Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label La Pago. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label La Pago. Tampilkan semua postingan

    Anak Adat Papua Jangan Rebutan 14 Kursi

    Ramses Ohee: Anak Adat Jangan Rebutan 14 Kursi

    Ketua Umum DPP Barisan Merah Putih (BMP) Ramses OheeJAYAPURA – Ketua Umum DPP Barisan Merah Putih (BMP) Ramses Ohee mengimbau   seluruh elemen masyarakat di 5 wilayah adat di Provinsi Papua, masing-masing Mamta/Tabi, Saireri, La Pago,Mee Pago dan Animha, untuk tidak rebut-rebutan dan tetap menanti digelar musyawarah dan mufakat terkait pembagian 14 Kursi DPRP.
    Ramses Ohee mengatakan hal ini ketika dikonfirmasi Bintang Papua di Waena, belum lama ini. Dikatakan, pihaknya juga mengimbau kepada elemen masyarakat adat, untuk menyambut  putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan permohonan masyarakat adat Papua menduduki kursi di DPRP pada 1 Februari 2010 lalu No.116/PPU-VII, dengan penuh damai, penuh kebersamaan dan saling menghargai satu sama lain di dalam komunitas masyarakat di Provinsi Papua sebagaimana di Provinsi Papua Barat. 

    “Kita belum berpikir tentang ini, dapat begini Saireri, dapat begini Animha, dapat begini Mee Pago,  La Pago, dapat begini nanti Tabi/Mamta dapat begini. Tapi mari kita duduk bersama  di para-para adat, untuk musyawarah dan mufakat menyelesaikan masalah 14 Kursi DPRP,” tegas Ramses Ohee.

    Dikatakan Ramses Ohee, pihaknya juga mengimbau seluruh elemen masyarakat di 5 wilayah adat di Provinsi Papua, untuk cermat dan hati-hati memproses UU Otsus dari 11 Kursi DPRP meningkat 14 Kursi DPRP ini. Pasalnya, setelah 14 Kursi DPRP nanti di Pemilu berikutnnya meningkat terus, baik kursi parpol maupun kursi adat.

    Namun demikian, lanjut Ramses Ohee, pihaknya mengusulkan kepada seluruh elemen masyarakat adat diseluruh di Provinsi Papua minta Presiden Ir. Joko Widodo (Jokowi) sebagai Kepala Pemerintahan untuk menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang 14 Kursi DPRP, agar kedepan pemerintah dan masyarakat adat Papua mampu membuat regulasi dan Perdasus untuk dipergunakan di Tanah Papua. Sebagaimana UU Otsus pasal 6 ayat  2 mengatakan anggota DPRP terdiri dari anggota yang dipilih dan anggota yang diangkat.    Sedangkan ayat 4 mengatakan jumlah seperempat dari anggota DPRP terpilih.
    Menurut Ramses Ohee, pihaknya mengusulkan agar Gubernur Papua Lukas Enembe, S.IP., M.H., segera membentuk Tim Seleksi (Timsel) terdiri dari 5 orang perwakilan 5 wilayah adat di Provinsi Papua. Masing-masing Tabi/Mamta, Saireri, La Pago, Mee Pago dan Animha. (mdc/don/l03)
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg  photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Mahasiswa Uncen Seminarkan Kegagalan Otsus di Papua

    Mahasiswa Uncen Seminarkan Kegagalan Otsus di Papua

    by Papua Post
    JAYAPURA, SUARAPAPUA.com --- Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih menggelar seminar sehari mengenai kegagalan implementasi Otonomi Khusus di Tanah Papua. Seminar bertajuk “Mengawal Pembangunan Dalam Era Otonomi Khusus di Tanah Papua”, diadakan di auditorium Uncen, Senin (23/3/2015) pagi. Ketua panitia seminar sehari, Onesimus Heluka menjelaskan, kegiatan ini bertujuan membedah persoalan secara ilmiah…
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Bupati Yahukimo dan Polda Papua Membuat Kesepakatan

    Bupati Yahukimo dan Polda Papua Membuat Kesepakatan

    Ones Pahabol: Saya Tidak Ingin Ada Gerakan-Gerakan Mengganggu Kedaulatan NKRI Di Yahukimo

     DEKAI -- Situasi di Dekai ibu kota Kabupaten Yahukimo yang mencekam beberapa hari lalu, akibat tindakan brutal Polisi terhadap masa dari Parlemen Rakyat Daerah (PRD) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang menggalang dana untuk korban bencana alam di Vanuatu itu, menewaskan satu orang dan dua orang kritis dan satu lainya masih ditahan di Polres Kabupaten Yahukimo.

    Dekai yang dikenal selama ini bebas dengan masa fanatik dalam menyuarakan isu Papua Merdeka, kini dibatasi dengan dibuatnya kesepakan bersama oleh pihak Polda Papua dan Bupati Yahukimo sendiri. Kesepakatan itu untuk menghilangkan gerakan-gerakan pembebasan bangsa Papua Barat di wilayah Yahukimo. Dalam kesepakatan Bupati Yahukimo bersama pihak Polda Papua tersebut. Bupati Yahukimo mengatakan, "saya sebagai Bupati daerah ini, tidak ingin ada gerakan-gerakan yang melanggar hukum dan mengganggu kedaulatan  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan juga menghambat jalannya pembangunan di daerah ini" tegasnya.

    Sementara, korban penembakan, dari suku Ngalik Distrik Silimo Kabupaten Yahukimo, dimakankan di Tempat pemakaman umum, jalan Logbon Dekai  [hns]
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    ANGGOTA HIMPPAR SIAP MEMPERSEMBAHKAN TARIAN ADAT KOLABORASI LA PAGO DAN MEE PAGO PADA PSBI UKSW 2014

    ANGGOTA HIMPPAR SIAP MEMPERSEMBAHKAN TARIAN ADAT KOLABORASI LA PAGO DAN MEE PAGO PADA PSBI UKSW 2014

    Salatiga-Komnews, Rapat anggota Himppar terbatas dilakukan di kontrakan Jayawijaya, Jl Cungkup Salatiga, Minggu (23/03/14) membahas rencana Pentas Seni Budaya Indonesia (PSBI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga bulan april mendatang. Kegiatan PSBI merupakan Program tahunan yang selalu diselenggarakan oleh UKSW sebagai bentuk pelestarian Budaya Indonesia dan juga mengangkat citra “Indonesia Mini” di kota Salatiga. Untuk kegiatan ini,  putra-putri Papua yang berstudi di UKSW juga diminta untuk menampilkan dan memperkenalkan budaya Papua. 

    Gasfer Tabuni, S.Si, selaku sekertaris Himppar mengawali pertemuan tersebut mengatakan “ dari tahun ketahun, tarian adat Papua yang ditampilkan hanya itu-itu saja (Yosim pancar, Kontemporer, Pangkur sagu dan Balada Cenderawasih) untuk itu pada tahun 2014 kita diminta untuk menampilkan tarian Papua yang lainnya. Papua terkenal dengan kekayaan seni budaya sehingga perlu untuk mengangkat hal lain yang belum pernah ditampilkan dalam PSBI sebelumnya, agar orang luar mendapatkan pengetahuan baru dari Papua,” katanya. 

    Untuk PSBI kali ini BPH Himppar meminta anggotanya untuk mempersembahkan tarian kolaborasi dari daerah Pegunungan Papua (gabungan dari tarian wilayah adat La Pago dan Mee Pago). Dengan demikian, berdasarkan kesepakatan forum, yang akan ditampilkan adalah tarian atraksi perang-perangan. Konsep dan narasi akan disiapkan oleh Melkior N.N Sitokdana, S.Kom. Menurut Melkior, “ kita belum sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi didunia berkembang pesat karena adanya perang. Artinya perang mengandung nilai-nilai positif sehingga momen ini kita akan menyampaikan sisi positif dari perang bagi orang Papua. Yang perlu dicatat bahwa sejak dulu kala perang tidak dilakukan antar suku tetapi antar daerah/kampung dalam satu suku. Itupun dilakukan untuk mempertahankan nilai kebenaran yang diturunkan oleh sang pencipta manusia Papua. Jika sekarang ada perang suku, maka itu buatan orang yang tidak bertanggung jawab. Jadi sekali lagi, perang suku yang sekarang terjadi adalah permainan pihak tertentu, bukan murni perang untuk kebaikan seperti dulu kala. 

    Selain itu, disela-sela pertemuan tersebut disepakati bahwa akan diadakan Malam Keakraban mahasiswa wilayah adat La Pago dan Mee Pago. Tujuannya adalah untuk mempererat ikatan kekerabatan serta membentuk rasa kepercayaan diri dan juga kemampuan-kemampuan lainnya yang diperlukan untuk menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dikalangan orang Papua sendiri. “ Adanya isu dan hal-hal senstitif yang tidak bisa dibicarakan secara langsung karena muncul begitu banyak tanggapan bahkan stigma negatif sehingga kita harus mampu berdiri dan memperbaiki diri sendiri sebelum nanti harus berbaur dan bersaing secara merata dalam kehidupan sosial khususnya diantara orang Papua sendiri. Pada momen tersebut dilakukan diskusi unuk mengetahui dan mengenal Papua secara lebih dalam untuk membangkitkan nasionalisme orang Papua seperti yang diajarkan Almarhum Arnol Ap,” ujar Melkior Sitokdana.

    Saat kesempatan itu juga, untuk bursa Ketua HIMPPAR Periode 2014-2016, mahasiswa Lapago dan Meepago sepakat mendukung Markus Kalakmabin untuk bertarung bersama kandidat lainnya. Hal ini dilakukan karena dalam waktu dekat, setelah LKTD akan dilakukan pergantian BPH Himppar. Hal ini dilakukan karena beberapa tahun terakhir berbagai persoalan sili berganti menghantui mahasiswa Papua, antara lain: sekertariat organisasi Himppar selama ini adalah milik GKI Papua sehingga beberapa bulan lalu meminta BPH untuk mencari sekertariat baru, belum berjalannya fungsi organisasi, ketidakaktifan anggota dalam berorganisasi, berbagai persoalan juga timbul akibat miras, sewa motor,dsb. Untuk itu, dibutuhkan pemimpin yang benar-benar punya hati dan mau bekerja untuk membangkitkan semangat berorganisasi dan persatuan antara mahasiswa Papua. (Holak Reyni Wabdaron)
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    KNPB : OTAK KKB DI TANAH PAPUA ADALAH APARAT TNI/POLRI

    LA PAGO Blogger Community of Malang
    Jayapura, Jubi – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menilai, aktor utama berbagai kasus penembakan yang selama ini tejadi di Papua adalah aparat militer Indonesia, yaitu TNI dan Polri.

    “Kami melihat yang selama ini menjadi pengacau di tanah Papua adalah justru TNI/Polri. Memang benar bahwa yang melakukan penembakan itu para gerilyawan di hutan dengan senjata rampasan yang mereka miliki dari hasil rampasan,” kata Juru bicara KNPB, Bazoka Logo, Minggu (8/2/2015).
     
    Menurutnya, yang menjadi indikator itu bukan menvonis orangnya. Tetapi, yang harus dilihat itu siapa yang mensuplai amunisi untuk para gerilyawan. Apakah di Papua ada tempat pabrik amunis? Apakah di Papua adan tempat pabrik senjata?

    “Jadi semua persoalan penembakan yang selama ini terjadi di tanah Papua adalah TNI/Polri. Karena mereka yang menjual amunisi. Karena itu ranah mereka. Sehingga aparat sendiri yang menjual amunisi. Karena itu KNPB nyatakan aparat militer di tanah Papua adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB),” katanya.

    Dikatakan, bagaimana mungkin setiap saat gerilyawan melakukan penembakan terus menerus setiap waktu. Padahal amunisinya tidak ada. Kalaupun ada itu hanya ada di dalam senjata yang mereka rampas. Sehingga kalau berfikir secara logis maka gerilyawan tidak punya stok amunisi.

    “Jadi jangan tuduh orang Papua yang sedang bergerilya di hutan dengan istilah KKB, KSB, OTK dan lain-lain. Istilah itu cocoknya digunakan untuk aparat TNI/Polri yang menjual amunisi itu maupun institusi TNI dan Polri,” ungkap Logo kepada Jubi.

    Logo juga mengatakan, pemerintah berencana untuk menambah Kodam di Provinsi Papua Barat. Jika itu benar dilakukan, maka tidak menutupi kemungkinan kelompok KKB, KSB, OTK dan kelompoknya akan ada di provinsi Papua Barat.

    “Ya, itu kan ranah bisnis mereka. Jadi istilah-istilah akan bermunculan juga setelah pemerintah membuka Kodam baru di Papua Barat. Ini terjadi karena kesejahteraan mereka tidak diperhatikan. Contoh, kalau gaji perbulan 10 juta, tapi dengan jual amunisi bisa dapat 15-20 juta sekali jual. Kalau begini siapa yang tidak mau?” ungkapnya.

    Jadi kata dia, harusnya yang musti dilihat itu bukan orang yang melakukan penembakan tapi lihat otaknya siapa.

    Sementara itu, tidak lama ini, kepada awak media di Jayapura, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FUKB) provinsi Papua, Pdt. Lipiyus Biniluk, mengatakan, dirinya mendukung langkah tegas untuk menindak oknum aparat keamanan yang menjual senjata maupun amunisi kepada kelompok bersenjata di Papua.

    “Ya, saya mendukung langkah tegas itu untuk memberantas oknum anggota yang menjual amunisi. Itu dari dulu saya bilang. Jika ada oknum-oknum tertentu yang melakukan, itu harus diberantas,” tegas Pdt. Biniluk. (Arnold Belau)

    Sumber :  www.tabloidjubi.com
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    DAP WILAYAH LA PAGO MINTA POLISI HENTIKAN INTIMIDASI DAN KEKERASAN


    Ilustrasi Stop Kekerasan (Dok. Jubi)
      Jayapura, 25/8 (Jubi) – Lemok Mabel, Ketua Dewan Adat (DAP) Wilayah Baliem, La-Pago, meminta pihak aparat kepolisian di Kabupaten Jayawijaya menghentikan intimidasi dan kekerasan terhadap warga di Kabupaten Jayawijaya yang masih berlangsung  hingga saat ini.
      “Sebagai masyarakat adat yang awam, kami datang menyampaikan rasa kekesalan yang mendalam atas tindakan dan kinerja aparat agar dapat diterima dan dijadikan pertimbangan lebih lebih lanjut,” ungkap Lemok Mabel melalui rilis  yang diterima tabloidjubi.com, Minggu (24/8) malam.
      Lemok mengaku, sebagai masyarakat adat, pihaknya menginginkan keadilan, perdamaia,  dan penegakan hukum yang sebenar-benarnya. Sebab, menurut Lemok,  kepentingan negara dan atas nama pembangunan, pihaknya selalu dilecehkan dan dikorbankan.
      “Contoh kasus, dari tahun ke tahun, Polresta Jayawijaya mengejar, menangkap, menahan, menembak, bahkan merusak harta benda milik warga. Juga melakukan  penembakan ternak masyarakat, pembakaran honay adat dengan alasan kriminal, OPM, separatis dan lain-lain,” kata Lemok lagi.
      Melalui rilis  yang sama, Yulianus Hisage, Sekretaris DAP Baliem, Wilayah La-Pago, mengatakan masyarakat adat juga memiliki hak dan kewajiban dalam proses pembangunan yang membutuhkan jaminan kepastian hukum oleh negara.
      “Namun kenyataan yang kami alami, kami melihat ada konspirasi, manipulasi dan penipuan belaka,” kata Yulianus. (Jubi/Aprila)
       photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Ready Papuan youth Refuse and Jihad Against FUI

     Ready Papuan youth Refuse and Jihad Against FUI
     
    Chairman of the Youth Movement Forum Papua Baptist (FGPBP), Turius Wenda represent Christian youth organization in Papua deplores misleading provocative statements from Muslim Forum (FUI) on December 23, 2011 which states will strive to 'maintain' Papua.

    According Turius, handling conflict in Papua can actually be resolved by the Indonesian government, so there is no organization or institution can unilaterally government intervention, especially for problem resolution Papua.

    "Should they [FUI] know and understand the root causes of Papua. if you do not know do not talk carelessly Papua issue. because of statements like this can be fatal or lead to racial conflicts or religious conflict. "he said in Jayapura, on Monday (26/11/2011).

    Moreover he said, the problem is not really a problem Papua eating - drinking that often they [FUI] naturally in their area, but this is a matter of ideology and history that full integration of controversy and deception. So normal that the Papua issue could not finish by the way - through violence or through jihad, often in propounded by radical groups that desire to do so for the sake of her dream to make this country into an Islamic state.

    He continued, the statement 'jihad in Papua' which in catapult Advisory Council Chairman FUI Rizieq Shihab, Muhammad Al Khathath and Former Chairman of the Legal Aid Foundation Munarman is a severe blow and highly discriminatory statements for the religious minorities in Indonesia, especially Christians in Papua

    "Harmony religious communities in Papua has been established and maintained from the beginning, so that any person who dismantle and undermine this harmony, then all the people who live in Papua must resist and reject the issue of jihad as FUI statement some time ago." He said.

    Unfortunate because this statement is just a comment without foundation that can trigger religious sentiments. This sentiment can be seen from their actions during the time in Ambon, Maluku. The issues they raise in Maluku is the action that they stamp as action 'against RMS' that they associate with Christians in Maluku. Especially seeing their statements are blindly accusing the Vatican church in Papua and Papua supporters of the referendum.

    For him, the Papuan leaders and church leaders together elements of peace lovers are trying to resolve the conflict in Papua in a peaceful and dignified, so that Christians in Papua will not give an opening to turn the violent methods that only harm Papuans. including Islamic Jihad approach militarism and violence.

    Papuan youth ready 'jihad'

    Wenda Turius emphatically said, "if the call for jihad and violence in Papua realized the youths of all elements of religious communities in Papua will strongly oppose and fight".

    We also appealed to all religious communities in Papua do not easily terporvokasi racial issues and jihad in Papua, and is expected to create a sense of peace and security every where we are, because Papua is a land of peace.

    In line with Turius, Buctar Tabuni, chairman of the West Papua National Committee (KNPB) expressed readiness to wage jihad against the intolerant who want to undermine peace in Papua.

    "We are ready for jihad in Papua, where Muslim Forum would strive in Papua." He said via cell to Vote Baptist Papua, on Tuesday (27/11/2011).

    Tabuni added, crazy statement Muslim Forum that will be resisted to avoid Papua. Because, if it occurred in Papua, it will result in a conflict of religion...

    Rakyat Papua Barat, Wilayah Lapago (Lani Jaya) Memperingati HUT Kemerdekaan West Papua 1 Desember 2014

    Rakyat Papua Barat, Wilayah Lapago (Lani Jaya) Memperingati HUT Kemerdekaan West Papua 1 Desember 2014

    Lani Jaya KNPBNews-Bangsa yang besar adalah, bangsa yang menghargai sejarahnya, dan mendidik generasi ke generasi dalam sepanjang sejarah manusia, bangsa Papua adalah sebuah bangsa yang harus di hargai seperti bangsa-bangsa lain di dunia. 1 Desember adalah hari bersejarah, manifesto kemerdekaan West Papua 1961-2014.

    Dalam rangka memperingati HUT  kemerdekaan West Papua yang ke 53, 1 Desember 2014, di seluruh tanah air West Papua,  rakyat Papua Barat telah melakukan beberapa kegiatan, yaitu membuka forum diskusi, membuka pangung terbuka, dan tertutup di seluruh territory West Papua.
    Lebih khusus di wilayah Pengunungan tengah (LAPAGO) memperingati HUT kemerdekaan West Papua, 1 Desember 2014,  di Pusatkan di Kabupaten Lani Jaya, Distrik Pirime-West Papua, dalam perayaan HUT ini, dihadiri oleh seluruh komponen rakyat Papua Barat, dari berbagai Kabupaten yang ada di Pengunungan tengah Papua Barat.

    Dalam acara HUT kemerdekaan West Papua, yang ke 53,  1 Desember 2014 rakyat Papua Barat di wilayah Lapago, telah melakukan kegiatan dengan aman, rakyat Papua Barat memeriakan dengan tari-tarian, kibarkan Bendera Bintang Fajar, hias-hias muka, badan, lagu-lagu tradisional Papua, kasih bunyi lagu-lagu Papua.
    Perayaan HUT 1 Desember 2014

    Aparat Keamanan Indonesia Telah Pasang Alat Penyadap Di Semua Sektor Di Wamena Untuk Proteksi Aktivitas Pejuang Papua Merdeka

    Aparat Keamanan Indonesia Telah Pasang Alat Penyadap Di Semua Sektor Di Wamena Untuk Proteksi Aktivitas Pejuang Papua Merdeka

    Activis Independence Papua Barat dari Wamena melaporkan bahwa Aparat Keamanan Indonesia (Tim Khusus) dikirim dari Jakarta dan telah tiba di Wamena pada tanggal 17 November 2014, dan kemudian mereka telah dan sedang melakukan pemasangan alat penyadap di semua sektor, di seluruh wilayah Pegunungan Tengah Papua Barat.

    Hal ini mereka lakukan guna menjaga dan mengawasih aktivitas Para Pejuang Papua merdeka di Wilayah Pegunungan Tengah Papua Barat, termasuk di Wamena Kota.
    Menurut Activist setempat bahwa aksi teror ini membahayakan semua activist Politik Papua merdeka, yang berdomisili di daerah Pegunungan Tengah pada umumnya, sesuai release yang di terima di redaktur KomnasTPNPB.

    Activis Papua juga melaporkan bahwa Aparat Keamanan Indonesia rencanakan untuk melakukan operasi penangkapan atau penculikan terhadap activist Papua Merdeka, yang akan dimulai dari tanggal 15 Desember 2014, laporan intelejen terpercaya.

    Hal ini merupakan instruksi dari pusat ke daerah, maka tentu saja aparat akan melakukan tindakan represip terhadap activis Papua Merdeka. Sebelum melakukan operasi, aparat Keamanan Indonesia pasang alat penyadap suara lebih dahulu.

    Itu sebabnya, Activis Independence Papua dari Wamena meminta Perhatian oleh masyarakat Internasional serta oleh Lembaga Bekerja HAM Internasional atau advokat.
    Karena Aparat Keamanan Indonesia berniat buruk terhadap Activist Independence Papua Barat, yang berjuang di wilayah Pegunungan Tengah Papua Barat. Untuk membuktikannya silakan ikuti photos kehadiran Aparat Keamanan Indonesia.

    Demikian, dilapoerkan langsung dari Lembah Baliem, Wamena, Papua Barat. Photos asli terlampir. Laporan langsung yang telah dikirim oleh SB ke redaksi Komnas-TPNPB.
    Publihsing by Admin Komnas TPNPB 2013.
    ————————————————————–
    Appendix photos
    Lampiran photos
    Aparat Keamanan Indonesia Telah Pasang Alat Penyadap Di Semua Sektor Di Wamena Untuk  Proteksi  Aktivitas Perjuangan Papua Merdeka
    Aparat Keamanan Indonesia Telah Pasang Alat Penyadap Di Semua Sektor Di Wamena Untuk Proteksi Aktivitas Perjuangan Papua Merdeka
    Aparat Keamanan Indonesia Telah Pasang Alat Penyadap Di Semua Sektor Di Wamena Untuk  Proteksi  Aktivitas Perjuangan Papua Merdeka
    Aparat Keamanan Indonesia Telah Pasang Alat Penyadap Di Semua Sektor Di Wamena Untuk Proteksi Aktivitas Perjuangan Papua Merdeka
    Aparat Keamanan Indonesia Telah Pasang Alat Penyadap Di Semua Sektor Di Wamena Untuk  Proteksi  Aktivitas Perjuangan Papua Merdeka  
    Aparat Keamanan Indonesia Telah Pasang Alat Penyadap Di Semua Sektor Di Wamena Untuk Proteksi Aktivitas Perjuangan Papua Merdeka
    Aparat Keamanan Indonesia Telah Pasang Alat Penyadap Di Semua Sektor Di Wamena Untuk  Proteksi  Aktivitas Perjuangan Papua Merdeka
    Aparat Keamanan Indonesia Telah Pasang Alat Penyadap Di Semua Sektor Di Wamena Untuk Proteksi Aktivitas Perjuangan Papua Merdeka

    PAPUA TETAP PAPUA DAN INDONESIA TETAP INDONESIA

    PAPUA TETAP PAPUA DAN INDONESIA TETAP INDONESIA

    Generasi West Papua (foto, FB)
    Jadi jelas disini bahwa soal mengakui hak masing2 harus mendapat tempat dalam kehidupan Politik dua Bangsa: Indonesia dan Papua. Kita harus bicara sebagai Bangsa dengan Bangsa ....dan bukan bicara sebagai Pemerintah dan Masyarakat atau bukan Yang Berkuasa dan Yang Dikuasai .... 

    Setiap pihak harus berani dan jujur untuk menyatakan kebenarannya ....Jadi disini bukan soal "keseragaman pemahaman terhadap Sejarah Integrasi dan Status Politik" tetapi soalnya adalah "kejujuran dalam mengakui hak masing2"

    Orang Papua terutama para pemimpin perjuangan harus JUJUR menyatakan kepada Rakyat bahwa Bangsa Papua tidak pernah akan menjadi bagian dari NKRI dalam bentuk apapun tetapi berdiri sendiri secara utuh sebagaimana yang telah terjadi sebelum Papua di-Aneksasi oleh Indonesia. 


    Memperjuangkan kebenaran tentang status Politik Papua yang sebenarnya .... Bukan Membangun kebingungan diatas Kebenaran yang diperjuangkan.


    "Hak Menetukan Nasib Sendiri Solusi Demokratis Bagi Rakya Papua Barat''

    By :  Constantinopel Ruhukail

    Bocah Mengaku dari Tahun 2035: Indonesia Nanti Tinggal Sumatera dan Kalimantan.

    Putra Kadias

    JAKARTA- TIMIPOTU NEWS. Putra Kandias, bocah yang mengaku berasal dari tahun 2035, berani membuat pernyataan-pernyataan kontroversial terkait Indonesia.

    Selain bakal adanya bencana dahsyat di awal tahun 2015, ia memastikan tahun 2017 akan ada perang nuklir.

    "Bencana alam, perang nulkir atau perang dunia ke 3 akan terjadi di tahun 2017. Indonesia hanya menyisakan pulau sumatera dan kalimantan. Jawa tenggelam, sulawesi dan nusa tenggara menjadi negara sendiri," tulis Putra pada laman Fans Page dirinya di Facebook, Kamis (20/11/2014).

    Bahkan, dalam akunnya, ia juga mengatakan Tim Nasional sepak bola Indonesia bakal memenangkan ajang Piala AFF 2014, yang bakal digelar di Hanoi, Vietnam, pekan depan.

    Sebelumnya, Jagad sosial media di dunia maya dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang mengaku berasal dari masa depan. Persisnya, berasal dari tahun 2035, atau 21 tahun mendatang.

    Dirinya mengaku orang Indonesia, bernama Putra Kandias. Keberadaannya, diketahui setelah Putra membuat fans page di media sosial Facebook, Senin (17/11/2014).

    Selang empat hari kemudian, Kamis (20/11/2014), jumlah penyuka (likers) akun tersebut mencapai 1.634 orang.

    Bocah Mengaku dari Tahun 2035: Indonesia Nanti Tinggal Sumatera dan Kalimantan.


    Laporan Media Tribun News. Com

    Repoter Of Timipotu News
    Int. Bidaipouga Mote

    ZAMAN INI MENUNTUT MAHASISWA MENULIS



    Bastian Tebai (foto Pdibadi fb)
    Oleh Topilus B. Tebai #

    Ini beberapa dialog yang saya ikuti.
    “Ah, sob, sa trada bakat di bagian situ jadi, kamu lanjutkan saja,” kata Mikha (bukan nama sebenarnya). 
    “Tra menulis juga kita hidup moo. Jangan saling paksa untuk menulis. Semua mahasiswa to, jadi atur masing-masing,” begitu komentar Jack (bukan nama sebenarnya) dalam sebuah diskusi soal tulis menulis.
    “Kita itu bukan butuh orang yang jago tulis-tulis di media massa. Kita itu butuh orang yang kerja di lapangan, turun ke jalan,” kata seorang aktivis ketika seorang rekan mengajak penjelasan lisannya dituliskan dalam bentuk tulisan untuk ditawarkan kepada media-media online agar dibaca publik.
    “Mantap. Tingkatkan adik-adik.” Itu saja komentarnya ketika ditawari membeli sebuah majalah yang dibuat oleh anak-anak Papua di tanah rantau dua hari yang lalu. Kakak itu bahkan tidak punya gairah untuk membeli. Jangankan membeli, membuka lembar demi lembar, sekedar untuk melihat pun tidak. Cover luar mungkin sudah cukup baginya.
    Potongan-potongan dialog di atas saya kira telah mewakili sebagian kecil dari gambaran realita hidup mahasiswa Papua ketika bersentuhan dengan kalimat ‘tulis menulis’.
    ***
    Ketika membuka facebook, saya dapati banyak mahasiswa Papua cukup up to date dengan perkembangan tanah Papua saat ini, perkembangan Indonesia dan dunia. Hal ini tercermin dari artikel dan berita yang dibagikan melalui facebookdan twitter.
    Mahasiswa Papua cenderung lebih suka membagi masalah-masalah hak asasi manusia seperti pelanggaran HAM di Papua, mengenai Persipura dan sepakbola, dan mengenai kekayaan alam Papua dan eksploitasinya.
    Banyak mahasiswa Papua yang memaki, marah atas kekeliruan penulisan dan perekayasaan fakta di media-media nasional atas peristiwa-peristiwa -terutama yang bersentuhan dengan hak orang Papua untuk menentukan nasib sendiri- yang terjadi di tanah Papua. Mahasiswa marah karena tahu, fakta yang terjadi tidak seperti yang ditulis sang penulis. 
    Di beberapa tulisan yang dibuat oleh anak muda Papua, banyak dari kita yang terlihat cukup pandai dengan memberi komentar mengenai apa yang ditulis. 
    Beberapa dari kita merasa ‘nyaman’ dengan cukup menunggu artikel dan berita yang dihasilkan beberapa media online untuk kemudian dicopy paste ke blog milik pribadi dengan atau tanpa menyertakan sumber. Dari blognya, kemudian artikel itu dibagikan kepada publik melalui facebook dan twitter.
    Di majalahselangkah.com misalnya, beberapa mahasiswa Papua mengirim tulisan yang cukup ‘wah‘. Setelah dilacak melalui internet, banyak tulisan yang ternyata adalah hasil copy paste karya orang lain. Ini plagiat. Bisa kena hukuman karena melanggar hukum.
    Beberapa dari kita sibuk mengambil potongan-potongan kalimat dari beberapa tokoh orang Papua dan dibagikannya kepada publik, tanpa menilai dahulu apakah kalimat yang terucap dari sang tokoh masih relevan untuk dikonsumsi publik, cenderung ambigu bila dipotong dan disendirikan, sehingga apakah bertentangan atau tidak dengan eksistensi dan pendirian sang tokoh di tengah gejolak sosial politik ekonomi di Papua. Ini sepele, tetapi dapat mengubah mindset publik soal elektabilitas tokoh.
    Sementara yang lain bahkan fokus hanya untuk kuliah. Hidup selama minimal 4 tahun kuliah hanya diabdikan untuk ke kampus, belajar, tidur dan makan, sehingga akhirnya lupa diri dengan tugasnya sebagai mahasiswa, menjalankan aspek lainnya dari Tri Dharma Mahasiswa.
    ***
    Kondisi sosial-politik-ekonomi dan budaya di Papua dengan cepat berganti rupa. Zaman sedang bergerak. Perubahan sedang terjadi. Tahukah Anda kemana arah gerakannya? Bagaimana bila perubahan itu mengarah kepada kehancuran?
    Tugas mahasiswa Papua adalah mengarahkan perubahan itu ke arah yang baik. Menentukan arah yang baik dan yang tidak baik yang harus dijauhi juga adalah tugas mahasiswa. Mahasiswa bertugas mengobarkan api demokrasi dengan menjadi corong suara rakyat.
    Saluran untuk itu semua yang paling baik adalah menulis. Dengan menulis, ide-ide konstruktif kita akan dikonsumsi publik, kritik dan pendapat kita akan mengawal pembangunan, tulisan kita menjadi corong suara rakyat. Mahasiswa mesti mengkritisi sistem dan birokrat yang kapitalistik dan cenderung pro pusat dan pemodal- bila itu memang terjadi.
    Mahasiswa harus bangun dan mulai mengisi ruang-ruang yang disediakan media-media milik orang Papua dengan menulis. Mahasiswa harus sadar diri dan meningkatkan minat baca dan tulis. 
    Dan satu lagi, mahasiswa dituntut untuk sadar bahwa menulis itu proses, bukan bakat. Meminjam kalimat Yermias Degey, “Tak ada seorang ibu di dunia ini yang melahirkan seorang penulis”.
    Mahasiswa dituntut sadar diri dengan statusnya sebagai mahasiswa, untuk kegiatan copy paste berita dan atau artikel dan posting ke blog pribadi karena hanya akan menjadi pupuk penyubur budaya malas tulis dan instan. Mahasiswa Papua dituntut menulis sendiri, dan tidak plagiat.
    Mahasiswa Papua sebagai kaum terdidik mesti bangkit mendidik rakyat dengan menganalisa kondisi terkini dan ramalan akan hari esok, dan menyampaikannya dalam bentuk penyampaian lisan dan tertulis yang enak diterima. 
    Ini semua tugas kita, karena kita mahasiswa Papua sebenarnya punya kewajiban menjalankan jawaban dari pertanyaan ini: “Ingin dibawa kemana Papua ini?”
    ***
    Zaman yang sedang bergerak menuntut mahasiswa Papua untuk menulis. Menulis apa yang dilihat, dialami, dirasakan, didengar. Menulis itu kegiatan reflektif. Kita dituntut banyak membaca. 
    Bagaimana menulis? Banyak buku dan sumber yang dapat menjadi rujukan mahasiswa. Yang dibutuhkan mahasiswa adalah kemauan dan tekad.
    Sudah saatnya kita dengan tegas mengatakan akan menegur para penulis berita dan artikel di media nasional yang menulis berita yang kita pikir direkayasa itu dengan menyajikan yang sebenarnya terjadi, dan bukan lagi dengan mengomentari singkat dan memaki di facebook dan twitter. 
    Ingat kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Jika umurmu tidak sepanjang umur bumi, sambunglah dengan tulisan”. Sejarah bangsa harus lahir dan diukir dan ditulis oleh anak bangsa sendiri.
    Ini kata-kata Adolf Hitler, pimpinan Nazi Jerman pada Perang Dunia II, “Saya tidak takut pada ujung senjata. Saya hanya takut pada ujung pena.”
    Topilus B. Tebai, Mahasiswa Papua, Penulis di majalahselangkah.com.
    Sumber : http://majalahselangkah.com/content/zaman-menuntut-mahasiswa-menuli

    TNI/POLRI MENEMBAK 5 WARGA SIPIL, SATU DIANTARANYA PENDETA

    TNI/POLRI MENEMBAK 5 WARGA SIPIL, SATU DIANTARANYA PENDETA

    Ev. Epinus Magal, S.PAK di kamar Jenazah Karitas
    Timika-KNPBNews, Tadi siang Jam, 01.00 WTP (Waktu Timika Papua) 2 (dua) warga sipil masyarakat Amungme di tembak mati oleh Militer Republik Indonesia, di Jl. Trans Timika-Paniai, di kampung Iwaka, Distrik Kuala Kencana, Timika-Papua diantaranya ialaha Ev. Epinus Magal, S.PAK, dan Yoen Wandagau.






    DUA YANG DITEMBAK MATI, TIGA YANG LUKA BERAT KENAH PELURUH DAN DI RAWAT DI KLINIK KUALA KENCANA
     
    Anak dari Pdt. Sem Magal Gembala Sidang Gereja Kemah (KINGMI) Jemaat Imanuel Waa, Tembagapura dan anaknya Ev. Epinus Magal, S.PAK ialah Gembala Sidang Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Sinai Jl. Hasanudin Irigasi-Timika, Papua Barat. Alumi STT Medan, di tembak mati oleh Militer Republik Indonesia (TNI/POLRI) di Timika, sedangkan Yoen Wandagau adalah seorang anggota jemaatnya.
     
    Kepada KNPBNews ini Pdt. Hengki Magal Sekertaris Gereja Kemah Injil (KINGMI) Klasis Tembagapura juga yang adalah bapak adiknya, menjelaskan kronologis singkatnya adalah sebagai berikut: Sekitar jam, 08.00 armarhum Ev. Epinus Magal, S.PAK naik ke Iwaka untuk mengunjugi beberapa anggota Jemaatnya Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Sinai Irigasi-Timika yang sedang berperang di sekitar lokasi pertikaian di Iwaka, Pertikaian antara beberapa masyarakat Moni/Amungme dan Dani tentang senketa tanah di Iwaka.
     
    Lanjut Pdt. Hengki, “ Tadi pagi jam, 07.00 sekelompok Dani bunuh Kwein Yawame jadi masyarakat Moni/Amungme juga turun menyerang kelompok Suku Dani tapi masyarakat Dani mereka posisi mundur yang berhadapan adalah Polisi dengan Brimob, jadi mereka (polisi/brimob) mereka tembak kearah mereka.” Terangnya.
     
    Tambahnya juga bahwa, “yang kenah tembak ini ada 5 (lima) orang diantaranya ialah 2 (dua) ditembak mati dan 3 (tiga) yang luka-luka berat kenah tembakan. 3 (tiga) yang ditembak ialah 1.Nokolek Abugau 2.Okto Dimpau dan yang ketiga masih lupa namanya.” Katanya.
     
    Hengki Magal alummi Sekolah Teologi Atas Kejuruan (STAK) Levinus Rumaseb Moanemani, Kab. Dogiyai ini juga  menceriterakan bahwa, “Jenazah kedua korban yang mati ditembak di larikan di Rumah Sakit Karitas dan ketiga orang yang kenah tembakan dan luka-luka berat ini dilarikan ke Klinik Kuala Kencana untuk mendapat perawatan.” Dengan nada sedih.
     
    Pantauan KNPBNews, bahwa sekitar jam, 3.00 WTP (Waktu Timika Papua) kedua jenazah korban atas nama Ev. Epinus Tabuni dan Yoen Wandagau tiba di Rumah Sakit Karitas dan mereka amankan jenazahnya di kamar Jenazah untuk tunggu proses operasi agar mengeluarkan peluruh yang tersarang dalam masing-masing tubuh mereka berdua.
     
    Sekitar jam, 15.00 WTP (Waktu Timika Papua) Pantauan KNPBNews, Pdt. Deserius Adii, S.Th, muncul dengan muka sedih dan setelah itu beliau memberikan penghormatan terakhir kepada kawannya sekalipun segala gabungan Militer kawal jenazah. Menurut Pdt. Deserius Adii, S.Th, alasan memberikan penghormatan terakhir karena perang suku yang biasa terjadi disekitar Irigasi-Timika dengan kasus tanah itu biasa komunikasi dengan armarhum “saya sangat kehilangan kawan sekerja Allah, diladang Tuhan, kami biasa komunikasi kalau ada apa-apa dengan umat dia (armarhum) dengan umat saya.” Dengan nada bijak dan sedih.
     
    Setelah itu Pdt. Deserius Adii, S.Th. ketemu dengan Kapolres Mimika, AKBP. Yeremias Romtini, M.Si. didepan kamar pintu jenazah dan Pdt. Adii Tanya ke kapolres bahwa, selamat malam pak kapolres, pak apakah peluruh masih ada dalam tubuh atau tidak? Jawab Kapolres, “ iya ada jadi kita kasih pindah jenazah ke UGD untuk foto untuk dokter pastikan peluruh bersarang dimana, agar dokter operasi untuk dikeluarkan peluruhnya.” Kata kapolres Rontini dengan nada tenang.
     
    Selanjutnya sekitar 7.15. jenazah di bawa keluar ke UGD untuk di foto dan setelah di foto itu sekitar jam, 7.55 untuk dibawa kembali ke kamar jenazah untuk proses Operasi dilakukan, selanjutnya pukul 8.00 pihak keluarga korban dan beberapa Hamba Tuhan rapat untuk masuk mengawasi selama operasi dan keluarga putuskan akan masuk mewakili keluarga 2 (dua) orang dan mewakili pelaku 1 (satu) orang dan mewakili Pimpinan Gereja 1 (satu) orang dan mewakili keluarga Pdt. Hengki Magal yang masuk dan bapak Yulian dengan mama satu dan mewakili gereja Pdt.Deserius Adii,S.Th mewakili gereja.
     
    Setelah itu  tim medis dengan keempat orang saksi masuk dalam kamar jenazah untuk operasi tapi dengan alasan apa tidak tahu kepolisian dan para medis menyuruh Pdt.Deserius Adii,S.Th disuruh keluar dari ruangan operasi itu.
     
    Media Online KNPBNews ini menemui Pdt.Adii dan bertanya kenapa pa keluar Adii menjawab dengan wajah menyesal  berkata “tidak papa, polisi dan medis suruh keluar. Dan lanjutnya “Saya datang dan masuk untuk menyaksikan kawan seperjuangan dalam pelayanan ini ditembak dan saya mau saksikan proses pengeluaran peluruh itu tetapi mereka suruh keluar.” Ucapnya.
    Pantauan KNPBNews juga bahwa yang melakukan proses pengeluaran adalah dokter yang berpakaian polisi dan polisi itu juga mengaku dia ini biasa ditugaskan diWamena dan baru dia tugas di Rumah Sakit Karitas. Masyarakat Papua Waspada ke Karitas karena dokter militer yang jaga juga di Rumah Sakit Karitas. Kalau begitu setiap hari orang Papua di Karitas mati terus itu ada apa dibalik itu? Ada apa dibalik mama-mama yang mengandung anak belum waktunya untuk melahirkan disuruh operasi? Ketahuan kelakuan Ruma Sakit Karitas.
     
    Sekitar Jam, 10.00 (WTP) Waktu Timika Papua berhasil mengeluarkan peluruh yang bersarang dalam tunuh Arm. Ev. Epinus Magal, S.PAK yang terkenah di tulang rusuk kanan dan bersarang didalam jantung hati, sedangkan Arm. Yoen Wandagau terkenah peluruh di otak dan tembus keluar peluruhnya. Dan jenazahnya mala mini akan dibawa naik ke tempat Iwaka.

    Kami TPNPB-OPM hanya minta kedaulatan penuh, kemerdekaan, bukan perundingan atau apapun

    Purom Wenda: Kami TPN hanya minta kedaulatan penuh, kemerdekaan, bukan perundingan atau apapun

    Lambert Pekikir : Masalah Papua harus diselesaikan dengan perundingan. Antara Indonesia, Papua dan pihak ketiga.
    mendorong perundingan damai antara Papua dan Indonesia untuk penyelesaian akar masalah di Bumi Cenderawasih, yang digagas Koordinator Umum OPM Lambert Pekikir, menuai beragam pendapat. Salah satunya datang dari Panglima Tinggi Tentara Pertahanan Nasional OPM Distrik Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Purom Okiman Wenda.
    “Silahkan OPM bicara begitu, kami dari TPN hanya minta kedaulatan penuh, kemerdekaan, bukan perundingan atau apapun,” kata Purom Okiman Wenda kepada SULUH PAPUA, Ahad.
    Menurut dia, perundingan damai tidak akan membawa harapan bagi kebebasan Papua. Sebaliknya yang terjadi adalah konflik tak berkesudahan dan jatuhnya korban jiwa. “Masalah Papua tidak selesai dengan perundingan, kita tegas, kedaulatan, kalau ada yang ingin perundingan, kami tidak setuju,” ujarnya.
    Ia menambahkan, apapun resikonya, pihaknya tetap menuntut merdeka. “Kami bukan minta pemekaran atau kesejahteraan, kami minta kedaulatan, dari dulu TPN selalu begitu.”
    Purom termasuk orang yang dicari setelah sejumlah aksinya menewaskan petugas. “Saya tidak takut, saya kuat, anak buah saya banyak,” katanya.
    Ia mengatakan, jumlah personelnya mencapai ratusan. “Wilayah Operasi saya di Puncak Senyum, Puncak Jaya dan di Tiom, ada juga operasi di Sinak, anak buah saya, ada yang kentara, ada yang diam diam (bersembunyi),” katanya.
    Purom mempunyai sejumlah senjata otomatis hasil rampasan. Salah satunya didapat saat penyerangan terhadap Markas Kepolisian Sektor Distrik Pirime, Kabupaten Lany Jaya, Selasa, 27 November 2012. Tiga polisi tewas ketika itu. ”OPM tembak. Saya yang pimpin penyerangan itu,” kata Purom.\
    Purom disebut juga sebagai orang yang bertanggungjawab atas penyerbuan rombongan polisi, Rabu 29 November 2012 di daerah pegunungan. “Mereka (rombongan polisi) menggunakan sekitar 22 mobil. Ada lima yang kami tembak,” katanya.Purom pandai menyamar. Kalau lagi butuh logistik, ia berani turun sendiri ke Kota Mulia, Ibukota Kabupaten Puncak Jaya. 
    “Tentara tidak tahu, kami jadi orang (warga) biasa saja.” Purom akan terus mengangkat senjata demi Papua Merdeka. “Saya waktu bulan Juli kemarin, ada naikan Bintang Kejora, itu bukti bahwa saya masih ada, kita akan berjuang sampai mati.”Aksi terakhir Purom, adalah ketika memberondong mobil ambulans yang sedang mengevakuasi warga sakit. Akibat kejadian itu, 1 orang tewas. Penembakan terjadi di Puncak Senyum, Puncak Jaya, Rabu 31 Juli 2013, sekitar pukul 14.10 WIT.  “Iya, itu kami yang tembak, mobil ambulans itu membawa tentara, bukan orang sakit,” katanya.Puron adalah bekas anak buah Goliat Tabuni. 
    Mereka berpisah sejak Kabupaten Lany Jaya terbentuk. Purom Wenda memboyong anak buahnya, dan kemudian mendirikan markas di Puncak Senyum yang dinamai Kodap (Komando Daerah Operasi) Pilia.
    Minta perundingan
    Koordinator Umum OPM Lambert Pekikir menegaskan, masalah Papua harus diselesaikan dengan perundingan. “Antara Indonesia, Papua dan pihak ketiga, disitu baru kita akan cari akar masalah Papua itu apa, dan bagaimana cara penyelesaiannya,” tukasnya. Baginya, puluhan tahun OPM berjuang, namun apa yang diimpikan tak pernah tercapai. “Kita selalu dengar tiap saat mau merdeka, tapi kapan, itu kita tidak tahu, saya sudah ambil langkah ini, saya berani mati untuk menyelesaikan masalah Papua,” tegasnya.
    Mengawali gagasan perundingan tersebut, Lambert Pekikir menghadiri sebuah seminar tentang HAM di Arso, Kabupaten Keerom, pekan lalu. Dalam acara tersebut, hadir pula Bupati Keerom Jusuf Wally, aparat TNI, Polri serta warga Arso. Seminar sehari tentang nilai-nilai Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia ini difasilitasi oleh Komnas HAM Wilayah Papua dan Paroki Keerom.
    Dalam seminar tersebut, dihasilkan dua rumusan, yaitu, kesepahaman menjadikan Papua tanah damai tanpa kekerasan, dan OPM bersedia menemui petinggi-petinggi RI untuk berbicara tentang penuntasan konflik Papua.
    Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR RI, Yorrys Raweyai menilai, tuntutan Papua Merdeka yang selalu disuarakan, merupakan hak warga. “Tuntutan Papua Merdeka itu hak. Saya mengambil contoh seperti pembukaan Kantor OPM yang terjadi di Oxford, Inggris. Pemerintah Inggris tidak melarang pembukaan kantor tersebut,” kata Yorrys seperti dirilis tabloidjubi.com.
    Terkait kemerdekaan Papua, istana tak pernah menyetujuinya. “Presiden SBY justru berketetapan melakukan pembicaraan yang intensif agar dalam masa pemerintahannya semua persoalan Papua dapat diselesaikan,” kata Daniel Sparringa, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik.

    Rakyat Papua Butuh Kesejatrahan adalah PAPUA MERDEKA bukan pembangunan, ostus, up4b dan lainnya.

    ENDEN WANIMBO: KAMI TAK AKAN BERHENTI BERJUANG

    Penulis :
    CUNDING LEVI
    Pengiriman dua jenazah anggota Polisi korban penembakan yang dilakukan oleh kelompok Enden Wanimbo. (Jubi/Ist)
    Pengiriman dua jenazah anggota Polisi korban penembakan yang dilakukan oleh kelompok Enden Wanimbo. (Jubi/Ist)

    Wamena, 8/8 (Jubi) – Penanggung jawab kejadian penembakkan anggota polisi di Kabupaten Lanny Jaya, Enden Wanimbo menyatakan semua aksi yang dilakukan belakang ini murni dilakukan untuk gerakan Papua merdeka.

    “Komando TPN OPM itu menyangkut pembangunan, keamanan kami tidak tahu, kami berjuang untuk kemerdekaan dan itu harga mati. Jadi kalau berita atau informasi yang kami terima menyangkut kalau Enden yang membuat Lanny Jaya (tim pemekaran) tidak terima uang 2 miliar rupiah itu sehingga melawan pemerintah itu berita omong kosong,” kata Enden kepada media ini, Jumat (8/8).

    Dikatakan, aksi yang dilakukan bersama kelompoknya karena panggilan Tuhan bukan karena maksud lain atau kepentingan tertentu. “Saya tidak punya ambisi, kepentingan apapun dan saya juga tidak pernah kecewa, saya dipanggil Tuhan kerja untuk  negeri ini, kami tidak urus pembangunan, pemekaran atau meminta apapun dari pemerintah, tidak,” tegasnya.

    “Tuhan memangil kami untuk merebut Papua Barat, gerakan akan terus dilakukan sampai papua merdeka, saya tidak pastikan akan berakhir atau aman,” katanya. Disingung sampai kapan aksinya akan dilakukan melihat banyaknya masyarakat yang memilih mengungsi karena takut, kembali dirinya dengan tegas tidak akan berhenti hingga Papua Merdeka. “Yang menyangkut otsus atau pemekaran daerah kami tidak tahu, kami berjuang untuk Papua Merdeka, itu baru aman,” tandasnya.

    Terkait himbauan dari pihak keamanan agar dirinya bersama kelompoknya menyerahkan diri hingga batas akhir Jumat (8/8), dirinya tidak tahu mengenai itu dan tidak akan menyerahkan diri. Sementara itu, sekretaris tim pemekaaran Lanny Jaya, Agus Howay ketika dihubungi wartawan di Wamena menyayangkan kejadian-kejadian yang terjadi di Lanny Jaya belakang ini. Pasalnya, tim pemekaran berjuang agar Lanny Jaya terbentuk adalah untuk mensejahterakan masyarakat.

    “Kalau dengan situasi yang terjadi belakangan ini terkait keamanan, jelas kami kecewa. Tetapi perjuangan ini kami lakukan agar masyarakat yang berada di balik-balik gunung, dapat merasakan pembangunan dan pelayanan pemerintah,” ungkap Agus Howay.

    Diakui Agus, pemekaran Lanny Jaya penuh dengan perjuangan di mana selama delapan tahun lamanya baru ditetapkan sebagai kabupaten definitif. Maka dari itu, hal itu jelas sangat mengecewakan tim pemekaran.
    “Dalam hal ini saya tidak bisa mempersalahkan pemerintah atau pelaku kekerasan, tetapi salah satu langkah yaitu semua pihak harus duduk bersama mencari tahu kira-kira kesalahan ada di mana, persoalan mendasarnya seperti apa sehingga terjadi berbagai kejadian,” tegasnya.

    Ditegaskan pula, jika kejadian di Lanny Jaya murni untuk Papua merdeka, maka hal ini menjadi persoalan besar, tetapi kalau muncul karena kekecewaan alternatifnya harus duduk bicara bersama seperti apa yang terbaik.

    “Harapan kami selaku tim pemekaran persoalan seperti ini harus segera diatasi, supaya perjuangan untuk memekarkan Lanny Jaya agar mensejahterakan masyarakat dapat terwujud,” tandas Agus. (Jubi/Islami)
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif