Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Teror. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Teror. Tampilkan semua postingan

    4 Pelajar dan Mahasiswa di Jayapura Dianiaya Brimob Polda Papua

    Salah satu korban penganiayaan dari Brimob Polda Papua. Foto: Theresia/MS

    Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Penganiayaan terhadap Pelajar dan Mahasiswa Papua kembali terjadi. Kali ini pelakunya diduga berasal dari satuan Brigade Mobil (Brimob) berpakaian preman terhadap empat Pelajar dan Mahasiswa asal Papua di Cigombong, Kotaraja, Jayapura, Rabu (18/03/2015) malam sekitar pukul 23.00 waktu Papua.

    Korban penganiayaan tersebut diantaranya; Timotius Tabuni (18), Lesman Jigibalom (23), Eldi Abimael (18) dan Mies Tabo (15).

    Salah satu keluarga korban, Lis Tabuni dalam keterangan pers yang diberikan kepada wartawan mengatakan, penganiayaan diawali penghadangan terhadap korban. (Baca:KontRas Desak Polda Papua Usut Tuntas Kasus Penganiayaan 4 Generasi Muda Papua)

    "Korban ini dihadang dan dikeroyok oleh sekelompok anggota Brimob berpakaian preman memegang senjata laras panjang bertempat di pasar Cigombong Kotaraja," kata Lis Tabuni.

    Kronologis singkat yang diterima majalahselangkah.com, kejadian bermula ketika, tiga korban diantaranya Eldi Kogoya, Timotius Tabuni, dan Lesman Jigibalom hendak pulang ke rumah dari Perumnas III ke Kotaraja Dalam menggunakan 2 motor. Sesampainya di depan Ramayana Mall kotaraja, mereka melihat ada orang yang mengikuti mereka dari belakang. Saat belok ke arah Kotaraja Dalam tepatnya di depan kantor Brimob Polda Papua, korban mendengar perbincangan antara Brimob dari markasnya. "Itu sudah mereka" sambil keluar mengikuti korban dari belakang.

    Timotius Tabuni dihadang depan pasar Cigombong dan meminta paksa menyerahkan kunci motor. Korban menanyakan letak kesalahannya, namun tanpa menjawab beberapa anggota Brimob lainnya yang memegang senjata dan sangkur mulai mengeroyoknya sambil mengatakan, "itu sudah pelakunya, ditembak saja" dengan balok 5X5.

    Sedangkan, dua rekan lainnya yakni, Lesman Jigibalom dan Eldy Kogoya dihadang oleh aparat Brimob di depan Mesjid Kotaraja, kemudian ditodong dengan senjata dan diperintahkan untuk jalan jongkok, tapi karena tidak mau mereka perintahkan paksa untuk tiarap. Eldy Kogoya diseret dari kaki diatas aspal dengan badan mengenai aspal hingga ke depan pasar Cigombong. Kedua korban dipukul sampai depan kios Delima.

    Pada saat yang sama, Mies Tabo yang menyaksikan tindakan aparat, sempat berteriak minta tolong, dan pada kesempatan yang sama aparat mendatanginya, menampar, menendang dan memukul Mies dan mengatakan "kau diam".

    Usai melakukan penganiayaan, keempat korban digiring ke Kantor Brimob.

    Akibat kejadian ini:
    1. Eldy Kogoya, Pelajar, kelahiran Tolikara, 34 Desember 1997 mengalami tulang rusuk retak dan luka memar dibelakang tubuh dan kedua lutut lecet.

    2. Timotius Tabuni, Mahasiswa, kelahiran Ilu, 20 April 1997 mengalami, gigi satu di depan lepas, dan satunya sedikit goyang, kepala luka bocor, belakang badan sempat kena goresan sangkur, muka lebam dan lecet, mulut luka dan kedua lutut lecet.

    3. Lesman Jigibalom, Mahasiswa, kelahiran Tiom, 18 Maret 1992, ditusuk pisau sangkur di bahu kanan, sampai paru-paru kanan bocor dan luka memar di seluruh tubuh. Lesma dioperasi, Kamis (19 Maret 2015), kondisi sementara masih kritis di RS. Bhayangkara.

    4. Mis Tabo, Anak kelahiran 01 April 2000 mengalami luka memar di kepala bagian depan dan belakang luka memar, pundak kiri dan kanan juga luka, dahi lecet, dan kedua lutut lecet pula. (Theresia Fransiska Tekege/MS)
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg  photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Ormas P2MAPTP Terbentuk, Harusnya Aparat Berkaca Diri

     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Ormas P2MAPTP Terbentuk, Harusnya Aparat Berkaca Diri

    - Marinus: Ormas ini Wujud Nyata Ketidakpercayaan Kepada Aparat Keamanan
    JAYAPURA - Pengamat Sosial Politik, HAM dan Hukum Internasional FISIP Uncen Jayapura, Marinus Yaung, mengatakan, seharusnya pihak keamanan merasa tersinggung dan berkaca diri dengan dibentuknya organisasi masyarakat (Ormas) baru yakni Pusat Pengendalian Masyarakat Adat Pegunungan Tengah Papua (P2MAPTP). 

    Pasalnya, Ormas ini merupakan wujud nyata ketidakpercayaan pejabat dan elite politik Papua terhadap kinerja dan tanggung jawab TNI-POLRI dalam menjaga keamanan di wilayah Pegunungan Tengah Papua.
    Semakin tingginya eskalasi konflik dan kekerasan di Pegunungan Tengah, walaupun seluruh kekuatan personil militer dan senjata telah dikerahkan, namun belum bisa mengendalikan situasi keamanan di sana.
    Situasi ini menimbulkan kecurigaan yang kuat di kalangan pejabat dan elite politik Papua akan keterlibatan pihak keamanan dalam pusaran konflik di Pegunungan Tengah.

    “Meningkatnya kecurigaan inilah yang menjadi alasan kuat dibentuknya Ormas baru ini untuk berperan aktif dalam menciptakan dan mengendalikan situasi keamanan di Pegunungan Tengah,” ungkapnya saat menghubungi Bintang Papua via ponselnya, Senin, (31/3).

    Baginya, inilah bom waktu konflik horisontal yang sudah diletakkan pejabat Papua. Kehadiran Ormas ini akan semakin menimbulkan saling kecurigaan diantara sesama orang Papua dan juga diantara pihak keamanan dengan Ormas ini. Dan tinggal menunggu waktu saja konflik terbuka dalam skala yang lebih luas dengan jumlah korban yang jauh lebih besar muncul kepermukaan. 

    Konflik ini akan bermula dari dalam birokrasi Pemda Provinsi Papua, karena biaya operasional Ormas ini akan diambil dari pos anggaran mana? Dari dana Otsus atau dana pribadi pejabat gubernur atau bupati-bupati se-Pegunungan Tengah? Adakah dana yang sudah dianggarkan dalam APBD Papua 2014 untuk ormas seperti ini?. 

    Ketidakjelasan pembiayaan ini akan menimbulkan konflik kepentingan dalam birokrasi Pemda Papua. Sangat sulit memang mengikuti logika berpikir Gubernur Papua Lukas Enembe belakangan ini. Kita berharap terciptanya perdamaian dan keadilan di Papua lebih cepat, sehingga pembangunan bisa berjalan dengan baik menuju masa depan Papua yang jauh lebih baik, tetapi menilai report kinerja Gubernur Papua Lukas Enembe menjelang satu tahun kepemimpinannya ini, dirinya tidak tahu Papua ini mau di bawah kemana. 

    Diakui Program kerja gubernur yang dipublikasikan Bappeda Provinsi Papua terlihat bagus di atas kertas, tapi dalam logika politik pemerintahan,suatu program kerja dikatakan memiliki prospek yang baik apabila ketika dipublikasikan, akan langsung memiliki dampak terhadap meningkatnya dukungan rakyat terhadap kinerja pemerintah. Yang dibuktikan dengan berkurangnya aksi-aksi protes dan aksi-aksi ketidakpercayaan lainnya. 

    Apakah terbukti? Justru yang terjadi adalah semakin banyak muncul rasa tidak simpati dari pegawai sendiri terhadap kinerja gubernur dan juga semakin menguatnya keinginan rakyat Papua untuk keluar dari NKRI. Semakin menguatnya perlawanan rakyat Papua terhadap kinerja gubernur yang merupakan kepanjangan tangan presiden, masa depan Papua benar-benar suram dan tak menentu. 

    “Ormas P2MAPTP hadir bukan untuk menjadi solusi, tetapi menjadi bagian dari kompleksitas persoalan Papua yang belum ada ujung akhir penyelesaiannya. Hentikan segera semua praktik politik DEVIDE ET IMPERA di Tanah Papua kalau orang Papua mau lihat tercipta perdamaian dan keadilan di atas tanah yang kita cintai bersama ini,” tandasnya.

    Di tempat terpisah, Tokoh Intelektual asal Pegunungan Tengah, Agus Adepa, menandaskan, sistem kepemimpinan di Pegunungan Tengah tidak seperti itu yang mana kepala suku dipilih dan dilantik. Sehingga tindakan hadirnya P2MAPTP ini sudah melanggar adat masyarakat Pegunungan Tengah.(nls/don/l03)

    TNI/POLRI MENEMBAK 5 WARGA SIPIL, SATU DIANTARANYA PENDETA

    TNI/POLRI MENEMBAK 5 WARGA SIPIL, SATU DIANTARANYA PENDETA

    Ev. Epinus Magal, S.PAK di kamar Jenazah Karitas
    Timika-KNPBNews, Tadi siang Jam, 01.00 WTP (Waktu Timika Papua) 2 (dua) warga sipil masyarakat Amungme di tembak mati oleh Militer Republik Indonesia, di Jl. Trans Timika-Paniai, di kampung Iwaka, Distrik Kuala Kencana, Timika-Papua diantaranya ialaha Ev. Epinus Magal, S.PAK, dan Yoen Wandagau.






    DUA YANG DITEMBAK MATI, TIGA YANG LUKA BERAT KENAH PELURUH DAN DI RAWAT DI KLINIK KUALA KENCANA
     
    Anak dari Pdt. Sem Magal Gembala Sidang Gereja Kemah (KINGMI) Jemaat Imanuel Waa, Tembagapura dan anaknya Ev. Epinus Magal, S.PAK ialah Gembala Sidang Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Sinai Jl. Hasanudin Irigasi-Timika, Papua Barat. Alumi STT Medan, di tembak mati oleh Militer Republik Indonesia (TNI/POLRI) di Timika, sedangkan Yoen Wandagau adalah seorang anggota jemaatnya.
     
    Kepada KNPBNews ini Pdt. Hengki Magal Sekertaris Gereja Kemah Injil (KINGMI) Klasis Tembagapura juga yang adalah bapak adiknya, menjelaskan kronologis singkatnya adalah sebagai berikut: Sekitar jam, 08.00 armarhum Ev. Epinus Magal, S.PAK naik ke Iwaka untuk mengunjugi beberapa anggota Jemaatnya Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Sinai Irigasi-Timika yang sedang berperang di sekitar lokasi pertikaian di Iwaka, Pertikaian antara beberapa masyarakat Moni/Amungme dan Dani tentang senketa tanah di Iwaka.
     
    Lanjut Pdt. Hengki, “ Tadi pagi jam, 07.00 sekelompok Dani bunuh Kwein Yawame jadi masyarakat Moni/Amungme juga turun menyerang kelompok Suku Dani tapi masyarakat Dani mereka posisi mundur yang berhadapan adalah Polisi dengan Brimob, jadi mereka (polisi/brimob) mereka tembak kearah mereka.” Terangnya.
     
    Tambahnya juga bahwa, “yang kenah tembak ini ada 5 (lima) orang diantaranya ialah 2 (dua) ditembak mati dan 3 (tiga) yang luka-luka berat kenah tembakan. 3 (tiga) yang ditembak ialah 1.Nokolek Abugau 2.Okto Dimpau dan yang ketiga masih lupa namanya.” Katanya.
     
    Hengki Magal alummi Sekolah Teologi Atas Kejuruan (STAK) Levinus Rumaseb Moanemani, Kab. Dogiyai ini juga  menceriterakan bahwa, “Jenazah kedua korban yang mati ditembak di larikan di Rumah Sakit Karitas dan ketiga orang yang kenah tembakan dan luka-luka berat ini dilarikan ke Klinik Kuala Kencana untuk mendapat perawatan.” Dengan nada sedih.
     
    Pantauan KNPBNews, bahwa sekitar jam, 3.00 WTP (Waktu Timika Papua) kedua jenazah korban atas nama Ev. Epinus Tabuni dan Yoen Wandagau tiba di Rumah Sakit Karitas dan mereka amankan jenazahnya di kamar Jenazah untuk tunggu proses operasi agar mengeluarkan peluruh yang tersarang dalam masing-masing tubuh mereka berdua.
     
    Sekitar jam, 15.00 WTP (Waktu Timika Papua) Pantauan KNPBNews, Pdt. Deserius Adii, S.Th, muncul dengan muka sedih dan setelah itu beliau memberikan penghormatan terakhir kepada kawannya sekalipun segala gabungan Militer kawal jenazah. Menurut Pdt. Deserius Adii, S.Th, alasan memberikan penghormatan terakhir karena perang suku yang biasa terjadi disekitar Irigasi-Timika dengan kasus tanah itu biasa komunikasi dengan armarhum “saya sangat kehilangan kawan sekerja Allah, diladang Tuhan, kami biasa komunikasi kalau ada apa-apa dengan umat dia (armarhum) dengan umat saya.” Dengan nada bijak dan sedih.
     
    Setelah itu Pdt. Deserius Adii, S.Th. ketemu dengan Kapolres Mimika, AKBP. Yeremias Romtini, M.Si. didepan kamar pintu jenazah dan Pdt. Adii Tanya ke kapolres bahwa, selamat malam pak kapolres, pak apakah peluruh masih ada dalam tubuh atau tidak? Jawab Kapolres, “ iya ada jadi kita kasih pindah jenazah ke UGD untuk foto untuk dokter pastikan peluruh bersarang dimana, agar dokter operasi untuk dikeluarkan peluruhnya.” Kata kapolres Rontini dengan nada tenang.
     
    Selanjutnya sekitar 7.15. jenazah di bawa keluar ke UGD untuk di foto dan setelah di foto itu sekitar jam, 7.55 untuk dibawa kembali ke kamar jenazah untuk proses Operasi dilakukan, selanjutnya pukul 8.00 pihak keluarga korban dan beberapa Hamba Tuhan rapat untuk masuk mengawasi selama operasi dan keluarga putuskan akan masuk mewakili keluarga 2 (dua) orang dan mewakili pelaku 1 (satu) orang dan mewakili Pimpinan Gereja 1 (satu) orang dan mewakili keluarga Pdt. Hengki Magal yang masuk dan bapak Yulian dengan mama satu dan mewakili gereja Pdt.Deserius Adii,S.Th mewakili gereja.
     
    Setelah itu  tim medis dengan keempat orang saksi masuk dalam kamar jenazah untuk operasi tapi dengan alasan apa tidak tahu kepolisian dan para medis menyuruh Pdt.Deserius Adii,S.Th disuruh keluar dari ruangan operasi itu.
     
    Media Online KNPBNews ini menemui Pdt.Adii dan bertanya kenapa pa keluar Adii menjawab dengan wajah menyesal  berkata “tidak papa, polisi dan medis suruh keluar. Dan lanjutnya “Saya datang dan masuk untuk menyaksikan kawan seperjuangan dalam pelayanan ini ditembak dan saya mau saksikan proses pengeluaran peluruh itu tetapi mereka suruh keluar.” Ucapnya.
    Pantauan KNPBNews juga bahwa yang melakukan proses pengeluaran adalah dokter yang berpakaian polisi dan polisi itu juga mengaku dia ini biasa ditugaskan diWamena dan baru dia tugas di Rumah Sakit Karitas. Masyarakat Papua Waspada ke Karitas karena dokter militer yang jaga juga di Rumah Sakit Karitas. Kalau begitu setiap hari orang Papua di Karitas mati terus itu ada apa dibalik itu? Ada apa dibalik mama-mama yang mengandung anak belum waktunya untuk melahirkan disuruh operasi? Ketahuan kelakuan Ruma Sakit Karitas.
     
    Sekitar Jam, 10.00 (WTP) Waktu Timika Papua berhasil mengeluarkan peluruh yang bersarang dalam tunuh Arm. Ev. Epinus Magal, S.PAK yang terkenah di tulang rusuk kanan dan bersarang didalam jantung hati, sedangkan Arm. Yoen Wandagau terkenah peluruh di otak dan tembus keluar peluruhnya. Dan jenazahnya mala mini akan dibawa naik ke tempat Iwaka.

    DOGIYAI: ANGGOTA BRIMOB MABUK, MENGORBANKAN DUA WARGA SIPIL


    bURUTAL mILITER iNDONESIA TERHADAP RAKYAT SIPIL PAPUA DI DOGIYAI
    DOGIYAI-- Kejadian pada 08/10/2014, Brimob yang bertugas di Kabupaten Dogiyai Propinsi Papua, mengkunsumsi Minuman keras “MIRAS” membuat masyarakat yang belum salah dapat tangkap dua Orang laki-laki atas nama Selino Dogomo Umur 22 Tahun dan Amoye Yobe Umur 23 pada pukul 17.00 WIT.

    Sering saja kita dengar bahwa brimob dan militer Negara Idonesia sangat menghargai hukumnya. Tetapi, kenyataan dilapangan kejadian bahwa Militer mengkonsumsi minuman keras dan mengorbankan masyarakatnya sendiri karena tidak sadar dan terlalu mabuk.

    Sangat ironisnya lagi itu tidak menghargai sebagai penegak hukum dan melarang minuman adalah militer Indonesia dan sekarang kita melihat dilapangan kejadian yang terjadi di kabupaten dogiyai papua ini sangat lewat batas Tugas dan Fungsi sebagai seorang militer yang mana amanatkan bahwa militer adalah melindungi dan mengamankan rakyat tetapi sebaliknya militer membawah kehancuran bagi rakyat dan sangat meresahkan rakyatnya.

    Tahun lalu pernah komentar oleh komnas HAM bahwa militer Indonesia jangan datang mengantuk-mengantuk di papua kalau mau bertugas tugas yang benar ungkap (Natalis Pigai). Sesungguhnya sangat disayangkan bahwa kejadian diatas ini ibarat (pagar makan tanaman) sebetulnya itu militer harus melindungi rakyat tetapi mala militer menyiksa masyarakat, membunuh masyarakat, memenjarakan masyarakat dan memerkosa masyarakat.

    Tolong media manapun harus dinaikkan dan karena keadaan moanemani masih belum aman dan sangat meresahkan masyarakat dogiyai. Fia (SMS) Oleh Andy Pigai

    Sumber :  www.umaginews.com
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif