Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label TPNPB-OPM. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label TPNPB-OPM. Tampilkan semua postingan

    Goliath Tabuni Bersama 23 Pasukannya Turun Gunung

    Goliath Tabuni Bersama 23 Pasukannya Turun Gunung

    by Papua Post
    JAYAPURA - ‘Jenderal Tertinggi’ Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM ) Goliath Tabuni bersama 23 orang pengikutnya (baca; pasukannya) di wilayah Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, telah sadar atas perjuangan Papua merdeka yang tidak pernah tercapai, akhirnya ingin kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi bersama istri dan anak mereka untuk hidup layak sebagaimana masyarakat Indonesia lainnya. Keinginan…
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Komandan OPM Belum Dipastikan Kapan Akan Serahkan Diri

    Komandan OPM Belum Dipastikan Kapan Akan Serahkan Diri

    by Papua Post
    Suara.com - Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Teguh Pudji Raharjo mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan kapan Jenderal Tertinggi Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) Goliat Tabuni akan menyerahkan diri. Teguh menyampaikan, kalau Goliat menginginkan mengakhiri aktivitas melawan Pemerintah Indonesia. Kabar itu disampaikan Teguh, menurut hasil pertemuan TNI dengan 23 anak buah Goliat di…
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Jendral Tertinggi OPM ‘Tobat’, Pilih Kembali ke NKRI

    Jendral Tertinggi OPM ‘Tobat’, Pilih Kembali ke NKRI

    by Papua Post
    Suara.com - Goliat Tabuni selama ini dikenal sebagai Jenderal tertinggi Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM). Selama bertahun-tahun, dia menebar teror di wilayah Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, agar Papua dapat memisahkan diri dari Indonesia. Tapi kini, Goliat tersadar. Dia akui salah, dan sadar betul kalau perjuangannya hanya mimpi belaka. Karena itu, Goliat pun memilih…
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Pangdam: Goliat Tabuni Belum Menyerah!

    Pangdam: Goliat Tabuni Belum Menyerah!

    by Papua Post
    JAYAPURA - Adanya kesimpangsiuran berita soal menyerahnya Pemimpin Tertinggi OPM, Goliat Tabuni turun gunung kembali bergabung ke NKRI, mendapat penegasan dari Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen Fransen G Siahaan. Pangdam mengatakan, Goliat Tabuni belum menyerah, yang menyerah adalah baru pengikutnya 23 orang. “Memang betul ada 23 anggota OPM yang sudah menyerah dan kembali bergabung dengan NKRI, tapi…
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Dewan Adat: Kenapa Pakai Istilah KKB untuk TPN/OPM di Media Massa?

    Dewan Adat: Kenapa Pakai Istilah KKB untuk TPN/OPM di Media Massa?

    Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Hingga Selasa kemarin, Kepolisian Daerah (Polda) Papua masih melakukan pemeriksaan terhadap Wuyunga dan Nesmi Wenda yang ditangkap saat berada di sekitar Pasar Sinakma, Wamena Papua, Sabtu (24/1/15) lalu. Mereka (Wuyunga dan Nesmi Wenda) diduga anggota Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN) anak buah dari pimpinan Puron Wenda. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid…
     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    TPN-OPM Punya Kewenangan Tentukan Pelaku Dialog

    TPN-OPM Punya Kewenangan Tentukan Pelaku Dialog

    Puron Wenda .Komando Pimpinan tertinggi
    TPN-OPM Wilayah Lapago (Foto doc SP)
    PBB, Australia dan Vanuatu Diminta Jadi saksi dialog
    Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) mengklaim jika mempunya kewenangan untuk menentukan siapa pelaku dialog, itu berarti mereka yang diutus untuk berdialog dengan pemerintah Indonesia harus diakui dan mendapat rekomendasi dari pihak TPN-OPM,dalam wawancara per telepon di Wamena, Jayawijaya, Kamis (22/1/2015).
    Komando Pimpinan tertinggi TPN-OPM Wilayah Lapago, Puron Wenda dan Enden Wanimbo menghimbau agar jangan mencampuri apa yang telah menjadi keputusan TPN-OPM untuk melakaukan dialog dengan presiden RI.
     
    “Banyak yang kemarin kami kasih mandat kepada mereka yang tergabung dalam kelompok dan pergerakan organiasai yang ada di Papua ini tapi nyatanya mereka sudah merusak. Jadi, kami minta tidak ada campur tangan bagi mereka yang saya sebut, tapi kami TPN-OPM yang bertanggungjawab untuk dialog,” kata Puron Wenda.
     
    “Saya sampaikan kepada kelompok dan organ-organ yang ada di Papua yang suka bermain-main itu, ini keputusan kami dan kalian harus mendengar mandat dari kami TPN-OPM, karena kami akan instruksikan dan menunjuk siapa yang layak untuk berdialog nanti,” tegas Puron lagi.
     
    Dikatakannya, TPN-OPM dibawah komando Puron Wenda menyatakan hal ini berdasarkan dengan penyampaian presiden RI untuk melaksanakan dialog internasional dengan TPN OPM dan hal ini sudah disampaikan pada Desember tepatnya natal 2014 di Papua.
     
    Sesuai pembicaraan dan penyampaian presiden RI, pihak TPN OPM sudah siap dan merencanakan pertemuan pada 8 januari untuk melakukan pertemuan di Tinggipura, tapi pertemuan itu dibatalkan karena banyak pertimbangan yang dibuat dari Jakarta.
     
    “Kami usul kepada RI agar harus ada intervensi, jadi kami menginginkan adanya dialog tingkat tinggi yang akan dilaksanakan di Papua dengan menghadirkan negara Vanuatu, Australia dan PBB,” tegasnya.
     
    Puron tegaskan agar pengalaman Pepera puluhan tahun silam yang berujung pada kekerasan dan intimidasi tidak akan terjadi lagi di Papua.
     
    “Jadi kami TPN-OPM mau agar dialog yang akan dilaksanakan nanti harus ada intervensi dari negara atau negara pendukung yang tadi saya sebutkan itu,” kata Puron Wenda.
     
    Bagi negara-negara pendukung yang disebutkan, Puron mengatakan, mereka atau negara-negara pendukung Papua akan menjadi pengamananan bagi TPN-OPN guna pelaksanaan dan berjalannya dialog tingkat tinggi dengan presiden RI.
     
    Lebih jauh Puron mengatakan, pihaknya akan setuju apabila pelaksanaan dialog internasional dilangsungkan di Papua, bukan harus dilaksanakan di Jakarta, dimana pihak TPN-OPM telah melakukan pembicaraan sebelumnya dengan pihak istana dalam hal ini menteri pertahanan dan keamanan RI.
     
    “Kami masih baku tawar soal tempat pelaksanaan dialog, tapi kami minta agar harus dilaksankan di Papua, karena kami tidak bisa dibawa ke Jakarta,” jelas Puron.
     
    Menurutnya pelaksanaan dialog internasional dengan presiden RI masih dinegosiasikan dengan pihak istana negara RI serta negara-negara pendukung untuk menentukan waktu dan tempat yang tepat.
     
    Puron tak sepakat dengan adanya rencana Lambert Pekikir soal gagasan dialog ini. Ia bahkan menuding jika Lamber ingin mendapatkan posisi dalam NKRI.
    Puron juga mempertanyakan rencana kedatangan Presiden RI ke Kabupaten Lanny Jaya.
    “Presiden datang ke Lanny Jaya itu keperluannya apa, kami TPN-OPM yang punya hak bicara. Jadi jangan pakai tokoh gereja seperti Sofyan Yoman ka, tokoh masyarakat ka, itu tidak dan kami tolak semua,” kata Puron.
     
    Dijelaskannya, rencana kedatangan Presiden RI ke Kabupaten Lanny Jaya boleh dilakukan, namun pihak TPN-OPM tetap berpatokan kepada pelaksanaan dialog.
     
    “Kami itu prinsip disitu, tidak ada namanya tawaran-tawaran minta uang dan sebagainya itu, karena ini tentang menentukan nasib dan bangsa sendiri,” ungkap Puron.
     
    “Kami harus dialog Internasional dulu. Jadi kalau presiden datang lagi ke Lanny Jaya, kami akan buat kacau dan bunuh orang banyak. Karena TPN siap, kalau Presiden datang dengan kepentingan yang itu jelas kami akan perang, dan harus mereka tahu bahwa Papua merdeka ini TPN-OPM yang pegang bukan organisasi atau lembaga yang lain itu,” katanya.

     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    2 Anggota Brimob Tewas Tertembak di Ilaga Papua 2014


    Brimob Polda Papua/Ilustrasi. Foto: Ist

    Jayapura, LA PAGO --
    Dua anggota Brigade Mobil (Brimob) Polda Papua, Ipda Thomson Siahaan dan Bripda Jeferson dikabarkan tewas tertembak oleh orang tak dikenal di Ilaga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua, pagi tadi, Rabu, (03/12/14), Pukul 10.15 waktu setempat.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Kepolisian Daerah Papua Kombes Polisi Pudjo mengatakan, pelaku penembakan yang belum jelas identitasnya itu membawa kabur dua senjata milik korban, yaitu jenis AK 47.

    Dikabarkan, dua anggota Brimob itu ditembak di depan kantor Bupati Puncak di Ilaga saat membawa kursi ke gereja GKI.

    Sumber majalahselangkah.com mengabarkan, kedua jenazah telah dibawa ke Puskesmas Ilaga dan akan dikirim ke Jayapura besok pagi, Kamis, (04/12/14).

    Kata sumber itu, aparat gabungan TNI dan Polri sedang melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Sementara itu, masyarakat sipil di sana ketakutan dan masih berada di dalam rumah karena situasi belum membaik.

    Dikabarkan, Wakapolda Papua, Kabid Humas Polda Papua, Kasad Brimob, Wadir Intel, dan sejumlah pejabat siang ini terbang ke Ilaga untuk meninjau langsung tempat terjadinya peristiwa ini.
    Hingga berita ini ditulis, belum jelas siapa pelaku penembakan. Polda Papua dan Pangdam Cenderawasih belum umumkan berapa banyak personil yang diturunkan untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku yang belum jelas tersebut. (GE/HI/PK/003/HP)

    INILAH KESAKSIAN POLISI PASCA PENEMBAKAN DI LANY JAYA: “SAYA MAU DITUGASKAN KEMANA SAJA, ASAL BUKAN DI PEGUNUNGAN

    INILAH KESAKSIAN POLISI PASCA PENEMBAKAN DI LANY JAYA: “SAYA MAU DITUGASKAN KEMANA SAJA, ASAL BUKAN DI PEGUNUNGAN” (Tamat)

    Penulis : 
    B.M.Kilungga
    Anggota Polres Lanny Jaya, Brigpol Ronald Ohee (Jubi/Indrayadi TH)
    Anggota Polres Lanny Jaya, Brigpol Ronald Ohee (HP/B Tabuni)
    Jayapura, 13/8 (HP) – Brigadir Polisi (Brigpol) Ronald Ohee, anggota Polres Lanny Jaya yang jugasaksi mata penembakan disertai pembantaian terhadap rekannya, di Lanny Jaya, Senin (28/7) lalu tidak bisa menyembunyikan kegundahannya. Ia masih masih ingat betul  peristiwa yang merenggut nyawa rekannya yang  dilakukan Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) itu.”Tindakan mereka sangat sadistis dan tak manusiawi,” katanya.
    Menurut Ronald, setelah pelariannya yang berlangsung sekitar pukul 11.00 WIT hingga pukul 15.00 WIT, Senin (28/7) sore itu juga, dirirnya dan Alex, serta Sul seorang rekannya yang lain langsung di bawa ke Wamena. Di hari berikutnya, Selasa (29/7) Yoga (Almarhum), Mandowen, Marinus diterbangkan dengan pesawat.
    “Kami turun ke bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, bersama-sama dengan pesawat yang sama. Malcon ini yang menyusul berikutnya, karena dia masih tinggal di Lanny Jaya, kalau tidak salah kemarin dulu baru turun,” katanya.
    Ia sampai sekarang tidak bisa menghafal wajah satu persatu kelompok bersenjata tersebut, dikarenakan penampilan mereka yang brewok dan rambut yang gimbal panjang. Yang disayangkan, tidak adanya komunikasi sama sekali membuat Ronald dan rekan-rekannya terpojok yang berujung melarikan diri.
    “Itulah situasi dan kondisi saat kejadian, sayangnya saat kejadian kami mau telepon juga tidak bisa, karena tidak ada sinyal telepon seluler. Radio polisi pun tidak ada, bawa HT juga untuk apa, daerah Polres Lanny Jaya saja tidak di fungsikan,” ungkapnya.
    Kedepannya jika akan ditugaskan, Ia tetap menerima apa yang diperintahkan kesatuannya, namun dari hati kecilnya ia tidak berani untuk di tugaskan ke daerah Pegunungan, Papua. Akibat trauma yang dialaminya saat insiden berdarah menewaskan dua rekannya saat menjalankan tugas. “Saya mau di tugaskan kemana saja, asal jangan di daerah pegunungan,” kata anggota Provost Polres Lanny Jaya itu.
    Hingga saat ini, dirinya masih menjadi saksi dalam pemeriksaan di Polda Papua, yang mana ia juga sebagai korban kebringasan dari kelompok sipil bersenjata yang menamai dirinya sebagai Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM), harus menerima pahitnya bertugas di daerah konflik wilayah pegunungan, Papua.
    Kesaksian anggota Polres Lanny Jaya tersebut dimentahkan oleh kelompok bersenjata  yang menamakan dirinya Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap VII. Dimana, Erin Enden Wanimo pimpinan kelompok tersebut kepada media ini mengklaim memanasnya situasi di Lanny Jaya, Papua belakang ini lantaran gagalnya transaksi amunisi pihaknya dengan oknum aparat kepolisian di wilayah itu.
    “Kondisi Lanny Jaya sehingga seperti sekarang ini berawal dari perjanjian jual beli amunisi dengan seorang anggota polisi namanya Rahman. Dia mau jual 1.000 amunisi ke kami. Kami lalu janjian untuk ketemu di suatu tempat,” kata orang yang mengklaim diri Erin Ende Wanimbo kepada media ini via selulernya, Jumat (8/8).
    Menurutnya, setelah bertemu dengan anggota polisi bernama Rahman itu, terjadilah perselisihan. Enden mengklaim, aparat kepolisian yang datang menggunakan dua mobil itu berusaha menangkap dan menembak dirinya.
    “Namun saya bertindak duluan, sehingga ada diantara polisi itu yang meninggal dunia dan luka-luka. Kami lalu membawa lari empat senjata mereka. Hari kedua mereka masuk dan melakukan operasi. Mereka bakar honai, rumah dan bunuh babi,” ujarnya. (HP/B Tabuni) – Tamat

    2 Anggota Brimob Tewas di Ilaga Papua, Goliath Tabuni Siap Bertanggung Jawab

    Gen. Goaliath Tabuni. Foto: dok komnas-tpnpb.net.

    Jayapura, LA PAGO -- Panglima tinggi, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Gen. Goaliath Tabuni wilah LA PAGO siap bertanggung jawab atas aksi penembakan serta perampasan senjata milik dua anggota brimob yang dilakukan anggotanya di depan kantor bupati, Ilaga, kabupaten Puncak Papua, Rabu (3/12/2014).

    Melalui kepala penerangan Komando Daerah Pertahanan (Kodap) sebagaimana ditulis komnas-tpnpb.net membenarkan peristiwa tersebut. Kata dia, pelaku penembakan dan perampasan adalah anggota dari Lekegak Telenggen dan Militer Murib atas perintah Goliath Tabuni.

    "Tadi pagi anggota TPN tembak 2 anggota Brimob, dua senjata jenis AK47 dan SS1 sudah ditangan kami," kata kepala penerangan.

    Aksi yang dilakukan anggota TPNPB tersebut merupakan revolusi tahapan untuk persiapan revolusi total untuk Papua merdeka secara penuh dan berdaulat. "Penembakan hari ini (kemarin-red) adalah sesuai perintah panglima tinggi, kami masih dalam revolusi tahapan, sambil persiapan revolusi total, tujuan Papua merdeka" kata Gen. Goliath Tabuni melalui asisten pribadinya.

    Kata dia, dua senjata Jenis AK47 dan satunya SS1 milik dua anggota Brimob yang sudah berpindah tangan tidak akan dikembalikan karena sudah menjadi milik TPNPB.

    "Kami tidak akan kembalikan senjata, dua senjata yang anggota kami ambil sudah menjadi milik kami" ujarnya.

    Menurutnya, merampas senjata senjata dari TNI maupun Polri bagi TPNPB bukanlah hal baru. Aksi tersebut adalah upaya menambah senjata untuk kekuatan TPNPB melawan Indonesia.

    Ia bahkan mengatakan aksi serupa masih akan terus dilakukan pihaknya selama masih dalam proses perjuangan. "Selama belum ada pihak mana pun membantu senjata, TPNPB tetap akan merampas milik militer Indonesia, kapan pun dan di mana pun di wilayah Papua Barat. Itu adalah jalan satu-satunnya cara untuk menambah kekuatan untuk lawan militer Indonesia dengan tujuan Nasional Penentuan Nasib Sendiri bangsa dan Rakyat Papua Barat," jelasnya. (MC2/komnas-tpnpb.net/Admin/HP)

    Jenderal Jhon Anari Telah Mampu Mendirikan Kantor di Dalam PBB Untuk Tujuan Memperluas Pendidikan Perjuangan Papua Barat

    Jhon Anari
    Casper-Wyo. Timipotu News. Wyoming bukanlah tempat cenderung untuk menggalang dukungan bagi konflik yang telah berjalan selama lebih dari 50 tahun, tapi untuk komandan pasukan adat Papua Barat, Wyoming adalah titik melompat besar.

    Umum tiga puluh empat tahun John Anari Tentara Pembebasan Papua Barat dan ketua organisasi Barat Pembebasan Papua datang ke Amerika Serikat dan Wyoming untuk mencari bantuan dalam mengusir pasukan Indonesia dari negaranya. Dengan bantuan dari Wyoming sendiri Soldier menggambarkan diri Fortune, Thomas Bleming, General Anari berharap untuk mendidik AS dalam apa yang disebutnya sebagai genosida dan perbudakan rakyatnya.

    "Jenderal Anari sedang menjajaki semua pilihan, tetapi ia tidak akan menunggu selamanya," kata Bleming. "Revolusi akan berbaris maju; itu akan menang pada akhirnya."

    Dengan bantuan dari Bleming dan ahli Data PBB, Jenderal Anari telah mampu mendirikan kantor di dalam PBB untuk tujuan memperluas pendidikan perjuangan Papua Barat terhadap Indonesia. Tujuan dari semua upaya mereka adalah untuk menciptakan Papua Barat yang berdaulat, tempat di mana masyarakat adat dapat hidup dan bekerja tanpa ancaman penculikan atau kematian, katanya.

    Mereka tidak ingin memisahkan pulau, umat-Ku di Papua Barat, mereka berharap untuk menjadi salah satu bangsa," kata Jenderal Anari. "Hari ini kita berjuang dan kami berjuang untuk Papua Barat saja."

    General Anari akan berbicara dengan perwakilan di kantor dan organisasi media Gubernur di seluruh negeri.


    Reporter Of Timipotu News

    Int. Bidaipouga Mote

    Puncak Jaya Papua: TPNPB Tembak Satu Anggota TNI Tiga Senjata Berhasil Dirampas

    Puncak Jaya Papua: TPNPB Tembak Satu Anggota TNI Tiga Senjata Berhasil Dirampas


    Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dibawah komando Jendral. Goliath Tabuni, Puncak Jaya Papua kemarin tanggal 31 Agustus 2013 menembak satu anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Batalyon Infantri 753 AVT Nabire.

    Puluhan anggota TNI dari Mulia Kota menuju Distrik Tingginambut menggunakan mobil roda 4 Strada. Ketika anggota TNI dalam perjalanan menuju Tingginambut, sudah pantau oleh intelejen Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

    TPNPB siaga di tengah jalan tunggu TNI pulang kembali ke Mulia, ibu kota kabupaten Puncak Jaya. Pada pukul 04: 00 WP, TNI hendak pulang kembali ke Mulia, TPNPB lepaskan tembakan beberapa kali pada anggota yang duduk diatas mobil strada, saat mobil itu lewat di Kampung Sanoba, Distrik Tingginambut.

    TPNPB tembak anggota TNI di mobil hingga satu anggota tewas atas nama Pratu Andry, beberapa lainnya lolos dari peluru tima panas TPNPB. TNI tidak membalas tembakan, mereka lari dengan kecepatan tinggi menuju Mulia karena takut. Saat itu TPNPB berhasil merampas tiga senjata, yang  di tinggalkan karena takut. Senjata milik korban dan dua lainnya dari anggota TNI saat itu berhasil dirampas oleh anggota TPN-OPM, dan sekarang tiga pucuk senjata milik TNI di tangan TPNPB.

    Para TNI kembali dengan puluhan prajurit dengan senjata lengkap, untuk melawan TPNPB, namun TPNPB telah jauh dari tempat kejadian, membawa lari 3 senjata hasil rampasan dari tangan TNI. TNI ke tempat kejadian, menembak ratusan peluru sembarang ke arah hutan di sekitar itu.

    Hal ini dilaporkan oleh seorang anggota TPNPB di Mulia, pada tanggal 1 Sepetember 2013 sore kepada admin WPNLA, dia minta  “nama saya tidak boleh tulis di media, alasannya karena TNI dan Polri disini bisa bunuh saya kalau nama saya ditulis di media”, ujar sumber.

    Tambah sumber, “sekarang TNI sekitar puluhan anggota di kampung Sanoba untuk kejar TPNPB atau Goliath Tabuni mereka, tetapi masyarakat sipil di Kampung Sanoba sangat trauma karena banyak TNI dengan senjata lengkap”, kata dia.

     “Kami akan lawan terus TNI Polri yang ada di Papua sampai Papua merdeka, ketika bangsa Indonesia masih menjajah kami, kami pun harus lawan. Ada perlawanan ini karena ada penjajahan, jangan pikir tidak ada penjajahan. Penjajah harus dilawan dengan senjata”. Kata Goliath Tabuni Kepada WPNLA via telp selulernya pada (1/9/2013).

    Pesan Gen. Goliath Tabuni: Goliath Tabuni berharap bahwa, TNI tidak menembak masyarakat dan membakar rumah masyarakat, anggota saya yang tembak TNI atas perintah saya, maka cari saya jangan masyarakat sipil. Ujarnya.

    Admin WPNLA 2013-04

    PESAN KRITIS BERDASARKAN ANALIS DAN IDENTIFIKASI AKAR MASALAH TERHAMBATNYA PAPUA MERDEKA

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    PESAN KRITIS BERDASARKAN ANALIS DAN IDENTIFIKASI AKAR MASALAH TERHAMBATNYA PAPUA MERDEKA



    PESAN KRITIS BERDASARKAN ANALIS DAN IDENTIFIKASI AKAR MASALAH TERHAMBATNYA PAPUA MERDEKA

    Oleh anak-anak bangsa Papua sebagai generasi penerus perjuangan, yang dapat lahir dari sisa-sisa tulang belulang yang telah diremukkan oleh bangsa kolonial Republik Indonesia.  Disampaikan  kepada seluruh komponen perjuangan serta rakyat Bangsa Papua Barat, di Papua dan di seluruh pelosok dunia.

    Menyadari bahwa, kami adalah generasi ketiga dalam perjuangan Bangsa Papua Barat, untuk memperoleh Hak Politik kemerdekaan sebagai bangsa yang berdaulat. Generasi pertama dan kedua kebanyakan telah tiada. Separuhnya masih berjuang. Dan sisahnya lagi menyerah kepada bangsa kolonial Republik Indonesia, yang kemudian sedang melacur ria dengan gadis spionasenya NKRI demi sesuap nasi. Mereka yang melacur ria ini adalah “Nicolas Youwe, Nick Meseet, Frans Albert Yoku dan lain-lain.” Mereka ini salah gunakan hikmat Tuhan, maka Tuhan cabut hikmat-Nya. Akhirnya hasil diplomasi kelompok ini tidak ada kuasa untuk mendapatkan dukungan, sehingga terpaksa menyerah kepada penjajah.
    Dalam hal ini, perlu dicatat oleh semua orang pribumi bangsa Papua Barat
    adalah:
    (1). Mengapa perjuangan belum berhasil?

    (2). Mengapa pula kampanye diplomat-diplomat OPM dari tahun 1962-2002
    tidak berhasil?

    (3). Apa penyebabnya?

    Nah, untuk menjawab pertanyaan di atas, kami uraikan dalam pembahasan selanjutnya pada arlicle ini. Silakan simak!

    Setelah kami belajar dan  mempelajari sejarah perjuangan Papua Merdeka dengan seksama serta penuh analisis, ternyata belum pernah ada suatu proklamasi yang dapat diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau pun oleh mayoritas Negara-Negara Anggota PBB.

    Artinya, yang selalu cerita oleh orang-orang tua dari bangsa Papua Barat kepada kami anak-anaknya selama ini bahwa “kami pernah merdeka dan berdaulat.” Yang dimakasud adalah: Semangat seremonial 1 Desember 1961, oleh tokoh-tokoh politik Belanda bersama tokoh-tokoh politik lokal Papua; dan juga semangat deklarasi 1 juli 1971 oleh Zeth Rumkorem dan Yacob Pray bersama rekan-rekan segenerasinya.

    Hal ini terbukti dari FAKTA sejarah perjuangan Bangsa Papua Barat, mulai terhitung dari 1 Desember 1961 hingga kini. Fakta ini juga didukung dan diperkuat dengan kajian Akademisi Belanda (P.J. Drooglever), dalam bukunya yang berjudul “An Act Of Free Choice 1969, Decolonisation and the Right to Self-Determination in West Papua) ”. Dalam hal ini, yang perlu diketahui oleh semua orang Papua adalah:

    Pertama,  seremonial 1 Desember 1961 dan deklarasi 1 juli 1971 tidak mengikat hukum tetap, yaitu baik hukum internasional maupun hukum nasional Belanda-Papua.  Lima puluh tahun telah berlalu, namun belum ada pengakuan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau oleh Negara-Negara anggota PBB di seluruh dunia.

    Kedua,  proses perundingan Belanda Vs Indonesia dari sejak New York Agreement 15 Agustus 1962, proses aneksasi melalui penyerahan administrasi Papua Barat kedalam wilayah NKRI oleh UNTEA pada 1 Mei 1963 serta proses pelaksanaan PEPERA 1969 di Papua Barat, oleh pemerintah Indonesia dibawah pengawasan PBB adalah penuh REKAYASA, Manipulasi, dengan jalan teror dan intimidasi terhadap orang asli Papua oleh TNI, sebagaimana pernyataan Purn. Letjen Sintong Panjaitan dalam bukunya yang berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit  Para Komando” (Panjaitan,2009).

    Ketiga, status hukum atas sengketa politik Papua Barat dari tahun 1962-1969 harus ditentukan lebih dahulu, melalui proses dari delik formal hukumnya. Hal ini bisa terlaksana, jika ada forum legal yang berbadan hukum internasional. Ingat, standarisasi ini yang perlu dipahami baik oleh semua orang Papua yang berjuang.

    Artinya, apabila fakta hukumnya terbukti bahwa semua proses aneksasi Papua Barat kedalam wilayah NKRI, yang disebutkan pada bagian kedua di atas, maka disana ada jalan dan harapan-harapan.
    Dengan dasar ini, maka kampanye-kampanye dan diplomasi akan berhasil. Marilah kita laksanakan  perjuangan dengan penuh rasa tanggungjawab. Karena, dengan cara ini ada hikmat dari Tuhan.
    Selanjutknya, dengan melihat, membaca, mencermati seksama serta menganalisis uraian singkat pada point pertama, kedua dan ketiga di atas, maka kita menyimpulkan:

    1). Bahwa, semangat perjuangan yang berlebihan dari orang Papua sendiri, membuat kepuasan tanpa hasil akhir yang maksimal. Artinya, belum apa-apa sudah puas dengan apa yang telah dibuatnya. Misalnya, sudah naikan bendera Bintang Kejora di salah satu tempat atau kampung, rasanya cukup puas dan cerita kemana-mana dari decade ke dekade. Sementara, hal itu belum dapat diakui oleh PBB atau pun oleh negara-negara Anggota PBB dan komunitas internasional;

    2). Bahwa, diplomat OPM-TPN generasi pertama dan generasi kedua, yang telah kampanye dan diplomasi dari tahun 1962 sampai 2002 vakum dan tidak berhasil. Hal ini kami dapat mengetahuinya, tetapi tidak dapat kami jelaskan. Silahkan renungkan masing-masing;

    3). Bahwa, para tua-tua bangsa Papua Barat masih ada yang bertahan dengan prinsip perjuangannya dan sedang berjuang. Oleh karena itu, alangkah baiknya dengarkan suara hati nurani rakyat yang diseruhkan oleh generasi kedua dan generasi ketiga dalam perjuangan Papua Merdeka;

    4). Bahwa, belum ada proklamasi yang berkekuatan hukum tetap dan mengikat, menurut standar hukum internasional;

    5). Bahwa, perlu lahirnya proklamasi baru yang sesuai hukum tata negara, berdasarkan standar
    hukum internasional;

    6). Bahwa, belum pernah ada kedaulatan yang berkekuatan hukum tetap dan mengikat;

    7). Bahwa, oleh karena itu, buanglah wacana klasik dengan kata “ minta pengakuan dan kembalikan kedaulatan Bangsa Papua Barat”;

    8). Bahwa, perlu melakukan reorganisasi dan restrukturisasi organisasi induk perjuangan
    (OPM-TPN), guna lahirnya semangat nasionalisme dan persatuan dalam kekuatan baru yang solid;

    9). Bahwa, perlu adanya tindakan revolusi kerilya tahapan serta revolusi total yang kontinuitas,
    guna lahirnya proklamasi baru yang berkekuatan hukum tetap dan mengikat, sesuai standar hukum internasional;

    10). Bahwa Deklarasi manapun termasuk yang diwacanakan oleh Tuan Anton Tabuni tentang 1 Mei 2006  pada media-media Indonesia dan KRP III adalah belum mengikat Hukum tetap, maka jangan mimpi terus untuk diakui serta mintah pengakuan, tetapi berpikir yang rasional dan possible guna bagaimana adanya suatu Intervensi PBB di Papua dan dapat memediasi untuk lahirnya Negara Papua Barat melalui sebuah Referendum yang demokratis dibawah Pengawasan PBB;

    11. Bahwa perundingan-perundingan serta referendum akan lahir dengan sendirinya melalui
    tindakan-tindakan nyata sesuai bunyi  point 7,8, 9 dan 10 di atas dalam uraian kesimpulan ini;

    Pesan Akhir:

    Pertama, ingat dari kesimpulan di atas mengingatkan kepada generasi penerus perjuangan bangsa Papua Barat bahwa, marilah berjuang dengan sunguh-sunguh dan serius, setia, jujur, bijaksana, aktif serta kontinuitas, guna lahirnya perundingan Internasional serta lahirnya sebuah REFERENDUM ulang yang demokratis dan bermartabat, sesuai prosedur hukum internasional dalam  self-determination;

    Kedua, Oleh karena itu, proses kajian dari prefektif hukum yang dapat dilakukan oleh forum legal (ILWP) di London, UK, atas aneksasi Papua Barat kedalam wilayah NKRI adalah sangat penting dan perlu didukung, oleh semua komponen perjuangan bersama Rakyat Bangsa Papua Barat.

    Demikian, pesan TPN-OPM Generasi ketiga ini kami tulis berdasarkan perintah Roh Kudus, atas nama Bangsa Papua Barat, dari Markas Pusat. Harap pesan ini diperhatikan dan dapat dilaksanakannya oleh bangsa Papua Barat demi mewujudkan cita-cita yang mulia. Pesan dapat diperbaharui dari tanggal 18 Juli 2011, oleh karena itu bagi yang belum sempat membaca silakan mempelajarinya. Terima kasih atas perhatian Anda.

    Dikeluarkan Di   : Markas Pusat
    Pada Tanggal      : 19 Januari 2013
    Admin WPNLA 2013

    Kami TPNPB-OPM hanya minta kedaulatan penuh, kemerdekaan, bukan perundingan atau apapun

    Purom Wenda: Kami TPN hanya minta kedaulatan penuh, kemerdekaan, bukan perundingan atau apapun

    Lambert Pekikir : Masalah Papua harus diselesaikan dengan perundingan. Antara Indonesia, Papua dan pihak ketiga.
    mendorong perundingan damai antara Papua dan Indonesia untuk penyelesaian akar masalah di Bumi Cenderawasih, yang digagas Koordinator Umum OPM Lambert Pekikir, menuai beragam pendapat. Salah satunya datang dari Panglima Tinggi Tentara Pertahanan Nasional OPM Distrik Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Purom Okiman Wenda.
    “Silahkan OPM bicara begitu, kami dari TPN hanya minta kedaulatan penuh, kemerdekaan, bukan perundingan atau apapun,” kata Purom Okiman Wenda kepada SULUH PAPUA, Ahad.
    Menurut dia, perundingan damai tidak akan membawa harapan bagi kebebasan Papua. Sebaliknya yang terjadi adalah konflik tak berkesudahan dan jatuhnya korban jiwa. “Masalah Papua tidak selesai dengan perundingan, kita tegas, kedaulatan, kalau ada yang ingin perundingan, kami tidak setuju,” ujarnya.
    Ia menambahkan, apapun resikonya, pihaknya tetap menuntut merdeka. “Kami bukan minta pemekaran atau kesejahteraan, kami minta kedaulatan, dari dulu TPN selalu begitu.”
    Purom termasuk orang yang dicari setelah sejumlah aksinya menewaskan petugas. “Saya tidak takut, saya kuat, anak buah saya banyak,” katanya.
    Ia mengatakan, jumlah personelnya mencapai ratusan. “Wilayah Operasi saya di Puncak Senyum, Puncak Jaya dan di Tiom, ada juga operasi di Sinak, anak buah saya, ada yang kentara, ada yang diam diam (bersembunyi),” katanya.
    Purom mempunyai sejumlah senjata otomatis hasil rampasan. Salah satunya didapat saat penyerangan terhadap Markas Kepolisian Sektor Distrik Pirime, Kabupaten Lany Jaya, Selasa, 27 November 2012. Tiga polisi tewas ketika itu. ”OPM tembak. Saya yang pimpin penyerangan itu,” kata Purom.\
    Purom disebut juga sebagai orang yang bertanggungjawab atas penyerbuan rombongan polisi, Rabu 29 November 2012 di daerah pegunungan. “Mereka (rombongan polisi) menggunakan sekitar 22 mobil. Ada lima yang kami tembak,” katanya.Purom pandai menyamar. Kalau lagi butuh logistik, ia berani turun sendiri ke Kota Mulia, Ibukota Kabupaten Puncak Jaya. 
    “Tentara tidak tahu, kami jadi orang (warga) biasa saja.” Purom akan terus mengangkat senjata demi Papua Merdeka. “Saya waktu bulan Juli kemarin, ada naikan Bintang Kejora, itu bukti bahwa saya masih ada, kita akan berjuang sampai mati.”Aksi terakhir Purom, adalah ketika memberondong mobil ambulans yang sedang mengevakuasi warga sakit. Akibat kejadian itu, 1 orang tewas. Penembakan terjadi di Puncak Senyum, Puncak Jaya, Rabu 31 Juli 2013, sekitar pukul 14.10 WIT.  “Iya, itu kami yang tembak, mobil ambulans itu membawa tentara, bukan orang sakit,” katanya.Puron adalah bekas anak buah Goliat Tabuni. 
    Mereka berpisah sejak Kabupaten Lany Jaya terbentuk. Purom Wenda memboyong anak buahnya, dan kemudian mendirikan markas di Puncak Senyum yang dinamai Kodap (Komando Daerah Operasi) Pilia.
    Minta perundingan
    Koordinator Umum OPM Lambert Pekikir menegaskan, masalah Papua harus diselesaikan dengan perundingan. “Antara Indonesia, Papua dan pihak ketiga, disitu baru kita akan cari akar masalah Papua itu apa, dan bagaimana cara penyelesaiannya,” tukasnya. Baginya, puluhan tahun OPM berjuang, namun apa yang diimpikan tak pernah tercapai. “Kita selalu dengar tiap saat mau merdeka, tapi kapan, itu kita tidak tahu, saya sudah ambil langkah ini, saya berani mati untuk menyelesaikan masalah Papua,” tegasnya.
    Mengawali gagasan perundingan tersebut, Lambert Pekikir menghadiri sebuah seminar tentang HAM di Arso, Kabupaten Keerom, pekan lalu. Dalam acara tersebut, hadir pula Bupati Keerom Jusuf Wally, aparat TNI, Polri serta warga Arso. Seminar sehari tentang nilai-nilai Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia ini difasilitasi oleh Komnas HAM Wilayah Papua dan Paroki Keerom.
    Dalam seminar tersebut, dihasilkan dua rumusan, yaitu, kesepahaman menjadikan Papua tanah damai tanpa kekerasan, dan OPM bersedia menemui petinggi-petinggi RI untuk berbicara tentang penuntasan konflik Papua.
    Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR RI, Yorrys Raweyai menilai, tuntutan Papua Merdeka yang selalu disuarakan, merupakan hak warga. “Tuntutan Papua Merdeka itu hak. Saya mengambil contoh seperti pembukaan Kantor OPM yang terjadi di Oxford, Inggris. Pemerintah Inggris tidak melarang pembukaan kantor tersebut,” kata Yorrys seperti dirilis tabloidjubi.com.
    Terkait kemerdekaan Papua, istana tak pernah menyetujuinya. “Presiden SBY justru berketetapan melakukan pembicaraan yang intensif agar dalam masa pemerintahannya semua persoalan Papua dapat diselesaikan,” kata Daniel Sparringa, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik.
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif