Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label OPM La Pago. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label OPM La Pago. Tampilkan semua postingan

    INILAH KESAKSIAN POLISI PASCA PENEMBAKAN DI LANY JAYA: “SAYA MAU DITUGASKAN KEMANA SAJA, ASAL BUKAN DI PEGUNUNGAN

    INILAH KESAKSIAN POLISI PASCA PENEMBAKAN DI LANY JAYA: “SAYA MAU DITUGASKAN KEMANA SAJA, ASAL BUKAN DI PEGUNUNGAN” (Tamat)

    Penulis : 
    B.M.Kilungga
    Anggota Polres Lanny Jaya, Brigpol Ronald Ohee (Jubi/Indrayadi TH)
    Anggota Polres Lanny Jaya, Brigpol Ronald Ohee (HP/B Tabuni)
    Jayapura, 13/8 (HP) – Brigadir Polisi (Brigpol) Ronald Ohee, anggota Polres Lanny Jaya yang jugasaksi mata penembakan disertai pembantaian terhadap rekannya, di Lanny Jaya, Senin (28/7) lalu tidak bisa menyembunyikan kegundahannya. Ia masih masih ingat betul  peristiwa yang merenggut nyawa rekannya yang  dilakukan Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) itu.”Tindakan mereka sangat sadistis dan tak manusiawi,” katanya.
    Menurut Ronald, setelah pelariannya yang berlangsung sekitar pukul 11.00 WIT hingga pukul 15.00 WIT, Senin (28/7) sore itu juga, dirirnya dan Alex, serta Sul seorang rekannya yang lain langsung di bawa ke Wamena. Di hari berikutnya, Selasa (29/7) Yoga (Almarhum), Mandowen, Marinus diterbangkan dengan pesawat.
    “Kami turun ke bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, bersama-sama dengan pesawat yang sama. Malcon ini yang menyusul berikutnya, karena dia masih tinggal di Lanny Jaya, kalau tidak salah kemarin dulu baru turun,” katanya.
    Ia sampai sekarang tidak bisa menghafal wajah satu persatu kelompok bersenjata tersebut, dikarenakan penampilan mereka yang brewok dan rambut yang gimbal panjang. Yang disayangkan, tidak adanya komunikasi sama sekali membuat Ronald dan rekan-rekannya terpojok yang berujung melarikan diri.
    “Itulah situasi dan kondisi saat kejadian, sayangnya saat kejadian kami mau telepon juga tidak bisa, karena tidak ada sinyal telepon seluler. Radio polisi pun tidak ada, bawa HT juga untuk apa, daerah Polres Lanny Jaya saja tidak di fungsikan,” ungkapnya.
    Kedepannya jika akan ditugaskan, Ia tetap menerima apa yang diperintahkan kesatuannya, namun dari hati kecilnya ia tidak berani untuk di tugaskan ke daerah Pegunungan, Papua. Akibat trauma yang dialaminya saat insiden berdarah menewaskan dua rekannya saat menjalankan tugas. “Saya mau di tugaskan kemana saja, asal jangan di daerah pegunungan,” kata anggota Provost Polres Lanny Jaya itu.
    Hingga saat ini, dirinya masih menjadi saksi dalam pemeriksaan di Polda Papua, yang mana ia juga sebagai korban kebringasan dari kelompok sipil bersenjata yang menamai dirinya sebagai Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM), harus menerima pahitnya bertugas di daerah konflik wilayah pegunungan, Papua.
    Kesaksian anggota Polres Lanny Jaya tersebut dimentahkan oleh kelompok bersenjata  yang menamakan dirinya Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap VII. Dimana, Erin Enden Wanimo pimpinan kelompok tersebut kepada media ini mengklaim memanasnya situasi di Lanny Jaya, Papua belakang ini lantaran gagalnya transaksi amunisi pihaknya dengan oknum aparat kepolisian di wilayah itu.
    “Kondisi Lanny Jaya sehingga seperti sekarang ini berawal dari perjanjian jual beli amunisi dengan seorang anggota polisi namanya Rahman. Dia mau jual 1.000 amunisi ke kami. Kami lalu janjian untuk ketemu di suatu tempat,” kata orang yang mengklaim diri Erin Ende Wanimbo kepada media ini via selulernya, Jumat (8/8).
    Menurutnya, setelah bertemu dengan anggota polisi bernama Rahman itu, terjadilah perselisihan. Enden mengklaim, aparat kepolisian yang datang menggunakan dua mobil itu berusaha menangkap dan menembak dirinya.
    “Namun saya bertindak duluan, sehingga ada diantara polisi itu yang meninggal dunia dan luka-luka. Kami lalu membawa lari empat senjata mereka. Hari kedua mereka masuk dan melakukan operasi. Mereka bakar honai, rumah dan bunuh babi,” ujarnya. (HP/B Tabuni) – Tamat

    TPNPB-OPM Wilayah La Pago Minta Komunitas Internasional Hentikan Bantuan Militer Untuk Indonesia

    TPN/OPM Minta Komunitas Internasional Hentikan Bantuan Militer Untuk Indonesia
    Panglima TPN/OPM Wilayah La-Pago, Okiman Purom Wenda (kiri) bersama pengawal (Foto: Ist)
     
    PAPUAN, Jayapura --- Panglima Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) Wilayah La-Pago, Enden Wanimbo, meminta komunitas internasional untuk menghentikan bantuan militer bagi pemerintah Indonesia, karena dinilai telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia berat di Lanny Jaya, Papua.
     
    “Yang kami tahu, aparat TNI/Polri yang diturunkan sebanyak 5000 – 7000 personil. Ini sudah keterlaluan, dan sangat banyak jumlahnya, bisa kami katakan bahwa perang di Lanny Jaya itu Negara turunkan kekuatan penuh,” ujar Enden, saat menghubungi suarapapua.com, melalui telepon seluler, dari Lanny Jaya, Jumat (23/8/2014).

    Kata Enden, komunitas internasional, terutama Amerika Serikat, Belanda, Australia dan Inggris tidak pantas memberikan peralatan militer kepada Indonesia, sebab telah digunakan untuk melakukan pelanggaran HAM berat. (Baca: Kelly Tabuni: "Brimob di Lanny Jaya Beri Kami Peluru Untuk Halau Brimob Dari Luar").

    “Dengan peralatan militer yang diberikan oleh Negara-negara luar, Indonesia telah membunuh dan membantai jutaan penduduk Papua, kami minta segera hentikan bantuan militer itu,” tegasnya.

    Enden juga mengatakan, walau Indonesia menurunkan kekuataan militer dalam skala besar, namun tidak ada anak buahnya yang menjadi korban, dan itu disyukuri oleh dirinya sebagai panglima di wilayah Lannya Jaya.

    “Alam dan Tuhan bangsa Papua berada di pihak kami, sehingga tidak ada yang korban. Kalau korban di kubu TNI/Polri sebenarnya banyak, tapi mereka malu jadi tutup-tutup dari pemberitaan media,” tegasnya. (Baca: Panglima TPN/OPM Bantah Ada Anggotanya Yang Tewas Tertembak).

    Ketika ditanya, apakah ia dan anak buahnya sempat melakukan pembakaran rumah-rumah dan honai-honai milik masyarakat seperti pernyataan aparat kepolisian, Enden dengan tegas membantah informasi itu.

    “Bukan kami yang bakar, itu aparat TNI/Polri yang bakar. Masyarakat Lanny Jaya adalah masyarakat kami, dan sudah lama kami saling kenal, tidak mungkin kami mau bakar mereka punya honai,” tegas Enden.

    Enden justru meminta wartawan media ini untuk bertanya langsung kepada masyarakat Lanny Jaya, sebab masyarakat lebih tahu siapa pelaku sebenarnya.

    “Dari pada kami tipu, lebih baik tanya ke masyarakat atau tokoh gereja saja, mereka akan bilang siapa pelaku pembakaran ratusan honai-honai milik masyarakat Lanny Jaya sejak 28 Juli 2014 lalu,” tegasnya.

    Apara kepolisian justru mengklaim tidak ada penambahan pasukan di Lanny Jaya, sebab Brimob Polda Papua, dan TNI dari Kodam XVII/Cenderawasih saja yang diperbantukan ke wilayah tersebut.
     
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif