Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Jeritan dari Papua. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Jeritan dari Papua. Tampilkan semua postingan

    TNI/POLRI MENEMBAK 5 WARGA SIPIL, SATU DIANTARANYA PENDETA

    TNI/POLRI MENEMBAK 5 WARGA SIPIL, SATU DIANTARANYA PENDETA

    Ev. Epinus Magal, S.PAK di kamar Jenazah Karitas
    Timika-KNPBNews, Tadi siang Jam, 01.00 WTP (Waktu Timika Papua) 2 (dua) warga sipil masyarakat Amungme di tembak mati oleh Militer Republik Indonesia, di Jl. Trans Timika-Paniai, di kampung Iwaka, Distrik Kuala Kencana, Timika-Papua diantaranya ialaha Ev. Epinus Magal, S.PAK, dan Yoen Wandagau.






    DUA YANG DITEMBAK MATI, TIGA YANG LUKA BERAT KENAH PELURUH DAN DI RAWAT DI KLINIK KUALA KENCANA
     
    Anak dari Pdt. Sem Magal Gembala Sidang Gereja Kemah (KINGMI) Jemaat Imanuel Waa, Tembagapura dan anaknya Ev. Epinus Magal, S.PAK ialah Gembala Sidang Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Sinai Jl. Hasanudin Irigasi-Timika, Papua Barat. Alumi STT Medan, di tembak mati oleh Militer Republik Indonesia (TNI/POLRI) di Timika, sedangkan Yoen Wandagau adalah seorang anggota jemaatnya.
     
    Kepada KNPBNews ini Pdt. Hengki Magal Sekertaris Gereja Kemah Injil (KINGMI) Klasis Tembagapura juga yang adalah bapak adiknya, menjelaskan kronologis singkatnya adalah sebagai berikut: Sekitar jam, 08.00 armarhum Ev. Epinus Magal, S.PAK naik ke Iwaka untuk mengunjugi beberapa anggota Jemaatnya Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Sinai Irigasi-Timika yang sedang berperang di sekitar lokasi pertikaian di Iwaka, Pertikaian antara beberapa masyarakat Moni/Amungme dan Dani tentang senketa tanah di Iwaka.
     
    Lanjut Pdt. Hengki, “ Tadi pagi jam, 07.00 sekelompok Dani bunuh Kwein Yawame jadi masyarakat Moni/Amungme juga turun menyerang kelompok Suku Dani tapi masyarakat Dani mereka posisi mundur yang berhadapan adalah Polisi dengan Brimob, jadi mereka (polisi/brimob) mereka tembak kearah mereka.” Terangnya.
     
    Tambahnya juga bahwa, “yang kenah tembak ini ada 5 (lima) orang diantaranya ialah 2 (dua) ditembak mati dan 3 (tiga) yang luka-luka berat kenah tembakan. 3 (tiga) yang ditembak ialah 1.Nokolek Abugau 2.Okto Dimpau dan yang ketiga masih lupa namanya.” Katanya.
     
    Hengki Magal alummi Sekolah Teologi Atas Kejuruan (STAK) Levinus Rumaseb Moanemani, Kab. Dogiyai ini juga  menceriterakan bahwa, “Jenazah kedua korban yang mati ditembak di larikan di Rumah Sakit Karitas dan ketiga orang yang kenah tembakan dan luka-luka berat ini dilarikan ke Klinik Kuala Kencana untuk mendapat perawatan.” Dengan nada sedih.
     
    Pantauan KNPBNews, bahwa sekitar jam, 3.00 WTP (Waktu Timika Papua) kedua jenazah korban atas nama Ev. Epinus Tabuni dan Yoen Wandagau tiba di Rumah Sakit Karitas dan mereka amankan jenazahnya di kamar Jenazah untuk tunggu proses operasi agar mengeluarkan peluruh yang tersarang dalam masing-masing tubuh mereka berdua.
     
    Sekitar jam, 15.00 WTP (Waktu Timika Papua) Pantauan KNPBNews, Pdt. Deserius Adii, S.Th, muncul dengan muka sedih dan setelah itu beliau memberikan penghormatan terakhir kepada kawannya sekalipun segala gabungan Militer kawal jenazah. Menurut Pdt. Deserius Adii, S.Th, alasan memberikan penghormatan terakhir karena perang suku yang biasa terjadi disekitar Irigasi-Timika dengan kasus tanah itu biasa komunikasi dengan armarhum “saya sangat kehilangan kawan sekerja Allah, diladang Tuhan, kami biasa komunikasi kalau ada apa-apa dengan umat dia (armarhum) dengan umat saya.” Dengan nada bijak dan sedih.
     
    Setelah itu Pdt. Deserius Adii, S.Th. ketemu dengan Kapolres Mimika, AKBP. Yeremias Romtini, M.Si. didepan kamar pintu jenazah dan Pdt. Adii Tanya ke kapolres bahwa, selamat malam pak kapolres, pak apakah peluruh masih ada dalam tubuh atau tidak? Jawab Kapolres, “ iya ada jadi kita kasih pindah jenazah ke UGD untuk foto untuk dokter pastikan peluruh bersarang dimana, agar dokter operasi untuk dikeluarkan peluruhnya.” Kata kapolres Rontini dengan nada tenang.
     
    Selanjutnya sekitar 7.15. jenazah di bawa keluar ke UGD untuk di foto dan setelah di foto itu sekitar jam, 7.55 untuk dibawa kembali ke kamar jenazah untuk proses Operasi dilakukan, selanjutnya pukul 8.00 pihak keluarga korban dan beberapa Hamba Tuhan rapat untuk masuk mengawasi selama operasi dan keluarga putuskan akan masuk mewakili keluarga 2 (dua) orang dan mewakili pelaku 1 (satu) orang dan mewakili Pimpinan Gereja 1 (satu) orang dan mewakili keluarga Pdt. Hengki Magal yang masuk dan bapak Yulian dengan mama satu dan mewakili gereja Pdt.Deserius Adii,S.Th mewakili gereja.
     
    Setelah itu  tim medis dengan keempat orang saksi masuk dalam kamar jenazah untuk operasi tapi dengan alasan apa tidak tahu kepolisian dan para medis menyuruh Pdt.Deserius Adii,S.Th disuruh keluar dari ruangan operasi itu.
     
    Media Online KNPBNews ini menemui Pdt.Adii dan bertanya kenapa pa keluar Adii menjawab dengan wajah menyesal  berkata “tidak papa, polisi dan medis suruh keluar. Dan lanjutnya “Saya datang dan masuk untuk menyaksikan kawan seperjuangan dalam pelayanan ini ditembak dan saya mau saksikan proses pengeluaran peluruh itu tetapi mereka suruh keluar.” Ucapnya.
    Pantauan KNPBNews juga bahwa yang melakukan proses pengeluaran adalah dokter yang berpakaian polisi dan polisi itu juga mengaku dia ini biasa ditugaskan diWamena dan baru dia tugas di Rumah Sakit Karitas. Masyarakat Papua Waspada ke Karitas karena dokter militer yang jaga juga di Rumah Sakit Karitas. Kalau begitu setiap hari orang Papua di Karitas mati terus itu ada apa dibalik itu? Ada apa dibalik mama-mama yang mengandung anak belum waktunya untuk melahirkan disuruh operasi? Ketahuan kelakuan Ruma Sakit Karitas.
     
    Sekitar Jam, 10.00 (WTP) Waktu Timika Papua berhasil mengeluarkan peluruh yang bersarang dalam tunuh Arm. Ev. Epinus Magal, S.PAK yang terkenah di tulang rusuk kanan dan bersarang didalam jantung hati, sedangkan Arm. Yoen Wandagau terkenah peluruh di otak dan tembus keluar peluruhnya. Dan jenazahnya mala mini akan dibawa naik ke tempat Iwaka.

    Voice of GP3PB : Jeritan dari Papua

    Jeritan dari Papua

    PAPUA memang jauh dari Jakarta. Papua ada di ujung timur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sedangkan Jakarta adalah pusat dari seluruh aktivitas politik, bisnis, dan pemerintahan di negeri ini. Lebih dari 60 persen uang yang beredar di Indonesia ada diJakarta. Bagaimana dengan Papua? Entahlah. Yang pasti, jumlahnya jauh lebih kecil dari yang ada di ibu kota.
    Kesenjangan ekonomi antara Papua dan wilayah lain di Indonesia juga sangat besar. Ketika banyak orang di Jakarta menikmati lezatnya aneka makanan, saudara kita nun jauh di Papua masih saja kesulitan mengisi perut. Kita pun terhenyak ketika ada kabar puluhan warga yang mayoritas anak-anak meninggal karena busung lapar dan gizi buruk di Distrik Kwor, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat.
    Jumlah korban meninggal memang simpang siur. Laporan sebuah lembaga swadaya masyarakat me­nyebutkan, ada 95 orang yang meninggal. Jumlah tersebut adalah akumulasi kejadian mulai Oktober 2012 sampai Maret 2013. Di sisi lain, pemerintah daerah membantah. Versi mereka, korban meninggal tidak sebesar yang digembar-gemborkan media. Apa pun dalihnya, yang pasti ada jiwa yang melayang akibat serangan busung lapar dan gizi buruk.
    Bencana di Distrik Kwor, Tambrauw, memang bukan yang pertama di Papua. Peristiwa serupa yang tak kalah menggemparkan terjadi di pedalaman Yahukimo pada 2005. Saat itu 55 orang dikabarkan meninggal karena serangan busung lapar. Sulitnya medan menjadi salah satu alasan tidak mudah mengatasi masalah kelaparan di Yahukimo.
    Wilayah hasil pemekaran Kabupaten Jayawijaya itu berada pada ketinggian lebih dari 2.500 di atas permukaan laut. Distribusi bantuan hanya bisa diberikan lewat pesawat udara atau helikopter. Kondisi serupa terjadi di Tambrauw sekarang. Kabupaten tersebut belum genap berusia lima tahun. Tambrauw adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Manokwari dan Sorong. Butuh sekitar enam jam perjalanan darat dari Sorong untuk mencapai Tambrauw. Lewat laut juga bisa. Tetapi, waktu tempuhnya lebih lama. Itu baru Tambrauw.
    Untuk menuju Distrik Kwor, butuh perjuangan lebih. Wilayah yang kini diserang bencana kelaparan itu harus dicapai dengan jalan kaki 3–4 jam lagi.
    Fasilitas kesehatan di Tambrauw sangat mem­prihatinkan. Memang ada beberapa puskesmas pem­bantu. Masalahnya, jarang ada tenaga medis yang stand by. Ada cerita warga empat hari berjalan menuju puskesmas. Begitu ketemu, eh tidak dokter yang bertugas. Melihat kondisi tersebut, wajar bila kasus kelaparan di Tambrauw berlarutlarut tanpa penanganan. Korban demi korban pun berjatuhan.
    Berkaca pada peristiwa di Yahukimo, apa yang sekarang terjadi di Tambrauw seharusnya bisa dian­tisipasi. Pemerintah wajib melakukan langkah taktis untuk mengatasi masalah gizi buruk. Medan di pedalaman
    Papua memang begitu berat dan tidak mudah untuk ditaklukkan. Namun, itu seharusnya tidak menjadi pembenaran untuk membiarkan kelaparan terus meng­gerogoti warga di sana. Kalau pemerintah daerah tidak mampu, pemerintah pusat harus turun tangan. Se­ce­patnya! (*)Padang Ekspres
     
    NAPAS : Wenda Kilungga
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif