Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Hukum dan Ham Papua. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Hukum dan Ham Papua. Tampilkan semua postingan

    Papua, Wilayah yang Penuh Ancaman

    Papua, Wilayah yang Penuh Ancaman

    Perayaan ibadah peringatan 1 Desember 1961, yang disebut-sebut Hari Kemerdekaan Papua Barat, berlangsung di Taman Peringatan Kemerdekaan dan Pelanggaran Hak Asazi Manusia, di Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin (1/12). Acara ini diwarnai dengan hadirnya puluhan Bendera Bintang Kejora kecil yang dikibar-kibarkan warga seusai ibadah.

    [JAYAPURA] Papua, tanah yang penuh ancaman, karena sampai saat ini ribuan orang Papua hidup dalam ketakutan, 4.000 di antaranya meninggal dunia karena menderita HIV/Aids, bahkan tidak sedikit yang tewas karena kecelakaan lalu lintas, dibunuh, dan menderita berbagai sebab hingga menemui ajalnya. Padahal, jumlah penduduk asli Papua hanya sekitar 1 juta orang.

    Hal itu disampaikan Sekretaris Presidium Dewan Papua (PDP) Thaha Al Hamid, ketika menyampaikan pidato politiknya pada peringatan hari ulang yang disebut sebagai Tahun Kemerdekaan Papua Ke- 47, Senin, (1/12) di Taman Peringatan Kemerdekaan dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Papua, di Sentani, Jayapura, Papua. Taman tersebut adalah area pemakaman Ketua PDP, Theys Hiyo Eluay yang meninggal dunia karena tindakan kekerasan aparat TNI tanggal 10 November 2001 di Jayapura.

    Thaha Al Hamid mengakui dengan kondisi yang ada merupakan indikasi bahwa masyarakat asli Papua sedang menuju pada proses pemusnahan. Oleh karena itu, melalui perayaan tersebut, pihaknya mengajak seluruh rakyat Papua untuk merenungkan hal itu.

    “Sejak integrasi ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia 1 Mei 1963, orang Papua selalu termarginalkan. Mereka hanya menjadi penonton dalam pembangunan. Dalam bidang ekonomi misalnya, mereka hanya berjualan di emperen pasar atau duduk berjualan di atas tanah,” tegas Thaha. [GAB/154]

    SP Daily

     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Pater Nato Gobay : Orang Papua Bukan Binatang Buruan !

     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Pater Nato Gobay : Orang Papua Bukan Binatang Buruan!

    Nabire, Jubi – Sekretaris Jenderal keuskupan Timika, Pater Nato Gobay, dihadapan ribuan umat Katolik yang hadir dalam acara pentabisan 10 imam di lingkungan keuskupan Timika, Selasa (6/1), mengatakan, orang Papua adalah manusia.

    Bukan kus-kus yang selalu diburu oleh manusia. “Pemerintah dan aparat militer baik TNI mapun Polri, tolong jangan lakukan penembakan terhadap umat saya. Tidak lama ini aparat sudah menembak mati lima anak muda yang menjadi harapan bangsa ini. Itu terjadi di kampung saya. Saya minta jangan lagi melakukan penembakan terhadap umat saya,” tegasnya di gereja Kristus Sahabat Kita (KSK) Bukit Meriam, Nabire.
    “Saya tidak mau lihat lagi. Saya tidak mau dengar lagi kamu (aparat-red) tembak lagi umat saya di tanah Papua ini kedua kalinya. ‘Me wagi kouko daa’ tidak boleh membunuh. Manusia Papua itu bukan kus-kus yang harus diburu terus.

    Harus menciptakan damai di tanah Papua. Bukan menciptakan konflik,” tegas Pater Nato. Sementara itu, Yones Douw, aktivis HAM di Nabire menatakan, penembakan yang baru-baru terjadi di Enarotali, Paniai oleh aparat gabungan TNI/Polri Itu murni pelanggaran HAM berat. “Saya minta aparat hentikan penembakan brutal ke warga sipil di tanah Papua. Jangan lagi terulang, kasus seperti yang terjadi di Enarotali, Paniai, Papua,” tegas Yones saat dihubungi Jubi melalui selularnya dari Nabire.
    Selain itu, lanjut Yones, Presiden Jokowi jangan hanya kasih janji. Tetapi kasus yang dilakukan oleh aparat gabungan TNI/Polri di Paniai itu harus segera dituntaskan.

    “Karena itu aparat juga kami minta supaya jangan sembunyi-sembunyi. Jokowi harus bentuk KPP HAM untuk menyelesaikan persoalan tersebut,” ungkap Yones. (Arnold Belau)
    Sumber JUBI

    Pastor Jangan Takut Bicara Soal Pelanggaran HAM di Papua


    Pastor Honoratus Pigai, Pr
    Pastor Honoratus Pigai, Pr satu dari sepuluh pastor baru, saat membagikan hosti kepada Umat usai ditabiskan oleh Uskup 
    Timika. (Jubi/Arnold Belau)

    Pastor Jangan Takut Bicara Soal Pelanggaran HAM di Papua

    Hal ini ditegaskan oleh pastor Paroki Kristus Raja (KR) Malompo, Nabire Papua saat menyampaikan sambutan usai uskup Timika menasbihkan 10 imam di gereja katolik paroki Kristus Sahabat Kita (KSK), Bukit Meriam, Nabire, Papua, Selasa (6/1).

    Menurut pater, setiap pater yang ditasbihkan untuk mewartakan injil dan melayani umat Tuhan di bumi ini. Juga ditasbihkan untuk menyuarakan suara-suara orang-orang yang tak bersuara.

    “Untuk pastor-pastor baru jangan anggap pentasbihan ini sebagai puncak pencapaian sebuah prestasi. Tetapi harus mengangkat banyak permasalahan yang terjadi di tanah papua. Terutama soal pelanggaran HAM di tanah Papua,” katan Pater Nato.

    Lanjut Pater Nato, mereka jangan takut angkat masalah pelanggaran HAM di Papua. Karena untuk itulah para imam ini ditasbihkan.

    “Maka jangan takut untuk menyuarakan suara-suara yang yang tidak mampu untuk suarakan suaranya di tanah ini (tanah Papua-red),” tegasnya.

    Selain itu, Isaias Douw, bupati Kabupaten Nabire mengharapkan, dengan hadirnya pastor-pastor di Nabire, bisa menjadi motivator bagi umat di Nabire dan di keuskupan Timika pada umumnya. Sehingga iman umat di Nabire ini semakin kuat dan taat pada Tuhan.

    “Dengan bertambahnya imam di Nabire ini, dapat menambah semangat pelayanan kepada umat. Supaya seluruh umat mendapatkan pelayanan dan sentuhan kasih Tuhan,” katanya.
    Lanjut Douw, menjadi pastor adalah pilihan berat. Karena pastor dituntut memanggul salib Tuhan dalam mewartakan Injil di bumi ini sehingga jangan takut untuk mewartakan sabda Tuhan.

    “Sabda Tuhan itu harus diwartakan kepada seluruh umat,” katanya.

    Sumber : Papuapost

    LA PAGO : Presiden Jokowi adalah Presiden Penjahat Manusi

    Orang Papua mati karena persoalan ideologi perjuangan kemerdekaan papua barat. Dan rakyat papua masih mengalami penderitaan, pembantaian dan pembunuhan sadis dari negara sahabat penjajah selama ini juga menjadi perenungan bagi bangsa papua barat.

    Namun kaum penjajah mati karena akibat dari fenomena alam tanpa ada efek apapun yang menggangunya. oleh karenanya, jangan melakukan berbagai tindakan secara tidak manusiawi sesama masia didunia ini, karena setiap tindakan dan kekerasan tentu akan ada imbalan berupa fenomena alam maupun kehilangan asset tanpa ada jejak.

    Maka dapat katakan bahwa, Indonesia seharusnya mengakui penderitaan dan pembantaian yang dialami dan dirasakan oleh kami rakyat papua, diatas negeri Papua Barat. Karena sesuatu yang terjadi berupa bencana alam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga menjadi kutukan dari pencipta manusia. Jadi dalam kehidupan suatu bangsa yang masih dibawa penjajahan tentu akan ada imbalan sesuai perbuatan, tindakan dan kenafsuhan dari negara itu sendiri.

    Fenomena alam berupa musiba dan hilang kontak asset pemerintah terjadi dimana-mana merupakan kutukan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya, dapat dikatakan  bahwa pergumulan anak negeri dengan tangisan dan ratapan diatas negerinya merupakan proses menujuh penentuan nasib sendiri, dengan kekuatan dari Allah/Aula bagi bangsa papua barat. Dan Sang Revolusioner senantiasa memberikan kekuatan dan kemampuan untuk menentukan nasib sendiri diatas Tanah Air West Papua,.

    Oknum Polisi Membunuh Mahasiswa Papua di Makassar Selatan

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online


    PEDULI MAHASISWA PAPUA DI MAKASSAR,
    Peduli  Mahasiswa Papua di minta Kronologis Kejadian secara Akurat sesuai di Tempat Kejadian, dan  Kembali melakukan Pengecekan dan meminta keterajan terjadinya masalah ternyata Media-media yang dikeluarkan ternyata tidak sesuai dengan Fakta Kejadian Di Asrama Papua Di Makassar yang terletak di Jalan Mappala, Kecamatan Rappocini.


    Ada media New.Okezone.com dan New.liputan6.comdikeluarkan berita bahwa diserang oleh sejumlah orang tak dikenal itu tidak sesuai beritanya sehingga Kami kembali melakukan pembenahan berita.
    Akibatnya, satu penghuni bernama Carles Sihumbi terkena tikaman di bagian perut Oleh Oknum Polisi dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Faisal untuk mendapat perawatan medis.

    Sudarah yang bernama Charles Enombi telah menghembuskan napas terakhir Pada Rabu 25 November 2014, pukul 19:20 Wita  di rumah sakit Faisal jl.petterani makassar, Pelaku yang ditikam Almarhum Charles Enombi adalah oleh OKNUM POLISI, pada malam sabtu lalu. Kejadian tersebut,pada malam sabtu preman bersenggongol dengan polisi kemudian datang serang dikontrakan Kabupaten Nduga terletak di jln.petterani depan rumah sakit Faisal,pukul 03:45 ada beberapa polisi sengaja berpura-pura panggil keluar dan menanyakan kejadian lalu ada oknum polisi datang dari belakang dan menikam korban tersebut dibagian tangan tembus ke bagian Perut. Kemudian setelah kena tikaman oleh polisi Kemudian Alma. Charles Enombi sendiri langsung larikan ke rumah sakit tanpa diberitahu teman-temannya diasrama karena sudah tidak bisa dikendalikan diri.
    Berobat selama dua hari dua malam Namun sayangnya tidak tertolong dan  pada akhirnya menghembuskan napas terakhir.  karena kena racun badik yang menggunakanya. Sampai hari ini seluruh mahasiswa papua kumpul dan memintah bertanggung jawab dari pihak Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan Dan Polda Sulawesi Selatan, dan Mahasiswa Papua yang ada di kota Studi Makassar dari Sorong Sampai Samarai Menilai pembunuhan ini sangat tidak wajar karena datang serang tanpa ada Penyebab yang jelas. (Mahasiswa Papua Di Makassar Dan Frans E)
    Laporan : P.  Lokon

     photo burungrastacopy_zpsde5488d6.jpg

    MEDIA RILIS. ABBOTT HARUS MENAIKKAN PAPUA BARAT DENGAN PRESIDEN YUDHYONO

    YOGYA. TIMIPOTU NEWS. Abbott harus menaikkan Papua Barat dengan Presiden Yudhyono.

    Perdana Menteri Tony Abbott adalah untuk menghadiri perayaan ulang tahun D- hari di Perancis dan akan berhenti di Indonesia sebentar untuk bertemu dengan Presiden Yudhyono untuk mencoba dan hubungan yang mulus dengan Jakarta atas skandal mata-mata dan Australia menghentikan kebijakan perahu.

    Joe Collins dari AWPA mengatakan "kami mendesak Tony Abbott untuk meningkatkan situasi hak asasi manusia di Papua Barat dengan Pemerintah Indonesia dan mendorong Presiden Indonesia untuk membebaskan semua tahanan politik Papua Barat tanpa syarat. Ini keterlaluan bahwa ada 72 orang Papua Barat di penjara, banyak hanya karena mereka mengibarkan bendera Papua Barat di demonstrasi damai".

    Joe Collins mengatakan, "hal terburuk Pemerintah Australia dapat Anda lakukan adalah untuk terus mengabaikan situasi di Papua Barat. Hanya ada satu masalah yang dapat menyebabkan gesekan besar antara kedua negara dan itu bukan skandal mata-mata tetapi masalah Papua Barat. orang-orang Papua Barat telah menyerukan dialog dengan Jakarta dan Australia harus mendorong presiden Indonesia untuk memulai proses.


    Reporter Of Timipotu News.
    Int. Bidaipouga Mote

    TNI/POLRI MENEMBAK 5 WARGA SIPIL, SATU DIANTARANYA PENDETA

    TNI/POLRI MENEMBAK 5 WARGA SIPIL, SATU DIANTARANYA PENDETA

    Ev. Epinus Magal, S.PAK di kamar Jenazah Karitas
    Timika-KNPBNews, Tadi siang Jam, 01.00 WTP (Waktu Timika Papua) 2 (dua) warga sipil masyarakat Amungme di tembak mati oleh Militer Republik Indonesia, di Jl. Trans Timika-Paniai, di kampung Iwaka, Distrik Kuala Kencana, Timika-Papua diantaranya ialaha Ev. Epinus Magal, S.PAK, dan Yoen Wandagau.






    DUA YANG DITEMBAK MATI, TIGA YANG LUKA BERAT KENAH PELURUH DAN DI RAWAT DI KLINIK KUALA KENCANA
     
    Anak dari Pdt. Sem Magal Gembala Sidang Gereja Kemah (KINGMI) Jemaat Imanuel Waa, Tembagapura dan anaknya Ev. Epinus Magal, S.PAK ialah Gembala Sidang Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Sinai Jl. Hasanudin Irigasi-Timika, Papua Barat. Alumi STT Medan, di tembak mati oleh Militer Republik Indonesia (TNI/POLRI) di Timika, sedangkan Yoen Wandagau adalah seorang anggota jemaatnya.
     
    Kepada KNPBNews ini Pdt. Hengki Magal Sekertaris Gereja Kemah Injil (KINGMI) Klasis Tembagapura juga yang adalah bapak adiknya, menjelaskan kronologis singkatnya adalah sebagai berikut: Sekitar jam, 08.00 armarhum Ev. Epinus Magal, S.PAK naik ke Iwaka untuk mengunjugi beberapa anggota Jemaatnya Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Sinai Irigasi-Timika yang sedang berperang di sekitar lokasi pertikaian di Iwaka, Pertikaian antara beberapa masyarakat Moni/Amungme dan Dani tentang senketa tanah di Iwaka.
     
    Lanjut Pdt. Hengki, “ Tadi pagi jam, 07.00 sekelompok Dani bunuh Kwein Yawame jadi masyarakat Moni/Amungme juga turun menyerang kelompok Suku Dani tapi masyarakat Dani mereka posisi mundur yang berhadapan adalah Polisi dengan Brimob, jadi mereka (polisi/brimob) mereka tembak kearah mereka.” Terangnya.
     
    Tambahnya juga bahwa, “yang kenah tembak ini ada 5 (lima) orang diantaranya ialah 2 (dua) ditembak mati dan 3 (tiga) yang luka-luka berat kenah tembakan. 3 (tiga) yang ditembak ialah 1.Nokolek Abugau 2.Okto Dimpau dan yang ketiga masih lupa namanya.” Katanya.
     
    Hengki Magal alummi Sekolah Teologi Atas Kejuruan (STAK) Levinus Rumaseb Moanemani, Kab. Dogiyai ini juga  menceriterakan bahwa, “Jenazah kedua korban yang mati ditembak di larikan di Rumah Sakit Karitas dan ketiga orang yang kenah tembakan dan luka-luka berat ini dilarikan ke Klinik Kuala Kencana untuk mendapat perawatan.” Dengan nada sedih.
     
    Pantauan KNPBNews, bahwa sekitar jam, 3.00 WTP (Waktu Timika Papua) kedua jenazah korban atas nama Ev. Epinus Tabuni dan Yoen Wandagau tiba di Rumah Sakit Karitas dan mereka amankan jenazahnya di kamar Jenazah untuk tunggu proses operasi agar mengeluarkan peluruh yang tersarang dalam masing-masing tubuh mereka berdua.
     
    Sekitar jam, 15.00 WTP (Waktu Timika Papua) Pantauan KNPBNews, Pdt. Deserius Adii, S.Th, muncul dengan muka sedih dan setelah itu beliau memberikan penghormatan terakhir kepada kawannya sekalipun segala gabungan Militer kawal jenazah. Menurut Pdt. Deserius Adii, S.Th, alasan memberikan penghormatan terakhir karena perang suku yang biasa terjadi disekitar Irigasi-Timika dengan kasus tanah itu biasa komunikasi dengan armarhum “saya sangat kehilangan kawan sekerja Allah, diladang Tuhan, kami biasa komunikasi kalau ada apa-apa dengan umat dia (armarhum) dengan umat saya.” Dengan nada bijak dan sedih.
     
    Setelah itu Pdt. Deserius Adii, S.Th. ketemu dengan Kapolres Mimika, AKBP. Yeremias Romtini, M.Si. didepan kamar pintu jenazah dan Pdt. Adii Tanya ke kapolres bahwa, selamat malam pak kapolres, pak apakah peluruh masih ada dalam tubuh atau tidak? Jawab Kapolres, “ iya ada jadi kita kasih pindah jenazah ke UGD untuk foto untuk dokter pastikan peluruh bersarang dimana, agar dokter operasi untuk dikeluarkan peluruhnya.” Kata kapolres Rontini dengan nada tenang.
     
    Selanjutnya sekitar 7.15. jenazah di bawa keluar ke UGD untuk di foto dan setelah di foto itu sekitar jam, 7.55 untuk dibawa kembali ke kamar jenazah untuk proses Operasi dilakukan, selanjutnya pukul 8.00 pihak keluarga korban dan beberapa Hamba Tuhan rapat untuk masuk mengawasi selama operasi dan keluarga putuskan akan masuk mewakili keluarga 2 (dua) orang dan mewakili pelaku 1 (satu) orang dan mewakili Pimpinan Gereja 1 (satu) orang dan mewakili keluarga Pdt. Hengki Magal yang masuk dan bapak Yulian dengan mama satu dan mewakili gereja Pdt.Deserius Adii,S.Th mewakili gereja.
     
    Setelah itu  tim medis dengan keempat orang saksi masuk dalam kamar jenazah untuk operasi tapi dengan alasan apa tidak tahu kepolisian dan para medis menyuruh Pdt.Deserius Adii,S.Th disuruh keluar dari ruangan operasi itu.
     
    Media Online KNPBNews ini menemui Pdt.Adii dan bertanya kenapa pa keluar Adii menjawab dengan wajah menyesal  berkata “tidak papa, polisi dan medis suruh keluar. Dan lanjutnya “Saya datang dan masuk untuk menyaksikan kawan seperjuangan dalam pelayanan ini ditembak dan saya mau saksikan proses pengeluaran peluruh itu tetapi mereka suruh keluar.” Ucapnya.
    Pantauan KNPBNews juga bahwa yang melakukan proses pengeluaran adalah dokter yang berpakaian polisi dan polisi itu juga mengaku dia ini biasa ditugaskan diWamena dan baru dia tugas di Rumah Sakit Karitas. Masyarakat Papua Waspada ke Karitas karena dokter militer yang jaga juga di Rumah Sakit Karitas. Kalau begitu setiap hari orang Papua di Karitas mati terus itu ada apa dibalik itu? Ada apa dibalik mama-mama yang mengandung anak belum waktunya untuk melahirkan disuruh operasi? Ketahuan kelakuan Ruma Sakit Karitas.
     
    Sekitar Jam, 10.00 (WTP) Waktu Timika Papua berhasil mengeluarkan peluruh yang bersarang dalam tunuh Arm. Ev. Epinus Magal, S.PAK yang terkenah di tulang rusuk kanan dan bersarang didalam jantung hati, sedangkan Arm. Yoen Wandagau terkenah peluruh di otak dan tembus keluar peluruhnya. Dan jenazahnya mala mini akan dibawa naik ke tempat Iwaka.

    Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian III)

    Pelanggaran Hak Asasi Manusia

    Melawan Lupa; Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian III)

    Oleh : Admin

    Melawan Lupa; Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian III)
    Suasana arak-arakan sebelum pemakaman jenazah Theys Hiyo Eluay (Foto: Ist).
    Pada 11 November 2001, tepatnya 13 tahun yang lalu, Pemimpin Besar Bangsa Papua Barat, Dortheys Hiyo Eluay, ditemukan tewas di Kilo Meter 9, Koya, Muara Tami, Jayapura. Belakangan diketahui, Komando Pasukan Khusus telah menculik dan membunuhnya. Dibawah ini laporan lengkap bagian ketiga yang disusun Elsham Papua.
    Sabtu, 10 November 2001 pagi, sekitar pukul 09.00 Wit, ada dua orang berkunjung di salah satu Kampung dekat ditemukannya mayat Theys Hiyo Eluay. Mereka memakai kendaraan jenis Starwagon jurusan Abepura - Koya Barat 5 kilometer.  

    Kedua orang tersebut mengaku kepada masyarakat setempat bahwa mereka adalah agen intelejen dari Kepolisian Daerah Irian Jaya. Ketika ELS-HAM Papua meminta konfirmasi, warga setempat mencoba mengidentifikasi kedua "intel" tersebut bahwa satunya seperti orang Ambon dan yang satunya seperti orang Jawa.  

    Maksud kedatangan mereka adalah untuk bertemu dengan Komandan Satgas Papua (AR), sekaligus ingin melihat bagaimana keberadaan Satgas Papua di kampung tersebut.

    Informasi yang dibutuhkan kedua intel itu berkaitan dengan: (1) keaktifan Satgas hingga sekarang menjelang 1 Desember 2001; (2) jumlah anggota Satgas Papua di kampung Skouw: (3) jumlah Kepala Keluarga.

    Kedua intel juga meminta informasi tentang keberadaan para tokoh pro merdeka di Kampung Skouw, apakah ada yang masih aktif atau tidak.

    Pada 10 November 2001 pukul 20.30 Wit, malam seorang warga (IN) dari kampung Skouw, hendak berburu di sekitar lokasi ditemukannya mayat Theys Hiyo Eluay, tiba-tiba ia di hadang oleh tiga anggota Kopassus (Agus, Yadi, dan Sanusy) dengan memakai kendaraan Super Kijang.  

    Saat itu juga terlihat Danpos Kopassus Transat memakai Vespa, dan seorang anggota lagi memakai motor Trael. Seperti biasanya, sebelumnya (IN) berangkat berburu ia sudah lapor ke Pos Kopasssus di Desa Skow Sae (Transat) perumahan pansiunan TNI, yang dihuni oleh transmigrasi dari luar Papua maupun transmigrasi lokal.

    Dengan kejadian tersebut (IN) tidak sempat berburu dan langsung pulang dan tiba kampung Skouw kurang lebih pukul 23.30. Menurut (IN) kepada ELS-HAM Papua bahwa situasi malam itu sepertinya ada sesuatu yang aneh karena kelihatan mereka sangat sibuk. Tidak seperti bisanya, pos jaga saja ditinggalkan. Semua anggota Kopassus dikerahkan untuk siaga.

    Investigasi ELS-HAM Papua, di sekitar lokasi ditemukannya almarhum Theys menunjukkan keanehan. Yang jelas, para "penculik" dengan leluasa bergerak pada malam itu (lihat juga peta penculikan).

    Dari sketsa (peta) penculikan, mulai dari Markas Satgas Tribuana Kopassus, Hamadi, lokasi penculikan hingga tempat kejadian perkara (TKP) di Koya Tengah sangat jelas sekali para "penculik" dengan leluasa melewati sekitar 13 pos keamanan ataupun instalasi militer dan Polisi yang ada di Jayapura dan sekitarnya.

    Keterangan Para Saksi

    Sabtu, 10 November 2001 sekitar pukul 10.30 Wit, Komandan Satgas Tribuana (Kopassus) Kol. Inf. Hartomo datang sendiri menjemput almarhum Theys Hiyo Eluay, Ketua Dewan Presidium (PDP) di rumah dengan membawa kado Natal buat almarhum yang berisi baju kameja lengan pajang warna putih.  

    Almarhum Theys Hiyo Eluay berangkat dari rumah menuju Hotel Matoa sekitar pukul 11.00 Waktu Papua. Tujuannya, mengikuti rapat Presidium Dewan Papua (PDP ) di Hotel Matoa, Jayapura.

    Sekitar pukul 18.00 almarhum Theys sempat menelepon isterinya di rumah Sentani, bahwa dirinya langsung ke Hamadi untuk megikuti acara resepsi di Markas Kopassus Tribuana.

    Sekitar pukul 18.30, almarhum Theys dan sopirnya Aristoteles Masoka (23 thn) tiba di tempat acara resepsi peringatan Hari Pahlawan 10 November di Markas Kopassus Tribuana Hamadi, Kecamatan Jayapura Selatan, Kotamadya Jayapura.  

    Walau acara resepsi sedang berlangsung, sekitar pukul 21.30 Wit, almarhum Theys pamit pulang ke Sentani bersama sopirnya Aristoteles Masoka atau sering di panggil Aris dengan mobil pribadi almarhum bernomor polisi B 8997 TO.  

    Selang beberapa menit kemudian, sekitar pukul 22.10, sopir telepon dengan Handphone kepada Yaneke Ohee (40 thn) isteri almarhum Theys Hiyo Eluay, beritanya: "Kami sedang dihadang dan di sandera".

    Isteri-nya bertanya siapa yang sandera kamu? Sopir hanya menjawab, "Mama tolong beritahukan kepada bapak-bapak pendeta, jemaat, tolong doakan kami. karena saya dengan Bapak dalam keadaan bahaya! Kita punya Allah Papua itu Hidup!”. Dan suara telepon terputus hilang.

    Di sekitar lokasi Perumahan Pemerintah Daerah (Pemda) I Entrop-Jayapura, ada saksi yang melihat aksi penculikan terhadap Theys Hiyo Eluay. Menurut saksi ini, kira-kira pukul 21.45, mereka melihat sebuah kendaraan kijang yang berwarna gelap menghadang sebuah mobil kijang yang juga warna sama gelap (kemudian diketahui kendaraan itu milik alm. Theys H. Eluay).  

    Jarak pandang 2 meter, terlihat jelas tiba-tiba dua orang non-Papua, rambut lurus-pendek, berbadan kekar, warna kulit terang dan berpakaian hitam, turun dari kendaraan yang menghadang itu lalu memukul sopir Theys kemudian mencoba menarik sopir Theys keluar pintu.  

    Sopir Theys tetap memegang setir mobil dengan kuat, sehingga salah satu diantara kedua orang itu mendorong sopir alm. Theys ke dalam mobil dan naik mengambil alih setir langsung jalan. Pada saat itu mereka (saksi) melihat sebagian kaki dari sopir itu tergantung di luar mobil yang sedang dilarikan ke arah Abepura.

    Pada pukul 21.50 saksi lain yang membawa Aristoteles Masoka (23) sopir alm. Theys, bahwa sekitar 50 meter dari lokasi penculikan, saat mereka meluncur dari arah Abepura ke Jayapura dengan menggunakan mobil Carry (taksi/angkutan umum), melihat ada seseorang yang tergantung di sebuah mobil kijang berwarna gelap yang sedang melaju dari arah Jayapura ke Abepura.

    Saat itu sempat macet akibat kejadian tersebut. Melihat kejadian tesebut, maka sopir mobil Carry memberhentikan mobilnya sambil menyaksikan apa yang sedang terjadi.

    Setelah mobil kijang yang membawa orang yang tergantung itu lewat, dan terlihat berhenti pada jarak kurang lebih 50 meter, tiba-tiba orang yang tergantung itu terlepas jatuh dari mobil kijang dan berlari minta tolong kepada mereka (saksi).  

    Setelah orang itu dekat, mereka ketahui bahwa dia adalah sopir alm. Theys Hiyo Eluay. Mereka (para saksi) langsung membawa sopir Theys dan melaju ke arah Jayapura.  

    Selama dalam perjalanan, sopir Theys menjerit dan minta supaya dia diantar ke Markas Satgas Tribuana Kopassus di Hanurata-Hamadi. Atas permintaan Aristoteles (sopir alm. Theys), maka para saksi mengantar dia sampai di Markas Satgas Tribuana, Kopassus di Hamadi.  

    Mereka (para saksi) menurunkan Aristoteles sekitar 5 meter dari pintu masuk ke Markas/Satgas Kopassus dan saat itu mereka (para saksi) melanjutkan perjalanan ke Jayapura.

    Salah seorang saksi mata yang diundang sebagai penerima tamu pada acara peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2001 yang dihadiri oleh alm. Theys Hiyo Eluay, menerangkan kepada ELS-HAM bahwa kira-kira pukul 22.10 atau selang kurang lebih tiga puluh menit setelah alm. Theys Hiyo Eluay pulang, dia disuruh oleh beberapa anggota Kopassus untuk membereskan ruangan.

    Saat itu dia melihat seseorang masuk dirangkul oleh lebih dari dua orang anggota Kopassus dari arah pintu masuk menuju ke ruangan prajurit.  

    Ketika itu orang yang dirangkul itu menangis dan berkata" aduh…kalau ada apa-apa nanti saya yang bertanggung jawab kepada ibu. Ini mobil hilang, bagaimana ini".

    Melihat kejadian itu, anggota Kopassus langsung menyuruh kami pulang dari tempat tersebut pada saat itu juga. (Orang itu kemudian dikenal sebagai Aristoteles, sopir Theys Eluay).

    Minggu, 11 November 2001, pukul 09.00, keluarga menerima telepon dari Arthur Tombun, mantan Kapolsek Sentani yang memberitahukan bahwa mobil Theys Eluay ditemukan di Km 9 Desa Koya Kecamatan Abepura.  

    Pukul 14.35, tim investigasi ELS-HAM Papua, Polres Papua, Presidium Dewan Papua (PDP), LBH Jayapura, dan para wartawan berangkat ke Tempat Kejadian Perkara (TKP).  

    Sampai di lokasi ditemukan jenasah Theys di jok mobilnya dalam posisi duduk terletang dan kedua kakinya memanjang ke depan. Di bagian pusat perutnya ada bekas goresan merah lembab.  

    Lidahnya keluar tergantung. Ketika tim investigasi mencoba mengamati kondisi tubuh yang sekarat itu secara detail, aparat keamanan buru-buru menaikkan jenasah Theys ke mobil Ambulans menuju Rumah Sakit Umum Dok II Jayapura.  

    Operasi evakuasi mayat Theys di Tempat Kejadian Perkara (TPK) langsung di pimpin oleh Kapolres Jayapura, AKBP Drs. Daud Sihombing. Sopir pribadi Theys, Aristoteles Masoka (23 thn) juga diculik, hingga saat laporan diturunkan, belum ditemukan keberadaannya.  

    Pukul 16.15, di kota Sentani tempat kediaman almarhum terjadi amuk massa karena mendengar berita kematian Theys yang tidak wajar itu. Masyarakat yang sangat marah itu membakar 2 buah toko, 2 buah bank, 1 Apotek, dan 1 hotel. Untuk meredam aksi massa itu, aparat keamanan melepaskan beberapa kali tembakan.

    Rabu, 14 November 2001, menurut hasil otopsi dokter dari Lembaga Patologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia No. 200/IBS/SB/2001 menyatakan bahwa kematian Theys Hiyo Eluay tidak wajar dicurigai oleh karena pencekikan/pembengkakan. (BERSAMBUNG)



    Laporan ini dibuat oleh Elsham Papua, dan diterbitkan pada 13 Desember 2001. Judul aslinya "Laporan Awal Penculikan dan Pembunuhan Theys Hiyo Eluay Terencana dan Bermotif Politik". Laporan ini diedit ulang oleh Oktovianus Pogau. Untuk mengetahui lebih jauh lembaga Elsham Papua silakan kunjungi website lembaga "Elsham Papua"

    Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian II)

    Pelanggaran Hak Asasi Manusia

    Melawan Lupa; Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian II)

    Melawan Lupa; Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian II)
    Theys Hiyo Eluay, pemimpin polik bangsa Papua Barat yang dibunuh Kopassus (Foto: Ist)
    Pada 11 November 2001, tepatnya 13 tahun yang lalu, Pemimpin Besar Bangsa Papua Barat, Dortheys Hiyo Eluay, ditemukan tewas di Kilo Meter 9, Koya, Muara Tami, Jayapura. Belakangan diketahui, Komando Pasukan Khusus telah menculik dan membunuhnya. Dibawah ini laporan lengkap bagian kedua yang disusun Elsham Papua.
    Oleh: Elsham Papua*

    Profil Theys dan masa-masa menjelang kejadian 10 November 2001

    Unsur lainnya adalah tindakan yang luar biasa yang ditujukan aparat kepada sekelompok atau seseorang penduduk sipil. Secara khusus dalam kasus Theys, terlihat sekali bagaimana penculikan dan pembunuhan dengan perencanaan yang sangat matang dan rapih.

    Profil Theys sebagai tokoh sipil, sekaligus tokoh adat yang berpengaruh dijadikan sasaran karena berseberangan dengan pemerintah Jakarta.

    Karakter Theys Hiyo Eluay memang penuh kontroversi. Sepertinya ia memiliki dua wajah, yakni wajah "se-olah-olah pro pemerintah Indonesia" dan sekaligus "wajah Pro Papua Merdeka".

    Kepada pihak pemerintah Indonesia, ia lihai tampil berbicara dengan "bahasa budaya", sedang kepada massa rakyat Papua ia tampil mendorong dengan "bahasa politik".

    Yang sering ditekankan oleh Theys adalah perjuangan secara damai dan dalam koridor sopan santun dan cinta kasih. Pada Oktober 1999 atas nama tokoh adat dan Ondofolo Besar, Sereh, Sentani, dan Ketua Lembaga Musyawarah Adat Papua dia mengangkat Yorris Raweyai sebagai Ketua Lembaga Musyawarah Adat (LMA) cabang Jakarta.

    Ketika ide Papua Merdeka muncul semarak seantero tanah Papua, bersama Yoris Raweyai, (Ketua Pemuda Pansila) mendeklarasikan ide "One Nation, Two Systems" bagi masa depan rakyat Papua, pada Agustus 1998, di Gedung Bank Pembangunan Daerah (BPD) Provinsi Papua.

    Theys juga terlibat dalam Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera 1969). Di zaman Orde Baru, ia anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dari Fraksi Karya Pembangunan dalam tiga periode.

    Namun setelah tidak dicalonkan lagi pada pemilihan umum 1996, dia kembali bersuara keras tentang kemerdekaan Papua. Puncaknya terjadi ketika Theys bersama rakyat Papua menyatakan dekrit dan mengibarkan bendera Bintang Kejora pada 1 Desember 1999 dan 1 Mei 2000.

    Dia juga menandatangani komunike politik pada Musyawarah Besar Dewan Papua di Jayapura, 23-24 Februari 2000. Dan pada 29 Mei-4 Juni 2000 dia mengelar Kongres Nasional II Rakyat Papua Barat, atau yang dikenal sebagai Kongres Rakyat Papua, di Jayapura. Sekitar 3000 orang Papua dari berbagai wilayah menghadiri peristiwa bersejarah tersebut.

    Pada saat pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) otonomi khusus bagi provinsi Papua oleh DPR RI di Jakarta 20 Oktober 2001, Theys dan Presidium Dewan Papua ikut hadir.

    Mereka secara tegas menolak undang-undang Otonomi Khusus ini melalui gerakan damai. Ketika itu, kepada wartawan berkali-kali almarhum Theys mengatakan, “Otonomi Khusus bukan urusan saya. Saya tak mau menerima ide Otonomi. Saya hanya berpikir soal Papua Merdeka.”

    “Alasannya, pertama, karena kami lah yang punya kekayaan. Pemerintah yang harus meminta kepada kami agar menyerahkan kekayaan. Kemudian mereka membaginya, 80 persen untuk kami dan 20 persen untuk pemerintah pusat." 

    "Kami yang mestinya membaginya. Kedua, di Kongres Rakyat Papua II, rakyat tidak memberi mandat otonomi khusus. Jadi, yang harus kami lakukan mengupayakan agar kemerdekaan dikembalikan,” kata Theys saat itu.

    Kepada Tempo Oktober 2001, Theys dengan tegas mengatakan bahwa PDP adalah representasi seluruh rakyat Papua kecil-besar, tua-muda, lelaki-perempuan, yang tinggal di dalam atau di luar negeri, yang hidup atau pun yang mati, semua menghendaki kemerdekaan Papua.

    “Hanya segelintir yang tidak demikian, orang-orang semacam Freddy Numberi yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka menipu diri sendiri, bangsa Papua, dan juga menipu Tuhan,” kata Theys.

    Di Jakarta, para elit bersemangat dengan pengesahan RUU otonomi khusus, tetapi di tanah Papua sendiri sejak Oktober sampai November 2001 ada operasi gabungan antara TNI-POLRI pada malam hari untuk menjaga kemanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di wilayah hukum kota Jayapura dan sekitarnya.

    "Patroli Garnizun", istilah yang sering dikenal dalam suatu operasi siaga-darurat ini melibatkan berbagai komponen institusi aparat keamanan dari jajaran Polri dan TNI.

    Operasi ini mirip dengan "operasi jam malam". Menurut hasil monitoring ELS-HAM Papua, operasi ini melibatkan TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Kopassus. Di kota Sentani dan sekitarnya, tempat tinggal (alm) Theys Hiyo Eluay, operasi ini melibatkan Batayon Infantri 751 yang bermarkas di Polomo, Sentani.

    Dampak operasi ini menyebabkan masyarakat kota Jayapura dan sekitarnya resah dan takut keluar malam. Beberapa warga terutama dari kalangan muda yang kedapatan keluar malam ditangkap dan diangkut dengan truk miliki tentara dan mobil patroli ke pos-pos militer atau polisi terdekat.

    Ironisnya, almarhum Theys Hiyo Eluay, Ketua Presidum Dewan Papua (PDP) diculik 10 November 2001 malam pukul 21.45 di tengah keramaian kota Jayapura dan akhirnya dibunuh.

    Berdasarkan investigasi, ELS-HAM Papua mendapat informasi dari (DW) yang merupakan salah satu kurir TW yang selama ini bekerjasama dengan Kopassus mengatakan bahwa pada 29 Oktober 2001, bertempat di kantor cabang milik CV. Megapura Arso I, Jl. Trans Irian, mereka rapat bersama Kopassus.

    Salah satu agendanya adalah "rencana perlakuan jam malam" di daerah Koya Timur, Tengah, dan Koya Barat. Alasannya adalah Kopassus sedang mencari seorang anggota TPN (Tentara Pembebasan Nasional) yang membuat onar di Koya.

    Berdasarkan hasil rapat tersebut, TW dimintai untuk menyampaikan kepada warga masyarakat yang lain untuk tidak boleh keluar malam di atas pukul 21:00 - 06:00.

    Selama 3 minggu patroli jam malam ini dilakukan oleh Polisi dan Koramil setempat, Satuan Tugas (Satgas) Kodam I Bukit Barisan/126 yang berada di daerah Arso, Muara Tami.

    Pengumumam dimaksud baru akan dicabut sambil menunggu keputusan selanjutnya sesuai situasi dan kondisi keamanan wilayah. Patroli gabungan ini menandakan adanya semacam isolasi wilayah di sekitar tempat kejadian perkara.

    Seminggu sebelum peristiwa penculikan dan pembunuhan Theys H. Eluay ada isu "Dracula". Isu ini muncul dari para pemilik warung makan di sekitar Kota Raja, 1 kilometer dari arah lokasi penculikan dan 29 kilometer menuju arah ditemukannya mayat Theys Hiyo Eluay di Koya Tengah.

    Koran Cenderawasih Pos edisi 8, 9, 10 November 2001 memuat isu aksi "Dracula" secara berturut-turut. Akibat berita "Drakula" tersebut kebanyakan warga panik, terutama keluarga pemilik warung. Isu "Drakula" memang benar-benar meneror publik kota Jayapura, Abepura dan sekitarnya agar tidak keluar malam (BERSAMBUNG)



    *Laporan ini dibuat oleh Elsham Papua, dan diterbitkan pada 13 Desember 2001. Judul aslinya "Laporan Awal Penculikan dan Pembunuhan Theys Hiyo Eluay Terencana dan Bermotif Politik". Laporan ini diedit ulang oleh Oktovianus Pogau. Untuk mengetahui lebih jauh lembaga Elsham Papua silakan kunjungi website lembaga "Elsham Papua"

    AKSI TEROR OLEH APARAT KEAMANAN INDONESIA DI WAMENA, PAPUA BARAT

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta Watikam Crew

    AKSI TEROR OLEH APARAT KEAMANAN INDONESIA DI WAMENA, PAPUA BARAT

    Photos of Indonesian Military Terror West Papuan05Activis Independence Papua Barat melaporkan dari Wamena bahwa Aparat Keamanan Indonesia telah dan sedang melakukan terror yang berlebihan di lingkungan masyarakat Asli Papua di Wilayah Pegunungan Tengah Papua, dimana menggunakan Panser dan semua jenis peralatan perang.

    Teror ini dilakukan dengan cara pawai keliling kota Wamena dengan menggunakan perlatan perang, layaknya di medan perang. Hal ini telah dan sedang dilakukan di beberapa kota di Pegunungan Tengah Papua, yang antara lain Lanny Jaya, Tolikara, Puncak Papua, Yalimo, Yahukimo, Ndugama, dan Wamena kota sendiri.

    Dengan aksi teror ini, Aparat Keamanan Indonesia juga telah dan sedang melakukan penangkapan sewenang-wenang terhadap masyarakat asli Papua di pegunungan Tengah Papua. Penangkapan ini diluar prosedur Hukum, tanpa mengikuti aturan-aturan hukum sebagaimana lasimnya.

    Dalam aksi ini, Aparat Keamanan Indonesia telah menangkap 30 orang masyarakat sipil di Bolakme dan sampai saat yang kami menulis laporan ini masih di tahan tanpa alasan katanya dalam article yang telah dikirim kepada Admin KOMNAS-TPNPB.NET pada Senin 20 October 2014.

    Dilaporkan juga bahwa Aparat Keamanan Indonesia melakukan patroli dari pagi hingga malam atau 24 jam setiap hari, yang mengakibatkan masyarakat Asli Papua di Pegunungan Tengah Papua tidak bebas dalam melakukan activitas sehari-hari.

    Faktanya boleh lihat dalam gambar yang Activis Independence kirim ke Admin KOMNAS-TPNB terlampir. Photos itu membuktikan bahwa Aprat Keamanan indonesia telah dan sedang melakukan teror yang berlebihan di Masyakarat Asli Papua di Pegunungan Tengah Papua Barat. Dilaporkan langsung dari Wamena, oleh Activis Independence Papua Barat (SB).

     Lampiran Photos Teror Aparat Keamanan Indonesia terhadap Orang Asli Papua di Pegunungan Tengah Papua Barat (Appendix Photos of  Indonesian Security Forces  Terror of the Papua native to the Central Highlands of West Papua)
    Photos of Indonesian Military Terror West Papuan02
    Photos of Indonesian Military Terror West Papuan02
    Photos-of-Indonesian-Military-Terror-West-Papuan03.jpg
    Photos-of-Indonesian-Military-Terror-West-Papuan03.jpgPhotos of Indonesian Military Terror West Papuan06
    Photos of Indonesian Military Terror West Papuan06
    Photos of Indonesian Military Terror West Papuan05
    Photos of Indonesian Military Terror West Papuan05   
    Publishing by Admin Komnas-TPNPB 2013

    KRIMINALISASI TERHADAP GUSTAF KAWER MEMBUNGKAM DEMOKRASI DI PAPUA


    KMSPHHP

    Sungguh ironis dan sangat mengerikan, ketiga melihat pembungkaman ruang demokrasi, kriminalisasi terhadap terhadap aktivis HAM Gustaf Kawer, diskriminasi rasial , pambatasan terhadap hak sipil dan hak politik terus dibungkam di Papua Barat.

    Gustaf Kawer satu-satunya Pengacara papua yang selama ini menjadi pahlawan bagi rakyat sipil di papua, kini dikriminalisasi oleh pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan aparat kepolisian dengan skenario yang disusun sedemikian rupah untuk menjeroboskan Pembela HAM Gustaf Kawer di penjara. Sesungguhnya Gustaf Kawer tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum seperti yang ditudukan oleh PTUN melalui surat pengaduan kepada kepolisian dareh Polda Papua.

    Sebab Pada tanggal 12 Juni 2014, sekitar jam 10.30 WIT berlangsung sidang putusan perkara dengan Nomor : 39/G/2013/PTUN.JPR di pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura. Gustaf Kawer telah melakukan komunikasi dengan panitera atas nama Ade Rudianto, agar persidangan ditunda selama satu minggu, karena Gustaf Kawer juga harus mendampingi klien dalam persidangan lain, yang dilaksanakan pada waktu yang sama di Pengadilan Negeri Klas IA Jayapura.

    Karena Persidangan di PTUN tersebut mengagendakan pembuktian terdakwa, yang sangat menentukan pada keputusan, maka agenda persidangan tersebut wajib dihadiri oleh advokat, yang memberikan perhatian serius terhadap kliennya.

    Namun permohonan penundaan persidangan tersebut ditolak lewat sms dengan alasan penggugat prinsipal sudah berada di dalam ruang sidang, maka Gustaf Kawer langsung datang ke pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura, untuk meminta menghentikan pembacaan keputusan oleh majelis hakim. Gustaf Kawer merasa bahwa, tindakan majelis hakim tidak adil karena selama persidangan perkara tersebut pihak majelis hakim mengabulkan tiga kali permohonan penundaan persidangan yang diajukan oleh pihak tergugat melalui sms.

    Saat Gustaf Kawer masuk ruang sidang, Majelis Hakim yang memimpin persidangan sedang membacakan putusan. Sambil berjalan ke arah majelis hakim, Gustaf Kawer meminta dengan tegas agar majelis hakim tidak melanjutkan pembacaan putusan dan menghargai permohonan penundaan sidang, seperti yang telah dilakukan terhadap permohonan pihak tergugat dalam agenda proses pembuktian. Hakim tetap melanjutkan persidangan dan memerintahkan Gustaf Kawer keluar meninggalkan ruang sidang.

    Pada hari Jumat, tanggal 22 Agustus 2014, sekitar jam 18.00 WIT kepolisian daerah Papua datang ke rumah pribadi Gustaf Kawer, mengantar surat panggilan polisi NO. Sp. Pgl / 668 / VIII / 2014 / Dit Reskrimum tertanggal 19 Agustus 2014. Gustaf Kawer dipanggil untuk pemeriksaan pada tanggal 25 Agustus 2014, jam 10.00 WIT, sehubungan dengan dugaan tindak pidana “Kejahatan Terhadap Penguasa Umum” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 211 dan 212 KUHP. Atas protes Gustaf Kawer terhadap hakim yang memimpin sidang pada tanggal 12 Juni 2014 di Pengadilan Tata Usaha Negara.

    Surat panggilan dari POLDA Papua tertanggal 19 Agustus 2014, Gustaf Kawer tidak memenuhi panggilan tersebut, sebab pemanggilan tidak sesuai prosedur, karena penyidik POLDA Papua menyurati secara langsung dan tidak melalui lembaga Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), sebagaimana diatur dalam MoU antara Kepolisian Republik Indonesia dan perhimpunan Advokat di Indonesia tentang “Proses Penyidikan Yang Berkaitan Dengan Pelaksanaan Profesi Advokat”.

    Jika melihat dari kronologis tersebut kita simpulkan bahwa, kriminalisasi terhadap Advokat hukum Gustaf Kawer adalah sebuah konspirasi PTUN dan kepolisian menyusun sebuah skenario membungkam penegakan hukum terhadap rakyat sipil di Papua, pada umumnya lebih khusus kriminalisasi terhadap Gustaf Kawer yang selama ini mengadvokasi aktivis Papua merdeka dan rakyat sipil.

    Realita hari ini hukum di negeri ini tajam ke bawa dan tumbul ke atas, hukum bisa dibeli dengan rupiah yang lemah dihukum seberat-beratnya sedangkan yang kuat kebal dengan hukum dan yang benar dapat disalahkan dan yang salah dapat dibenarkan ironis bukan….!!

    Kriminalisasi terhadap organisasi gerakan kriminalisasi terhadap advokat hukum atau aktivis HAM menadakan adalah salah satu upaya Negara membungkam kebebasan hak berexpresi bagi rakyat sipil di Papua Barat.

    Sebuah pertanyaan yang patut kita tanyakan adalah, Masih adakah keadilan, kebenaran, kebebasan berexpresi, penegakan hukum dan ruang demokrasi di negeri ini ? jika tidak, apa artinya disebutkan Negara demokrasi dan Negara hukum, pada kenyataanya lembaga penegag hukum dan intitusi Negara terus kriminalisasi terhadap aktivis HAM dan membungkan hak demokrasi serta hak berexpresi di bumi cendrawasih.
    Apakh kita harus diam tunduk dibawa kaki penguasa ? Jika kita diam dan bisu maka siapakah yang akan datang memberikan pertolongan, ?

    Gustaf Kawer satu-satu pengacara Papua yang berani dengan menaggung berbagai resoko membela Rakyat sipil dan aktivis Papua kini mau dikiring ke pores hukum untuk membatasi ruang gerak advokasi terhadap rakyat sipil, mengapa kita harus diam terlena dalam irama penindasan. Jika Gustaf Kawer kriminalisasi dengan alasan yang tidak jelas, dan natinya Gustaf dipenjarakan oleh PTUN dan kepolisian maka siapa lagi yang akan mengadvokasi rakyat membela penegakan hukum di Papua ?

    Gustaf Kawer ditangkap dan selanjutnya di penjarakan maka tidak ada lagi pengacara yang berani mengadvokasi rakyat sipil dan aktivis Papua yang selalu menghadapi poroses hukum yang tidak adil, penagkapan sewenag-wenag oleh aparat kepolisian dengan stikma Kriminal, Makar, GPK, OPM separatis dan lain-lain.

    Kriminalisasi teror intimindasi terhadap aktivis HAM di Papua bukan baru pertama kali terjadi namun, sering kali dan kerap dilakukan, ada beberapa pengacara seperti Olga Hamadi, ibu Anum Siregar dan advokat lainya juga seringkali mendapatkan terror melalui sms gelap intimidasi.

    Hal sama kini dialami oleh Gustaf Kawer, hal ini merupakan bentuk diskriminasi pembungkaman demokrasi dan kriminalisasi terhadap pembela HAM di Papua Barat.

    Oleh karena itu dukungan moril dan solidaritas, Kontribusi sumbasi pikiran serta keterlibatan penuh dari Bapa Ibu, saudara/i Pimpinan Gereja pimpinan organisasi pos moral, organisasi gerakan, gerakan mahasiswa, masyarakat adat, Aktivis HAM, Aktivis Papua Merdeka, gerakan perempuan dan seluruh komponen rakyat Papua Barat dari Sorong sampai merauke, sagat dibutuhkan oleh Gustaf Kawer untuk mendesak PTUN cabut surat pengaduan ke polda papua dan mendesak Polda Papua hentikan surat pemanggilan, serta penyelidikan terhadap Gustaf Kawer selanjutnya sagat bermanfaat demi keberlangsungan demokrasi dan penegakan HAM di Papua .

    Demikian Seruan umum Atas perhatian dan partisifasi dari bapa Ibu saudara/i sekalian tak lupa kami haturkan berlimpah terima kasih Tuhan yesus memberkati kita semua di Tanah Papua.


    Sumber: FB Ones Nesta Suhuniap
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif