Wakil Ketua Komisi V DPR Papua, Niolen KotoukiJAYAPURA – Komisi V DPR Papua mendesak pemerintah pusat untuk melaksanakan Dialog Jakarta-Papua agar permasalahan yang terjadi di Papua bisa terlaksana dengan baik. “Presiden sudah menyetujui untuk dialog Jakarta-Papua. Sekarang yang menjadi pertanyaan kapan pelaksanaannya, sebab jika tidak dilakukan maka persoalan akan terus terjadi,” kata Wakil Ketua Komisi…
DPRP Desak Pelaksanaan Dialog Jakarta-Papua was originally published on PAPUA MERDEKA! News
|
Tampilkan postingan dengan label Dialog Jakarta-Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialog Jakarta-Papua. Tampilkan semua postingan
DPRP Desak Pelaksanaan Dialog Jakarta-Papua
Label:
Dialog,
Dialog Jakarta-Papua
Presiden Pilih Jalur Dialog Daripada Otsus Plus
Presiden Pilih Jalur Dialog Daripada Otsus Plusby Papua Post |
Sabtu, 14 Februari 2015 00:30, BiPa Untuk Selesaikan Persoalan di Papua Gubernur Papua Lukas Enembe bersama Ketua MRP Timotius Murib JAYAPURA — Di tengah kekecewaan atas tidak masuknya Rancangan Undang-Undang Otonomi Khusus Bagi Provinsi di Tanah Papua (RUU OTSUS Plus) dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) prioritas Tahun 2015, Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan jika saat…
Presiden Pilih Jalur Dialog Daripada Otsus Plus was originally published on PAPUA MERDEKA! News
Perlemen Papua Dukung Dialog Papua – Jakarta
Perlemen Papua Dukung Dialog Papua – Jakartaby Papua Post |
JAYAPURA
- Wacana dialog damai Papua – Jakarta yang kembali diserukan
persekutuan gereja-gereja di Papua, guna menyelesaikan seluruh persoalan
Papua secara komprehensif, disambut baik oleh parlemen. ”Jika dialog
damai Papua – Jakarta benar-benar terwujud, kami DPRP dan Gubernur yang
ada embel-embel pemerintahnya tidak akan ambil bagian,”ujar Ketua DPRP
Yunus Wonda, Senin 16 Maret. Meski tak…
Perlemen Papua Dukung Dialog Papua – Jakarta was originally published on PAPUA MERDEKA! News
Label:
Berita,
Dialog,
Dialog Jakarta-Papua,
Papua Post,
Perlemen Papua
“Rakyat Papua Pahami Dialog itu Referendum”
“Rakyat Papua Pahami Dialog itu Referendum”by Papua Post |
JAYAPURA
– Wacana dialog yang disampaikan Pemerintahan Presiden RI Ir. Joko
Widodo (Jokowi) ketika berada di Papua, beberapa waktu lalu, ternyata
terus dipertanyakan. Pasalnya, Kepala Negara tak menjelaskan secara baik
dialog macam apa yang diingini pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
“Jangan sampai ini membuat bom waktu, padahal sebetulnya dengan adanya
Rancangan UU Otsus Plus bagi…
“Rakyat Papua Pahami Dialog itu Referendum” was originally published on PAPUA MERDEKA! News
Label:
Berita,
Dialog,
Dialog Jakarta-Papua,
Papua Post,
Referendum
TPN-OPM Punya Kewenangan Tentukan Pelaku Dialog
TPN-OPM Punya Kewenangan Tentukan Pelaku Dialog
![]() |
| Puron Wenda .Komando Pimpinan tertinggi TPN-OPM Wilayah Lapago (Foto doc SP) |
PBB, Australia
dan Vanuatu Diminta Jadi saksi dialog
Tentara
Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) mengklaim jika mempunya
kewenangan untuk menentukan siapa pelaku dialog, itu berarti mereka yang diutus
untuk berdialog dengan pemerintah Indonesia harus diakui dan mendapat
rekomendasi dari pihak TPN-OPM,dalam wawancara per telepon di Wamena,
Jayawijaya, Kamis (22/1/2015).
Komando
Pimpinan tertinggi TPN-OPM Wilayah Lapago, Puron Wenda dan Enden Wanimbo
menghimbau agar jangan mencampuri apa yang telah menjadi keputusan TPN-OPM
untuk melakaukan dialog dengan presiden RI.
“Banyak yang kemarin kami kasih mandat kepada mereka yang tergabung dalam
kelompok dan pergerakan organiasai yang ada di Papua ini tapi nyatanya mereka
sudah merusak. Jadi, kami minta tidak ada campur tangan bagi mereka yang saya
sebut, tapi kami TPN-OPM yang bertanggungjawab untuk dialog,” kata Puron Wenda.
“Saya sampaikan kepada kelompok dan organ-organ yang ada di Papua yang suka
bermain-main itu, ini keputusan kami dan kalian harus mendengar mandat dari
kami TPN-OPM, karena kami akan instruksikan dan menunjuk siapa yang layak untuk
berdialog nanti,” tegas Puron lagi.
Dikatakannya, TPN-OPM dibawah komando Puron Wenda menyatakan hal ini
berdasarkan dengan penyampaian presiden RI untuk melaksanakan dialog
internasional dengan TPN OPM dan hal ini sudah disampaikan pada Desember
tepatnya natal 2014 di Papua.
Sesuai pembicaraan dan penyampaian presiden RI, pihak TPN OPM sudah siap dan
merencanakan pertemuan pada 8 januari untuk melakukan pertemuan di Tinggipura,
tapi pertemuan itu dibatalkan karena banyak pertimbangan yang dibuat dari
Jakarta.
“Kami usul kepada RI agar harus ada intervensi, jadi kami menginginkan adanya
dialog tingkat tinggi yang akan dilaksanakan di Papua dengan menghadirkan
negara Vanuatu, Australia dan PBB,” tegasnya.
Puron tegaskan agar pengalaman Pepera puluhan tahun silam yang berujung pada
kekerasan dan intimidasi tidak akan terjadi lagi di Papua.
“Jadi kami TPN-OPM mau agar dialog yang akan dilaksanakan nanti harus ada
intervensi dari negara atau negara pendukung yang tadi saya sebutkan itu,” kata
Puron Wenda.
Bagi negara-negara pendukung yang disebutkan, Puron mengatakan, mereka atau
negara-negara pendukung Papua akan menjadi pengamananan bagi TPN-OPN guna
pelaksanaan dan berjalannya dialog tingkat tinggi dengan presiden RI.
Lebih jauh Puron mengatakan, pihaknya akan setuju apabila pelaksanaan dialog
internasional dilangsungkan di Papua, bukan harus dilaksanakan di Jakarta,
dimana pihak TPN-OPM telah melakukan pembicaraan sebelumnya dengan pihak istana
dalam hal ini menteri pertahanan dan keamanan RI.
“Kami masih baku tawar soal tempat pelaksanaan dialog, tapi kami minta agar
harus dilaksankan di Papua, karena kami tidak bisa dibawa ke Jakarta,” jelas
Puron.
Menurutnya pelaksanaan dialog internasional dengan presiden RI masih
dinegosiasikan dengan pihak istana negara RI serta negara-negara pendukung
untuk menentukan waktu dan tempat yang tepat.
Puron tak sepakat dengan adanya rencana Lambert Pekikir soal gagasan dialog
ini. Ia bahkan menuding jika Lamber ingin mendapatkan posisi dalam NKRI.
Puron juga mempertanyakan rencana kedatangan Presiden RI ke Kabupaten Lanny Jaya.
Puron juga mempertanyakan rencana kedatangan Presiden RI ke Kabupaten Lanny Jaya.
“Presiden datang ke Lanny Jaya itu keperluannya apa, kami TPN-OPM yang punya
hak bicara. Jadi jangan pakai tokoh gereja seperti Sofyan Yoman ka, tokoh
masyarakat ka, itu tidak dan kami tolak semua,” kata Puron.
Dijelaskannya, rencana kedatangan Presiden RI ke Kabupaten Lanny Jaya boleh
dilakukan, namun pihak TPN-OPM tetap berpatokan kepada pelaksanaan dialog.
“Kami itu prinsip disitu, tidak ada namanya tawaran-tawaran minta uang dan
sebagainya itu, karena ini tentang menentukan nasib dan bangsa sendiri,” ungkap
Puron.
“Kami harus dialog Internasional dulu. Jadi kalau presiden datang lagi ke Lanny
Jaya, kami akan buat kacau dan bunuh orang banyak. Karena TPN siap, kalau
Presiden datang dengan kepentingan yang itu jelas kami akan perang, dan harus
mereka tahu bahwa Papua merdeka ini TPN-OPM yang pegang bukan organisasi atau
lembaga yang lain itu,” katanya.
Kunjungan Jokowi dan Dialog Papua
Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Papua, Desember 2014,
menyampaikan pentingnya dialog dalam menyelesaikan berbagai macam
persoalan di “Bumi Cenderawasih”.
Pernyataan tentang dialog Papua perlu ditindaklanjuti Presiden Jokowi
dalam kunjungan berikutnya. Sebab, tanpa ada tindak lanjut, Jokowi akan
disamakan dengan presiden-presiden sebelumnya yang mengobral janji
kepada rakyat Papua, tetapi kurang memenuhi janjinya.
Rakyat Papua tahu bahwa Presiden Jokowi, sesuai janjinya, akan
mengunjungi Papua minimal tiga kali setahun. Maka, pada kunjungan yang
pertama pada 2015, entah kapan pun waktunya, Jokowi diharapkan
menindaklanjuti pernyataannya dengan memberikan penjelasan tentang
dialog: Apa tujuan yang hendak dicapai? Apa agendanya? Bagaimana
formatnya? Apa mekanismenya? Siapa yang terlibat dalam dialog ini?
Penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan ini pada gilirannya akan
membangkitkan dan memperkokoh kepercayaan rakyat terhadap pribadi Jokowi
selaku Presiden dan terhadap Pemerintah Indonesia.
Dialog Papua yang diwacanakan banyak pihak dapat disebut sebagai
dialog damai. Kata sifat ‘damai’ yang ditempatkan setelah kata benda
‘dialog’ mengandung tiga pengertian. Pertama, kata ‘damai’ mengingatkan
tujuan akhir yang ingin dicapai melalui dialog Papua. Bahwa dialog Papua
diadakan untuk menciptakan perdamaian atau menjadikan Papua sebagai
Tanah Damai. Perdamaian, sebagai tujuan, menjadi suatu simpul yang
menarik, mengarahkan, dan mempersatukan semua pihak yang terlibat dalam
dialog. Sebagai tujuan, perdamaian berperan juga sebagai kriteria yang
menguji tiap sumbangan pemikiran atau inisiatif yang ditawarkan secara
individu dan kelompok. Karena itu, terhadap setiap inisiatif atau
program dapat diuji: apakah inisiatif atau program itu membantu atau
menghambat perwujudan Papua sebagai Tanah Damai?
Kedua, kata ‘damai’ menunjuk pada suasana atau kondisi yang
dibutuhkan demi dialog Papua. Menyebutnya dialog damai karena
pelaksanaan dialog Papua menuntut adanya suasana yang kondusif. Proses
dialog akan terganggu dengan sendirinya apabila ada aksi kekerasan
seperti penembakan yang menewaskan masyarakat sipil atau aparat
keamanan.
Ketiga, kata ‘damai’ mengisyaratkan agenda. Dialog Papua disebut
dialog damai karena agenda utama dalam dialog tersebut adalah
pembangunan perdamaian di Tanah Papua. Pertanyaan utama yang mendasari
dan mengarahkan dialog Papua adalah: bagaimana menciptakan dan
memelihara perdamaian di Tanah Papua? Atau bagaimana Papua dapat
dijadikan Tanah Damai? Oleh sebab itu, dalam dialog Papua dibahas
indikator-indikator dari Papua Tanah Damai, masalah-masalah yang
menghambat perdamaian, serta solusi-solusi yang realistis dan terukur.
Inklusif
Perwujudan Papua sebagai Tanah Damai bukanlah monopoli orang atau
kelompok tertentu. Oleh sebab itu, semua pemangku kepentingan perlu
dilibatkan dalam dialog damai. Para pemangku kepentingan mencakup tokoh
agama, tokoh adat, tokoh perempuan, pemuda, pemerintah daerah,
pemerintah pusat (kementerian dan lembaga), TNI, Polri, semua perusahaan
domestik dan multinasional yang mengeksploitasi sumber daya alam (SDA)
di “Bumi Cenderawasih”, serta kelompok perlawanan yang terhimpun dalam
Organisasi Papua Merdeka (OPM) di hutan dan di luar negeri.
Mengingat keragaman para pemangku kepentingannya, dialog damai perlu
mengadopsi mekanisme yang inklusif. Dengan demikian, tiap kelompok
pemangku kepentingan diberikan ruang untuk berdiskusi secara internal,
serta merumuskan dan menyumbangkan pandangan kolektifnya tentang
pembangunan Papua menjadi Tanah Damai.
Dialog damai diselenggarakan pada semua level, mulai dari tingkat
kampung hingga tingkat yang lebih tinggi. Partisipasi aktif dalam dialog
damai akan melahirkan dalam diri pemangku kepentingan rasa memiliki
terhadap proses dan hasil dari dialog itu.
Sebagai tindak lanjut dari pernyataannya tentang dialog Papua,
Presiden dalam kunjungan nanti perlu bertemu para pemimpin masyarakat
yang mewakili komponen agama, adat, perempuan, pemuda, dan
paguyuban-paguyuban yang berasal dari luar Papua. Presiden mengajak dan
mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam diskusi tentang indikator
Papua Tanah Damai, masalah-masalah yang menghambat perdamaian, ataupun
solusi-solusi yang diperlukan dalam rangka menciptakan Papua yang
damai-sejahtera.
Selain itu, Presiden Jokowi juga perlu bertemu secara terpisah dengan
para kepala daerah yang terdiri dari Gubernur Papua dan Papua Barat
serta semua bupati dan wali kota. Presiden Jokowi perlu menegaskan di
hadapan mereka bahwa diskusi tentang Papua Tanah Damai tidak ada kaitan
dengan gerakan separatisme di Papua. Oleh sebab itu, mereka tidak perlu
takut untuk menyatakan dukungannya terhadap Papua Tanah Damai dan dialog
Papua.
Dengan ini Presiden memperlihatkan keseriusannya atas pernyataannya
dan memberikan kepastian tentang dialog Papua. Rakyat Papua dan
pemerintah daerah juga akan melihat adanya kaitan antara keberlanjutan
dari kunjungan Presiden pada Desember 2014 dan kunjungan pertamanya pada
2015.
Neles Tebay
Dosen STFT Fajar Timur dan Koordinator Jaringan Damai Papua di Abepura
Label:
Berita,
Dialog,
Dialog Jakarta-Papua,
KOMNAS TPNPB
