Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

    ‘Abepura Berdarah’ Diperingati Mahasiswa Dalam Bentuk Aksi

    Mahasiswa Uncen Seminarkan Kegagalan Otsus di Papua

    Mahasiswa Uncen Seminarkan Kegagalan Otsus di Papua

    by Papua Post
    JAYAPURA, SUARAPAPUA.com --- Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih menggelar seminar sehari mengenai kegagalan implementasi Otonomi Khusus di Tanah Papua. Seminar bertajuk “Mengawal Pembangunan Dalam Era Otonomi Khusus di Tanah Papua”, diadakan di auditorium Uncen, Senin (23/3/2015) pagi. Ketua panitia seminar sehari, Onesimus Heluka menjelaskan, kegiatan ini bertujuan membedah persoalan secara ilmiah…
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Mahasiswa Papua Ditemukan Tewas di Pinggir Jalan

    Mahasiswa Papua Ditemukan Tewas di Pinggir Jalan


    BANDUNG --  Seorang mahasiswa asal kabupaten Timika Papua, bernama Welinus Magai yang saat ini sedang menimba Ilmu di kota studi Bandung, di temukan tewas dan jasatnya tergeletak di pinggir jalan raya cipacimg jatinanggor kabupaten Sumedang pada pukul 01 malam dini hari, di lehernya terkena semacam tusukan sangkur dan motor korbannya sedang di parkir di pinggir jalan.pada saat kejadian itu tdk ada warga yang melihat hal itu .

    Menurut temannya Aminus Tinal, bahwa ada dua orang lelaki yang lewat pas di depan IPDN Jatinaggor memakai sepeda motor berpakianan jaket hitam, celana panjang hitam mengatakan bahwa ada teman kamu yang kecelakan di pinggir jalan . Dan kedua orang itu menelpon patroli untuk amankan jasatnya Di rumah sakit. Temannya ini lambat ke tempat kejadin. Polisi sudah duluan amankan W.M. saudara nya Aminus Tinal sampai di tempat kejadian jasatnya tidak ada, yang ada hannya motor .ketika Aminus Tinal teman korban, bertannya kepada warga kata warga Korban itu sudah meninggal lalu di aman kan polisi ke RS AMC. Hasil olah TKP dari Polisi setempat ,menyatakan Kecelakaan Tunggal, ketika teman-temannya  bertanya lg kepada keluarga terdekatnya, mereka menyangka bahwa hal kejadian ini bukan kecelakan tapi pembunuhan berenca oleh OTK karena tidak ada bekas luka gores satu pun di badannya, yang ada hanya  tusukan sagkur. Kejadian ini masih di selidiki oleh polres jatinanggor dan sumedang. [ney]

    Sumber:  https://www.facebook.com/PapuaCheko
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Oknum Polisi Membunuh Mahasiswa Papua di Makassar Selatan

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online


    PEDULI MAHASISWA PAPUA DI MAKASSAR,
    Peduli  Mahasiswa Papua di minta Kronologis Kejadian secara Akurat sesuai di Tempat Kejadian, dan  Kembali melakukan Pengecekan dan meminta keterajan terjadinya masalah ternyata Media-media yang dikeluarkan ternyata tidak sesuai dengan Fakta Kejadian Di Asrama Papua Di Makassar yang terletak di Jalan Mappala, Kecamatan Rappocini.


    Ada media New.Okezone.com dan New.liputan6.comdikeluarkan berita bahwa diserang oleh sejumlah orang tak dikenal itu tidak sesuai beritanya sehingga Kami kembali melakukan pembenahan berita.
    Akibatnya, satu penghuni bernama Carles Sihumbi terkena tikaman di bagian perut Oleh Oknum Polisi dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Faisal untuk mendapat perawatan medis.

    Sudarah yang bernama Charles Enombi telah menghembuskan napas terakhir Pada Rabu 25 November 2014, pukul 19:20 Wita  di rumah sakit Faisal jl.petterani makassar, Pelaku yang ditikam Almarhum Charles Enombi adalah oleh OKNUM POLISI, pada malam sabtu lalu. Kejadian tersebut,pada malam sabtu preman bersenggongol dengan polisi kemudian datang serang dikontrakan Kabupaten Nduga terletak di jln.petterani depan rumah sakit Faisal,pukul 03:45 ada beberapa polisi sengaja berpura-pura panggil keluar dan menanyakan kejadian lalu ada oknum polisi datang dari belakang dan menikam korban tersebut dibagian tangan tembus ke bagian Perut. Kemudian setelah kena tikaman oleh polisi Kemudian Alma. Charles Enombi sendiri langsung larikan ke rumah sakit tanpa diberitahu teman-temannya diasrama karena sudah tidak bisa dikendalikan diri.
    Berobat selama dua hari dua malam Namun sayangnya tidak tertolong dan  pada akhirnya menghembuskan napas terakhir.  karena kena racun badik yang menggunakanya. Sampai hari ini seluruh mahasiswa papua kumpul dan memintah bertanggung jawab dari pihak Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan Dan Polda Sulawesi Selatan, dan Mahasiswa Papua yang ada di kota Studi Makassar dari Sorong Sampai Samarai Menilai pembunuhan ini sangat tidak wajar karena datang serang tanpa ada Penyebab yang jelas. (Mahasiswa Papua Di Makassar Dan Frans E)
    Laporan : P.  Lokon

     photo burungrastacopy_zpsde5488d6.jpg

    ZAMAN INI MENUNTUT MAHASISWA MENULIS



    Bastian Tebai (foto Pdibadi fb)
    Oleh Topilus B. Tebai #

    Ini beberapa dialog yang saya ikuti.
    “Ah, sob, sa trada bakat di bagian situ jadi, kamu lanjutkan saja,” kata Mikha (bukan nama sebenarnya). 
    “Tra menulis juga kita hidup moo. Jangan saling paksa untuk menulis. Semua mahasiswa to, jadi atur masing-masing,” begitu komentar Jack (bukan nama sebenarnya) dalam sebuah diskusi soal tulis menulis.
    “Kita itu bukan butuh orang yang jago tulis-tulis di media massa. Kita itu butuh orang yang kerja di lapangan, turun ke jalan,” kata seorang aktivis ketika seorang rekan mengajak penjelasan lisannya dituliskan dalam bentuk tulisan untuk ditawarkan kepada media-media online agar dibaca publik.
    “Mantap. Tingkatkan adik-adik.” Itu saja komentarnya ketika ditawari membeli sebuah majalah yang dibuat oleh anak-anak Papua di tanah rantau dua hari yang lalu. Kakak itu bahkan tidak punya gairah untuk membeli. Jangankan membeli, membuka lembar demi lembar, sekedar untuk melihat pun tidak. Cover luar mungkin sudah cukup baginya.
    Potongan-potongan dialog di atas saya kira telah mewakili sebagian kecil dari gambaran realita hidup mahasiswa Papua ketika bersentuhan dengan kalimat ‘tulis menulis’.
    ***
    Ketika membuka facebook, saya dapati banyak mahasiswa Papua cukup up to date dengan perkembangan tanah Papua saat ini, perkembangan Indonesia dan dunia. Hal ini tercermin dari artikel dan berita yang dibagikan melalui facebookdan twitter.
    Mahasiswa Papua cenderung lebih suka membagi masalah-masalah hak asasi manusia seperti pelanggaran HAM di Papua, mengenai Persipura dan sepakbola, dan mengenai kekayaan alam Papua dan eksploitasinya.
    Banyak mahasiswa Papua yang memaki, marah atas kekeliruan penulisan dan perekayasaan fakta di media-media nasional atas peristiwa-peristiwa -terutama yang bersentuhan dengan hak orang Papua untuk menentukan nasib sendiri- yang terjadi di tanah Papua. Mahasiswa marah karena tahu, fakta yang terjadi tidak seperti yang ditulis sang penulis. 
    Di beberapa tulisan yang dibuat oleh anak muda Papua, banyak dari kita yang terlihat cukup pandai dengan memberi komentar mengenai apa yang ditulis. 
    Beberapa dari kita merasa ‘nyaman’ dengan cukup menunggu artikel dan berita yang dihasilkan beberapa media online untuk kemudian dicopy paste ke blog milik pribadi dengan atau tanpa menyertakan sumber. Dari blognya, kemudian artikel itu dibagikan kepada publik melalui facebook dan twitter.
    Di majalahselangkah.com misalnya, beberapa mahasiswa Papua mengirim tulisan yang cukup ‘wah‘. Setelah dilacak melalui internet, banyak tulisan yang ternyata adalah hasil copy paste karya orang lain. Ini plagiat. Bisa kena hukuman karena melanggar hukum.
    Beberapa dari kita sibuk mengambil potongan-potongan kalimat dari beberapa tokoh orang Papua dan dibagikannya kepada publik, tanpa menilai dahulu apakah kalimat yang terucap dari sang tokoh masih relevan untuk dikonsumsi publik, cenderung ambigu bila dipotong dan disendirikan, sehingga apakah bertentangan atau tidak dengan eksistensi dan pendirian sang tokoh di tengah gejolak sosial politik ekonomi di Papua. Ini sepele, tetapi dapat mengubah mindset publik soal elektabilitas tokoh.
    Sementara yang lain bahkan fokus hanya untuk kuliah. Hidup selama minimal 4 tahun kuliah hanya diabdikan untuk ke kampus, belajar, tidur dan makan, sehingga akhirnya lupa diri dengan tugasnya sebagai mahasiswa, menjalankan aspek lainnya dari Tri Dharma Mahasiswa.
    ***
    Kondisi sosial-politik-ekonomi dan budaya di Papua dengan cepat berganti rupa. Zaman sedang bergerak. Perubahan sedang terjadi. Tahukah Anda kemana arah gerakannya? Bagaimana bila perubahan itu mengarah kepada kehancuran?
    Tugas mahasiswa Papua adalah mengarahkan perubahan itu ke arah yang baik. Menentukan arah yang baik dan yang tidak baik yang harus dijauhi juga adalah tugas mahasiswa. Mahasiswa bertugas mengobarkan api demokrasi dengan menjadi corong suara rakyat.
    Saluran untuk itu semua yang paling baik adalah menulis. Dengan menulis, ide-ide konstruktif kita akan dikonsumsi publik, kritik dan pendapat kita akan mengawal pembangunan, tulisan kita menjadi corong suara rakyat. Mahasiswa mesti mengkritisi sistem dan birokrat yang kapitalistik dan cenderung pro pusat dan pemodal- bila itu memang terjadi.
    Mahasiswa harus bangun dan mulai mengisi ruang-ruang yang disediakan media-media milik orang Papua dengan menulis. Mahasiswa harus sadar diri dan meningkatkan minat baca dan tulis. 
    Dan satu lagi, mahasiswa dituntut untuk sadar bahwa menulis itu proses, bukan bakat. Meminjam kalimat Yermias Degey, “Tak ada seorang ibu di dunia ini yang melahirkan seorang penulis”.
    Mahasiswa dituntut sadar diri dengan statusnya sebagai mahasiswa, untuk kegiatan copy paste berita dan atau artikel dan posting ke blog pribadi karena hanya akan menjadi pupuk penyubur budaya malas tulis dan instan. Mahasiswa Papua dituntut menulis sendiri, dan tidak plagiat.
    Mahasiswa Papua sebagai kaum terdidik mesti bangkit mendidik rakyat dengan menganalisa kondisi terkini dan ramalan akan hari esok, dan menyampaikannya dalam bentuk penyampaian lisan dan tertulis yang enak diterima. 
    Ini semua tugas kita, karena kita mahasiswa Papua sebenarnya punya kewajiban menjalankan jawaban dari pertanyaan ini: “Ingin dibawa kemana Papua ini?”
    ***
    Zaman yang sedang bergerak menuntut mahasiswa Papua untuk menulis. Menulis apa yang dilihat, dialami, dirasakan, didengar. Menulis itu kegiatan reflektif. Kita dituntut banyak membaca. 
    Bagaimana menulis? Banyak buku dan sumber yang dapat menjadi rujukan mahasiswa. Yang dibutuhkan mahasiswa adalah kemauan dan tekad.
    Sudah saatnya kita dengan tegas mengatakan akan menegur para penulis berita dan artikel di media nasional yang menulis berita yang kita pikir direkayasa itu dengan menyajikan yang sebenarnya terjadi, dan bukan lagi dengan mengomentari singkat dan memaki di facebook dan twitter. 
    Ingat kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Jika umurmu tidak sepanjang umur bumi, sambunglah dengan tulisan”. Sejarah bangsa harus lahir dan diukir dan ditulis oleh anak bangsa sendiri.
    Ini kata-kata Adolf Hitler, pimpinan Nazi Jerman pada Perang Dunia II, “Saya tidak takut pada ujung senjata. Saya hanya takut pada ujung pena.”
    Topilus B. Tebai, Mahasiswa Papua, Penulis di majalahselangkah.com.
    Sumber : http://majalahselangkah.com/content/zaman-menuntut-mahasiswa-menuli

    Telah Terjadi Pelanggaran HAM Kepada Massa AMP Yang Dilakukan Oleh FKPM dan Polisi Indonesia

    Yogyakarta: Telah Terjadi Pelanggaran HAM Kepada Massa AMP Yang Dilakukan Oleh FKPM dan Polisi Indonesia


    Foto: Pembacaan pernyataan sikap AMP di titik nol kilometer/Dok. AMP
    "Demo Damai, Satu Negosiator Aksi dan Tiga Massa AMP Luka – Luka Dilakukan oleh FKPM dan Polisi Indonesia."

    Ratusan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) melakukan aksi demontrasi damai mendukung pernyataan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) mengenai “peringatan, stop! Pemekaran “ dan menolak hasil Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA), 02 Agustus 1969, penutupan hari Pepera, sabtu (02/08/2014) waktu siang.

    Demo Damai dimulai Pukul 09:00 Waktu Yogyakarta (WY), Long March dari Rumah Adat, Asrama Papua menuju titik nol kilometer Yogyakarta. Kamis, 6 Agustus 2014.

    Pada Pukul 09:30 WY, AMP dihadang oleh Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) di depan Taman Makam Pahlawan Kolonial Indonesia, tepatnya di pertigaan lampu merah, butuh sekitar belasan menit untuk tiba dari Rumah Adat.

    Sebelumnya, Negosiator aksi demo melakukan negosiasi kepada kepolisian. Dan kepolisian bernegosiasi kepada FKPM. Hasilnya, FKPM tidak bisa membubarkan barisan yang sedang memblokade jalan.

    “Sebagaimana sesuai aturan main negara yang berlandaskan Hukum dan berdemokrasi, AMP telah memberikan surat izin dan Polisi pun membalas, meresponi baik. Jadi, kami minta! Apakah ada dasar hukum dari FKPM? Tunjukkan ke kami,” kata Negosiator aksi demo, Roy Karoba dan disusul Aldy Uaga.

    Pihak kepolisian menanggapi dan menyuruh AMP untuk tidak melanjutkan aksi Long Marchmenuju titik nol kilometer. Namun, menyuruh AMP agar gelar aksi damai di tempat pem-blokade-an oleh FKPM dan Polisi sendiri.

    “Kami telah melakukan negosiasi dengan Pimpinan FKPM dan mereka tidak bisa bubarkan diri,” kata Pihak Kepolisian.

    Lanjut Polisi, mereka juga sedang melakukan sebuah kegiatan dan bertepatan dengan Mahasiswa Papua.

    Tim negosiator dari AMP memberikan waktu lima menit untuk pihak kepolisian segera bubarkan penghadangan FKPM. FKPM pun menolak dan tetap memblokade.

    Pukul 10:00 WY, AMP menabrak pemblokadean FKPM dan Polisi.

    Sesaat setelah menabrak pemblokadean, FKPM melepaskan beberapa pukulan, memicu perkelahian. Sekitar 30 menit lamanya perkelahian antar gabungan FKPM dan Polisi dengan massa AMP.

    Gabungan FKPM dan Polisi berhasil memukul, menusuk, menembak, dan hampir menabrak massa AMP dengan menggunakan Motor Sabara. AMP pun melakukan perlindungan demi menuju titik nol kilometer.

    Terlihat tiga truk Polisi, dua mobil Polisi jenis kijang dan belasan Motor Sabara Polisi berlalu-lalang mengiringi perjalanan AMP. Polisi di Motor Sabara membawa; Karet Mati, Pistol peluru karet, dan Tembakan Gas Air Mata. Sedangkan, FKPM membawa; Batu, Besi dan piso.

    Kendaraan yang digunakan Polisi awalnya diparkir di depan Rumah Adat hingga sepanjang jalan menuju titik nol.

    Tiga massa aksi dan satu negosiator aksi AMP mengalamai luka – luka yang dilakukan oleh FKPM dan Polisi.

    Nama-nama Korban
    1  1. Agustina Batangga, Perempuan (21 Tahun), mahasiswa papua.

    FKPM memukulnya dengan besi berukuran: Diameter, sekitar 10 cm. Dan panjang, sekitar 1,5 m. Di bahu kiri dan korban mengalami luka bengkak, memerah.

        2. Roy Karoba, Laki-laki (24 Tahun), negosiator aksi.

    FKPM membacok dengan piso di Leher. Luka tusukan mendekati urat nadi.

        3. Yanto Tebai, Laki-laki (19 Tahun), mahasiswa papua.

    Polisi menginjak tangannya ketika hendak jatuh dengan laras. Luka injak di Jari tengah bagian kiri.

        4. Tenus Waker, Laki-laki (22 Tahun), mahasiswa papua.

    Polisi hendak melepaskan dua tembakan dari pistol dengan menggunakan peluru karet. Tembakan ke-2  mengarah ke Tenus dan mengikis di Testa, Kepala.

    Penghadangan FKPM yang didukung Polisi pun berhasil ditabrak massa AMP. AMP melanjutkan aksi Long March menuju titik nol setelah melakukan perlindungan atas bentrok yang dipicu oleh FKPM. Sekitar satu jam, AMP berjalan dan tiba di titik nol.

    Pukul 11:30 WY, AMP tiba di titik nol kilometer dan melakukan Orasi-orasi Politik yang diangkat berdasarkan fakta. Orasi-orasi tersebut, tidak terlepas dari Sejarah Bangsa Papua Barat, Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), pembunuhan terhadap TPN-PB, Tokoh Papua Merdeka, dan Aktivis Papua Merdeka. Perampasan Hak Orang Papua, Pemerkosaan, Pemecahan, Pembungkaman demokrasi, dan lainnya.

    Tentunya, AMP menolak hasil PEPERA 1969, bertepatan dengan hari terakhir, 02 Agustus 2014. AMP juga menolak Militer Organik dan non-Organik Indonesia di Tanah papua, Menutup Perusahaan Asing di Tanah Papua, dan AMP juga mendukung pernyataan TPN-PB di web-nya Komnas TPN-PB.

    Tuntutan AMP adalah Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua Barat di Tanah Papua Sebagai Solusi Demokratis Melalui Mekanisme Referendum. Karena, sebenarnya momen PEPERA itu adalah REFERENDUM bagi rakyat Papua Barat. Namun karena, Amerika Serikat dengan kepentingan Ekonomi-Politik dan Indonesia dengan kepentingan perluasan wilayah jajahannya.

    Pukul 13:30 WY, AMP selesai aksi demo damai. Pukul 14:00 WY, Massa yang tergabung di AMP tiba di Rumah Adat.



     Foto - Foto Korban, Sesuai Susunan Dalam Nama-nama Korban Di Atas.
    Foto: Agustina Batangga (P/21), Korban Pelanggaran HAM.
    Baju putih, posisi di tengah
    Foto: Roy Karoba (L/24), Negosiator Aksi, Korban Pelanggaran HAM

    Foto: Yanto Tebai (L/19), Korban Pelanggaran HAM


    Foto: Tenus Waker (L/22), Korban Pelanggaran HAM


    *) Oleh Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Yogyakarta, 6 Agustus 2014. 


     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif