Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label LAPAGO News. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label LAPAGO News. Tampilkan semua postingan

    DAP LAPAGO MINTA KOMNAS HAM SERIUSI GENOSIDA


    ILUSTRASI MASYARAKAT ADAT PAPUA (kepadamu.com)
    ILUSTRASI MASYARAKAT ADAT PAPUA (kepadamu.com)

    DAP LAPAGO MINTA KOMNAS HAM SERIUSI GENOSIDA

    Jayapura, 16/11 (Jubi) – Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah La Pago (Baliem) meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) segera menseriusi dugaan genosida yang terjadi di Papua seperti yang telah dirilis Asia Human Rights Commission (AHRC) beberapa waktu lalu seperti yang juga dirilis media ini.

    “Kami menyampaikan terima kasih kepada AHRC yang secara berani menyampaikan kepada dunia tentang kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh negara terhadap Rakyat Papua,” ungkap Lemokh Mabel, kepada wartawan di Prima Garden Caffee, Abepura, Jayapura, Sabtu (16/11).

    Menurut Lemokh, suatu kejahatan yaitu pembantaian, pembunuhan membabibuta yang dilakukan negara dengan menggunakan fasilitas negara untuk menghancurkan rakyatnya sendiri terjadi di Wilayah Baliem pada 1977-1978. Rasa trauma yang dalam dan tak terlupakan masih membekas dari generasi ke generasi.
    “Data yang dikeluarkan AHRC adalah data akurat yang dapat dipertanggungjawabkan kebebarannya melalui para saksi mata yang masih hidup sampai sekarang,” kata Lemokh lagi.
    Header advertisement
    DAP La Pago juga mengungkapkan, banyak korban lain yang belum terdata di beberapa kampung karena pada saat peristiwa itu berlangsung, terjadi juga pengungsian besar-besaran penduduk kampung ke tempat yang lebih aman. Dalam pengunsian itu juga terjadi kematian karena kelaparan. Untuk itu, Komnas HAM RI diminta untuk segera menseriusi laporan ini.

    “Pemerinta melalui Komnas HAM RI harus segera menindaklanjuti laporan ini karena sudah jutaan nyawa warga pribumi Papua lenyap dari tanah leluhurnya,” harap Lemokh.
    Sementara itu, terkait hak ulayat tanah di Papua, Maikel Awom, Jurubicara Koalisi Mahasiswa Papua Bangkit (KMPB) meminta Dewan Adat Biak agar segera memperhatikan hak ulayat tanah Masyarakat Adat Biak. “Banyak tanah ulayat yang dijual masyarakat adat di biak, terutama kepada pihak aparat yaitu TNI AL dan TNI AU, tolong Dewan Adat Biak perhatikan hal ini,” kata Maikel kepada wartawan di tempat yang sama, Sabtu (16/11). (Jubi/Aprila Wayar)
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    19 Wanita Fakfak Ditelanjangi Oleh Dua Polwan

    19 Wanita Fakfak Ditelanjangi Oleh Dua Polwan

    Jumpa Pers LSM Papu/Photo MS
    Jayapura LA PAGO,--Menanggapi situasi menjelang 15 Agustus 2013 lalu di Kabupaten Fak-Fak atas perlakuan aparat gabungan TNI/POLRI  yang melakukan pemeriksaan dan penahanan secara sewenang-wenang dan tindakan kekerasan terhadap warga sipil tanggal 14 Agustus 2013, direktur Elsham, Fery Marisan, Pengacara Elsham, Manfret Naa, dan kordinator Advokasi, Sem Rumbrar,  menggelar jumpa pers  pada Rabu (21/8/13) di kantor Elsaham Jayapura Papua yang di kutip berita Majalah Selangkah.
     
    Sem Rumbrar, kordinator Advokasi, menjelaskan,  para perempuan dipaksa masuk ke sebuah lorong menuju toilet di ruang aula Polres Fakfak.  Di dalam  ruangan kecil itu, 2 orang Polisi wanita (Polwan) melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah perempuan yang ditangkap oleh aparat keamanan.
    Yang pertama diperiksa adalah  mama Magdalena Bahba dan mama Naomi Hegemur.  Kedua Polwan tersebut langsung menaggalkan paksa pakaian kedua mama itu. Mama magadalena di lepaskan pakaian hingga tinggal  bh dan celana dalam saja. dan mama Hegemur karena pakaiannya basah.  Kemudian ia (Polwan) suruh untuk melepas pakaian semua, kecuali  pakaian dalamnya saja. Setelah di periksa, kedua mama tersebut langsung memeriksa barang bawaan dan kedua Polwan itu menyita barang bawaan kedua mama tersebut, diantaranya korek gas, pisau dapur, yang kebetulan ada dalam tas mereka. 
    "Kami sebanyak 19 perempuan.  kami yang di periksa sebanyak 19 orang dan kami di perlakukan sama yatu di telanjangi," kata Elisabeth (Korban)."
    "Setelah kedua mama itu diperiksa, berikutnya juga kedua perempaun diperikasa dengan cara yang sama oleh kedua polwan setelah di perikasa kemudian kedua polwan itu memanggil saya, Rosita Elisabeth,"  kata  Rosita Elisabeth Bahaba, wanita  16 tahun asal kampung Nembukteb, distrik  Karamongmongga, yang juga jadi korban 2 polwan ini.
    "Saya dipaksa masuk kedalam wc oleh kedua Polwan tersebut, lalu saya diperlakukan hal yang sama seperti mama 2 itu," kata slisabeth, sambil membeberkan nama kedua Polwan yang menelanjangi mereka itu bernama Anti dan Jaqlin.
    "Kami sebanyak 19 perempuan.  kami yang di periksa sebanyak 19 orang dan kami di perlakukan sama," kata Elisabeth.
    Setelah diperiksa, kemudian pihak Polres Fakfak Kabag. OPS, Tony M. memerintahkan mama-mama untuk tidak jualan hari itu, dan membawa pulang sayuran yang hendak dijual hari itu. "Yang membawa jualan berupa sayauran dan makanan kebun langsung dibawa pulang. Nanti satu dua hari lagi baru mama dorang datang jualan."
    Direktur Elsham, Fery Marisan, Pengacara Elsham, Manfret Naa, dan Coordinator Advokasi, Sem Rumbrar,  menilai, tindakan yang dibuat oknum Polwan di Fakfak benar-ber tidak etis, dan merupakan tindakan yang tidak menghargai HAM. Oleh karena itu, mereka sepakat, kejadian ini mesti diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini..
     
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    2 Anggota Brimob Tewas Tertembak di Ilaga Papua 2014


    Brimob Polda Papua/Ilustrasi. Foto: Ist

    Jayapura, LA PAGO --
    Dua anggota Brigade Mobil (Brimob) Polda Papua, Ipda Thomson Siahaan dan Bripda Jeferson dikabarkan tewas tertembak oleh orang tak dikenal di Ilaga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua, pagi tadi, Rabu, (03/12/14), Pukul 10.15 waktu setempat.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Kepolisian Daerah Papua Kombes Polisi Pudjo mengatakan, pelaku penembakan yang belum jelas identitasnya itu membawa kabur dua senjata milik korban, yaitu jenis AK 47.

    Dikabarkan, dua anggota Brimob itu ditembak di depan kantor Bupati Puncak di Ilaga saat membawa kursi ke gereja GKI.

    Sumber majalahselangkah.com mengabarkan, kedua jenazah telah dibawa ke Puskesmas Ilaga dan akan dikirim ke Jayapura besok pagi, Kamis, (04/12/14).

    Kata sumber itu, aparat gabungan TNI dan Polri sedang melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Sementara itu, masyarakat sipil di sana ketakutan dan masih berada di dalam rumah karena situasi belum membaik.

    Dikabarkan, Wakapolda Papua, Kabid Humas Polda Papua, Kasad Brimob, Wadir Intel, dan sejumlah pejabat siang ini terbang ke Ilaga untuk meninjau langsung tempat terjadinya peristiwa ini.
    Hingga berita ini ditulis, belum jelas siapa pelaku penembakan. Polda Papua dan Pangdam Cenderawasih belum umumkan berapa banyak personil yang diturunkan untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku yang belum jelas tersebut. (GE/HI/PK/003/HP)

    LA PAGO News : Gempar Dukung Simposium Politk Papua Barat di Vanuatu

    Ilustrasi: Gempar Papua saat aksi. Foto: Ist.

    Jayapura, LA PAGO -- Gerakan Mahasiswa dan Pemuda (Gempar) Papua menggelar mimbar bebas, dukung simposium politik Papua barat di Vanuatu.

    "Kami mahasiswa Papua memberikan apresiasi besar dan berterimakasih kepada pemerintah vanuatu atas komitmen dan dukungan terhadap perjuangan Papua Barat, selama ini," kata Samuel Wamsiwor, koordinator Gempar ketika membacakan release di Jayapura, Sabtu (29/11/14).

    Mahasiswa dalam Gempar juga menjelaskan, faksi-faksi perjuangan yang hendak terlibat dalam pertemuan di Vanuatu agar dapat menyampaikan kekurangan dan kelebihan masing-masing faksi pada saat simposium nanti.

    "Kami mahasiswa Papua sebagai generasi muda menaruh harapan pada simposium dan rekonsilasi politik di Vanuatu, untuk wujudkan One People One Soul demi pembebasan bangsa Papua Barat," tegasnya.

    Mahasiswa dalam Gempar meminta kepada pemerintah Vanuatu menjadi wasit dalam simposium antar faksi Papua Barat, dan dari arah simposium tersebut Pemerintah Vanuatu dapat memberikan solusi dan alternatif strategi sehingga Papua Barat menjadi anggota MSG.

    "Lalu demi menjaga kelancaran simposium tersebut, kami meminta kepada pemerintah Vanuatu agar tidak mentoleransi penyusupan agenda Indonesia," tuntut Gempar. (B.Tabuni/HP)

    TNI-POLRI Bakar 2 Gereja Dan Sejumlah Rumah Warga Di Kab. Lanny Jaya

    TNI-POLRI Bakar 2 Gereja Dan Sejumlah Rumah Warga Di Kab. Lanny Jaya

    Lanny Jaya - Pasca terjadinya penembakan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua West Papua (TPN-WP) beberapa hari lalu, yang menewaskan dua orang anggota Brimob dan satu anggota TNI di Distrik Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Polda Papua beserta Pangdam XVII Cenderawasih menerjunkan sejumlah pasukan tambahan ke Kab. Lanny Jaya, guna melakukan pengejaran terhadap Tentara Pembebasan Nasional West Papua yang ada di Lanny Jaya, seperti yang telah diberitakan oleh beberapa media lokal Papua(www.tabloidjubi.com), dan beberapa media Indonesia.

    Penambahan sejumlah pasukan militer Indonesia di Lanny Jaya bertujuan untuk melumpuhkan pergerakan para Pejuang Kemerdekaan West Papua, yang terus bergerilya dengan tujuan mengusir penjajah Indonesia keluar dari wilayah West Papua. Namun nyatanya tujuan penambahan pasukan yang dilakukan oleh Polda Papua dan Pangdam XVII cenderawasih ke Kab. Lanny Jaya, ini justru melakukan tindakan membabi buta terhadap rakyat sipil yang ada di distrik Pirime, Kab. Lanny Jaya.
    Dari informasi yang berhasil kami himpun dari lokasi kejadian menyebutkan bahwa, sejumlah pasukan gabungan (TNI-POLRI) yang diterjunkan ke Distrik Pirime ini, telah membakar sejumlah rumah Rakyat Sipil, dan dua buah Bangunan Gereja, serta berbagai fasilitas umum yang ada di distrik tersebut, yang mengakibatkan trauma agi warga setempat, yang mengakibatkan rakyat sipil yang ada di Distrik Pirime ini harus mengungsi dan melarikan diri ke hutan-hutan demi menghindari tindakan membabi buta yang dilakukan oleh TNI-POLRI.
     
    Selanjutnya diinformasikan bahwa, sejak terjadinya kontak senjata antara Militer Indonesia dan Tentara Pembebasan Nasional West Papua pagi tadi hingga malam ini, TPN-WP berhasil menembak tiga orang anggota Brimob dan satu anggota TNI. Dan ketika kami tanyakan terkait pemberitaan media Indonesia yang menyebutkan adanya 5 anggota TPN-WP yang ditembak oleh militer Indonesia, Informen membantah pemberitaan tersebut, dan menyatakan bahwa pemberitaan tersebut sangatlah tidak benar, tidak ada anggota TPN-WP yang gugur hingga saat ini, termaksud rakyat kami. (wp)


     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif