Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label TPNPB -TRPB vs TNI-POLRI. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label TPNPB -TRPB vs TNI-POLRI. Tampilkan semua postingan

    2 Anggota Brimob Tewas Tertembak di Ilaga Papua 2014


    Brimob Polda Papua/Ilustrasi. Foto: Ist

    Jayapura, LA PAGO --
    Dua anggota Brigade Mobil (Brimob) Polda Papua, Ipda Thomson Siahaan dan Bripda Jeferson dikabarkan tewas tertembak oleh orang tak dikenal di Ilaga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua, pagi tadi, Rabu, (03/12/14), Pukul 10.15 waktu setempat.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Kepolisian Daerah Papua Kombes Polisi Pudjo mengatakan, pelaku penembakan yang belum jelas identitasnya itu membawa kabur dua senjata milik korban, yaitu jenis AK 47.

    Dikabarkan, dua anggota Brimob itu ditembak di depan kantor Bupati Puncak di Ilaga saat membawa kursi ke gereja GKI.

    Sumber majalahselangkah.com mengabarkan, kedua jenazah telah dibawa ke Puskesmas Ilaga dan akan dikirim ke Jayapura besok pagi, Kamis, (04/12/14).

    Kata sumber itu, aparat gabungan TNI dan Polri sedang melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Sementara itu, masyarakat sipil di sana ketakutan dan masih berada di dalam rumah karena situasi belum membaik.

    Dikabarkan, Wakapolda Papua, Kabid Humas Polda Papua, Kasad Brimob, Wadir Intel, dan sejumlah pejabat siang ini terbang ke Ilaga untuk meninjau langsung tempat terjadinya peristiwa ini.
    Hingga berita ini ditulis, belum jelas siapa pelaku penembakan. Polda Papua dan Pangdam Cenderawasih belum umumkan berapa banyak personil yang diturunkan untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku yang belum jelas tersebut. (GE/HI/PK/003/HP)

    INILAH KESAKSIAN POLISI PASCA PENEMBAKAN DI LANY JAYA: “SAYA MAU DITUGASKAN KEMANA SAJA, ASAL BUKAN DI PEGUNUNGAN

    INILAH KESAKSIAN POLISI PASCA PENEMBAKAN DI LANY JAYA: “SAYA MAU DITUGASKAN KEMANA SAJA, ASAL BUKAN DI PEGUNUNGAN” (Tamat)

    Penulis : 
    B.M.Kilungga
    Anggota Polres Lanny Jaya, Brigpol Ronald Ohee (Jubi/Indrayadi TH)
    Anggota Polres Lanny Jaya, Brigpol Ronald Ohee (HP/B Tabuni)
    Jayapura, 13/8 (HP) – Brigadir Polisi (Brigpol) Ronald Ohee, anggota Polres Lanny Jaya yang jugasaksi mata penembakan disertai pembantaian terhadap rekannya, di Lanny Jaya, Senin (28/7) lalu tidak bisa menyembunyikan kegundahannya. Ia masih masih ingat betul  peristiwa yang merenggut nyawa rekannya yang  dilakukan Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) itu.”Tindakan mereka sangat sadistis dan tak manusiawi,” katanya.
    Menurut Ronald, setelah pelariannya yang berlangsung sekitar pukul 11.00 WIT hingga pukul 15.00 WIT, Senin (28/7) sore itu juga, dirirnya dan Alex, serta Sul seorang rekannya yang lain langsung di bawa ke Wamena. Di hari berikutnya, Selasa (29/7) Yoga (Almarhum), Mandowen, Marinus diterbangkan dengan pesawat.
    “Kami turun ke bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, bersama-sama dengan pesawat yang sama. Malcon ini yang menyusul berikutnya, karena dia masih tinggal di Lanny Jaya, kalau tidak salah kemarin dulu baru turun,” katanya.
    Ia sampai sekarang tidak bisa menghafal wajah satu persatu kelompok bersenjata tersebut, dikarenakan penampilan mereka yang brewok dan rambut yang gimbal panjang. Yang disayangkan, tidak adanya komunikasi sama sekali membuat Ronald dan rekan-rekannya terpojok yang berujung melarikan diri.
    “Itulah situasi dan kondisi saat kejadian, sayangnya saat kejadian kami mau telepon juga tidak bisa, karena tidak ada sinyal telepon seluler. Radio polisi pun tidak ada, bawa HT juga untuk apa, daerah Polres Lanny Jaya saja tidak di fungsikan,” ungkapnya.
    Kedepannya jika akan ditugaskan, Ia tetap menerima apa yang diperintahkan kesatuannya, namun dari hati kecilnya ia tidak berani untuk di tugaskan ke daerah Pegunungan, Papua. Akibat trauma yang dialaminya saat insiden berdarah menewaskan dua rekannya saat menjalankan tugas. “Saya mau di tugaskan kemana saja, asal jangan di daerah pegunungan,” kata anggota Provost Polres Lanny Jaya itu.
    Hingga saat ini, dirinya masih menjadi saksi dalam pemeriksaan di Polda Papua, yang mana ia juga sebagai korban kebringasan dari kelompok sipil bersenjata yang menamai dirinya sebagai Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM), harus menerima pahitnya bertugas di daerah konflik wilayah pegunungan, Papua.
    Kesaksian anggota Polres Lanny Jaya tersebut dimentahkan oleh kelompok bersenjata  yang menamakan dirinya Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap VII. Dimana, Erin Enden Wanimo pimpinan kelompok tersebut kepada media ini mengklaim memanasnya situasi di Lanny Jaya, Papua belakang ini lantaran gagalnya transaksi amunisi pihaknya dengan oknum aparat kepolisian di wilayah itu.
    “Kondisi Lanny Jaya sehingga seperti sekarang ini berawal dari perjanjian jual beli amunisi dengan seorang anggota polisi namanya Rahman. Dia mau jual 1.000 amunisi ke kami. Kami lalu janjian untuk ketemu di suatu tempat,” kata orang yang mengklaim diri Erin Ende Wanimbo kepada media ini via selulernya, Jumat (8/8).
    Menurutnya, setelah bertemu dengan anggota polisi bernama Rahman itu, terjadilah perselisihan. Enden mengklaim, aparat kepolisian yang datang menggunakan dua mobil itu berusaha menangkap dan menembak dirinya.
    “Namun saya bertindak duluan, sehingga ada diantara polisi itu yang meninggal dunia dan luka-luka. Kami lalu membawa lari empat senjata mereka. Hari kedua mereka masuk dan melakukan operasi. Mereka bakar honai, rumah dan bunuh babi,” ujarnya. (HP/B Tabuni) – Tamat

    2 Anggota Brimob Tewas di Ilaga Papua, Goliath Tabuni Siap Bertanggung Jawab

    Gen. Goaliath Tabuni. Foto: dok komnas-tpnpb.net.

    Jayapura, LA PAGO -- Panglima tinggi, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Gen. Goaliath Tabuni wilah LA PAGO siap bertanggung jawab atas aksi penembakan serta perampasan senjata milik dua anggota brimob yang dilakukan anggotanya di depan kantor bupati, Ilaga, kabupaten Puncak Papua, Rabu (3/12/2014).

    Melalui kepala penerangan Komando Daerah Pertahanan (Kodap) sebagaimana ditulis komnas-tpnpb.net membenarkan peristiwa tersebut. Kata dia, pelaku penembakan dan perampasan adalah anggota dari Lekegak Telenggen dan Militer Murib atas perintah Goliath Tabuni.

    "Tadi pagi anggota TPN tembak 2 anggota Brimob, dua senjata jenis AK47 dan SS1 sudah ditangan kami," kata kepala penerangan.

    Aksi yang dilakukan anggota TPNPB tersebut merupakan revolusi tahapan untuk persiapan revolusi total untuk Papua merdeka secara penuh dan berdaulat. "Penembakan hari ini (kemarin-red) adalah sesuai perintah panglima tinggi, kami masih dalam revolusi tahapan, sambil persiapan revolusi total, tujuan Papua merdeka" kata Gen. Goliath Tabuni melalui asisten pribadinya.

    Kata dia, dua senjata Jenis AK47 dan satunya SS1 milik dua anggota Brimob yang sudah berpindah tangan tidak akan dikembalikan karena sudah menjadi milik TPNPB.

    "Kami tidak akan kembalikan senjata, dua senjata yang anggota kami ambil sudah menjadi milik kami" ujarnya.

    Menurutnya, merampas senjata senjata dari TNI maupun Polri bagi TPNPB bukanlah hal baru. Aksi tersebut adalah upaya menambah senjata untuk kekuatan TPNPB melawan Indonesia.

    Ia bahkan mengatakan aksi serupa masih akan terus dilakukan pihaknya selama masih dalam proses perjuangan. "Selama belum ada pihak mana pun membantu senjata, TPNPB tetap akan merampas milik militer Indonesia, kapan pun dan di mana pun di wilayah Papua Barat. Itu adalah jalan satu-satunnya cara untuk menambah kekuatan untuk lawan militer Indonesia dengan tujuan Nasional Penentuan Nasib Sendiri bangsa dan Rakyat Papua Barat," jelasnya. (MC2/komnas-tpnpb.net/Admin/HP)

    Baku Tembak di Papua “TNI/POLRI-TPN/OPM Berlomba Jadi Selebritis”

    Baku Tembak di Papua “TNI/POLRI-TPN/OPM Berlomba Jadi Selebritis”

    Baku Tembak di Papua “TNI/POLRI-TPN/OPM Berlomba Jadi Selebritis”

    Suara damai yang kini bergulir di Papua seakan menjadi angin lalu bagi kedua belah pihak. TNI maupun Polri terus berharap perlawanan dari TPN OPM di Papua terus ada agar semangat pengriman pasukan meningkat. Begitu pula tentara Papua ( TPN ) yang merasa terganggu dengan kehadiran aparat. Konfrontasi kedua kubu seakan bikin namanya memuncak di surat kabar maupun media elektronik akhir-akhir ini. Papua damai terkubur sejenak karena Papua diliputi kekerasan yang kian tak henti. Konflik bersenjata di Papua membuat kedua belah pihak bagaikan selebriti yang terus muncul.
    Saya sebut selebritis karena pendekatan senjata sama sekali tidak ada nilai positif bagi Papua. Bahkan, klaim-klaim yang sering dilancarkan sebagai asalan baku tembak sampai detik ini Papua tidak ada kemajuan kamtibmas maupun semangat perubahan yang dinantikan dari gelora kontak senjata. Justru kontak senjata hanya bikin nama dan korps kedua pihak yang kian menonjol di langit-langit konflik Papua.
    TNI maupun Polisi bilang tumpas separatisme. Padahal tindakan semcam itu hanya bikin subur calon-calon separatis di Papua. Pendekatan hukum dengan pakai senjata nyatanya Papua sekarang lumpuh penanganan hukum. Kenapa demikian? Masyarakat Papua adalah penduduk kultural. Hukum positif hanya akan menuai kasus-kasus baru.
    Nada sinis penolakan pendekatan kekerasan di Papua, salah satunya datang dari Pimpinan Wilayah muhamadiyah. Menurut  Irmawan Alfi, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Papua Barat, mengatakan dengan pengiriman Aparat Keamanan (TNI/Polri) itulah yang justru telah membuat masyarakat Papua menjadi trauma. Kondisi seperti itu, malahan membuat betapa rasa nasioanlisme masyarakat Papua sudah terasa tergadaikan oleh pemerintah Republik Indonesia, ujarnya.
    Selebritis Bersenjata
    Pendekatan damai Papua merupakan jalan yang haram bagi para pengangkat senjata. Walaupun dari sisi jumlah personil maupun peralatan perang, beda jauh. Tapi, hal inilah yang bikin penembakan di Papua kian tak teratasi. Wah, tidak seimbang saja susah diatasi apalagi kalau TPN dipersenjatai lengkap seperti TNI maupun Polisi?. Tentu saja hal aneh bagi publik bila ketidak seimbangan logistik terus dipelihara demi pengalihan isu. Ah, yang penting jadi selebriti di media masa toh?.
    Pendekatan senjata pun bertolak belakang dengan semangat mewujudkan Papua yang telah dicanangkan baik TPN maupun Pemerintah. Dimana kedua belah pihak sepakat membangun suhu perundingan sebagai solusi penyelesaian Papua. Terkait perundingan lihat laporan khusus saya disni.
    Berbeda dengan TPN/OPM ( yang sering muncul di media masa ), menyambut gayung kontak senjata dengan berbagai statemen. Perlu untuk klarifikasi masalah dari pihak TPN untuk menyeimbangkan pemberitaan. Hal ini yang bikin beberapa hari terakhir ini nama seorang Lamberth Pekikir muncul di permukaan. Sosok yang dibesar-besarkan oleh media masa ini memang “doyan” berkomentar di surat kabar walaupun dia ( Lamberth ) sendiri selama ini hanya tenang-tenang saja di markasnya. Dia cenderung memilih memamerkan pasukan dan persenjataanya kepada media.
    Begitu juga, kontak senjata dengan senjata modern patut dipertanyakan. Mengapa? ya, darimana senjata pasukan Papua didapat. Lalu darimana peluru di kirim ke markas Papua. Jalur distribusi Papua belumlah merata seperti di Indonesia bagian lainnya. Tapi harus ingat, TPN OPM sangat hati-hati mengeluarkan tembakan. Bagi mereka, satu peluru satu nyawa. Karena mendapatkan lima peluru saja bisa sampai satu tahun. Apalagi senjata sudah merupakan istri pertama setiap prajurit TPN yang memegangnya.
    SUMBER : http://hankam.kompasiana.com/2011/12/15/baku-tembak-di-papua-tnipolri-tpnopm-berlomba-jadi-selebritis-419153.html 
     

    TPN-OPM : TNI-POLRI HADAPI KAMI, BUKAN WARGA SIPIL

    TPN-OPM : TNI-POLRI HADAPI KAMI, BUKAN WARGA SIPIL

    Jayapura, 27/1 – Komandan Operasi Lapangan TPN/OPM Wilayah Yambi pimpinan Panglima Lekak Talenggen, Yunus Enumbi mengatakan pasukan TNI dan POLRI berhenti menganiaya warga sipil yang tidak tahu menahu persoalan penembakan di Puncak Jaya.

    “Masyarakat sipil itu tidak tahu masalah. TNI,POLRI itu tahu hukum atau tidak itu, sampai memukul jemaat dan gembala saat sembayang,” tegas Yunus Enumbi kepada tabloidjubi.com, Senin (27/1).

    Manurut Yunus, kalau mau, pasukan TNI dan Polri cari pasukan TPN/OPM sebagai pelaku. “Kami yang melakukan semua aksi perlawanan di Puncak Jaya untuk menentukan nasib sendiri. Bukan masyarakat dan gembala, yang mereka aniaya itu. Gembala tidak pernah ajarkan kami melakukan perlawanan. Yang melakukan perlawanan murni TPN/OPM. Kami tidak lari. Kami ada di Markas. Silahkan datang menghadapi kami,” kata Yunus lagi.

    Menurut Yunus Enumbi, pasukan TNI-POLRI telah menyerang sebuah Gereja GIDI di Kulirik Dondobaga, Puncak Jaya, Minggu (26/1). “Kemarin itu TNI Polri menganiaya satu jemaat dengan Gembala. Mereka pukul dengan popor senjata,” tuturnya kepada media ini.

    Ketua Komite Nasional Papua Barat, wilayah Gunung, Simeon Daby mengatakan penegakan hukum yang dilakukan pasukan TNI dan Polri sangat brutal.
     
    “TNI/POLRI jangan membabi buta terhadap masyarakat biasa karena lawan dari TNI dan POLRI itu jelas TPN/OPM bukan masyarakat biasa atau sipil,” tegas Simeon.


    Sumber : www.tabloidjubi.com

    TPNPB -TRPB vs TNI-POLRI

    SITUASI DI KABUPATEN PUNCAK JAYA MENCEKAM

    TPN-OPM vs TNI-POLRI
                                                            
    TPN-OPM vs TNI-POLRI

    Paska aksi TENTARA PEPBASAN NASIONAL PAPUA BARAT ORGANISASI PAPUA MERDEKA DI BAWA PIMPINAN JENDERAL GEN GOLIAT TABUNI Mengambil 8 pujuk senjata  milik Pos Polisi itu bukan murni ,itu skenario Aparat pembukaan Tahun Baru anggaran baru Lahan Baru. Yang akan korban hanya masyarakat kecil yang tak berdosa demi Keutuhan Negara NKRI.
     
    Laporan langsung dari puncak Jaya tanggl 10 jam 11,30 seorang Masyarakat di tangkap Aparat Gabungan TNI-POLRI 
     
    Nama   : Waga Telenggen  31 Tahun sedang beli rokok aparat mencurigai dia sebagi anggota TPN pada hal itu sudah  dalam mulia  kota  sementara di tahan Polres Puncak Jaya .
     
    Sementara kota mulia dalam keadaan mencekam seluruh pejabat Kabupaten setempat sudah tinggalkan kota mulia karena ketakutan,disana hanya masyarakat  dan TNI/POLRI  yang menguasai kota mulia.
     
    Sementara masyarakat pribumi keriting kulit hitam sangat sulit berkeliharan  dari ujung sampai ujung kota mulia di kuasai oleh aparat TNI,POLRI,BRIMOB,KOPASUS ,DENSUS 88  dengan berkekuatan 18 personil sudah di tempati di kota mulia baik jln darat udara,.kota mulia dalam kepungan teng-teng. Dan Basoka.
     
    Situasi  malam di kuasai oleh TPN-OPM siang di kuasai oleh TNI-POLRI  jika sulit di kendalikan maka untuk kehidupan masyarakat terjempit ,karena kedua bela pihak menjujukan kejagoan masing –masing  kekuatan kemiliterannya .
     
     Laporan langsung dari sala seorang masyarakat  Puncak jaya bahwa,
    TPN sekarang tidak seperti sebelumnya pernyataan Bupati Henok ibo bahwa 100 anggota anak bua Goliat Tabuni turun gunung  dengan  pernyataan Ketua MRP Timotius murib bahwa Goliat Tabuni Sudah Tua itu suda mara besarpintanya, dan untuk turun gunung itu ada isu yang sedang berkembang di daerah mulia bahwa   seluru pejabat dari gubernur sampai Bupati Papua barat dan papua menjumbang Dana 8 miliar sudah kumpul atas nama Goliat Tabuni terkait pernyataan Bupati itu maka isu ini masyarakat mulia sudah di ketahui jika sulit di kendalikan.menerut apabilah Bupati Henok bertanggung jawab ya.. itu sama sama rasanya enak karena ini penginahan besar .
     
    Ko dating di mulia dan waktu pilkada ko naik hasil kerja keras kami mala kamu tidak menjaga nama baik kami di sini  dengan nada kesal.
     
    Sementara kota mulia seluru aktivitas sudah lumpu total masyarakat sulit berkeliharan maka menurutnya situasi ini biar Bupati Henok dating baru tanggung jawab sudah ini kami masyarakat ini terjempit dari pihak TPN-OPM juga dari TNI-POLRI juga semuanya kami dalam ketakutan, apalagi masyarakat disini banyak yang mata-mata jika pihak IPN-OPM juga kalo mara- itu marah betul  juka kami memang sulit disini melalui telpn selulernya .
    www.. laporan wenemuk.
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif