Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Penembakan. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Penembakan. Tampilkan semua postingan

    Dua Anggota TPN PB dan OPM Yang Ditembak Di Nabire Dirujuk Ke RSUD Jayapura

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Dua Anggota TPN/OPM Yang Ditembak Di Nabire Dirujuk Ke RSUD Jayapura


    Dua prajurit TPN PB dan OPM pendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM)yang ditangkap bersama pimpinannya Leo Magay Yogi, di Nabire, dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara di Kotaraja, Kota Jayapura, ibukota Provinsi Papua.

    Kedua anak buah Leo Yogi itu diterbangkan dari Nabire menggunakan pesawat Skytruck milik Polri setelah sebelumnya sempat dirawat di RSUD Nabire akibat luka tembak yang dideritanya.

    Keduanya teridentifikasi bernama Yulianus Nawipa, dan Marcel Muyapa selaku sopir Leo Yogi.
    Kabid Dokkes Polda Papua Kombes dr Raymond kepada Antara di Jayapura, Sabtu, mengatakan, keduanya tengah diobservasi di RS Bhayangkara, sebelum tim dokter melakukan operasi “Yulianus Nawipa yang menderita luka tembak. Sedangkan hanya menjalani pemeriksaan biasa,” kata Kombes Raymond.
    Tim gabungan aparat keamanan, pada Kamis (30/4) siang menangkap Leo Yogi beserta kedua anak buahnya serta satu pucuk senpi .

    Aksi penangkapan itu diwarnai baku tembak yang menyebabkan dua anggota OPM mengalami luka tembak termasuk Leo Yogi.

    Namun nyawa Leo Yogi tidak berhasil ditolong akibat perdarahan yang dialaminya.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Penembakan Siswa di Paniai : Setelah Satu Bulan Baru Polisi Mau Bentuk TPF?

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Penembakan Siswa di Paniai : Setelah Satu Bulan Baru Polisi Mau Bentuk TPF?

    by Papua Post
    Jayapura, Jubi/Antara – Ketua Dewan Adat Daerah Paniai Jhon Gobai berharap Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk Mabes Polri untuk mengungkap kasus kekerasan di Enarotali, Kabupaten Paniai, awal Desember 2014, bersikap netral agar tidak menimbulkan konflik kepentingan. “Saya kira TPF yang dibuat Mabes Polri untuk mengimbangi atau membandingkan temuan mereka di lapangan dengan pihak lain…
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Di Timika, Satu Keluarga Dibantai OTK

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Di Timika, Satu Keluarga Dibantai OTK

    by Papua Post
    Bapak dan Anak Tewas, Istri Dan Dua Anaknya Lagi Kritis JAYAPURA – Kasus penganiayaan yang mengakibatkan meninggal dunia kembali terjadi di daerah Timika, Kabupaten Mimika. Jika sebelumnya seorang warga Timika bernama Korinus Kareth tewas dianiaya sekolompok warga pasca bentrokan pada beberapa hari lalu. Kali ini, sekelompok orang tidak dikenal (OTK) membacok satu keluarga yang beralamat,…
    Papua Post | Februari 1, 2015  photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    4 Pelajar dan Mahasiswa di Jayapura Dianiaya Brimob Polda Papua

    Salah satu korban penganiayaan dari Brimob Polda Papua. Foto: Theresia/MS

    Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Penganiayaan terhadap Pelajar dan Mahasiswa Papua kembali terjadi. Kali ini pelakunya diduga berasal dari satuan Brigade Mobil (Brimob) berpakaian preman terhadap empat Pelajar dan Mahasiswa asal Papua di Cigombong, Kotaraja, Jayapura, Rabu (18/03/2015) malam sekitar pukul 23.00 waktu Papua.

    Korban penganiayaan tersebut diantaranya; Timotius Tabuni (18), Lesman Jigibalom (23), Eldi Abimael (18) dan Mies Tabo (15).

    Salah satu keluarga korban, Lis Tabuni dalam keterangan pers yang diberikan kepada wartawan mengatakan, penganiayaan diawali penghadangan terhadap korban. (Baca:KontRas Desak Polda Papua Usut Tuntas Kasus Penganiayaan 4 Generasi Muda Papua)

    "Korban ini dihadang dan dikeroyok oleh sekelompok anggota Brimob berpakaian preman memegang senjata laras panjang bertempat di pasar Cigombong Kotaraja," kata Lis Tabuni.

    Kronologis singkat yang diterima majalahselangkah.com, kejadian bermula ketika, tiga korban diantaranya Eldi Kogoya, Timotius Tabuni, dan Lesman Jigibalom hendak pulang ke rumah dari Perumnas III ke Kotaraja Dalam menggunakan 2 motor. Sesampainya di depan Ramayana Mall kotaraja, mereka melihat ada orang yang mengikuti mereka dari belakang. Saat belok ke arah Kotaraja Dalam tepatnya di depan kantor Brimob Polda Papua, korban mendengar perbincangan antara Brimob dari markasnya. "Itu sudah mereka" sambil keluar mengikuti korban dari belakang.

    Timotius Tabuni dihadang depan pasar Cigombong dan meminta paksa menyerahkan kunci motor. Korban menanyakan letak kesalahannya, namun tanpa menjawab beberapa anggota Brimob lainnya yang memegang senjata dan sangkur mulai mengeroyoknya sambil mengatakan, "itu sudah pelakunya, ditembak saja" dengan balok 5X5.

    Sedangkan, dua rekan lainnya yakni, Lesman Jigibalom dan Eldy Kogoya dihadang oleh aparat Brimob di depan Mesjid Kotaraja, kemudian ditodong dengan senjata dan diperintahkan untuk jalan jongkok, tapi karena tidak mau mereka perintahkan paksa untuk tiarap. Eldy Kogoya diseret dari kaki diatas aspal dengan badan mengenai aspal hingga ke depan pasar Cigombong. Kedua korban dipukul sampai depan kios Delima.

    Pada saat yang sama, Mies Tabo yang menyaksikan tindakan aparat, sempat berteriak minta tolong, dan pada kesempatan yang sama aparat mendatanginya, menampar, menendang dan memukul Mies dan mengatakan "kau diam".

    Usai melakukan penganiayaan, keempat korban digiring ke Kantor Brimob.

    Akibat kejadian ini:
    1. Eldy Kogoya, Pelajar, kelahiran Tolikara, 34 Desember 1997 mengalami tulang rusuk retak dan luka memar dibelakang tubuh dan kedua lutut lecet.

    2. Timotius Tabuni, Mahasiswa, kelahiran Ilu, 20 April 1997 mengalami, gigi satu di depan lepas, dan satunya sedikit goyang, kepala luka bocor, belakang badan sempat kena goresan sangkur, muka lebam dan lecet, mulut luka dan kedua lutut lecet.

    3. Lesman Jigibalom, Mahasiswa, kelahiran Tiom, 18 Maret 1992, ditusuk pisau sangkur di bahu kanan, sampai paru-paru kanan bocor dan luka memar di seluruh tubuh. Lesma dioperasi, Kamis (19 Maret 2015), kondisi sementara masih kritis di RS. Bhayangkara.

    4. Mis Tabo, Anak kelahiran 01 April 2000 mengalami luka memar di kepala bagian depan dan belakang luka memar, pundak kiri dan kanan juga luka, dahi lecet, dan kedua lutut lecet pula. (Theresia Fransiska Tekege/MS)
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg  photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Hasil Investigasi Sementara Komnas HAM Atas Peristiwa Kekerasan di Paniai

    Hasil Investigasi Sementara Komnas HAM Atas Peristiwa Kekerasan di Paniai
    Empat korban tewas saat dimakamkan di lapangan terbuka, Karel Gobay tengah kota Enarotali, Paniai, tepat depan kantor Koramil. Foto: Abeth/MS

    KETERANGAN PERS KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA (KOMNAS HAM) TENTANG HASIL INVESTIGASI SEMENTARA PERISTIWA KEKERASAN DI DISTRIK PANIAI TIMUR, KAB. PANIAI, PROV. PAPUA PADA 7-8 DESEMBER 2014

    A. Latar Belakang

    Komnas HAM telah menerima pengaduan dari Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Paniai (IPMAPAN) Se-Jawa yang pada intinya adalah meminta kepada Komnas HAM untuk melakukan investigasi atas peristiwa penembakan di Kabupaten Paniai Provinsi Papua yang mengakibatkan 4 (empat) orang meninggal dan beberapa orang lainnya luka-luka karena tembakan dan penganiayaan. Selain pengaduan, Komnas HAM juga mendapatkan informasi melalui media massa mengenai peristiwa tersebut.

    Tindak lanjut atas pengaduan dan informasi media massa, Komnas HAM menurunkan Tim Investigasi ke lokasi kejadian di Kabupaten Paniai Provinsi Papua pada 12-15 Desember 2014. Tim investigasi telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara, meminta keterangan saksi masyarakat, saksi korban yang masih dirawat di RSUD Paniai, dan meminta keterangan pihak Kepolisian dalam hal ini jajaran Polres Paniai. Selanjutnya Tim Investigasi kemudian meminta keterangan kepada pihak Polda Papua pada 17 Desember 2014.

    B. Kronologis Kejadian

    Kejadian bermula pada tanggal 7 Desember 2014 sekira pukul 20.00 WIT, dimana pada saat itu seseorang menggunakan kendaraan motor melewati pondok natal yang berada di KM 4 Jalan poros Madi-Enarotali, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, pemuda yang berada di Pondok Natal tersebut menegurnya karena tidak menggunakan lampu kendaraan, sehingga dapat membahayakan. Tidak diterima dengan teguran tersebut, pengguna kendaraan kemudian marah dan mengancam akan kembali lagi. Tidak berselang lama, pengguna kendaraan tadi kembali ke Pondok Natal bersama dengan sekitar 6-8 orang temannya. Mereka melakukan penganiayaan terhadap beberapa pemuda yang berada disana, yang diantaranya bernama Yulianus Yeimo.

    Berdasarkan visum yang dilakukan oleh dokter RSUD, Yulianus Yeimo mengalami luka bengkak pada bagian belakang telinga kanan, telinga kiri, luka robek di ibu jari kaki kiri akibat pukulan popor senjata laras panjang.

    Pada dini hari tanggal 8 Desember 2014 pukul 02.00 WIT, terjadi kebakaran kantor KPU Paniai di Kampung Madi, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, yang mengakibatkan Kantor KPU habis terbakar. Kejadian ini masih diperlukan penyelidikan lebih lanjut apakah berkaitan dengan peristiwa penganiayaan pemuda atau tidak.

    Buntut dari pemukulan terhadap pemuda yang dilakukan orang tidak dikenal, massa melakukan pemalangan jalan utama Madi-Enarotali KM 4 tepat di depan pondok natal pada pukul 07.40. Pemalangan dilakukan masyarakat yang menuntut pelaku penganiayaan yang terjadi pada hari Minggu tanggal 7 Desember 2014 malam untuk dihadirkan.

    Ketika pemalangan sedang berlangsung, datang satu kendaraan yang dikendarai oleh Danki TNI 753, pada saat itu terdengar suara tembakan. Selain itu, kendaraan milik Kabagops Polres Paniai juga dirusak oleh masyarakat yang melakukan pemalangan. Wakapolres Paniai (Kompol Hanafi) dan Wakil Bupati Paniai melakukan negosiasi dengan masyarakat untuk membuka palang tersebut dan masalah akan dibicarakan dengan para komandan, akhirnya masyarakat berjalan dari lokasi pemalangan menuju Enarotali sambil menari dan waita, pusat kumpul masyarakat adalah di Lapangan Karel Gobay, Enarotali.

    Dalam perjalanan menuju Lapangan Karel Gobay, masyarakat melewati kantor Polsek Paniai Timur, pada saat itu masih belum terjadi pengrusakan terhadap kantor dan semua pasukan Polsek maupun Polres tidak ada yang diperbolehkan untuk keluar dari markas. Anggota Polri hanya berjaga di pelataran markas Polsek.

    Masyarakat kemudian melanjutkan perjalanan menuju Lapangan Karel Gobay, yang melewati Kantor Distrik Paniai Timur dan Kantor Koramil. Pada saat itu masyarakat mulai melakukan pengrusakan terhadap kantor Koramil sambil terus menari dan waita. Tidak lama berselang terdengar rentetan tembakan, tidak diketahui tembakan tersebut dari arah mana. Masyarakat beberapa kali mendengar rentetan tembakan tersebut.

    Akibat tembakan tersebut, masyarakat yang berada di Lapangan Karel Gobay berlari menghindar dan berhamburan, salah satunya ke arah pasar. Pada saat itu masyarakat yang berada di jalan samping kantor Polsek mulai melakukan pengrusakan dengan melempar kaca menggunakan batu. Anggota Pollsek yang berjaga mengeluarkan tembakan peringatan ke atas untuk menghentikan aksi pengrusakan tersebut. Beberapa tembakan mengenai kabel listrik dan baliho yang terpasang.
    Setelah suara rentetan tembakan berhenti, baru diketahui terdapat beberapa masyarakat yang mengalami luka tembak dan ditemukan juga masyarakat yang meninggal karena tembakan.

    C. Korban-korban

    Hampir sebagian besar korban yang mengalami penyiksaan maupun luka tembak masih dalam usia anak, dengan perincian sebagai berikut:

    1. Korban Penganiayaan di depan Posko Natal Pada 7 Desember 2014 (TKP I)

    Mia Gobay, 13 tahun; Elikian Pigai, 12 tahun; Elia Gobay, 10 tahun; Aten Gobay, 12 tahun; Diston Yeimo, 12 tahun; Ferry Gobay, 8 tahun; Benyamin Giay, 9 tahun; Anikan Pigai, 13 tahun; Abimelek Pigai, 14 tahun; Otovince Pigai, 12 tahun; Yulian Yeimo, 16 tahun.

    2. Korban luka tembak di lapangan Karel Gobay pada 8 Desember 2014 (TKP II)

    a. Korban Meninggal Dunia

    Alpius Youw, Laki-laki, 16 Tahun (Luka tembak); Alpius Gobay, Laki-laki, 17 Tahun, (Luka tembak); Simon Degey, Laki-laki, 17 tahun, (Luka tembak); Yulian Yeimo, Laki-laki, 16 Tahun (Luka tembak pada bagian perut tembus pantat).

    Korban meninggal dunia an. Alpius Youw dan Alpius Gobay ditemukan berada di pinggir lapangan Karel Gobay dalam posisi yang saling bertolak belakang dan tidak sesuai dengan arah tembakan, hal ini ditemukan setelah dilakukan rekonstruksi di lapangan. Tim Penyidik Polri menemukan banyak bercak darah di tengah lapangan Karel Gobay, hal ini menimbulkan pertanyaan bercak darah tersebut milik siapa.

    Penyidik menduga bahwa kedua korban ini tertembak ketika berada di tengah lapangan, kemudian oleh masyarakat dipindahkan ke pinggir lapangan. Namun dugaan dari penyidik masih harus diperkuat dengan saksi-saksi yang melihat peristiwa pada tanggal 8 Desember 2014 tersebut, hal ini merupakan salah satu hambatan dari penyidik karena masyarakat masih tidak bersedia untuk bersaksi. Sedangkan korban meninggal dunia an. Simon Degey dan Yulian Yeimo ditemukan berada di perkebunan yang letaknya antara lapangan Karel Gobay dan Landasan Pacu Bandara Enarotali.

    Pertanyaan yang muncul dari lokasi ditemukannya korban ini adalah apa yang mereka sedang lakukan, karena lokasi tersebut jauh dari lokasi berkumpulnya massa. Selain itu, bagaimana mereka tertembak juga menjadi pertanyaan lainnya, karena jarak antara tempat ditemukannya korban dengan kantor Polsek Paniai Timur dan Koramil Enarotali sangat jauh.

    Tim Investigasi Komnas HAM menduga bahwa korban mendapatkan tembakan dari arah Bandara, dimana terdapat satuan Paskhas yang menjaga wilayah bandara Enarotali. Dugaan ini diperkuat dengan hasil visum dokter RSUD Paniai yang menyebutkan bahwa Yulian Yeimo mendapatkan luka tembak pada bagian perut tembus pantat, hal ini menunjukkan bahwa arah tembakan vertikal, tidak horizontal.

    Bahwa semua dugaan ini masih diperlukan investigasi lebih lanjut dan otopsi terhadap korban meninggal, untuk melihat arah tembakan. Jika investigasi tidak dilakukan lebih mendalam dengan meminta keterangan para aksi yang berada di lokasi kejadian, maka akan sangat sulit untuk mengambil kesimpulan sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

    Begitu juga dengan tidak dilakukan otopsi terhadap para korban, akan sangat menghambat tim investigasi untuk merangkai peristiwa yang terjadi pada 8 Desember 2014.

    b. Korban luka-luka

    Andreas Dogopia, Laki-laki, 23 Tahun (Luka tembak perut, luka robek pada tangan kiri); Yulian Mote, 36 Tahun, Laki-laki (Luka robek kepala, bibir dan hidung); Yulianus Tobay, 40 Tahun, Laki-laki (Luka tembak paha kiri tembus paha kiri); Yeremias Kayame, 59 Tahun (Luka pada tangan kanan); Jerry Gobay, 13 Tahun, Laki-laki (Luka robek di kaki kanan); Oktavianus Gobay, 13 Tahun, Laki-laki (Luka robek di tangan kanan); Noak Gobay, 29 Tahun, laki-laki (Luka robek di tangan kanan); Naftali Neles Gobay, 45 Tahun, Laki-laki (Luka di tangan kiri); Italia Edoway, 35 Tahun, Perempuan (Luka di tangan kanan); Abernadus Bunay, 10 Tahun, Laki-laki (Luka pada paha kanan).

    Terhadap para korban luka akibat tembakan yang terjadi pada tanggal 8 Desember 2014, belum dapat dipastikan posisi mereka ketika terkena tembakan. Hal ini dikarenakan para saksi korban masih belum bersedia memberikan keterangan lebih lanjut, selain itu sudah ada beberapa saksi korban yang kembali ke kampungnya. Dengan diketahuinya posisi para saksi korban ketika terkena tembakan, akan dapat dirangkai bagaimana kejadian pada saat itu dan dugaan siapa yang melakukan penembakan.
    Oleh karena itu, diperlukan investigasi lebih lanjut dengan meminta keterangan dari para saksi korban dan merekonstruksinya di lapangan.

    3. Korban Aparat Polisi dan TNI

    a. Anggota Kepolisian

    AKP Petrus Gawe Boro (Kapolsek Kota) luka memar pada bagian dada akibat lemparan batu oleh kelompok massa; Brigadir Jakson Samosir, luka robek pada bagian dagu akibat lemparan batu oleh kelompok massa; Paul Stenly Alfons Miriau, luka lecet pada bagian hidung bawah akibat lemparan batu oleh kelompok massa.

    b. Anggota TNI

    Serda Jusman, luka memar pada siku akibat lemparan batu oleh kelompok massa; Serka Gobay, luka di kepala akibat terkena lemparan batu oleh kelompok massa; Sertu Sugiantaro, luka punggung akibat lemparan batu oleh massa; Sertu Gatot, luka pada bagian kepala akibat lemparan batu oleh massa; Sertu Satrio, luka memar pada dada akibat lemparan batu oleh kelompok massa; Praka Ricardo, luka bengkak pada tangan kiri akibat lemparan batu oleh massa; Serda Gede, luka pada tangan kanan akibat lemparan batu oleh kelompok massa.

    D. Kesimpulan Sementara

    Setelah mengkaji dan menganalisis dengan seksama semua data, fakta, informasi dan temuan di lapangan, keterangan saksi, laporan, dokumen yang relevan, serta berbagai informasi lainnya, maka Tim menyimpulkan sementara sebagai berikut:

    1. Komnas HAM menyampaikan penyesalan dan bela sungkawa yang mendalam terhadap para anggota keluarga yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka.

    2. Peristiwa kekerasan yang terjadi pada 7-8 Desember 2014 di Kabupaten Paniai berawal dari arogansi yang diduga oknum anggota Timsus 753 yang melakukan pemukulan terhadap anak-anak yang berada di Posko Natal di Bukit Togokotu.

    3. Dalam peristiwa kekerasan di Lapangan Karel Gobay, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua terdapat bukti yang cukup ditemukannya penggunaan peluru tajam dalam pengahalauan massa.

    4. Pihak penyidik Kepolisian masih mendapatkan hambatan dalam melakukan penyidikan, salah satunya karena korban yang meninggal tidak dilakukan otopsi sehingga tidak diketahui penyebab kematian dan tidak diketahui apakah masih terdapat proyektil atau tidak.

    5. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut terhadap fragmen proyektil yang diambil dari korban luka tembak di RSUD Paniai, untuk mengetahui jenis senjata yang digunakan untuk menembak korban.

    6. Tidak ditemukannya bukti yang cukup terkait situasi mengancam yang dilakukan oleh masyarakat sebagai dasar digunakannya kekuatan berlebihan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian dan TNI.

    7. Pihak kepolisian masih tetap mendorong penyelesaian/penegakan hukum dalam peristiwa kekerasan yang terjadi di Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, untuk mengetahui siapa yang bertanggungjawab.

    8. Saat ini belum dilakukan proses penyelesaian secara adat oleh Pemerintah Kabupaten Paniai dan masyarakat.

    9. Dalam peristiwa kekerasan di Kabupaten Paniai Provinsi Papua terdapat bukti permulaan yang cukup untuk menduga terjadinya pelanggaran hak asasi manusia sebagaimana dijamin di dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang relevan di bidang hak asasi manusia.

    10. Bentuk-bentuk perbuatan (type of acts) pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dalam Peristiwa Kekerasan di Kabupaten Paniai Provinsi Papua, adalah sebagai berikut:

    a. Hak untuk Hidup. Sesuai dengan data yang ada, sekurang-kurangnya terdapat 4 (empat) orang tewas dalam peristiwa tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka telah terjadi pelanggaran terhadap hak untuk hidup yang merupakan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun (non derogable rights), sebagaimana dijamin di dalam Pasal 28 A jo Pasal 28 I UUD 1945, Pasal 4 jo Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM dan Pasal 6 ayat (1) Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik.

    b. Hak untuk Tidak Mendapat Perlakuan yang Kejam, Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat. Dalam peristiwa tersebut, berdasarkan keterangan data, informasi dan fakta yang ada, terdapat beberapa temuan yang menunjukkan adanya perlakuan yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

    Berdasarkan hal tersebut, maka telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk perlakuan yang keji, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia sebagaimana dijamin di dalam Pasal 28 G ayat (2) UUD 1945 jo Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Anti Penyiksaan jo Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM jo Pasal 7 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik.

    c. Hak Atas Rasa Aman. Pada umumnya, peristiwa ini telah menyebabkan rasa ketakutan dan kekhawatiran yang dialami oleh masyarakat, baik yang menjadi korban maupun yang menyaksikan peristiwa. Berdasarkan hal tersebut, maka telah terjadi pelanggaran hak atas rasa aman sebagaimana dijamin di dalam Pasal 28 G ayat (1) UUD 1945 jo Pasal 30 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.

    d. Hak Anak. Dalam peristiwa di Kabupaten Paniai Provinsi Papua, didapati adanya keterlibatan anak-anak baik secara langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan hal tersebut, maka telah terjadi pelanggaran hak anak sebagaimana dijamin di dalam Pasal 28 B ayat (2) UUD 1945, jo Pasal 52 ayat (1) jo Pasal 63 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, jo Pasal 4 jo Pasal 15 huruf c dan huruf d, jo Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, jo Pasal 19 ayat (1) jo Pasal 37 huruf a Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 19990 tentang Pengesahan Konvensi Perlindungan Hak Anak.

    11. Pihak TNI masih belum bersedia memberikan keterangan kepada Tim Investigasi Komnas HAM, sehingga informasi yang didapat mengenai peristiwa masih belum utuh.

    12. Tim Investigasi Komnas HAM telah mengumpulkn keterangan dari saksi dan mendapatkan video pada saat peristiwa di Lapangan Karel Gobay, semua ini dapat dijadikan dasar untuk membentuk tim lanjutan.

    E. Rekomendasi Sementara

    1. Meminta kepada Panglima TNI Cq KSAD Cq Pangdam XVII/Cenderawasih untuk dapat memberikan keterangan kepada Tim Investigasi Komnas HAM.

    2. Meminta kepada Menkopolkam untuk segera membentuk Tim Pencari Fakta Gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Komnas HAM dan Tokoh Adat Papua Cq Paniai.

    3. Mendorong Komnas HAM untuk berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk memberikan perlindungan bagi para saksi dan korban untuk dapat diminta keterangannya oleh Penyidik.

    4. Meminta kepada seluruh pihak untuk tidak mengambil kesimpulan siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut, sebelum adanya hasil investigasi/penyelidikan yang dilakukan.

    5. Meminta kepada Kepolisian RI dan TNI untuk menjaga situasi keamanan yang kondusif menjelang Hari Raya Natal, dengan mengedepankan cara-cara yang preventif dan persuasif.

    6. Meminta kepada Pemerintah Kabupaten Paniai untuk membantu pengobatan para korban luka hingga mereka sembuh.


    Jakarta, 22 Desember 2014

    KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA
    Ketua Tim Investigasi

    Dr. Maneger Nasution
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    TNI BATALION 756 WMS MEMBUNUH 7 ORANG PENDUDUK SIPIL KECAMATAN ASOLOGAIMA KIMBIM,

    TNI BATALION 756 WMS MEMBUNUH 7 ORANG PENDUDUK SIPIL KECAMATAN ASOLOGAIMA KIMBIM, 
    
    [SPMNews]-- 7 orang Penduduk pribumi Kimbim telah ditembak mati oleh aparat TNI Batalion 756 WMS yang
    sedang bertugas didistrik Asologaima – Kimbim tanpa alasan yang jelas hingga situasi saat ini masih
    tegang antara aparat 350 Personil melakukan operasi penyisiran, pembakaran rumah-rumah penduduk,
    kebun, ternak-ternak dibakar oleh TNI dan membumi hanguskan seluruh harta kekayaan masyarakat pribumi
    Distrik Asologaima pada hari Jumat (23/05/2008) dini hari Kabupaten Jayawijaya. Selanjutnya......
    
    __________________________________________________
    Front PEPERA PB
    Lawan:
    - Neokolonialisme
    - Neo-LIberalisme/Imperialisme
    - MIliterisme
    
    ------------------------------------
    
    Mailing list:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
    
    Blog: 
    http://mediacare.blogspot.com
    
    http://www.mediacare.biz
    
    Yahoo! Groups Links
    
    <*> To visit your group on the web, go to:
        http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
    
    <*> Your email settings:
        Individual Email | Traditional
    
    <*> To change settings online go to:
        http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join
        (Yahoo! ID required)
    
    <*> To change settings via email:
        mailto:mediacare-digest@... 
        mailto:mediacare-fullfeatured@...
    
    <*> To unsubscribe from this group, send an email to:
        mediacare-unsubscribe@...
    
    <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
        http://docs.yahoo.com/info/terms/
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Pater Nato Gobay : Orang Papua Bukan Binatang Buruan !

     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Pater Nato Gobay : Orang Papua Bukan Binatang Buruan!

    Nabire, Jubi – Sekretaris Jenderal keuskupan Timika, Pater Nato Gobay, dihadapan ribuan umat Katolik yang hadir dalam acara pentabisan 10 imam di lingkungan keuskupan Timika, Selasa (6/1), mengatakan, orang Papua adalah manusia.

    Bukan kus-kus yang selalu diburu oleh manusia. “Pemerintah dan aparat militer baik TNI mapun Polri, tolong jangan lakukan penembakan terhadap umat saya. Tidak lama ini aparat sudah menembak mati lima anak muda yang menjadi harapan bangsa ini. Itu terjadi di kampung saya. Saya minta jangan lagi melakukan penembakan terhadap umat saya,” tegasnya di gereja Kristus Sahabat Kita (KSK) Bukit Meriam, Nabire.
    “Saya tidak mau lihat lagi. Saya tidak mau dengar lagi kamu (aparat-red) tembak lagi umat saya di tanah Papua ini kedua kalinya. ‘Me wagi kouko daa’ tidak boleh membunuh. Manusia Papua itu bukan kus-kus yang harus diburu terus.

    Harus menciptakan damai di tanah Papua. Bukan menciptakan konflik,” tegas Pater Nato. Sementara itu, Yones Douw, aktivis HAM di Nabire menatakan, penembakan yang baru-baru terjadi di Enarotali, Paniai oleh aparat gabungan TNI/Polri Itu murni pelanggaran HAM berat. “Saya minta aparat hentikan penembakan brutal ke warga sipil di tanah Papua. Jangan lagi terulang, kasus seperti yang terjadi di Enarotali, Paniai, Papua,” tegas Yones saat dihubungi Jubi melalui selularnya dari Nabire.
    Selain itu, lanjut Yones, Presiden Jokowi jangan hanya kasih janji. Tetapi kasus yang dilakukan oleh aparat gabungan TNI/Polri di Paniai itu harus segera dituntaskan.

    “Karena itu aparat juga kami minta supaya jangan sembunyi-sembunyi. Jokowi harus bentuk KPP HAM untuk menyelesaikan persoalan tersebut,” ungkap Yones. (Arnold Belau)
    Sumber JUBI

    LA PAGO : Presiden Jokowi adalah Presiden Penjahat Manusi

    Orang Papua mati karena persoalan ideologi perjuangan kemerdekaan papua barat. Dan rakyat papua masih mengalami penderitaan, pembantaian dan pembunuhan sadis dari negara sahabat penjajah selama ini juga menjadi perenungan bagi bangsa papua barat.

    Namun kaum penjajah mati karena akibat dari fenomena alam tanpa ada efek apapun yang menggangunya. oleh karenanya, jangan melakukan berbagai tindakan secara tidak manusiawi sesama masia didunia ini, karena setiap tindakan dan kekerasan tentu akan ada imbalan berupa fenomena alam maupun kehilangan asset tanpa ada jejak.

    Maka dapat katakan bahwa, Indonesia seharusnya mengakui penderitaan dan pembantaian yang dialami dan dirasakan oleh kami rakyat papua, diatas negeri Papua Barat. Karena sesuatu yang terjadi berupa bencana alam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga menjadi kutukan dari pencipta manusia. Jadi dalam kehidupan suatu bangsa yang masih dibawa penjajahan tentu akan ada imbalan sesuai perbuatan, tindakan dan kenafsuhan dari negara itu sendiri.

    Fenomena alam berupa musiba dan hilang kontak asset pemerintah terjadi dimana-mana merupakan kutukan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya, dapat dikatakan  bahwa pergumulan anak negeri dengan tangisan dan ratapan diatas negerinya merupakan proses menujuh penentuan nasib sendiri, dengan kekuatan dari Allah/Aula bagi bangsa papua barat. Dan Sang Revolusioner senantiasa memberikan kekuatan dan kemampuan untuk menentukan nasib sendiri diatas Tanah Air West Papua,.

    Oknum Polisi Membunuh Mahasiswa Papua di Makassar Selatan

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online


    PEDULI MAHASISWA PAPUA DI MAKASSAR,
    Peduli  Mahasiswa Papua di minta Kronologis Kejadian secara Akurat sesuai di Tempat Kejadian, dan  Kembali melakukan Pengecekan dan meminta keterajan terjadinya masalah ternyata Media-media yang dikeluarkan ternyata tidak sesuai dengan Fakta Kejadian Di Asrama Papua Di Makassar yang terletak di Jalan Mappala, Kecamatan Rappocini.


    Ada media New.Okezone.com dan New.liputan6.comdikeluarkan berita bahwa diserang oleh sejumlah orang tak dikenal itu tidak sesuai beritanya sehingga Kami kembali melakukan pembenahan berita.
    Akibatnya, satu penghuni bernama Carles Sihumbi terkena tikaman di bagian perut Oleh Oknum Polisi dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Faisal untuk mendapat perawatan medis.

    Sudarah yang bernama Charles Enombi telah menghembuskan napas terakhir Pada Rabu 25 November 2014, pukul 19:20 Wita  di rumah sakit Faisal jl.petterani makassar, Pelaku yang ditikam Almarhum Charles Enombi adalah oleh OKNUM POLISI, pada malam sabtu lalu. Kejadian tersebut,pada malam sabtu preman bersenggongol dengan polisi kemudian datang serang dikontrakan Kabupaten Nduga terletak di jln.petterani depan rumah sakit Faisal,pukul 03:45 ada beberapa polisi sengaja berpura-pura panggil keluar dan menanyakan kejadian lalu ada oknum polisi datang dari belakang dan menikam korban tersebut dibagian tangan tembus ke bagian Perut. Kemudian setelah kena tikaman oleh polisi Kemudian Alma. Charles Enombi sendiri langsung larikan ke rumah sakit tanpa diberitahu teman-temannya diasrama karena sudah tidak bisa dikendalikan diri.
    Berobat selama dua hari dua malam Namun sayangnya tidak tertolong dan  pada akhirnya menghembuskan napas terakhir.  karena kena racun badik yang menggunakanya. Sampai hari ini seluruh mahasiswa papua kumpul dan memintah bertanggung jawab dari pihak Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan Dan Polda Sulawesi Selatan, dan Mahasiswa Papua yang ada di kota Studi Makassar dari Sorong Sampai Samarai Menilai pembunuhan ini sangat tidak wajar karena datang serang tanpa ada Penyebab yang jelas. (Mahasiswa Papua Di Makassar Dan Frans E)
    Laporan : P.  Lokon

     photo burungrastacopy_zpsde5488d6.jpg

    TNI/POLRI AKTOR KEKERASAN DI PAPUA

    TNI/POLRI AKTOR KEKERASAN DI PAPUA


    Pengungsi Masyarakat Lani Jaya di wamena
    Pembakaran 2 Gereja dan Rumah warga di Lani jaya

    Pembakaran rumah-rumah, Gedung-gereja dan pembunuhan yang di lakukan terhadap masyarat di lany jaya sangat disayangkan karena Fungsi dan tugas aparat TNI/ POLRI adalah menjaga dan mengayomi rakyat sipil, tetapi kenyataan hari ini aparat kepolisian menjadi aktor kekerasan.

    TNI /POLRI ternyata aktor yang selalu menjakiti hati rakyat dan bunuh rakyat sipil takberdosa dengan stikma SPARATIS, OPM, GPK dan KSB  Stikma ini selalu dipakai untuk memusnakan orang papua .

    Hal ini tidak bisa dibenarkan orang Indonesia ada di papua Ilegal oleh karena itu indonesia tidak layak mengayakan orang Papua separatis, dan anda tidak punya hak untuk membunuh orang papua.
     
    Bupati Lani Jaya Boneka NKRI anda harus tau bahwa anda tidak punya hak untuk mengutuk Pejuang Papua Seperti TPN-OPM karena mereka berjuagan atas dasar sejarah.

    Bupati lany jaya seharusnya mengutuk TNI-POLRI yang bakar rumah warga dan gereja di lani jaya, masa Bupati mengutuk TPNPB? Itu sama saja mengutuk diri sendiri dan rakyatnya, omnya mamanya kakak adik sendiri . Ini sangat memalukan kita jadi pejabat diatas negeri sendiri bukanya membela dan melindungi Rakyayanya mala kutuk rakyat sendiri anda jadi pemimpin buat siapa...???

    Tuhan Allah menciptakan tanah Jawa, kalimantan,toraya , bali , Sumatra sulawesi dan maluku untuk orang melayu kami tidak pernah pergi rebut tanah mereka bukan !!!

    Tapi mereka datang diatas tanah kita membunuh rakyat merampas hak kita tapi peminpin kita seperti bupati walikota dan gubernur  mendukung mereka ini sangat di sayangkan dimana hati nurani mereka???
    Pelangkaran hak asasi manusia yang di lakukan oleh TNI/POLRI terhadap bangsa papua dari waktu ke waktu yang jadi korban rakyat sipil.

    Penangkapan yang sewenang-wemag tanpa praduga tak bersalah dilakukan oleh aparat atau militer Indoneansia terhadap rakyat Papua dan Aktivis dan pejuang kebenaran dan keadilan di tanah ini selalu jadi korban.

    Kami rakyat papua Sorong sampai Merauke mengutuk dengan keras pembunuh- pembunih Rakyat papua diatas tanah dan negeri kami sendiri Atas nama tulang belulang, atas nama Allah bangsa papua kami menolak dan Mengutuk keberadaan TNI/POLRI di Papua Barat.  Jangan membunuh kami diatas tanah kami sendiri, yang berhak mencabut nyawa kami bukan TNI/­POLRI.INDONESIA tetapi Tuhan yang berhak mengambil nyawa orang papua.
    Ones Suhuniap 
    Sekertaris Umum KNPB

    TNI/POLRI MENEMBAK 5 WARGA SIPIL, SATU DIANTARANYA PENDETA

    TNI/POLRI MENEMBAK 5 WARGA SIPIL, SATU DIANTARANYA PENDETA

    Ev. Epinus Magal, S.PAK di kamar Jenazah Karitas
    Timika-KNPBNews, Tadi siang Jam, 01.00 WTP (Waktu Timika Papua) 2 (dua) warga sipil masyarakat Amungme di tembak mati oleh Militer Republik Indonesia, di Jl. Trans Timika-Paniai, di kampung Iwaka, Distrik Kuala Kencana, Timika-Papua diantaranya ialaha Ev. Epinus Magal, S.PAK, dan Yoen Wandagau.






    DUA YANG DITEMBAK MATI, TIGA YANG LUKA BERAT KENAH PELURUH DAN DI RAWAT DI KLINIK KUALA KENCANA
     
    Anak dari Pdt. Sem Magal Gembala Sidang Gereja Kemah (KINGMI) Jemaat Imanuel Waa, Tembagapura dan anaknya Ev. Epinus Magal, S.PAK ialah Gembala Sidang Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Sinai Jl. Hasanudin Irigasi-Timika, Papua Barat. Alumi STT Medan, di tembak mati oleh Militer Republik Indonesia (TNI/POLRI) di Timika, sedangkan Yoen Wandagau adalah seorang anggota jemaatnya.
     
    Kepada KNPBNews ini Pdt. Hengki Magal Sekertaris Gereja Kemah Injil (KINGMI) Klasis Tembagapura juga yang adalah bapak adiknya, menjelaskan kronologis singkatnya adalah sebagai berikut: Sekitar jam, 08.00 armarhum Ev. Epinus Magal, S.PAK naik ke Iwaka untuk mengunjugi beberapa anggota Jemaatnya Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Sinai Irigasi-Timika yang sedang berperang di sekitar lokasi pertikaian di Iwaka, Pertikaian antara beberapa masyarakat Moni/Amungme dan Dani tentang senketa tanah di Iwaka.
     
    Lanjut Pdt. Hengki, “ Tadi pagi jam, 07.00 sekelompok Dani bunuh Kwein Yawame jadi masyarakat Moni/Amungme juga turun menyerang kelompok Suku Dani tapi masyarakat Dani mereka posisi mundur yang berhadapan adalah Polisi dengan Brimob, jadi mereka (polisi/brimob) mereka tembak kearah mereka.” Terangnya.
     
    Tambahnya juga bahwa, “yang kenah tembak ini ada 5 (lima) orang diantaranya ialah 2 (dua) ditembak mati dan 3 (tiga) yang luka-luka berat kenah tembakan. 3 (tiga) yang ditembak ialah 1.Nokolek Abugau 2.Okto Dimpau dan yang ketiga masih lupa namanya.” Katanya.
     
    Hengki Magal alummi Sekolah Teologi Atas Kejuruan (STAK) Levinus Rumaseb Moanemani, Kab. Dogiyai ini juga  menceriterakan bahwa, “Jenazah kedua korban yang mati ditembak di larikan di Rumah Sakit Karitas dan ketiga orang yang kenah tembakan dan luka-luka berat ini dilarikan ke Klinik Kuala Kencana untuk mendapat perawatan.” Dengan nada sedih.
     
    Pantauan KNPBNews, bahwa sekitar jam, 3.00 WTP (Waktu Timika Papua) kedua jenazah korban atas nama Ev. Epinus Tabuni dan Yoen Wandagau tiba di Rumah Sakit Karitas dan mereka amankan jenazahnya di kamar Jenazah untuk tunggu proses operasi agar mengeluarkan peluruh yang tersarang dalam masing-masing tubuh mereka berdua.
     
    Sekitar jam, 15.00 WTP (Waktu Timika Papua) Pantauan KNPBNews, Pdt. Deserius Adii, S.Th, muncul dengan muka sedih dan setelah itu beliau memberikan penghormatan terakhir kepada kawannya sekalipun segala gabungan Militer kawal jenazah. Menurut Pdt. Deserius Adii, S.Th, alasan memberikan penghormatan terakhir karena perang suku yang biasa terjadi disekitar Irigasi-Timika dengan kasus tanah itu biasa komunikasi dengan armarhum “saya sangat kehilangan kawan sekerja Allah, diladang Tuhan, kami biasa komunikasi kalau ada apa-apa dengan umat dia (armarhum) dengan umat saya.” Dengan nada bijak dan sedih.
     
    Setelah itu Pdt. Deserius Adii, S.Th. ketemu dengan Kapolres Mimika, AKBP. Yeremias Romtini, M.Si. didepan kamar pintu jenazah dan Pdt. Adii Tanya ke kapolres bahwa, selamat malam pak kapolres, pak apakah peluruh masih ada dalam tubuh atau tidak? Jawab Kapolres, “ iya ada jadi kita kasih pindah jenazah ke UGD untuk foto untuk dokter pastikan peluruh bersarang dimana, agar dokter operasi untuk dikeluarkan peluruhnya.” Kata kapolres Rontini dengan nada tenang.
     
    Selanjutnya sekitar 7.15. jenazah di bawa keluar ke UGD untuk di foto dan setelah di foto itu sekitar jam, 7.55 untuk dibawa kembali ke kamar jenazah untuk proses Operasi dilakukan, selanjutnya pukul 8.00 pihak keluarga korban dan beberapa Hamba Tuhan rapat untuk masuk mengawasi selama operasi dan keluarga putuskan akan masuk mewakili keluarga 2 (dua) orang dan mewakili pelaku 1 (satu) orang dan mewakili Pimpinan Gereja 1 (satu) orang dan mewakili keluarga Pdt. Hengki Magal yang masuk dan bapak Yulian dengan mama satu dan mewakili gereja Pdt.Deserius Adii,S.Th mewakili gereja.
     
    Setelah itu  tim medis dengan keempat orang saksi masuk dalam kamar jenazah untuk operasi tapi dengan alasan apa tidak tahu kepolisian dan para medis menyuruh Pdt.Deserius Adii,S.Th disuruh keluar dari ruangan operasi itu.
     
    Media Online KNPBNews ini menemui Pdt.Adii dan bertanya kenapa pa keluar Adii menjawab dengan wajah menyesal  berkata “tidak papa, polisi dan medis suruh keluar. Dan lanjutnya “Saya datang dan masuk untuk menyaksikan kawan seperjuangan dalam pelayanan ini ditembak dan saya mau saksikan proses pengeluaran peluruh itu tetapi mereka suruh keluar.” Ucapnya.
    Pantauan KNPBNews juga bahwa yang melakukan proses pengeluaran adalah dokter yang berpakaian polisi dan polisi itu juga mengaku dia ini biasa ditugaskan diWamena dan baru dia tugas di Rumah Sakit Karitas. Masyarakat Papua Waspada ke Karitas karena dokter militer yang jaga juga di Rumah Sakit Karitas. Kalau begitu setiap hari orang Papua di Karitas mati terus itu ada apa dibalik itu? Ada apa dibalik mama-mama yang mengandung anak belum waktunya untuk melahirkan disuruh operasi? Ketahuan kelakuan Ruma Sakit Karitas.
     
    Sekitar Jam, 10.00 (WTP) Waktu Timika Papua berhasil mengeluarkan peluruh yang bersarang dalam tunuh Arm. Ev. Epinus Magal, S.PAK yang terkenah di tulang rusuk kanan dan bersarang didalam jantung hati, sedangkan Arm. Yoen Wandagau terkenah peluruh di otak dan tembus keluar peluruhnya. Dan jenazahnya mala mini akan dibawa naik ke tempat Iwaka.

    Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian III)

    Pelanggaran Hak Asasi Manusia

    Melawan Lupa; Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian III)

    Oleh : Admin

    Melawan Lupa; Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian III)
    Suasana arak-arakan sebelum pemakaman jenazah Theys Hiyo Eluay (Foto: Ist).
    Pada 11 November 2001, tepatnya 13 tahun yang lalu, Pemimpin Besar Bangsa Papua Barat, Dortheys Hiyo Eluay, ditemukan tewas di Kilo Meter 9, Koya, Muara Tami, Jayapura. Belakangan diketahui, Komando Pasukan Khusus telah menculik dan membunuhnya. Dibawah ini laporan lengkap bagian ketiga yang disusun Elsham Papua.
    Sabtu, 10 November 2001 pagi, sekitar pukul 09.00 Wit, ada dua orang berkunjung di salah satu Kampung dekat ditemukannya mayat Theys Hiyo Eluay. Mereka memakai kendaraan jenis Starwagon jurusan Abepura - Koya Barat 5 kilometer.  

    Kedua orang tersebut mengaku kepada masyarakat setempat bahwa mereka adalah agen intelejen dari Kepolisian Daerah Irian Jaya. Ketika ELS-HAM Papua meminta konfirmasi, warga setempat mencoba mengidentifikasi kedua "intel" tersebut bahwa satunya seperti orang Ambon dan yang satunya seperti orang Jawa.  

    Maksud kedatangan mereka adalah untuk bertemu dengan Komandan Satgas Papua (AR), sekaligus ingin melihat bagaimana keberadaan Satgas Papua di kampung tersebut.

    Informasi yang dibutuhkan kedua intel itu berkaitan dengan: (1) keaktifan Satgas hingga sekarang menjelang 1 Desember 2001; (2) jumlah anggota Satgas Papua di kampung Skouw: (3) jumlah Kepala Keluarga.

    Kedua intel juga meminta informasi tentang keberadaan para tokoh pro merdeka di Kampung Skouw, apakah ada yang masih aktif atau tidak.

    Pada 10 November 2001 pukul 20.30 Wit, malam seorang warga (IN) dari kampung Skouw, hendak berburu di sekitar lokasi ditemukannya mayat Theys Hiyo Eluay, tiba-tiba ia di hadang oleh tiga anggota Kopassus (Agus, Yadi, dan Sanusy) dengan memakai kendaraan Super Kijang.  

    Saat itu juga terlihat Danpos Kopassus Transat memakai Vespa, dan seorang anggota lagi memakai motor Trael. Seperti biasanya, sebelumnya (IN) berangkat berburu ia sudah lapor ke Pos Kopasssus di Desa Skow Sae (Transat) perumahan pansiunan TNI, yang dihuni oleh transmigrasi dari luar Papua maupun transmigrasi lokal.

    Dengan kejadian tersebut (IN) tidak sempat berburu dan langsung pulang dan tiba kampung Skouw kurang lebih pukul 23.30. Menurut (IN) kepada ELS-HAM Papua bahwa situasi malam itu sepertinya ada sesuatu yang aneh karena kelihatan mereka sangat sibuk. Tidak seperti bisanya, pos jaga saja ditinggalkan. Semua anggota Kopassus dikerahkan untuk siaga.

    Investigasi ELS-HAM Papua, di sekitar lokasi ditemukannya almarhum Theys menunjukkan keanehan. Yang jelas, para "penculik" dengan leluasa bergerak pada malam itu (lihat juga peta penculikan).

    Dari sketsa (peta) penculikan, mulai dari Markas Satgas Tribuana Kopassus, Hamadi, lokasi penculikan hingga tempat kejadian perkara (TKP) di Koya Tengah sangat jelas sekali para "penculik" dengan leluasa melewati sekitar 13 pos keamanan ataupun instalasi militer dan Polisi yang ada di Jayapura dan sekitarnya.

    Keterangan Para Saksi

    Sabtu, 10 November 2001 sekitar pukul 10.30 Wit, Komandan Satgas Tribuana (Kopassus) Kol. Inf. Hartomo datang sendiri menjemput almarhum Theys Hiyo Eluay, Ketua Dewan Presidium (PDP) di rumah dengan membawa kado Natal buat almarhum yang berisi baju kameja lengan pajang warna putih.  

    Almarhum Theys Hiyo Eluay berangkat dari rumah menuju Hotel Matoa sekitar pukul 11.00 Waktu Papua. Tujuannya, mengikuti rapat Presidium Dewan Papua (PDP ) di Hotel Matoa, Jayapura.

    Sekitar pukul 18.00 almarhum Theys sempat menelepon isterinya di rumah Sentani, bahwa dirinya langsung ke Hamadi untuk megikuti acara resepsi di Markas Kopassus Tribuana.

    Sekitar pukul 18.30, almarhum Theys dan sopirnya Aristoteles Masoka (23 thn) tiba di tempat acara resepsi peringatan Hari Pahlawan 10 November di Markas Kopassus Tribuana Hamadi, Kecamatan Jayapura Selatan, Kotamadya Jayapura.  

    Walau acara resepsi sedang berlangsung, sekitar pukul 21.30 Wit, almarhum Theys pamit pulang ke Sentani bersama sopirnya Aristoteles Masoka atau sering di panggil Aris dengan mobil pribadi almarhum bernomor polisi B 8997 TO.  

    Selang beberapa menit kemudian, sekitar pukul 22.10, sopir telepon dengan Handphone kepada Yaneke Ohee (40 thn) isteri almarhum Theys Hiyo Eluay, beritanya: "Kami sedang dihadang dan di sandera".

    Isteri-nya bertanya siapa yang sandera kamu? Sopir hanya menjawab, "Mama tolong beritahukan kepada bapak-bapak pendeta, jemaat, tolong doakan kami. karena saya dengan Bapak dalam keadaan bahaya! Kita punya Allah Papua itu Hidup!”. Dan suara telepon terputus hilang.

    Di sekitar lokasi Perumahan Pemerintah Daerah (Pemda) I Entrop-Jayapura, ada saksi yang melihat aksi penculikan terhadap Theys Hiyo Eluay. Menurut saksi ini, kira-kira pukul 21.45, mereka melihat sebuah kendaraan kijang yang berwarna gelap menghadang sebuah mobil kijang yang juga warna sama gelap (kemudian diketahui kendaraan itu milik alm. Theys H. Eluay).  

    Jarak pandang 2 meter, terlihat jelas tiba-tiba dua orang non-Papua, rambut lurus-pendek, berbadan kekar, warna kulit terang dan berpakaian hitam, turun dari kendaraan yang menghadang itu lalu memukul sopir Theys kemudian mencoba menarik sopir Theys keluar pintu.  

    Sopir Theys tetap memegang setir mobil dengan kuat, sehingga salah satu diantara kedua orang itu mendorong sopir alm. Theys ke dalam mobil dan naik mengambil alih setir langsung jalan. Pada saat itu mereka (saksi) melihat sebagian kaki dari sopir itu tergantung di luar mobil yang sedang dilarikan ke arah Abepura.

    Pada pukul 21.50 saksi lain yang membawa Aristoteles Masoka (23) sopir alm. Theys, bahwa sekitar 50 meter dari lokasi penculikan, saat mereka meluncur dari arah Abepura ke Jayapura dengan menggunakan mobil Carry (taksi/angkutan umum), melihat ada seseorang yang tergantung di sebuah mobil kijang berwarna gelap yang sedang melaju dari arah Jayapura ke Abepura.

    Saat itu sempat macet akibat kejadian tersebut. Melihat kejadian tesebut, maka sopir mobil Carry memberhentikan mobilnya sambil menyaksikan apa yang sedang terjadi.

    Setelah mobil kijang yang membawa orang yang tergantung itu lewat, dan terlihat berhenti pada jarak kurang lebih 50 meter, tiba-tiba orang yang tergantung itu terlepas jatuh dari mobil kijang dan berlari minta tolong kepada mereka (saksi).  

    Setelah orang itu dekat, mereka ketahui bahwa dia adalah sopir alm. Theys Hiyo Eluay. Mereka (para saksi) langsung membawa sopir Theys dan melaju ke arah Jayapura.  

    Selama dalam perjalanan, sopir Theys menjerit dan minta supaya dia diantar ke Markas Satgas Tribuana Kopassus di Hanurata-Hamadi. Atas permintaan Aristoteles (sopir alm. Theys), maka para saksi mengantar dia sampai di Markas Satgas Tribuana, Kopassus di Hamadi.  

    Mereka (para saksi) menurunkan Aristoteles sekitar 5 meter dari pintu masuk ke Markas/Satgas Kopassus dan saat itu mereka (para saksi) melanjutkan perjalanan ke Jayapura.

    Salah seorang saksi mata yang diundang sebagai penerima tamu pada acara peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2001 yang dihadiri oleh alm. Theys Hiyo Eluay, menerangkan kepada ELS-HAM bahwa kira-kira pukul 22.10 atau selang kurang lebih tiga puluh menit setelah alm. Theys Hiyo Eluay pulang, dia disuruh oleh beberapa anggota Kopassus untuk membereskan ruangan.

    Saat itu dia melihat seseorang masuk dirangkul oleh lebih dari dua orang anggota Kopassus dari arah pintu masuk menuju ke ruangan prajurit.  

    Ketika itu orang yang dirangkul itu menangis dan berkata" aduh…kalau ada apa-apa nanti saya yang bertanggung jawab kepada ibu. Ini mobil hilang, bagaimana ini".

    Melihat kejadian itu, anggota Kopassus langsung menyuruh kami pulang dari tempat tersebut pada saat itu juga. (Orang itu kemudian dikenal sebagai Aristoteles, sopir Theys Eluay).

    Minggu, 11 November 2001, pukul 09.00, keluarga menerima telepon dari Arthur Tombun, mantan Kapolsek Sentani yang memberitahukan bahwa mobil Theys Eluay ditemukan di Km 9 Desa Koya Kecamatan Abepura.  

    Pukul 14.35, tim investigasi ELS-HAM Papua, Polres Papua, Presidium Dewan Papua (PDP), LBH Jayapura, dan para wartawan berangkat ke Tempat Kejadian Perkara (TKP).  

    Sampai di lokasi ditemukan jenasah Theys di jok mobilnya dalam posisi duduk terletang dan kedua kakinya memanjang ke depan. Di bagian pusat perutnya ada bekas goresan merah lembab.  

    Lidahnya keluar tergantung. Ketika tim investigasi mencoba mengamati kondisi tubuh yang sekarat itu secara detail, aparat keamanan buru-buru menaikkan jenasah Theys ke mobil Ambulans menuju Rumah Sakit Umum Dok II Jayapura.  

    Operasi evakuasi mayat Theys di Tempat Kejadian Perkara (TPK) langsung di pimpin oleh Kapolres Jayapura, AKBP Drs. Daud Sihombing. Sopir pribadi Theys, Aristoteles Masoka (23 thn) juga diculik, hingga saat laporan diturunkan, belum ditemukan keberadaannya.  

    Pukul 16.15, di kota Sentani tempat kediaman almarhum terjadi amuk massa karena mendengar berita kematian Theys yang tidak wajar itu. Masyarakat yang sangat marah itu membakar 2 buah toko, 2 buah bank, 1 Apotek, dan 1 hotel. Untuk meredam aksi massa itu, aparat keamanan melepaskan beberapa kali tembakan.

    Rabu, 14 November 2001, menurut hasil otopsi dokter dari Lembaga Patologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia No. 200/IBS/SB/2001 menyatakan bahwa kematian Theys Hiyo Eluay tidak wajar dicurigai oleh karena pencekikan/pembengkakan. (BERSAMBUNG)



    Laporan ini dibuat oleh Elsham Papua, dan diterbitkan pada 13 Desember 2001. Judul aslinya "Laporan Awal Penculikan dan Pembunuhan Theys Hiyo Eluay Terencana dan Bermotif Politik". Laporan ini diedit ulang oleh Oktovianus Pogau. Untuk mengetahui lebih jauh lembaga Elsham Papua silakan kunjungi website lembaga "Elsham Papua"

    Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian II)

    Pelanggaran Hak Asasi Manusia

    Melawan Lupa; Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian II)

    Melawan Lupa; Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian II)
    Theys Hiyo Eluay, pemimpin polik bangsa Papua Barat yang dibunuh Kopassus (Foto: Ist)
    Pada 11 November 2001, tepatnya 13 tahun yang lalu, Pemimpin Besar Bangsa Papua Barat, Dortheys Hiyo Eluay, ditemukan tewas di Kilo Meter 9, Koya, Muara Tami, Jayapura. Belakangan diketahui, Komando Pasukan Khusus telah menculik dan membunuhnya. Dibawah ini laporan lengkap bagian kedua yang disusun Elsham Papua.
    Oleh: Elsham Papua*

    Profil Theys dan masa-masa menjelang kejadian 10 November 2001

    Unsur lainnya adalah tindakan yang luar biasa yang ditujukan aparat kepada sekelompok atau seseorang penduduk sipil. Secara khusus dalam kasus Theys, terlihat sekali bagaimana penculikan dan pembunuhan dengan perencanaan yang sangat matang dan rapih.

    Profil Theys sebagai tokoh sipil, sekaligus tokoh adat yang berpengaruh dijadikan sasaran karena berseberangan dengan pemerintah Jakarta.

    Karakter Theys Hiyo Eluay memang penuh kontroversi. Sepertinya ia memiliki dua wajah, yakni wajah "se-olah-olah pro pemerintah Indonesia" dan sekaligus "wajah Pro Papua Merdeka".

    Kepada pihak pemerintah Indonesia, ia lihai tampil berbicara dengan "bahasa budaya", sedang kepada massa rakyat Papua ia tampil mendorong dengan "bahasa politik".

    Yang sering ditekankan oleh Theys adalah perjuangan secara damai dan dalam koridor sopan santun dan cinta kasih. Pada Oktober 1999 atas nama tokoh adat dan Ondofolo Besar, Sereh, Sentani, dan Ketua Lembaga Musyawarah Adat Papua dia mengangkat Yorris Raweyai sebagai Ketua Lembaga Musyawarah Adat (LMA) cabang Jakarta.

    Ketika ide Papua Merdeka muncul semarak seantero tanah Papua, bersama Yoris Raweyai, (Ketua Pemuda Pansila) mendeklarasikan ide "One Nation, Two Systems" bagi masa depan rakyat Papua, pada Agustus 1998, di Gedung Bank Pembangunan Daerah (BPD) Provinsi Papua.

    Theys juga terlibat dalam Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera 1969). Di zaman Orde Baru, ia anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dari Fraksi Karya Pembangunan dalam tiga periode.

    Namun setelah tidak dicalonkan lagi pada pemilihan umum 1996, dia kembali bersuara keras tentang kemerdekaan Papua. Puncaknya terjadi ketika Theys bersama rakyat Papua menyatakan dekrit dan mengibarkan bendera Bintang Kejora pada 1 Desember 1999 dan 1 Mei 2000.

    Dia juga menandatangani komunike politik pada Musyawarah Besar Dewan Papua di Jayapura, 23-24 Februari 2000. Dan pada 29 Mei-4 Juni 2000 dia mengelar Kongres Nasional II Rakyat Papua Barat, atau yang dikenal sebagai Kongres Rakyat Papua, di Jayapura. Sekitar 3000 orang Papua dari berbagai wilayah menghadiri peristiwa bersejarah tersebut.

    Pada saat pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) otonomi khusus bagi provinsi Papua oleh DPR RI di Jakarta 20 Oktober 2001, Theys dan Presidium Dewan Papua ikut hadir.

    Mereka secara tegas menolak undang-undang Otonomi Khusus ini melalui gerakan damai. Ketika itu, kepada wartawan berkali-kali almarhum Theys mengatakan, “Otonomi Khusus bukan urusan saya. Saya tak mau menerima ide Otonomi. Saya hanya berpikir soal Papua Merdeka.”

    “Alasannya, pertama, karena kami lah yang punya kekayaan. Pemerintah yang harus meminta kepada kami agar menyerahkan kekayaan. Kemudian mereka membaginya, 80 persen untuk kami dan 20 persen untuk pemerintah pusat." 

    "Kami yang mestinya membaginya. Kedua, di Kongres Rakyat Papua II, rakyat tidak memberi mandat otonomi khusus. Jadi, yang harus kami lakukan mengupayakan agar kemerdekaan dikembalikan,” kata Theys saat itu.

    Kepada Tempo Oktober 2001, Theys dengan tegas mengatakan bahwa PDP adalah representasi seluruh rakyat Papua kecil-besar, tua-muda, lelaki-perempuan, yang tinggal di dalam atau di luar negeri, yang hidup atau pun yang mati, semua menghendaki kemerdekaan Papua.

    “Hanya segelintir yang tidak demikian, orang-orang semacam Freddy Numberi yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka menipu diri sendiri, bangsa Papua, dan juga menipu Tuhan,” kata Theys.

    Di Jakarta, para elit bersemangat dengan pengesahan RUU otonomi khusus, tetapi di tanah Papua sendiri sejak Oktober sampai November 2001 ada operasi gabungan antara TNI-POLRI pada malam hari untuk menjaga kemanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di wilayah hukum kota Jayapura dan sekitarnya.

    "Patroli Garnizun", istilah yang sering dikenal dalam suatu operasi siaga-darurat ini melibatkan berbagai komponen institusi aparat keamanan dari jajaran Polri dan TNI.

    Operasi ini mirip dengan "operasi jam malam". Menurut hasil monitoring ELS-HAM Papua, operasi ini melibatkan TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Kopassus. Di kota Sentani dan sekitarnya, tempat tinggal (alm) Theys Hiyo Eluay, operasi ini melibatkan Batayon Infantri 751 yang bermarkas di Polomo, Sentani.

    Dampak operasi ini menyebabkan masyarakat kota Jayapura dan sekitarnya resah dan takut keluar malam. Beberapa warga terutama dari kalangan muda yang kedapatan keluar malam ditangkap dan diangkut dengan truk miliki tentara dan mobil patroli ke pos-pos militer atau polisi terdekat.

    Ironisnya, almarhum Theys Hiyo Eluay, Ketua Presidum Dewan Papua (PDP) diculik 10 November 2001 malam pukul 21.45 di tengah keramaian kota Jayapura dan akhirnya dibunuh.

    Berdasarkan investigasi, ELS-HAM Papua mendapat informasi dari (DW) yang merupakan salah satu kurir TW yang selama ini bekerjasama dengan Kopassus mengatakan bahwa pada 29 Oktober 2001, bertempat di kantor cabang milik CV. Megapura Arso I, Jl. Trans Irian, mereka rapat bersama Kopassus.

    Salah satu agendanya adalah "rencana perlakuan jam malam" di daerah Koya Timur, Tengah, dan Koya Barat. Alasannya adalah Kopassus sedang mencari seorang anggota TPN (Tentara Pembebasan Nasional) yang membuat onar di Koya.

    Berdasarkan hasil rapat tersebut, TW dimintai untuk menyampaikan kepada warga masyarakat yang lain untuk tidak boleh keluar malam di atas pukul 21:00 - 06:00.

    Selama 3 minggu patroli jam malam ini dilakukan oleh Polisi dan Koramil setempat, Satuan Tugas (Satgas) Kodam I Bukit Barisan/126 yang berada di daerah Arso, Muara Tami.

    Pengumumam dimaksud baru akan dicabut sambil menunggu keputusan selanjutnya sesuai situasi dan kondisi keamanan wilayah. Patroli gabungan ini menandakan adanya semacam isolasi wilayah di sekitar tempat kejadian perkara.

    Seminggu sebelum peristiwa penculikan dan pembunuhan Theys H. Eluay ada isu "Dracula". Isu ini muncul dari para pemilik warung makan di sekitar Kota Raja, 1 kilometer dari arah lokasi penculikan dan 29 kilometer menuju arah ditemukannya mayat Theys Hiyo Eluay di Koya Tengah.

    Koran Cenderawasih Pos edisi 8, 9, 10 November 2001 memuat isu aksi "Dracula" secara berturut-turut. Akibat berita "Drakula" tersebut kebanyakan warga panik, terutama keluarga pemilik warung. Isu "Drakula" memang benar-benar meneror publik kota Jayapura, Abepura dan sekitarnya agar tidak keluar malam (BERSAMBUNG)



    *Laporan ini dibuat oleh Elsham Papua, dan diterbitkan pada 13 Desember 2001. Judul aslinya "Laporan Awal Penculikan dan Pembunuhan Theys Hiyo Eluay Terencana dan Bermotif Politik". Laporan ini diedit ulang oleh Oktovianus Pogau. Untuk mengetahui lebih jauh lembaga Elsham Papua silakan kunjungi website lembaga "Elsham Papua"

    Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian I)

    Pelanggaran Hak Asasi Manusia

    Melawan Lupa; Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian I)

    Oleh : Admin 

    Melawan Lupa; Penculikan dan Pembunuhan Theys H. Eluay Oleh Kopassus Bermotif Politik (Bagian I)
    Theys Eluay ketika bertemu dengan Presiden RI, Gus Dur didampingi putrinya Yenny Wahid (Foto: Ist)
    Pada 10 November 2001, tepatnya 13 tahun yang lalu, Pemimpin Besar Bangsa Papua Barat, Dortheys Hiyo Eluay, ditemukan tewas dalam mobilnya di Kilo Meter 9, Koya, Muara Tami, Jayapura. Belakangan diketahui, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) telah menculik dan membunuhnya. Dibawah ini laporan lengkap yang disusun Elsham Papua.
    Oleh: Elsham Papua*

    Pengantar

    Penculikan dan pembunuhan Dortheys Hiyo Eluay (64), Ketua Presidium Dewan Papua (PDP), merupakan salah satu implikasi dari budaya militerisme dan kekebalan hukum (impunity) sejak Papua Barat (Provinsi Papua dan Papua Barat, red) dianeksasi oleh Indonesia.

    Kekerasan ini berawal semenjak Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia mendeklarasikan Trikora, pada 19 Desember 1961 di Yogyakarta. Isi Trikora, pertama bubarkan "Negara Boneka" Irian Barat buatan Belanda; kedua, mobilisasi massa; dan ketiga, kibarkan sang saka merah putih di Irian Barat.

    Ketika itu, banyak rakyat sipil Papua Barat diintimidasi dan dibunuh. Sejak integrasi dengan Indonesia, pemerintah Jakarta mulai menerapkan pendekatan militer dengan melakukan operasi militer di berbagai wilayah di tanah Papua. Kurang lebih 100.000 rakyat Papua Barat di bunuh selama 38 tahun integrasi dengan Indonesia.

    Proses penghancuran ini semakin meningkat terutama ketika rakyat Papua Barat menuntut memisahkan diri dari Indonesia sejak reformasi 1998, dengan jatuhnya Presiden otoriter Soeharto.

    Berbagai aksi damai menuntut merdeka dihadapi dengan kekerasan, seperti peristiwa Biak berdarah, 6 Juli 1998; Sorong, 5 Juli 1999; Timika, 2 Desember 1999; Merauke, 16 Februari 2000; Nabire, 28 Februari sampai Maret 2000; Sorong, 27 Juli 2000 dan 22 Agustus 2000; Wamena, 6 Oktober 2000.

    Aspirasi merdeka terus bergulir dan terungkap secara jelas dan resmi dihadapan Presiden B.J. Habibie di Istana merdeka tanggal 26 Februari 1999 oleh wakil-wakil masyarakat Papua yang tergabung dalam Tim 100. Tuntutan itu begitu mengejutkan, sehingga dijawab dengan permintaan untuk merenungkan tuntutan itu lebih dalam.

    Bersamaan dengan itu, operasi rahasia terus ditingkatkan untuk meredam para aktivis Papua Barat, menjelang Kongres Rakyat Papua II 2000, yang berlangsung dari tanggal 29 Mei-4 Juni 2000. 

    Seminggu sebelum Kogres Rakyat Papua II 2000, Wakil Presiden Megawati mengadakan kunjungan tiba-tiba ke Papua.

    Kunjungan Megawati ini disambut dengan aksi demonstrasi oleh para aktivis pro merdeka di seluruh tanah Papua. "Kesan kuat” tentang keinginan merdeka rakyat Papua Barat di berbagai tempat yang dikunjungi menjadi laporan penting bagi Megawati.

    Hasil kunjungan Megawati (Wapres) disampaikan kepada Muspida Provinsi Tingkat I Papua di Jayapura. Selanjutnya, berdasarkan hasil penilaian (assessment) Megawati menjadi laporan Gubernur (Caretaker), Musiran Darmosuwito, (mantan wakil Gubernur Timor Timur) melalui radiogram ke Departemen Dalam Negeri (Depdagri) tertanggal 2 Juni 2000.

    Terutama, sejak mengkristalnya aspirasi Papua Merdeka pasca Kongres Papua II 2000. Ini bisa dilihat dari bocoran dokumen sangat rahasia yang telah dikeluarkan oleh Dirjen KESBANG dan LINMAS DEPDAGRI dalam nota dinas nomor 578/ND/KESBANG/D IV/VI/2000 tanggal 9 Juni 2000.

    Bocoran dokumen tersebut berisi konsep tentang "Rencana Operasi Pengkondisian Wilayah dan Pengembangan jaringan Komunikasi Dalam menyikapi arah politik Irian Jaya (Papua) untuk merdeka dan melepaskan diri dari Negara Republik Indonesia".

    Sasaran operasi meliputi, (1) pengkondisian wilayah kabupaten dan kota di Papua sampai di daerah terpencil; (2) pengembangan jaringan komunikasi dengan memanfaatkan tokoh-tokoh berpengaruh dan organisasi yang mendukung dengan kegiatan seperti membuat statement, apel akbar, dan lainnya; (3) sasaran diplomasi untuk memperoleh dukungan PBB dan negara kuat lainnya bagi kedaulatan Indonesia atas wilayah Papua.

    Sedangkan metode operasi yang dikembangkan adalah, (1) klandestein (penyusupan); (2) provokasi, penangkapan aktivis politik Papua Merdeka; (3) kegiatan pembangunan; (4) program Papuanisasi dan mencegah internasionalisasi masalah Papua.

    Sifat operasi adalah terbuka. Artinya, penyerangan langsung terhadap demonstrasi massa, dan tertutup (klandestein). Operasi ini selanjutnya di dukung oleh MPR dalam sidang tahunan pada Agustus 2000, dengan ketetapan bagi Papua sebagai wilayah perlu perhatian serius.

    Dalam dokumen sangat rahasia itu, nama Theys Eluay berada dalam faksi adat dan pejuang. Dia satu tingkat dengan Tom Beanal (Adat), dan Yusuf Tanawani (sudah meninggal), Pdt. Herman Awom dan Dr. Karel Phil Erari (tokoh Gereja); Dr. Benny Giay dan Agus Alua (Akademisi), Drs. Jakobus Pervidya Salossa (Politisi, Gubernur Papua saat laporan ini diterbitkan, dan sudah meninggal), Simon P. Morin (Politisi), John Rumbiak dan Yohanis Bonay (ELS-HAM Papua); Gerson Abrauw dan Diaz Giwijangge (elemen mahasiswa); Beatrix Koibur dan Ketty Yabansabra (elemen perempuan).

    Menurut Kantor Berita Reuters (30/11/2000), setelah konfirmasi dengan pihak DEPDAGRI mengakui adanya rapat untuk mengatasi gejolak yang oleh Jakarta disebut separatisme di Papua yang dihadiri oleh 13 instansi pemerintah di tingkat nasional.

    Pihak Kepolisian Papua (Irian Jaya) menterjemahkan Rencana Operasi itu dengan membuat Telaahan Staf Tentang Upaya Polda Irian Jaya (Papua) Menanggulangi Separatis Papua Merdeka Dalam Rangka Supremasi Hukum pada bulan November 2000.

    Telaahan staf ini kemudian ditindaklanjuti dengan menyusun operasi yang disebut "Operasi Sadar Matoa 2000" yang berlangsung 90 hari. Operasi ini ditunjukan kepada gerakan aktivis Papua Merdeka atau OPM dan simpatisannya.

    Operasi Tuntas Matoa ini menunjukkan aparat Polisi Daerah (Polda) Papua telah memiliki dan mempersiapkan suatu rencana operasi yang sistimatis dalam bertindak terhadap apa yang mereka sebut sebagai gerakan separatis.

    Kebijakan Kepolisian itu merupakan bagian dari kebijakan negara secara keseluruhan. Dua dokumen ini menunjukkan adanya unsur sistematis, yakni memperlihatkan tindakan yang terorganisir dan mengikuti pola yang berulang. (BERSAMBUNG)


    *Laporan ini dibuat oleh Elsham Papua, dan diterbitkan pada 13 Desember 2001. Judul aslinya "Laporan Awal Penculikan dan Pembunuhan Theys Hiyo Eluay Terencana dan Bermotif Politik". Laporan ini diedit ulang oleh Oktovianus Pogau. Untuk mengetahui lebih jauh lembaga Elsham Papua silakan kunjungi website lembaga ini "Elsham Papua
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif