapago, Erimbo Enden Wanimbo menegaskan, penyerangan terhadap sejumlah obyek vital dan markas dari aparat keamanan, mulai dilakukan pada Ahad, hari ini.

    “Kami menyerukan untuk memboikot Pilpres, kami hanya meminta referendum,” katanya Erimbo dalam wawancara bersama wartawan di Markasnya di Pirime, Lanny Jaya.

    Ia mengatakan, rencana penyerbuan berkaitan erat dengan perjuangan TPN -OPM dalam menuntut kemerdekaan bagi Papua.

    Selama ini, kata dia, pemerintah Indonesia tak pernah memberikan kesempatan bagi Papua untuk berkembang. Indonesia telah mengambil alam Papua dan mengeruk sumber daya alam yang maha dashyat serta hanya meninggalkan sedikit bagi mereka.

    “Papua bukan milik Indonesia, Indonesia juga melakukan pelanggaran HAM,  mengambil tanah kami, merusak hutan kami, dan ini saatnya, kami mau meminta itu semua, kami mau merdeka dan berdiri sendiri,” ujarnya.

    Menurut dia, persoalan pelanggaran HAM dimulai sejak pemerintah dan tentara memasuki wilayah pesisir dan pegunungan di Papua. Pada saat bersamaan, dilaksanakan Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) yang jauh dari adil dan jujur.

    “Orang Papua dibunuh pada waktu Pepera, kami tidak bisa melawan, tapi sekarang, kami, dengan panah, akan melawan Indonesia dengan senjata, kita akan lihat siapa yang menang,” tegasnya.

    Pepera 1969 dilaksanakan sebagai bagian dari perjanjian New York. Pepera digelar dalam tiga tahap. Pertama dilangsungkan konsultasi dengan dewan kabupaten di Jayapura mengenai tata cara penyelenggaraan Pepera. Kedua, pemilihan Dewan Musyawarah Pepera dan ketiga, pelaksanaan Pepera dari Merauke hingga Jayapura.

    Hasil Pepera ketika itu menunjukkan warga Papua menghendaki bergabung dengan NKRI. Hasil Pepera kemudian dibawa ke sidang umum PBB dan disetujui pada tanggal 19 November 1969.

    “Pepera itu tidak sah. Kami menuntut referendum ulang,” kata Erimbo lagi.


    Erimbo adalah salah satu dari tiga ‘penguasa’ tentara Papua Merdeka di Pegunungan Tengah. Dua lainnya yakni, Purom Wenda dan Goliath Tabuni.

    Erimbo mengklaim sebagai pejuang muda yang memiliki ratusan prajurit di daerah Pirime hingga Bolakme. Tentaranya memegang senjata otomatis dan kerap mengganggu sejumlah pos militer.

    Aksi besar yang dilakukan Erimbo bersama anak buahnya yaitu ketika menyerang kantor Kepolisian Sektor Pirime, Kabupaten Lanny Jaya pada 27 November 2012. Tiga anggota Polisi tewas ketika itu. Diantaranya Kepala Polsek Pirime Inspektur Dua Rolfi Takubessy, Brigadir Jefri Rumkorem, dan Brigadir Satu Daniel Makuker.

    Rofli ditemukan meninggal di kamar. Daniel Makuker tewas di dalam kantor polsek lama. Sementara Jasad Jefri ditemukan dibawah tiang bendera yang ditembaki ketika hendak menaikkan bendera Merah Putih.

    Aksi kelompok Erimbo yang meresahkan juga ketika menghadang rombongan Kapolda Papua, Inspektur Jenderal Tito Carnavian dan Asintel Kodam XVII Cenderawasih Kolonel Napoleon pada Rabu 28 November 2012.

    Rombongan yang saat itu hendak menuju Tiom, ibu kota Kabupaten Lany Jaya Papua, diberondong kelompok Erimbo. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

    Sementara itu, dalam wawancara tertutup ini, Erimbo yang dikawal puluhan prajuritnya, menolak rencana dialog antara Jakarta dan Papua.

    Ia mengutuk setiap aktivitas yang mengatasnamakan orang Papua dan menyerukan sebuah perundingan damai antara Indonesia dan Papua.

    “Kami tidak memerlukan itu, kami butuh referendum. Kalau dialog, itu hanya menghabiskan waktu.”

    Ia memandang, ‘dialog’ dapat dipolitisir oleh para elit. “Rakyat tidak butuh dialog, kalau ada jaringan OPM yang mendorong perundingan atau dialog, kami dengan tegas menolaknya, itu tidak sejalan dengan misi kami sebagai pejuang Papua,” pungkasnya.

    Erimbo mendesak pemerintah Indonesia dan dunia internasional segera menggelar referendum bagi Papua.

    “UUD Indonesia menyebut, bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

    "Dengan dasar itu, kami menuntut hak penentuan nasib sendiri melalui mekanisme Referendum yang sah,” tandasnya.

    HUT ke-53 Papua Barat, Mahasiswa dan Aktivis Fiji Kibarkan Bintang Kejora

    Mahasiswa dan aktivis Fiji saat merayakan HUT ke-53 Papua Barat. Foto: Ist.

    Jayapura, HEART OF PAPUA -- Fiji adalah salah satu negara yang tidak terlalu baik untuk demokrasi bagi warga negaranya. Warganya tidak bebas berkomentar menentang kebijakan pemerintah dan tentu termasuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan pemerintahnya.

    Fiji walaupun salah satu negara Melanesia, ia secara politik belum menyatakan dukungan atas kemerdekaan Papua Barat dari Indonesia. Tetapi, tidak untuk warganya, mahasiswa dan aktivis di sana.
    Pada Senin, 1 Desember 2014 kemarin, mahasiswa, aktivis dan masyarakat sipil Suva, Fiji mengibarkan Bintang Kejora sebagai bentuk dukungan atas kemerdekaan Papua Barat.

    Sumber majalahselangkah.com melaporkan, para mahasiswa dan aktivis Fiji berkumpul di PANG (Jaringan Pasifik Globalisasi) untuk pengabdian dan pengibaran bendera Bintang Kejora.

    Di Australia, bendera Bintang Kejora dikibarkan di sepuluh kota. (Baca: Peringati HUT Papua Merdeka, 10 Kota di Australia Kibarkan Bendera Bintang Kejora).

    Sementara itu di Vanuatu, Perdana Menteri Vanuatu, Joe Natuman secara resmi mengibarkan bendera Bintang Kejora dengan delegasi Papua Barat di Saralana Park, Port Vila. Pengibaran bendera ini menandai pembukaan simposium Papua Barat di sana. (GE/003/HP)

    PM Vanuatu Kibarkan Bintang Kejora di HUT Papua, Simposium Tertunda Satu Hari


    Jayapura, LA PAGO --
    Kemarin, 1 Desember 2014, Perdana Menteri Vanuatu, Joe Natuman secara resmi mengibarkan bendera Bintang Kejora dengan delegasi Papua Barat di Saralana Park, Port Vila.

    Pengibaran bendera ini dilakukan untuk menandai pembukaan simposium para pemimpin Papua Barat. Namun, Simposium ditunda sebagian delegasi masih belum tiba di Vanuatu.

    Dikuti
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif