Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Suara Perempuan Papua. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Suara Perempuan Papua. Tampilkan semua postingan

    Gerakan Pembebasan Perempuan Papua Barat (GP3PB)

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Tokoh Perempuan Papua Berharap Rakyat Papua Bersatu di Dalam ULMWP

     Tokoh Perempuan Papua Berharap Rakyat Papua Bersatu di Dalam ULMWP
    Tokoh Perempuan Papua Berharap Rakyat Papua Bersatu di Dalam ULMWP
    Mama Fien Yarangga saat memberikan keterangan pers (Foto: Agus Pabika/Suara Papua)
     
    JAYAPURA, SUARAPAPUA.com --- Antusias rakyat Papua Barat mendukung langkah United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), mendaftarkan keanggotaan Papua dalam Melanesia Spearhead Group (MSG) hari ini, mendapat dukungan yang besar dari seantero rakyat Papua Barat.

    Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat, Bazoka Logo, saat memberikan keterangan pers di Asrama Mimika, Kamis (5/2/2015) siang tadi. (Baca: Mewakili Bangsa Papua Barat ULMWP Resmi Ajukan Aplikasi Keanggotaan ke Sekretariat MSG).

    “Wilayah-wilayah yang melakukan aksi demo dan dukungan doa untuk ULMWP tanggal 4 Februari 2015 kemarin berlangsung di Merauke, Sorong, Biak, Manokwari, Nabire, Jayapura dan Yahukimo,” kata Bazoka.

    Sedangkan hari ini, lanjut Bazoka, dukungan doa dalam bentuk aksi dan ucapan syukur berlangsung di Deiyai, Dogiyai, Fak-fak, Kaimana dan Timika, juga melakukan aksi yang sama, mendukung langkah ULMWP di Port Villa, Vanuatu.

    “Kami menyikapi ini dengan sangat antusias karena ini merupakan satu langkah politik yang sangat luar biasa, dan kami juga menghimbau rakyat Papua untuk terus mendukung proses ini,” tegas Bazoka. (Baca: Rakyat Papua Barat di Jayapura Gelar Doa Dukung Pengajuan Aplikasi ke Sekretariat MSG).

    Lanjut Bazoka, tanggung jawab rakyat Papua maupun organ perlawanan adalah tetap menjawab keutuhan dan persatuan orang asli Papua agar ULMWP bisa terus melakuan diplomasi di tingkat Melanesia, maupun dunia internasional.

    Sementara itu, salah satu tokoh perempuan Papua, Mama Fien Yarangga, mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah Vanuatu, Salomon Island, Fiji, PNG, dan Dewan Gereja Pasifik yang memberikan dukungan bagi perjuangan rakyat Papua. (Baca: Ini Hasil Simposium di Vanuatu; Tiga Faksi Besar Bersatu di Badan Nasional ULMWP).

    “Melalui ULMWP, kita diakui sebagai orang Melanesia, dan saya pikir orang Papua harus bersuka cita dan harus didoakan seperti ini."

    "Tetapi saya mengikuti di radio hari ini, tidak ada satupun yang berbicara tentang peristiwa besar yang terjadi di Melanesia hari ini,” kata mama Fien. .

    Mama Fien menambahkan, dukungan dari Pemerintah Vanuatu dan negara-negara Melanesia lainnya merupakan bentuk keimanan orang Melanesia dan orang Kristen. (Baca: Ini Hasil Simposium di Vanuatu; Tiga Faksi Besar Bersatu di Badan Nasional ULMWP).

    “Saya ingin tidak ada lagi bentuk kelompok-kelompok di luar ULMWP, kalau mau berbicara tanah Papua, kita sudah percayakan kepada ULMWP, jadi semua rakyat Papua harus bersatu di dalam ULMWP."

    "Kita kasih mereka yang bicara, sehingga kerinduan dan keinginan untuk Papua Merdeka bisa terwujud di kemudian hari," ujar mama Fien. (Baca: ULMWP Milik Rakyat Papua Barat, Bukan Milik Faksi Perjuangan!).

    Editor: Oktovianus Pogau

    AGUS PABIKA
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Besok, Novelis Pertama Perempuan Papua Akan Tour ke Kampus Uncen


    Aprilla R.A Wayar saat menunjukkan dua karyanya. Foto: Ist .

    Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Novelis pertama perempuan Papua, Aprilla R.A Wayar  mengatakan, pihaknya akan melakukan tour ke beberapa kampus di kota Jayapura untuk melihat antusiasme mahasiswa, diskusi dan mengenalkan dua novel karyanya berjudul "Mawar Hitam Tanpa Akar" dan "Dua Perempuan".

    "Besok, Senin (31/03/2014) saya akan tour ke Uncen (Universitas Cenderawasih:red). Saya ingin melihat antusiasme mahasiswa Papua terhadap karya sastra sekaligus diskusi dan mengenalkan dua karya saya," tuturnya kepada majalahselangkah.com di Jayapura, Minggu (30/03/2014)

    Setelah di Uncen, pada Rabu (02/04/2014) mendatang, Aprila akan melakukan perjalanan yang sama ke kampus STIKOM Muhammadiyah Jayapura. Selanjutkan akan dilakukan ke beberapa kampus, tetapi jadwal tour belum ditentukan.

    "Saya berharap ada hubungan kerja sama yang dibangun oleh kampus-kampus yang berada di kota Jayapura bersama saya dan beberapa teman-teman penulis buku agar generasi muda khususnya generasi muda Papua benar-benar mulai menulis tentang apa yang mereka lihat dan rasakan di atas Tanah ini," harap wartawati di tabloidjubi.com itu. 

    Diketahui, karya pertama, "Mawar Hitam Tanpa Akar" Aprilia berhasil mengulas kisah keluarga muda kelas menengah Jayapura dengan segala dinamika kehidupan, mulai dari percintaan sampai kaitan-kaitan dengan persoalan-persoalan politik yang dialami masyarakat Papua.

    Sedangkan pada novel berjudul "Dua Perempuan" ia mengulas tentang kisah cinta Pemuda Papua dengan gadis Timor Leste dan budaya patriarkhi di Papua. (Theresia F. Tekege/MS)
    Editor : Yermias Degei

    IKWAL: Seminar Memperjelas Peran Perempuan Suku Walak

    L Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo ketika memberi bantuan kepada Ikatan Suku Walak (Iswal) dalam seminar, Senin (13/10) – Jubi/Islami
    Wamena, Jubi – Untuk lebih memperjelas status keaktifan pengurus, peran, dan memperjelas status hak serta kewajiban perempuan Suku Walak, maka Ikatan Suku Walak (Iswal) menggelar Seminar Perempuan Suku Walak Se-Propinsi Papua.

    Seminar yang dilaksanakan di Gedung Tongkonan, Wamena, Senin (13/10) tersebut, diikuti 500 peserta perempuan dari tujuh wilayah yakni, wilayah Wamena, Ilugua, Wollo, Eragayam, Barlima, Jayapura dan Timika. Acara ini juga dihadiri Bupati Kabupaten Jayawijaya, Wempi Wetipo yang sekaligus membuka kegiatan seminar perempuan Suku Walak.

    Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Suku Walak, Selesina Doga mengatakan, setiap perempuan Suku Walak yang mendiami daerah suku walak serta menggunakan bahasa Walak telah bersatu hati untuk menyatakan sikap dan kesetiannya, melalui persekutuan yang dibangun bertahun-tahun.

    Di mana, perempuan Suku Walak memiliki karakter yang berbeda namun memiliki potensi yang sama dengan perempuan pada suku-suku lainnya.

    “Perempuan Suku Walak terus membenahi diri sebagi masyarakat yang maju dalam perkembangan era saat ini, dengan demikian perempuan Walak tengah berusaha dan menyadari untuk menemukan maksud-maksud yang tersembunyi melalui berbagai kegiatan, karena perempuan suku walak telah membangun sebuah prinsip hidup bahwa hidup ini adalah anugerah dan harus lebih menghargai hidup,” kata Doga dalam sambutanya.

    Diakui Doga, untuk saat ini perempuan Suku Walak diharuskan dapat membangun kerjasama dan koordinasi dengan perempuan suku lainnya melalui wadah ikatan perempuan suku walak, dengan tujuan dan cita-cita untuk membangun dan mengurus semua kepentingan orang Walak yang mendiami berbagai wilayah.

    Dikatakan, pada dasar dan kenyataannya menunjukan, perempuan Walak bukan bagian dari Suku Walak karena yang mengatur rumah tangga ialah hanya diperioritaskan oleh kaum laki-laki tanpa melibatkan perempuan.

    Sebagai perempuan Suku Walak, katanya, perempuan Suku Walak menyadari adanya faktor yang mempengaruhi hal ini terjadi diantaranya faktor pendidikan, kesehatan, adat dan budaya, serta orang tua lebih memberikan kebebasan kepada pria untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.

    “Kepercayaan perempuan lebih rendah dari pada kepercayaan yang diberikan kepada laki-laki, serta pendapat laki-laki lebih diutamakan dari pada perempuan padahal konsep kemitraan perempuan dan laki-laki sebernarnya itu sama,” ujarnya.

    Untuk itu, melalui seminar ini dapat memberikan arti sebagai upaya peningkatan kemampuan perempuan dalam pembangunan kapasitas dan keterampilan agar mampu meraih akses dan penguasaan teknologi serta pengambilan keputusan.

    Sementara itu Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo mengungkapkan, pemerintah memberikan apresiasi pada kegiatan yang dibuat oleh kaum perempuan suku walak.

    Menurutnya, seminar seperti ini harus dapat diikuti oleh perempuan suku yang lainnya, dimana perempuan suku walak mempunyai komitmen yang kuat untuk menjadi agen perubahan bagi daerah yang dicintainya terutama di Kabupaten Jayawijaya.

    “Kegiatan yang dilakukan oleh perempuan Suku Walak ini sangat bermanfaat banyak dalam pembangunan, karena perempuan suku walak memiliki kreatifitas yang baik sebagai seorang perempuan,” papar Bupati kepada wartawan usai membuka seminar.

    Dalam mendukung kegiatan perempuan suku walak yang sedang berjalan, Bupati Jayawijaya memberikan sumbangan dana pendukung kegiatan serta dalam waktu dekat akan diberikan bantuan berupa kendaraan guna mengangkut hasil pertanian untuk dipasarkan serta dapat digunakan untuk kegiatan lainnya terutama kegiatan Perempuan suku walak. (Islami)

    Sumber: DI SINI

    Voice of GP3PB : Jeritan dari Papua

    Jeritan dari Papua

    PAPUA memang jauh dari Jakarta. Papua ada di ujung timur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sedangkan Jakarta adalah pusat dari seluruh aktivitas politik, bisnis, dan pemerintahan di negeri ini. Lebih dari 60 persen uang yang beredar di Indonesia ada diJakarta. Bagaimana dengan Papua? Entahlah. Yang pasti, jumlahnya jauh lebih kecil dari yang ada di ibu kota.
    Kesenjangan ekonomi antara Papua dan wilayah lain di Indonesia juga sangat besar. Ketika banyak orang di Jakarta menikmati lezatnya aneka makanan, saudara kita nun jauh di Papua masih saja kesulitan mengisi perut. Kita pun terhenyak ketika ada kabar puluhan warga yang mayoritas anak-anak meninggal karena busung lapar dan gizi buruk di Distrik Kwor, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat.
    Jumlah korban meninggal memang simpang siur. Laporan sebuah lembaga swadaya masyarakat me­nyebutkan, ada 95 orang yang meninggal. Jumlah tersebut adalah akumulasi kejadian mulai Oktober 2012 sampai Maret 2013. Di sisi lain, pemerintah daerah membantah. Versi mereka, korban meninggal tidak sebesar yang digembar-gemborkan media. Apa pun dalihnya, yang pasti ada jiwa yang melayang akibat serangan busung lapar dan gizi buruk.
    Bencana di Distrik Kwor, Tambrauw, memang bukan yang pertama di Papua. Peristiwa serupa yang tak kalah menggemparkan terjadi di pedalaman Yahukimo pada 2005. Saat itu 55 orang dikabarkan meninggal karena serangan busung lapar. Sulitnya medan menjadi salah satu alasan tidak mudah mengatasi masalah kelaparan di Yahukimo.
    Wilayah hasil pemekaran Kabupaten Jayawijaya itu berada pada ketinggian lebih dari 2.500 di atas permukaan laut. Distribusi bantuan hanya bisa diberikan lewat pesawat udara atau helikopter. Kondisi serupa terjadi di Tambrauw sekarang. Kabupaten tersebut belum genap berusia lima tahun. Tambrauw adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Manokwari dan Sorong. Butuh sekitar enam jam perjalanan darat dari Sorong untuk mencapai Tambrauw. Lewat laut juga bisa. Tetapi, waktu tempuhnya lebih lama. Itu baru Tambrauw.
    Untuk menuju Distrik Kwor, butuh perjuangan lebih. Wilayah yang kini diserang bencana kelaparan itu harus dicapai dengan jalan kaki 3–4 jam lagi.
    Fasilitas kesehatan di Tambrauw sangat mem­prihatinkan. Memang ada beberapa puskesmas pem­bantu. Masalahnya, jarang ada tenaga medis yang stand by. Ada cerita warga empat hari berjalan menuju puskesmas. Begitu ketemu, eh tidak dokter yang bertugas. Melihat kondisi tersebut, wajar bila kasus kelaparan di Tambrauw berlarutlarut tanpa penanganan. Korban demi korban pun berjatuhan.
    Berkaca pada peristiwa di Yahukimo, apa yang sekarang terjadi di Tambrauw seharusnya bisa dian­tisipasi. Pemerintah wajib melakukan langkah taktis untuk mengatasi masalah gizi buruk. Medan di pedalaman
    Papua memang begitu berat dan tidak mudah untuk ditaklukkan. Namun, itu seharusnya tidak menjadi pembenaran untuk membiarkan kelaparan terus meng­gerogoti warga di sana. Kalau pemerintah daerah tidak mampu, pemerintah pusat harus turun tangan. Se­ce­patnya! (*)Padang Ekspres
     
    NAPAS : Wenda Kilungga
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif