Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label FAMKP. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label FAMKP. Tampilkan semua postingan

    ZAMAN INI MENUNTUT MAHASISWA MENULIS



    Bastian Tebai (foto Pdibadi fb)
    Oleh Topilus B. Tebai #

    Ini beberapa dialog yang saya ikuti.
    “Ah, sob, sa trada bakat di bagian situ jadi, kamu lanjutkan saja,” kata Mikha (bukan nama sebenarnya). 
    “Tra menulis juga kita hidup moo. Jangan saling paksa untuk menulis. Semua mahasiswa to, jadi atur masing-masing,” begitu komentar Jack (bukan nama sebenarnya) dalam sebuah diskusi soal tulis menulis.
    “Kita itu bukan butuh orang yang jago tulis-tulis di media massa. Kita itu butuh orang yang kerja di lapangan, turun ke jalan,” kata seorang aktivis ketika seorang rekan mengajak penjelasan lisannya dituliskan dalam bentuk tulisan untuk ditawarkan kepada media-media online agar dibaca publik.
    “Mantap. Tingkatkan adik-adik.” Itu saja komentarnya ketika ditawari membeli sebuah majalah yang dibuat oleh anak-anak Papua di tanah rantau dua hari yang lalu. Kakak itu bahkan tidak punya gairah untuk membeli. Jangankan membeli, membuka lembar demi lembar, sekedar untuk melihat pun tidak. Cover luar mungkin sudah cukup baginya.
    Potongan-potongan dialog di atas saya kira telah mewakili sebagian kecil dari gambaran realita hidup mahasiswa Papua ketika bersentuhan dengan kalimat ‘tulis menulis’.
    ***
    Ketika membuka facebook, saya dapati banyak mahasiswa Papua cukup up to date dengan perkembangan tanah Papua saat ini, perkembangan Indonesia dan dunia. Hal ini tercermin dari artikel dan berita yang dibagikan melalui facebookdan twitter.
    Mahasiswa Papua cenderung lebih suka membagi masalah-masalah hak asasi manusia seperti pelanggaran HAM di Papua, mengenai Persipura dan sepakbola, dan mengenai kekayaan alam Papua dan eksploitasinya.
    Banyak mahasiswa Papua yang memaki, marah atas kekeliruan penulisan dan perekayasaan fakta di media-media nasional atas peristiwa-peristiwa -terutama yang bersentuhan dengan hak orang Papua untuk menentukan nasib sendiri- yang terjadi di tanah Papua. Mahasiswa marah karena tahu, fakta yang terjadi tidak seperti yang ditulis sang penulis. 
    Di beberapa tulisan yang dibuat oleh anak muda Papua, banyak dari kita yang terlihat cukup pandai dengan memberi komentar mengenai apa yang ditulis. 
    Beberapa dari kita merasa ‘nyaman’ dengan cukup menunggu artikel dan berita yang dihasilkan beberapa media online untuk kemudian dicopy paste ke blog milik pribadi dengan atau tanpa menyertakan sumber. Dari blognya, kemudian artikel itu dibagikan kepada publik melalui facebook dan twitter.
    Di majalahselangkah.com misalnya, beberapa mahasiswa Papua mengirim tulisan yang cukup ‘wah‘. Setelah dilacak melalui internet, banyak tulisan yang ternyata adalah hasil copy paste karya orang lain. Ini plagiat. Bisa kena hukuman karena melanggar hukum.
    Beberapa dari kita sibuk mengambil potongan-potongan kalimat dari beberapa tokoh orang Papua dan dibagikannya kepada publik, tanpa menilai dahulu apakah kalimat yang terucap dari sang tokoh masih relevan untuk dikonsumsi publik, cenderung ambigu bila dipotong dan disendirikan, sehingga apakah bertentangan atau tidak dengan eksistensi dan pendirian sang tokoh di tengah gejolak sosial politik ekonomi di Papua. Ini sepele, tetapi dapat mengubah mindset publik soal elektabilitas tokoh.
    Sementara yang lain bahkan fokus hanya untuk kuliah. Hidup selama minimal 4 tahun kuliah hanya diabdikan untuk ke kampus, belajar, tidur dan makan, sehingga akhirnya lupa diri dengan tugasnya sebagai mahasiswa, menjalankan aspek lainnya dari Tri Dharma Mahasiswa.
    ***
    Kondisi sosial-politik-ekonomi dan budaya di Papua dengan cepat berganti rupa. Zaman sedang bergerak. Perubahan sedang terjadi. Tahukah Anda kemana arah gerakannya? Bagaimana bila perubahan itu mengarah kepada kehancuran?
    Tugas mahasiswa Papua adalah mengarahkan perubahan itu ke arah yang baik. Menentukan arah yang baik dan yang tidak baik yang harus dijauhi juga adalah tugas mahasiswa. Mahasiswa bertugas mengobarkan api demokrasi dengan menjadi corong suara rakyat.
    Saluran untuk itu semua yang paling baik adalah menulis. Dengan menulis, ide-ide konstruktif kita akan dikonsumsi publik, kritik dan pendapat kita akan mengawal pembangunan, tulisan kita menjadi corong suara rakyat. Mahasiswa mesti mengkritisi sistem dan birokrat yang kapitalistik dan cenderung pro pusat dan pemodal- bila itu memang terjadi.
    Mahasiswa harus bangun dan mulai mengisi ruang-ruang yang disediakan media-media milik orang Papua dengan menulis. Mahasiswa harus sadar diri dan meningkatkan minat baca dan tulis. 
    Dan satu lagi, mahasiswa dituntut untuk sadar bahwa menulis itu proses, bukan bakat. Meminjam kalimat Yermias Degey, “Tak ada seorang ibu di dunia ini yang melahirkan seorang penulis”.
    Mahasiswa dituntut sadar diri dengan statusnya sebagai mahasiswa, untuk kegiatan copy paste berita dan atau artikel dan posting ke blog pribadi karena hanya akan menjadi pupuk penyubur budaya malas tulis dan instan. Mahasiswa Papua dituntut menulis sendiri, dan tidak plagiat.
    Mahasiswa Papua sebagai kaum terdidik mesti bangkit mendidik rakyat dengan menganalisa kondisi terkini dan ramalan akan hari esok, dan menyampaikannya dalam bentuk penyampaian lisan dan tertulis yang enak diterima. 
    Ini semua tugas kita, karena kita mahasiswa Papua sebenarnya punya kewajiban menjalankan jawaban dari pertanyaan ini: “Ingin dibawa kemana Papua ini?”
    ***
    Zaman yang sedang bergerak menuntut mahasiswa Papua untuk menulis. Menulis apa yang dilihat, dialami, dirasakan, didengar. Menulis itu kegiatan reflektif. Kita dituntut banyak membaca. 
    Bagaimana menulis? Banyak buku dan sumber yang dapat menjadi rujukan mahasiswa. Yang dibutuhkan mahasiswa adalah kemauan dan tekad.
    Sudah saatnya kita dengan tegas mengatakan akan menegur para penulis berita dan artikel di media nasional yang menulis berita yang kita pikir direkayasa itu dengan menyajikan yang sebenarnya terjadi, dan bukan lagi dengan mengomentari singkat dan memaki di facebook dan twitter. 
    Ingat kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Jika umurmu tidak sepanjang umur bumi, sambunglah dengan tulisan”. Sejarah bangsa harus lahir dan diukir dan ditulis oleh anak bangsa sendiri.
    Ini kata-kata Adolf Hitler, pimpinan Nazi Jerman pada Perang Dunia II, “Saya tidak takut pada ujung senjata. Saya hanya takut pada ujung pena.”
    Topilus B. Tebai, Mahasiswa Papua, Penulis di majalahselangkah.com.
    Sumber : http://majalahselangkah.com/content/zaman-menuntut-mahasiswa-menuli

    Visi dan Misi KBK Papua (FAMKP)

    - Pernyataan Visi dan Misi KBK Papua/ FAMKP
    Visi
    Visi PKBK Papua/FAMKP ialah mewujudkan dunia penutur bahasa Melayu yang melek akan persoalan Politik Papua dalam konteks politik NKRI dan politik Melanesia.
    Dengan kemelekan dimaksud menyatakan sikap terhadap status politik Tanah Papua di dalam NKRI secara proporsional, demokrasi, bermoral dan bermartabat.

    Tujuan Akhir
    Mewujudn-yatakan sebuah West Papua (wilayah di Pulau New Guinea bagian Barat) yang bebas, merdeka dan berdaulat, berdasarkan KEBENARAN sejati yang menghadirkan keadilan, keutuhan, kerukunan, kedamaian dan keserasian berdasarkan kebenaran nilai-nilai dan norma-norma ke-Melanesia-an sebagai wujud nilai dan norma kemanusiaan universal, yaitu dengan menjunjung tinggi kehidupan berdasarkan KEBENARAN yang berkeadilan sebagai nilai tertinggi di atas hak asasi, keadilan sosial, kedamain abadi, kestabilan ataupun demokrasi.
    • Bebas dan merdeka artinya terlepas dari NKRI beserta antek-antek dan majikan-majikannya; bebas dari segala macam bentuk pemerkosaan, pengekangan, penindasan, terror dan intimidasi, pembantaian, penjarahan yang berdampak perusakan alam Bumi Cenderawasih dan penghilangan kelompok etnis Papua ras Melanesia dari tanah leluhurnya, Pulau New Guinea;
    • Berdaulat berarti terlepas dari segala macam kekangan dan ikatan dengan dan oleh pihak asing seperti NKRI dan Belanda;
    • West Papua berarti Tanah Papua (dari Sorong sampai Samarai);
    • KEBENARAN yang berkeadilan sebagi nilai tertinggi berarti yang terpenting dari semuanya bukanlah demokrasi, bukan HAM, bukan keadilan. Menurut KBK Papua (FAMKP), KEBENARAN ialah sumber dari semuanya dan segalanya:  entah itu HAM, demokrasi, kedamaian, keadilan, modernisasi, kesejahteraan dan kemakmuran.
    Untuk pada akhirnya menciptakan hidup dan bergerak demi mewujudkan masyarakat yang beradab (kemanusiaanya), demokratis (dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara), maju (dalam paradigma dan pola berpikir srta bertindak), yang penuh kebijaksanaan dan kearifan (didasarkan pada nilai-nilai dan norma serta pandangan hidup warisan nenek-moyang orang Melanesia) yang berkerabat dengan sesama manusia dan harmonis dengan alam sekitarnya.


    Misi
    Misi utama pemberitaan KBK Papua / FAMKP sebagai bagian dari WPNews Group Online Services karya The Diary of OPM (Online Papua Mouthpiece) ialah menginjili dunia dengan KEBENARAN sejati dari Tanah dan Bangsa Papua menyangkut aneksasi dan pendudukan NKRI atas bangsa dan Tanah Papua dengan:
    • "Memberitakan berita apa adanya", yaitu  menyampaikan berita sebagaimana adanya, dari dan tentang Tanah Papua (Sorong sampai Samarai), baik yang telah terjadi, sedang terjadi ataupun yang akan terjadi;
    • Mendidik masyarakat penutur bahasa Melayu di manapun Anda berada tentang sisi-sisi negativ dan sisi-sis positiv serta keuntungan dan kerugian dari "tipu daya" dan "muslihat" terkait pendudukan NKRI atas Tanah dan bangsa Papua dan keindahan dan kemegahan dari "kebenaran" sejarah proses pencaplokan dan pendudukan NKRI atas Bumi Cenderawasih;
    • Memberi pelajaran yang mendidik masyarakat penutur bahasa Melayu di manapun Anda berada tentang kasus pendudukan Negara Kesatuan Republik Indonesia di atas Tanah Papua dengan sebuah proses Pencaplokan (Annexation) yang berujung kepada Pendudukan dan Penjajahan (Occupation and Colonialism) di era pascamodern ini (1961 – sekarang).

    Motto dan Slogan
    Motto: Speaking for the Truth (Bersuara Karena dan Untuk KEBENARAN!)
    Slogan: Educating the World, for a Free and Independent West Papua (Mendidik Dunia untuk sebuah West Papua yang Bebas dan Berdaulat).

    Pernyataan Sikap
    Kami menyatakan, dengan ini dengan sesunggunya
    Berpihak kepada Kebenaran itu sendiri, bukan kebenaran saya, bukan kebenaran Kami, bukan kebenaran Anda, bukan juga kebenaran Mereka, tetapi KEBENARAN itu sendiri, terlepas dari semuanya
    Karena
    1. KEBENARAN itu membenarkan...
    2. BENENARAN itu memerdekakan...
    3. KEBENARAN Itu pasti dan selalu MENANG.

    Papua Merdeka News mengakui dan
    • mengukuhkan bahwa Masyarakat Adat berhak untuk Menentukan Nasib Sendiri, berdasar atas hak tersebut mereka dengan bebas menentukan status politik mereka dan mengusahakan pembanguna ekonomi, sosial dan budaya mereka (Pasal 3,Resolusi di Adopsikan oleh Majelis Umum PBB. 61/295. Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat.)
    • memproklamirkan bersama NKRI bahwa "kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh karena itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan (Preambule UUD 1945 NKRI);
    • menyatakan bahwa KEBENARAN selalu dan pasti menang, entah bagaimanapun juga. KEBENARAN tidak dapat dikalahkan oleh siapapun, kapanpun, di manapun dan bagaimanapun juga. KEBENARAN selalu dan pasti menang, dari masa ke masa, di mana-mana, di hadapan siapapun dan bagaimanapun juga adanya. Oleh karena itu, "KEBEBARAN" seputar persiapan dan Pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 di Irian Barat ialah keberpihakan kami, tanpa kompromi, karena kami yakin, kebenaran itu pasti terungkap dan akhirnya pasti menang, sekali untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, Papua Merdeka News Bersuara Karena & Untuk KEBENARAN!
    Yang artinya:
    1. "Bersuara karena KEBENARAN!" artinya kalau tidak ada kebenaran tidak perlu bersuara, dan/ atau kalau tidak salah kenapa takut?
    2. "Bersuara untuk KEBENARAN!" maksudnya karena kami yakin kebenaran pasti menang dan menang untuk selama-lamanya.
    3. "Bersuara Karena & Untuk KEBENARAN!" berarti kami tidak berusaha membenarkan diri, dan tidak mengkleim diri sebagai yang benar, apalagi kami tidak berpihak kepada dan menentang upaya menutup-nutupi atau membelokkan kebenaran atau upaya membenarkan kesalahan. Artinya "KEBENARAN" itu kami pandang dan suarakan sebagai kebenaran secara terpisah dari kemauan atau aspirasi bangsa Papua ataupun kleim dan dalik NKRI. "KEBENARAN" itu terlepas dari kepentingan ataupun kelompok, ia secara terpisah dan utuh sebagai "KEBENARAN" itu sendiri: bukan kebenaran orang Papua, bukan juga kebenaran NKRI, tetapi "KEBENARAN" itu sendiri.
    Oleh karena itulah ami hanya berjuang untuk menjadi salah satu dari suara-suara yang memercikkan cahaya KEBENARAN itu sendiri, karena pada akhirnya dan pastinya KEBENARAN itu sendiri akan membela dan memenangkan dirinya.
    Kami tahu KEBENARAN tidak butuh kami, tetapi kami butuh KEBENARAN itu untuk diwujud-nyatakan dan menyatakan kemenangannya yang mutlak dan abadi itu di Tanah Papua, di Bumi Cenderawasih, di pulau New Guinea, di muka Bumi ini.

    Penjelasan Tambahan
    1. Tulisan PAPUA Merdeka! News di mana “PAPUA” ditulis dalam huruf besar, “Merdeka!” ditulis dengan huruf “M” besar, lalu diakhiri dengan tanda seru “!”, dan “News”. Ungkapan “PAPUA Merdeka!” menunjukkan sebuah tekad dan perjuangan untuk kemerdekaan Negara West Papua, kemerdekaan bangsa dan Tanah Papua dari segala bentuk dan macam penjajahan;
    2.  "KEBENARAN", dalam cetakan huruf besar berarti bukan sesuatu yang saya anggap benar, yang kami anggap benar atau yang Anda anggap benar atay yagn mereka anggap benar. Bukan juga perihal yang saya dan kami atau yang Anda atau mereka benarkan. Dia adalah "kebenaran" itu sendiri, sebagai sebuah obyek, subyek, identitas, oknum "benar" itu sendiri secara terpisah dan mandiiri, tanpa kepentingan siapapun, tanpa tempelan kemauan makhluk manapun. "Kebenaran" yang dimaksud di sini ialah fakta sebagaimana adanya tanpa embel-embel atau bayangan atau bumbu kepentingan apapun, kacamata apapun, tafsiran apapun.
    3.  KEBENARAN! di sini bukanlah “KEBENARAN” sebagaimana dimaksud dalam Kita Suci agama modern. Kebenaran dalam Kitab Suci Agama Modern ialah kebenaran yang bersifat “dogma” yang diimani, yang berisi harapan dan janji: janji keselamatan, janji hidup kekal, janji upah, janji berkat dan kelimpahan, yang terkait dengan makhluk ilahi. KEBENARAN! Dalam hal ini bukanlah yang menjadi KEBENARAN karena saya yakin dia sebuah kebenaran. Tidak perduli engkau dan saya percaya atau tidak percaya, dia tetap kebenaran.
    4. KEBENARAN di sini tidak bermaksud membela pendirian Bintang Kejora atau dalil Merah-Putih, kebenaran NKRI atau kebenaran West Papua. Kebenaran dimaksud ialah "kebenaran" itu sendiri, tanpa tambahan NKRI atau West Papua, tanpa Bintang Kejora ataupun Merah-Putih. Karena ini sebuah kebenaran terkait dengan sebuah fakta sejarah, sebuah peristiwa, sebuah insiden sejarah, yang telah tercatat dalam sejarah peri-kemanusiaan, khususnya dalam memori kolektiv manusia Papua, yang terus-menerus selama lebih dari setengah abad disegel dengan nyawa dan darah sebuah bangsa, yang sedang menunggu waktu sesuai kehendak-Nya untuk menyatakan jatidirinya sebagai KEBENARAN yang mutlak untuk selama-lamanya.
    5.  Tanda Seru "!" di akhir kata "KEBENARAN" menegaskan keteguhan hati, pernyataan sikap, kebulatan tekad untuk memagari dan memfasilitasi KEBENARAN itu menyatakan dirinya, pertaruhan raga, jiwa dan semangat untuk merayakan "KEBENARAN" itu sendiri.

     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif