Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Orang Melanesia. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Orang Melanesia. Tampilkan semua postingan

    Dukungan Melanesia untuk Papua Barat bebas selalu tinggi

    NEGARA-NEGARA MELANESIA GALANG DUKUNGAN UNTUK KEMBALIKAN KEBEBASAN PAPUA BARAT

    Penulis :
    -Wandikbonak
    Powes Parkop dan Benny Wenda (AK Rockefeller)

    Oleh : Airileke Ingram dan Jason MacLeod
    Jayapura, 18/3 (Jubi-NewMatilda)-Pemimpin Papua Nugini dan negara Melanesia lainnya menunjukkan dukungan mereka untuk pembebasan Papua Barat. Bob Carr bergerak melawan arus regional, tulis Airileke Ingram dan Jason MacLeod

    Dukungan Melanesia untuk Pembebasan Papua Barat selalu tinggi. Berjalan di seluruh Papua Nugini Anda akan sering mendengar orang berkata bahwa Papua Barat dan Papua Nugini adalah “Wanpela Graun” – satu tanah – dan bahwa Papua Barat di sisi lain perbatasan adalah keluarga dan kerabat.
    Di Kepulauan Solomon, Kanaky, Vanuatu dan Fiji orang akan memberitahu Anda bahwa “Melanesia belum bebas sampai Papua Barat bebas”. Masyarakat di bagian Pasifik ini sangat menyadari bahwa orang Papua Barat terus hidup di bawah ancaman senjata.

    Kemungkinan Perubahan.

    Rabu terakhir 6 Maret 2013, Powes Parkop, Gubernur Distrik Ibu Kota Nasional, Papua Nugini menancapkan “warna” nya tegas ke “tiang”. Di depan kerumunan 3000 orang Gubernur Parkop menegaskan bahwa “tidak ada pembenaran, sejarah hukum, agama, atau moral bagi pendudukan Indonesia di Papua Barat”.

    Menyambut pemimpin Papua, Benny Wenda, yang berada di Papua New Guinea sebagai bagian dari tur global, Gubernur mengatakan bahwa saat Wenda berada di Papua New Guinea, “tidak ada yang akan menangkapnya, tidak ada yang akan menghentikannya, dan ia dapat merasa bebas untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. ” Ini merupakan hak dasar yang ditolak di Papua Barat, yang terus menerus ditangkap, disiksa dan dibunuh hanya karena warna kulit mereka.

    Gubernur Parkop, yang merupakan anggota dari Parlemen Internasional untuk Papua Barat, yang kini memiliki perwakilan di 56 negara, melanjutkan kegiatannya dengan meluncurkan kampanye Pembebasan Papua Barat. Dia berjanji untuk membuka kantor, mengibarkan bendera Bintang Kejora dari City Hall dan menjanjikan dukungannya untuk tur musisi Melanesia untuk Pembebasan Papua Barat.

    Gubernur Parkop Tak Lagi Sendirian di Melanesia Menyerukan Perubahan.

    Tahun lalu Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O’Neil “merusak” tradisi hubungan dengan Indonesia setelah mengingatkan publik dengan memberikan respon terhadap Pemerintah Indonesia atas kekerasan negara yang sedang berlangsung, pelanggaran hak asasi manusia dan kegagalan pemerintahan. Tergerak oleh 4000 perempuan dari Gereja Lutheran, O’Neill mengatakan kekhawatirannya tentang HAM terhadap pemerintah Indonesia.

    Sekarang Gubernur Parkop ingin menemani Perdana Menteri dalam kunjungan ke Indonesia untuk mempresentasikan gagasannya kepada Indonesia tentang cara memecahkan konflik Papua Barat sekali dan untuk semua.

    Komentator terkenal PNG, Emmanuel Narakobi berkomentar di blog-nya tentang usulan pendekatan multi-cabang dari Parkop, bagaimana memobilisasi opini publik di PNG tentang Papua Barat. “Mungkin adalah pertama kalinya saya mendengar rencana yang sebenarnya tentang bagaimana mengatasi masalah ini (Papua Barat)”. Melalui radio Gubernur Parkop menuduh Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr tidak serius menangani isu Papua Barat, melainkan “membersihkannya di bawah karpet.”

    Di Vanuatu, partai-partai oposisi, Malvatumari Nasional Dewan Chiefs dan uskup Anglikan dari Vanuatu serta Pendeta James Ligo mendesak pemerintah Vanuatu untuk mengubah posisi mereka terhadap isu Papua Barat. Ligo baru-baru ini berada di Sidang Dewan Gereja Pasifik di Honiara, Kepulauan Solomon, yang mengeluarkan sebuah resolusi mendesak Dewan Gereja Dunia untuk menekan PBB untuk mengirim tim pemantau ke wilayah Papua Indonesia.

    “Kita tahu bahwa Vanuatu telah mengambil sisi-langkah itu (masalah Papua Barat) dan kita tahu bahwa pemerintah kita mendukung status pengamat di Indonesia pada MSG (Melanesian Spearhead Group), kita tahu itu. Tapi sekali lagi, kami juga percaya bahwa sebagai gereja kami memiliki hak untuk mengadvokasi dan terus mengingatkan negara-negara dan para pemimpin kita untuk khawatir tentang saudara-saudara Papua Barat kami yang menderita setiap hari.” kata Ligo.

    Masyarakat Papua Barat juga mengorganisir diri mereka, bukan hanya di dalam negeri di mana kemarahan moral terhadap kekerasan negara Indonesia yang sedang berlangsung, tetapi juga di regional. Sebelum kunjungan Benny Wenda ke Papua Nugini, perwakilan Koalisi Nasional Papua Barat untuk Kemerdekaan yang berbasis di Vanuatu resmi diajukan untuk mendapatkan status pengamat di MSG dalam pertemuan MSG tahun ini yang dijadwalkan akan digelar di New Kaledonia pada bulan Juni. New Caledonia, tentu saja, adalah rumah lain dari perjalanan panjang perjuangan penentuan nasib sendiri bangsa-bangsa Melanesia. Di Vanuatu Benny Wenda menambahkan dukungan untuk langkah tersebut, dengan menyerukan pada organisasi perlawanan Papua yang berbeda untuk mendukung “agenda bersama untuk kebebasan”. Sebuah keputusan tentang apakah Papua Barat akan diberikan status pengamat pada pertemuan MSG tahun ini akan dilakukan secepatnya.

    Di Australia Bob Carr mungkin mencoba untuk meredam semakin besarnya dukungan publik untuk Pembebasan Papua Barat tapi di Melanesia arus bergerak ke arah yang berlawanan.*

    SOLIDARITAS SESAMA MELANESIA, LOLOSKAN BINTANG KEJORA KE KANTOR GUBERNUR NCD



    SOLIDARITAS SESAMA MELANESIA, LOLOSKAN BINTANG KEJORA KE KANTOR GUBERNUR NCD

    Penulis : 
    Wandikbonak


    Gubernur NCD, Powes Parkop saat menerima bendera Bintang Kejora dari pendukung Papua Merdeka (HP/IST)
    Jayapura, 1/12 (Heart of Papua) – Meski dihadang kepolisian Papua New Guinea, Bendera Bintang Kejora (BK) yang rencananya akan dikibarkan di kantor Gubernur New Capital District (NCD), Papua New Guinea (PNG)  akhirnya bisa berkibar di kantor yang dipimpin oleh Powes Parkop. Solidaritas sesama ras Melanesialah yang meloloskan BK dari hadangan polisi.
    Peaceful-March dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Papua Barat yang ke-52, Minggu (1/12) yang seharusnya dimulai dari Unagi-park menuju halaman Kantor Gubernur NCD ternyata tidak diijinkan oleh aparat keamanan Papua New Guinea dengan alasan belum mendapat persetujuan dari pihak keamanan, Kepala Polisi Kota Metropolitan, Sup. Andy Bawa.
    Namun perasaan serumpun Melanesia akhirnya memberikan kemungkinan kepada pada pendukung Papua Merdeka untuk menyelenggarakan peringatan hari tersebut.
    “Para polisi ini kemudian membiarkan pendukung Papua Merdeka menggunakan angkutan yang dikordinir oleh panitia kegiatan. Alhasil, pendukung Papua Merdeka ini berhasil berkumpul dihalaman kantor Gubernur sekitar jam 11 pagi, bersama BK yang akan dikibarkan oleh Powes Parkop.” kata Jacob Ponau, seorang wartawan TV Nasional PNG, saat dihubungi Jubi, Minggu (1/12) malam.

    Gubernur NCD, Powes Parkop saat menyampaikan pidato dukungannya kepada gerakan Papua Merdeka HP/IST)
    Kedatangan massa pendukung Papua Merdeka ini, lanjut Ponau, disambut oleh para penyanyi Gospel dari Shama Ministry, pimpinan Pastor Jack Alberth. Saat Gubernur NCD, Powes Parkop dan nyonya tiba di tempat peringatan, ia disambut oleh massa simpatisan Papua Merdeka dengan teriakan “Papua Merdeka”.
    Acara pengibaran BK ini dimulai dengan doa pembukaan yang dibawakan oleh Pastor Jack Alberth, dilanjutkan dengan Pidato Solidaritas Papua Merdeka oleh Gubernur NCD,  Powes Parkop.
    “Sudah saatnya kita harus mendukung perjuangan saudara-saudara serumpun kita yang masih belum bebas dan berada di bawah tekanan pemerintah Indonesia. Kita harus mendukung saudara kita dan bersuara kepada dunia bahwa rakyat Papua Barat mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri. Kita harus mendukung saudara kita dan menyatakan kepada dunia bahwa pelaksanaan Pepera tahun 1969 yang diselenggarakan oleh Indonesia di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah cacat hukum karena telah melanggar hak-hak azasi manusia orang Papua Barat melalui berbagai tekanan, intimidasi dan pembunuhan untuk memenangkan dan memasukkan wilayah Papua Barat kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia….” kata Powes dalam pidatonya dihadapan pendukung Papua Merdeka.

    Bintang Kejora, sempat berkibar bersama bendera Papua New Guinea di Kantor Gubernur NCD (HP/IST)
    Selesai Pidato Solidaritas Papua Merdeka oleh Gubernur NCD, Hon. Powes Parkop, National Council of Woman di NCD menyerahkan BK kepada Pastor Jack Alberth untuk didoakan sebelum diserahkan kepada Gubernur untuk dikibarkan di kantor pemerintahannya.
    “Namun BK hanya berkibar beberapa saat saja. Karena setelah BK dinaikkan di kantor gubernur, Gubernur Powes Parkop sendiri menurunkannya karena tekanan dari pihak keamanan PNG.” tambah Ponau.
    Acara Peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Papua yang ke-52, tanggal 1 Desember 2013 ini ditandai dengan Peresmian Kantor Kampanye Pembebasan Papua Barat (Free West Papua Campaign Office) untuk wilayah Papua New Guinea yang berkedudukan di Port Moresby.

    Spanduk peresmian Kantor Kampanye Pembebasan Papua Barat (Free West Papua Campaign Office) untuk wilayah Papua New Guinea (HP/IST)
    Sebelum massa pendukung Papua Merdeka membubarkan diri, pihak keamanan Papua New Guinea dengan rasa persaudaraan sebagai rumpun Melanesia, memanggil Komite Penyelenggaraan Peringatan Hari Kemerdekaan Papua yang ke-52, yakni Sdr. Fred Mambrasar, Sdr. Patrick Kaiku (Dosen UPNG) dan Tony Fofau (anggota Free West Papua Campaign) untuk memberikan keterangan. Seperti diberitakan sebelumnya, ketiga orang ini telah menjalani pemeriksaan di kantor polisi Boroko, PNG. (B Tabuni/HP)

    Penjelasan Direktur General MSG Secretariat (Peter Forau) Tentang Syarat Menjadi Keanggotaan MSG Bagi Papua Barat

    Director General MSG Secretariat (Peter Forau) Has Explanation that the Terms For West Papua Become to MSG Membership

    KASTOM MO KONSTITUSEN blong Ripablik Blong Vanuatu
    KASTOM MO KONSTITUSEN blong Ripablik Blong Vanuatu

    An English:
    Director General MSG Secretariat (Peter Forau) Has Explanation that the Terms For West Papua Become to MSG Membership
    Director General Secretariat MSG (Peter Forau) had a meeting with the delegation of West Papua, on West Papua Leaders Summit in Port Vila Vanuatu on December 2rd, 2014.
    General Director of the MSG Secretariat Peter Forau given information to all leaders and fighters of West Papua, in building tension Ripablik KASTOM MO KONSTITUSEN Blong Vanuatu in Port Vila Vanuatu on December 2, 2014 that there are some requirements to become a member.

    Condition is:
    •  The area belonging to people of Melanesia;
    • Peter Forau also add that if a Member mengingikan West Papua MSG, then immediately do the unity and verification of applications and can be submitted through the body back to MSG truly representative of the faction and the People of Papua;
    • Then Peter Forau added that the application WPNCL in return, because in the opinion of MSG that WPNCL not represent the majority of Community Elements and warring factions struggle.
    From this information, it has been clear that Vanuatu is a key meeting, where all the leaders and fighters were present in Vanuatu will determine this step.

    Note:

    Please note that all West Papuan leaders and fighters were present in Vanuatu began a heart-to-heart talks, in order to make wise decisions for the sake of the Nation menjelamatkan Melanesian Papuans.
    Even so, we hope that the people of West Papua together freedom  fighters activists across the Land of Papua should give prayers and moral support to the leaders and fighters of West Papua who are already doing a lot of discussion.

    Whatever the decision, it can be accepted by all parties. Because the leaders of West Papua will take whatever is best policy, in the interests of the People and the Land of Papua. Thus, thank you for your support and good cooperation. God bless us.
    Publishing by La Pago

    An Indonesian:

    Penjelasan Direktur General MSG Secretariat (Peter Forau) Tentang Syarat Menjadi  Keanggotaan MSG Bagi Papua Barat


    Direktur Umum Secretariat MSG (Peter Forau) telah melakukan pertemuan dengan Delegasi Papua Barat, dalam Pertemuan Pemimpin Papua Barat di Port Vila Vanuatu pada tanggal 2 Desember 2014.
    Direktur Umum Sekretariat MSG Peter Forau memberikan keterangan kepada semua Pemimpin dan Pejuang Papua Barat, di Gedung KASTOM MO KONSTITUSEN blong Ripablik Blong Vanuatu di Port Vila Vanuatu pada tanggal 2 Desember 2014 bahwa ada beberapa syarat untuk menjadi anggota.

    Syaratnya adalah:
    • Wilayah milik Orang Melanesia;
    • Peter Forau juga menambahkan bahwa jika Papua Barat mengingikan menjadi Anggota MSG, maka segera melakukan persatuan dan verifikasi aplikasi dan dapat di ajukan kembali ke MSG melalui badan yang benar-benar mewakili dari faksi dan Rakyat Papua;
    • Selanjutnya Peter Forau menambahkan bahwa Aplikasi WPNCL di kembalikan, karena menurut penilaian MSG bahwa WPNCL belum mewakili Mayoritas Elemen Masyarakat dan Faksi-Faksi Perjuangan.
    Dari keterangan ini, maka telah jelas bahwa Pertemuan Vanuatu adalah kunci, dimana semua pemimpin dan pejuang yang hadir di Vanuatu akan menentukan langkah ini.

    Catatan: 

     Perlu diketahui bahwa semua pemimpin dan pejuang Papua Barat yang hadir di Vanuatu mulai melakukan pembicaraan dari hati ke hati, guna mengambil keputusan yang bijaksana demi menjelamatkan Bangsa Papua Melanesia.

    Sekalipun begitu, kami harap bahwa Rakyat bersama aktivis Papua Merdeka di seluruh Tanah Papua Barat boleh memberikan dukungan doa dan moril kepada Pempimpin dan Pejuang Papua Barat yang telah dan sedang melakukan pembahasan yang alot.

     Apapun keputusannya, dapat di terima oleh semua pihak. Karena para Pemimpin Papua Barat akan mengambil kebijakan apapun yang terbaik, demi kepentingan Rakyat dan Tanah Papua. Demikian, terima kasih atas dukungan serta kerja sama yang baik. Tuhan memberkati.

    Pidato Perdana Menteri Vanuat Pada Perayaan 1 December 2014 di Port Vila Vanuatu

    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila VanuatuPidato PM Vanuatu Pada Perayaan 1 December 2014 di Port Vila Vanuatu

    Perayaan Hari Nasional Papua Barat pada 1 Desember 2014 di Vanuatu sangat meriah dibandingkan sebelumnya, karena perayaan hari ini dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Joe Y Natuma, Wakil Perdana Menteri dan para Anggota Kabinet, Anggota Parlemen Vanuatu serta seluruh rakyat Vanuatu dan, Pemimpin gereja, tokoh adat, Pasific Konference of Churches, West Papua Comittee Kannak Solidarity.

    Perayaan ini juga telah di dukung penuh oleh seluruh Rakyat dan Pemerintah Vanuatu disertai dengan Upara adat perdamaian, oleh semua suku di Vanuatu, dimana Vanuatu menjadi penengah untuk mempersatukan Orang Papua yang berjuang dalam berbagai Faksi Perjuangan. Tokoh Papua yang telah ikut serta dalam perayaan ini adalah Mr. Benny Wenda, Mr. Jacob Rumbiak, Mr. Otto Mote, Mr. Terryanus Satto, Mr. E. Awom, Mr. HRumbewas, Mr. MYenu, Mr.J. Wanggai, Mr. Sebby Sambom, F. Kabisa, Ms Leoni Tanggama, Ms RM. Mr. Alfons Adadikam, Mr. Adow, Mr. Fransicus Owen.

    Hal ini telah lakukan dengan perdamaian secara simbolis di lapangan, sebelum melakukan long march. Perayaan kali ini long march 5 kilo meter, yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Vanuatu, Joe Y Natuma dan di pandu dengan Drum Band dari Vanuatu Defend Forces Army. Yang menarik lagi adalah Mr. Benny Wenda di Arak di atas pundak Pemuda dan tokoh adat Vanuatu, dimana dinaikan pada rakitan kayu yang pikul babi.

    Indonesia telah mengirim surat peringatan kepada Pemerintah Vanuatu, tetapi Perdana Menteri Vanuatu dalam pidato mengatakan bahwa Vanuatu adalah Negara Demokrasi dan Negara Merdeka, dan Indonesia tidak perlu intervensi dan menenkan kami. Selengkapnya bisa membaca archive liputan Vanuatu Dailly Post Indonesia Warns Vanuatu
    dan Radio New Zerland Indonesia warns Vanuatu over support for separatist Papuans
    Pernyataan Presiden Pasific Conference of Churches Rev Francois Pihaataa bahwa Dewan Gereja Pasific akan dan tetap Mendukung Papua Merdeka dan dukungan kami tidak akan kami robah.
    Jalannya perayaan silakan lihat photos dan videos, yang kami lampirkan dari hasil kegiatan perayaan ini.
    Vudeo Perayaan 1 Dec 2014 di Port Vila Vanuatu:

    Notes:
    Secara adat semua pemimpin telah sipersatukan oleh tokoh-tokoh adat Vanuatu, namun secara politik semua pemimpin Politik Papua Barat akan ditentukan tiga hari yang akan datang.
    Mohon dukungan doa, supaya pemimpin Papua Barat dapat menentukan langkah yang terbaik demi Rakyat dan tanah air kami.

    Publishing by Admin DEMAK LA PAGO
    Lampiran photos:
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu
    Union of West Papua symbolically by Vanuatu Indigenous Leaders
    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila VanuatuVanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
     Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
     Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
     Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu (Photo: Vanuatu Defend Forces Army)

    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu

    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu

    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu

    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu

    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu

    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu
    Vanuatu PM Speech On West Papua Celebration on December 1rd 2014 in Port Vila Vanuatu

    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14

    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14

    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14

    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14

    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14

    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14

    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14

    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14
    West Papua National Day Celebration 1rd Dec 2014 in Port Vila Vanuatu14

    1 Desember 2014 bendera West Papua dikibarkan di Kanaky ( New Caledonia)

    1 Desember 2014 bendera West Papua dikibarkan di Kanaky ( New Caledonia)

    Ketika kita mendekati Global pengibaran bendera dan Demonstrasi untuk Free West Papua pada 1 Desember, mengapa tidak mengatur pengumpulan lokal Anda sendiri, mengibarkan bendera Papua Barat dengan teman-teman Anda?
     
    Harap beritahu kami jika Anda ingin kami untuk mempublikasikan setiap pengibaran bendera direncanakan sehingga kita dapat mendorong sebagaimana orang mungkin hadir!
     
    Seperti ini orang di Kanaky / Kaledonia Baru, kelompok di seluruh dunia akan berkumpul bersama pada tanggal 1 Desember untuk menunjukkan dukungan mereka untuk Free West Papua di HUT ke-53 hari kemerdekaan Papua Barat dari Belanda (sebelum Papua Barat diserbu oleh Indonesia) .
    Jika mungkin, jangan mengatur sendiri pertemuan Papua Merdeka Barat Anda pada hari ini dan mengirimkan foto-foto pengibaran bendera. Ingat, orang atau kelompok kita merasa telah mengambil foto terbaik akan menerima poster bebas dari Kampanye, tangan ditandatangani oleh pendiri Kampanye Benny Wenda.
     
    Silakan ambil bagian dalam pengibaran bendera global yang bersejarah ini, mengangkat bukan hanya bendera tapi kesadaran penting dan ROH rakyat Papua Barat untuk KEBEBASAN dan KEADILAN
    Free West Papua!

    Terima kasih banyak

    Maaf, Rakyat NTT Ingin Merdeka?

    13652035401547075032

    Rakyat NTT Ingin Merdeka?

    BEBERAPA wilayah otonom di Indonesia memiliki sejarah perjuangan ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.Timor Leste (dahulu Timor Timur) sudah merdeka. Aceh berjuang sampai ke level internasional dan kini mendapat status khusus – kini bisa memiliki partai politik lokal. Papua sesekali masih bergolak dan menimbulkan korban jiwa di sana-sini, lantaran ada sekelompok orang yang tak pernah berhenti ingin mendirikan negara sendiri.  Bagaimana dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur atau NTT?

    Bulan Agustus masih lama. Tak soal kita bicara topik kemerdekaan ini empat bulan lebih dini.  Lebih khusus mengenai NTT yang sebagian besar masyarakat NTT rindu kemerdekaan.  Alasannya sederhana, sudah hampir 68 tahun Indonesia merengkuh kemerdekaan dari penjajahan Belanda, tapi sampai saat ini masyarakat NTT belum menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya.

    Maaf, topic ini sama sekali tak terkait dengan penyerbuan ke Lapas Cebongan, Sleman, yang menewaskan empat warga asal NTT. Juga bukan soal merdeka secara kedaulatan alias pisah dari NKRI.  Masyarakat NTT hanya menginginkan perhatian lebih dari Pemerintah Pusat dan para wakil rakyat yang duduk di kursi empuk Senayan, Jakarta. Juga pemerintah daerah dari  level provinsi sampai kabupaten/kota.
    Sedih. Bila berkeliling ke daerah-daerah lain di Indonesia, saya dibuat terkagum-kagum dan iri melihat  berbagai kemajuan yang mereka capai. Pembangunan infrastruktur digesa di mana-mana. Perekonomian pun tampak menggeliat bak naga yang sedang meronta hebat.  Tapi ketika kembali ke NTT, begitu mendarat di Bandar Udara El Tari, langsung terasa bedanya.

    Fasilitas di Terminal Bandara El Tari  tertinggal 50-60 tahun dibanding bandara-bandara lain di Indonesia. Terminal sempit, ruang tunggu sempit dan sumpek, toilet bau busuk dan tampak sangat tak terurus, conveyor bagasi Cuma satu unit, serta naik/turun dari dan ke pesawat harus jalan kaki (tidak ada fasilitas garbarata atau aviobridge).

    Itu kondisi di Bandara El Tari, Kota Kupang, pintu gerbang utama Provinsi NTT.  Kalau “ruang tamunya” saja seperti itu, bagaimana dengan ruang-ruang yang lain?  Silakan Anda bayangkan!

    Anggaran sedikit, tidak fokus

    Lantas, adakah kemajuan di NTT? Harus saya akui: ada!  Setelah 12 tahun meninggalkan Kupang, saya beberapa kali pulang kampung. Saya melihat sejumlah ruas jalan utama menjadi lebih lebar. Panjang jalan juga bertambah. Akses jalan dari Kota Kupang ke beberapa kabupaten di daratan Timor, seperti ke TTS, TTU, dan Belu menjadi lebih luas. Aliran listrik pun kini menjangkau lebih banyak warga.
    Namun, apabila kita membandingkannya dengan provinsi lain, terutama di wilayah barat Indonesia, kita akan merasakan bahwa kemajuan di NTT sangat jomplang. NTT tertinggal beberapa puluh tahun di belakang. Mengapa demikian?

    Mari kita cermati anggaran pusat bagi Provinsi NTT dibanding provinsi lain menurut data dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia Tahun 2012. Mari kita coba cermati Ruang Fiskal-nya (fiscal space) saja. Ruang fiskal merupakan konsep untuk mengukur fleksibilitas yang dimiliki pemerintah daerah dalam mengalokasikan APBD untuk membiayai kegiatan yang menjadi prioritas daerah.
    Semakin besar ruang fiskal yang dimiliki suatu daerah maka akan semakin besar pula fleksibilitas yang dimiliki oleh pemerintah daerah untuk mengalokasikan belanjanya pada kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas daerah seperti pembangunan infrastruktur daerah. Ruang fiskal diperoleh dengan cara mengurangi total Pendapatan Daerah dengan pendapatan yang sudah ditentukan penggunaannya (earmarked) serta belanja yang sifatnya mengikat seperti Belanja Pegawai dan Belanja Bunga.

    Berdasar data Kemenkeu (2012), ruang fiskal yang dimiliki NTT hanya sebesar 30,1 persen atau berada di bawah rata-rata nasional sebesar 37,85 persen.  Rendahnya ruang fiskal tersebut mengakibatkan Pemerintah Provinsi NTT tidak memiliki cukup keleluasaan  untuk melakukan belanja pemerintah dalam rangka pembangunan di daerahnya, termasuk membangun infrastruktur guna pendukung pertumbuhan ekonomi.
    Kondisi tersebut diperparah oleh kebijakan pemerintah setempat dalam menyusun dan merencanakan prioritas pembangunan. Pemrov NTT tampaknya tidak cerdas (tidak mau?) dalam pengalokasian belanja pada kegiatan-kegiatan yang memiliki daya ungkit (leverage) tinggi bagi perekonomian daerah itu.

    Tidak waras

    Bukannya fokus pada sektor-sektor yang benar-benar unggul dan memiliki daya ungkit tinggi, Pemprov NTT (didukung pemerintah pusat), malah lebih suka mengeksploitasi hasil tambang seperti logam mangan, chrome, nikel, tembaga, dan emas. Ya, di era pemerintahan saat ini, Pemrov NTT menempatkan eksploitasi tambang mineral sebagai produk unggulan. (SUMBER)

    Kebijakan itu sangat menggelikan karena PAD dari sektor pertambangan sangat kecil dan tidak memiliki Multiplier Effect  bagi masyarakat lokal secara luas.  Kepada Timor Express edisi 28 Mar 2013, Kepala Dinas Pertambangan NTT, Danny Suhadi, menyebutkan,  PAD NTT dari sektor pertambangan pada tahun 2012  sebesar Rp 400 juta.  Semakin menggelikan lagi karena target 2013 turun 50 persen menjadi hanya Rp 200 juta!  Produk unggulan kok targetnya menurun sampai 50 persen? Ini bukan bodoh lagi, tapi tidak waras alias gila!

    Sebaliknya Pemprov NTT menganaktirikan sektor pertanian (termasuk peternakan) yang sejak lama menjadi andalan NTT (Tahun 2009-2011 sektor pertanian menyumbang 37 % PAD, tertinggi disbanding sector lainnya) . Tapi pertanian justru tak masuk unggulan.  Misalnya sektor peternakan yang sejak berpuluh tahun menjadi unggulan mampu mengekspor sapi potong (sapi bali), kini semakin dilupakan. Akibatnya, NTT yang dahulu dikenal sebagai gudang ternak, kini tinggal “gudangnya” saja.

    Kayu cendana/hau meni (Santalum album) yang berbau harum itu pernah berlimpah di Pulau Timor (TTS - TTU), kini baunya pun nyaris tak ada. Padahal, jauh sebelum Indonesia merdeka, konon banyak pedagang dari Cina jauh-jauh datang ke Timor untuk membeli kayu berbau harum itu.

    Dahulu NTT adalah penghasil kunyit/kunir, kini tak ada kabarnya lagi. Jeruk keprok SoE  (lemon cina) hampir lenyap. Apel Soe sudah lama lenyap. Banyak lagi komoditas yang pernah berjaya justru tak bersisa ketika ada campur tangan pemerintah dengan aneka kebijakan aneh bin ajaibnya.

    Komodo! Ini binatang purba yang hanya ada di NTT (habitat asli).  Berarti sector pariwisata wajib digenjot dalam kecepatan tinggi. Faktanya, NTT punya komodo tapi Bali dan NTB yang menikmati hasilnya dari kunjungan turis asing.  Orang NTB dan Bali dapat uangnya, orang NTT cukup puas  dapat nama kosong.  Asal tahu saja, tahun ini (Agustus 2013) akan ada Sail Komodo. Tentu saja NTT tuan rumahnya. Melihat dari persiapan yang ada, saya skeptis kegiatan tersebut akan berhasil, apalagi memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat NTT.

    Konsumerisme 

    Anehnya, ketika sebagian besar rakyatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan (NTT Provinsi termiskin nomor lima di Indonesia – lihat tabel di akhir tulisan ini), pemerintahnya justru menggiring rakyatnya sendiri masuk dalam jebakan konsumerisme.

    Lihatlah betapa maraknya retailer besar (hypermarket) dan supermarket di Kota Kupang saat ini. Mungkin banyak orang Kupang gembira ria dan bangga dengan hadirnya “toko superbesar” nan megah dan modern itu.

    Itu bagus untuk cuci mata, tapi terus terang, biasanya mereka lebih banyak mengeruk uang kita daripada memberi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat secara luas. Penyerapan tenaga kerja lokal pun paling banyak 50 orang.

    Itulah mengapa Joko Widodo (Jokowi) kala menjadi Wali Kota Surakarta menolak memberi izin operasi bagi sejumlah supermarket/hypermarket dan minimarket waralaba bermodal besar.  Terbalik 180 derajat dengan elite di NTT dengan dukungan pusat yang lebih suka rakyatnya dijajah.
    Pertanyaannya, sudah merdeka kah rakyat NTT? (*)

    10 PROVINSI TERMISKIN DI INDONESIA
    No    Propinsi                                        Angka Kemiskinan (%)
    1       Papua Barat                                                    36,80
    2       Papua                                                               34,88
    3       Maluku                                                            27,74
    4       Sulawesi Barat                                              23,19
    5       Nusa Tenggara Timur                       23,03
    6      Nusa Tenggara Barat                                  21,55
    7      Aceh                                                                 20,98
    8      Bangka Belitung                                           18,94
    9      Gorontalo                                                       18,70
    10    Sumatera Selatan                                        18,30

    Sumber: Sensus Nasional BPS 2010

    Peradaban Melanesia dan Perkembangan Cargo System di Papua Barat

    Peradaban Melanesia dan Perkembangan Cargo System di Papua Barat 

    Orang kulit putih datang ke Melanesia dan mengatakan bahwa rumah-rumah, makanan dan kerja kita tidak bagus. Mereka mengatakan bahwa kerja yang baik adalah kerja uang, hanya makanan toko yang baik, dan hanya rumah yag baik adalah rumah yang beratapakan seng. Namun ini tidak benar. 

    Pekerjaan kebun adalah yang baik, bahan rumah tradisional itu sangat baik, dan makanan kampung itu bagus, makanan yang mengandung banyak protein. Dan bahan-bahan tersebut tiding membutuhkan ongkos uang. Jikalau kita mulai yakin bahwa barang-barang kita tidak baik dari barang – barang orang kulit putih, itu berarti kita mulai untuk percaya bahwa kita tidak baik dan orang kulit putihlah yang baik.

    Barang-barang yang kita dapat dari rakyat kita itu bebas dan kita control sendiri. Sedangkan Barang- barang mewah yang berasal dari negara-negara lain membutuhkan nilai uang dan pastinya dikontrol orang kulit putih. Jika kita kehilangan kepercayaan akan barang-barang milik kita sendiri, maka kita akan membutuhkan uang untuk membeli barang-barang mewah yang didatangkan oleh orang kulit putih. Orang kulit putih menggunakan barang-barang mereka untuk membuat kita percaya perkembangan yang berasal dari mereka dan membuat kita tidak menetap pada perkembangan tradisional kita sendiri. Perkembangan masyarakat tradisional memberikan kekuasaan kepada kita akan tanah yang luas dan kita pekerjaan tetap. Namun jika kita tidak percaya akan perkembangan masyarakat kita sendiri dan kita yakini perkembangan orang kulit putih, kita akan kehilangan kekuasaan atas tanah dan kerja kita.  Jikalau ini terjadi maka orang kulit putih akan mengontrol tanah dan kerja kita.

    Perkembangan dibawah control, semua masyarakat kita akan menikmati  hasil-hasil yang baik dari tanah dan kerja kita, tetapi bila dibawah perkembangan barang –barang mewah, barang-barang baik yang berasal dari tanah dan kerja kita akan dikontrol dan diserahkan ke orang-orang asing dan perusahaan-perusahaan mereka.

    Dalam tradisi orang Melanesia, laki-laki dan perempuan sama derajatnya. Tetapi perkembangan orang kulit putih membuat laki-laki dan perempuan tidak sama derajatnya. Dalam perkembangan yang diturunkan oleh orang kulit putih, laki-laki yang pertama mendapat ruang . contoh, laki-laki yang diutamakan untuk bersekolah, berpolitik, dan yang pertama berbaur dangan perusahaan-perusahaan. Ruang perkembangan berbentuk segi tiga yang didalamnya keluarga itu sendiri dengan laki- laki yang diposisi atas.

    Sebagai orang Melanesia kita harus percaya pribadi kita sendiri dan bangga akan rakyat dan tradisi kita. Kita harus mengerti bahwa rakyat Melanesia kita didesa berkembang dan terdidik. mereka memiliki pendidikan yang utuh dari kampung, yang memberikan ruang untuk memberikan makan diri mereka sendiri dengan baik dan memberikan hidup yang layak baik bagi mereka sendiri. Sebagai orang Melanesia, jangan menerima segala sesuatu yang disampaikan orang kulit putih kepada kita untuk dilakukan. Kita harus percaya terhadap diri kita sendiri dan kemampuan kita sendiri untuk membuat keputusan dan untuk memilih tingkah laku kita sendiri untuk berkembang.

    Ada dua tipe pendidikan, pendidikan rakyat (masyarakat) dan pendidikan orang kulit putih (Pendidikan cargo). Pendidikan masyarakat adalah sistem pendidikan adat dari nenek moyang kita dan mendidik rakyat untuk hidup dan bekerja di kampung mereka. Pendidikan cargo yang didatangkan oleh orang kulit putih dan mengajar rakyat untuk menghidupkan dan bekerja didunia mereka, dimana orang akan tergantung pada uang dan barang-barang toko.

    Orang-orang kulit putih mendatangkan pendidikan menurut budaya mereka kepada rakayat Melanesia untuk merubah pola pikir dan kehidupan kita. Mereka menginginkan kita untuk berpikir bahwa cara hidup orang Melanesia buruk, agar kita memberikan tanah milik kita kepada mereka kemudian kita bekerja untuk mereka.

    Pendidikan masyarakat Melanesia, merangkul rakyat kita bersama dan membuat mereka lebih kuat. Pendidkan cargo merusak sebagian persatuan. Pendidikan rakyat mengajarkan mereka untuk berkebun, berburu, mencari ikan, dan untuk membangun perumahan. Pendidikan cargo mengajar rakyat bekerja untuk uang. Ketika mereka bekerja untuk uang, mereka tidak menyalurkan uang seperti mereka menyalurkan uang tidak sama seperti dikampung, mereka menjaga uang mereka untuk diri sendiri dan hanya untuk  keluarga dekat.

    Pendidikan rakyat itu bebas, beda dengan pendidikan cargo yang membutuhkan uang. Pendidkan masyarakat menggunakan pemimpin kampong sebagai pendidik, dan materi local untuk pembelajaran. Sekolah orang kulit putih menggunakan buku petunjuk, ruang kelas yang permanen, perlengkapan, dan orang luar sebagai pengajar. Hal-hal tersebut membutuhkan ongkos uang.

    Di Amerika, Austrlia, Eropa dan Jepang, pemeritah membayar semua keperluan pendidikan dan tidak ada biaya sekolah, namun orang tua di Melanesia membayar biaya-biaya sekolah. Biaya sekolah sama seperti pembayaran pajak dan orang kulit putih menggunakan biaya sekolah untuk memaksa orang tua Melanesia untuk menukarkan tanah dan tenaga  mereka untuk mendapatkan uang membayar biaya-biaya sekolah anak mereka.

    Sekolah-sekolah orang kulit putihpun hanya belajar satu tipe pekerjaan, tetapi didalam sekolah tradisional, kita belajar untuk melakukan banyak tipe pekerjaan. Diuniversitas seseorang belajar hanya untuk bisa membuat satu hal saja. Pendidikan rakyat mengajar semua agar masyarakat tahu bagaimana untuk malakukan banyak hal yang berbeda—berkebun, berburuh, melaut, bangunan perumahan, membuat keranjang-keranjang atau bilums, masak, dan banyak hal yang lain. Di Eropa, Australia, jepang dan Amerika, anak-anak belajar membaca, menulis, dan semua mata pelajaran lain yang menggunakan bahasa mereka sendiri. Tatapi di Melanesia, sekolah mewah (orang kulit putih ) memaksa anak untuk membaca, menulis dan belajar bahasa Inggris,  perancis atau bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa ini tidak dimengerti oleh anak-anak dan tentunya menjadi bingung dan kebanyakan tidak selesai sekolah. Dalam Sistem pendidikan rakyat kita gunakan bahasa kita sehingga setiap orang mengerti dan dapat belajar apa yang perlu untuk mereka pelajari. Jika kita menginginkan anak kita untuk belajar bahasa inggris, atau bahasa Indonesia, cara terbaik untuk melakukannya adalah mendidik mereka dengan menggunakan bahasa-bahasa local kita sendiri. Ketika anak belajar untuk menulis dan membaca dalam bahasa mereka lebih awal, maka kemudian mereka akan lebih muda untuk membaca dan menulis dalam menggunakan bahasa-bahasa yang lain. Kebanyakan para pelajar  yang berhasil di Melanesia saat-saat ini adalah yang belajar membaca dan menulis dalam bahasa mereka lebih dulu.

    Pendidikan untuk setiap orang. Setip belajar apap yang mereka butu tahu untuk tinggal dalam sebuah kehhidupan yansg baik. Dalam system pendidikan orang asing, hanya bebrapa orang saja yang selesai sekolah. Dalam jangak waktu 6 tahun dan 10, para pelajar harus mengikuti ujian sehingga beberapa pelajar didorong untuk keluar dari sekolah karena tidak ada tempat yang cukup untuk masing-masing pelajar. Hanya 2 siswa yang tamat dari 10 yang megikuti ujian. Yang tidak selesai mereka merasa buruk dan nemikirkan diri sendiri sesuai dengan kekurangan mereka. Masyarakat yang selesai sekolah mereka berpikir bahwa mereka yang lebih baik dari yang lain. Di amerika, Australia, eropa dan jepan tidak ada istilah dipaksa untuk keluar dari sekolah sebelum sampai pada 10 atau 12 tahun tamat..

    Pendidikan system cargo adalah system yang memusnahkan pendidikan rakyat. Dalam sekolah – sekolah, pelajar belajar tentang budaya-budaya orang kulit putih yang membuat mereka merasa bahwa budaya tradisi mereka  itu buruk. Sekolah-sekolah cargo mengajar masyarakat bahwa kehhidupan kota itu lebih baik daripada kehidupan dikampung sehingga mereka menolak pekerjaan dikampung dan mencari pekerjaan di kota, kemanakah mereka akan pergi? Kita harus gunakan ide-ide rakyat kita untuk mengontrol kehidupan kita, sementara kita membiarkan orang kulit putih untuk mengontrol kita, diseluruh Melanesia, ribuan masyarakt sudah lebih  mengontrol pendidikan mereka sendiri. Mereka sudah mengawali dari bahasa local sebelum terjun ke sekolah-sekolah dimana anak mereka belajar tentang bahasa  dan budaya mereka sendiri. Mereka juga sudah memulai persekolahan ketika masih mudah dan dewasa untuk menulis dan membaca, dan melakukan hal-hal lain yang akan membantu mereka untuk menghidupi kehidupan yang lebih baik. DBen.-


    Alasan mendasar rakayat Papua perjuangkan Kemerdekaanya

    1. A. Alinea Pertama Pembukaan UUD1945
    ” Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu maka segala bentuk penjajahan diatas muka bumi ini harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri keadilan dan peri kemanusiaan”. Konstitisi Indonesia ini telah jelas membenarkan Rakyat Papua Barat yang adalah bangsa Melanesia mutlak harus bebas dari berbagai bentuk penjajahan termasuk yang datangnya dari pemerintah NKRI sendiri.
    1. B. Hak Azasi Manusia
    Manusia sejak dilahirkan individu, keluarga dan bangsa,  bersamaan/ melekat langsung dengan hak hidup, hak milik dan hak kebebasan pemberian Tuhan Sang Penciptanya. Rakyat Papua secara individu, 312 suku  yang adalah satu bangsa Melanesia memiliki hak ini pemberian Tuhan Allah kepadanya, dimana siapapun dia dari bangsa manapun diatas dunia ini termasuk Penguasa Pemerintah NKRI sama sekali TIDAK dibenarkan menggunakan segala macam bentuk alasan untuk memusnahkan hak azasi manusia rakyat Papua Barat yang berkeinginan keras memisahkan diri dari  NKRI .
    1. C. The South Pacific Commission tahun 1947
    Dimasa lampau Dunia kita ini dibagi dalam beberapa kawasan oleh negara-negara Barat, dimana Kawasan Pasifik dan pemiliknya Bangsa Micronesia, Polynesia dan Melanesia ketika itu di Jajah oleh enam post colonial yakni ; Amerika, Perancis, Inggris, Belanda, Australia dan New Zealand. Enam negara penjajah ini  telah menyepakati suatu perjanjian ditahun 1947 yang dikenal dengan nama South Pacific Commission (SPC) bertempat di Canberra ketika itu, bertujuan mempersiapkan pembangunan social berupa pendidikan, kesehatan serta bidang ekonomi kepada rakyat ketiga bangsa pemilik Pacific ini sebagai langka awal persiapan menuju kemerdekaan mereka.
    1. D. Piagam  PBB 1960
    Tigabelas tahun kemudian (yakni 14 Desember 1960) Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 1514 (XV) mengenai “Pemberian Kemerdekaan kepada rakyat wilayah-wilayah terjajah” Resolusi ini menegaskan kembali apa yang telah dimuat dalam Piagam PBB khususnya Pasal 73 ayat a dan b yang mengisyaratkan perlunya negara-negara penjajah(colonial) mempersipkan upaya mengatasi berbagai kekurangan khususnya bidan politik, ekonomi, social berupa kesehatan dan pendidikan. Berdasarkan Piagam inilah enam negara colonial dikawasan Pacific mempersiapkan kemerdekaan bagi rakyat bangsa Micronesia, Polynesia dan Melanesia, dimana Forum (SPC) ini berfunsi sebagai penasehat dan konsultan berkaitan dengan program-program yang dikoordinir antara negara-negara penjajah (colonial) terhadap rakyat wilayah-wilayah jajahan mereka. Relaisasi  Piagam PBB 1960 sehubungan dengan SPC 1947, maka:

    1. New Zealand telah memberikan kemerdekaan kepada:
    a. Samoa Barat pada tahun 1962
    b. Kepulauan Cook tahun 1974.
    c. Tokelau tahun 1982 (namun masih ingin dibawah New Zealand sekalipun sudah diberi kesempatan untuk menentukan nmasib sendiri lewat sebuah referendum)

    2. Inggris telah memberika kemerdekaan kepada:
    a. Fiji, tahun 1970
    b. Tonga, tahun 1970
    c. Kepulauan Solomon, tahun 1978
    d. Tuvalu, tahun 1978
    e. Kiribati, tahun 1979

    3. Australia memberikan kemerdekaan kepada:
    a. Nauru, tahun 1968
    b. Papua New Guinea, tahun 1975

    4. Inggris dan Prerancis memberikan kemerdekaan kepada Vanuatu, tahun 1980

    5. Perancis juga telah mempersiapkan New Caledonia, Willis dan Fotuna mendapatkan kemerdekaannya. Selain itu diawal tahun 2005, Preancis telah menyerahkan kekuasaan penuh ketangan Polynesia Tahity memperoleh kemerdekaanya.

    6.  Sikap pemerintah Netherlands terhadap Netherlands Nieuw Guinea (sekarang Papua)
    Atas dasar SPC 1947 dan Piagan PBB 1960 maka Papua dipersiapkan untuk merdeka. Buktinya ketika Konferensi Meja Bundar (the Roundtable Conference) 27 December 1949 pemerintah kerajaan Belanda hanya mengakui kedaulatan atas Indonesia saja. Netherlands Nieuw Guinea ketika itu TIDAK termasuk dalam pengakuan, karena pengaturannya telah diatur tersendiri.

    1. E. Hukum Allah (Perjanjian Baru Kisah Para Rasul 17: 26)
    Allah mengatakan bahwa: “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi, dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman bagi mereka”. Allah telah memberikan batas-batas kediaman bagi berbagai bangsa didunia, termasuk untuk bangsa Indonesia. Begitu pula terhadap rakyat Bangsa Melanesia diwilayah kediamannya Papua Barat. Yang dimaksud musim-musim dalam Kisah Para Rasul ini adalah berbagai kekayaan alam yang Allah telah letakkan dalam wilayah bangsa-bangsa dengan batas-batasnya. Allah telah menciptakan Rakyat Papua Barat selaku Bangsa Melanesia mendiami wilayahnya Papya Barat yang berlimpahruah dengan kekayaan alamnya bagaikan surga di pacific TIDAK layak di jajah oleh bangsa asing siapapun dan kapanpun. Demikian Firman Allah.
    1. F. Hukum Allah dalam Al-Qur’an
    “Semua orang dilahirkan dalam keadaan merdeka, mempunyai martabat dan hak yang sama”….(Pasal 1 DUHAM). Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan….”(Pasal 2 DUHAM).

    DASAR HUKUM INTEGRASI
     
    Untuk menghentikan dan mengakhiri neo kolonialisme, militerisme, terorisme di tanah air Papua Barat, kita dituntut untuk lebih dahulu memahami dengan benar apa sebenarnya Akar Persoalan Kolonisasi, mengapa dan oleh siapa’. Maka akan dengan bijaksana masalah tersebut diselesaikan.
    Yang menjadi dasar hukum integrasi wilayah Papua Barat ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah:

    A. Sejarah kerajaan Majapahit.

    Berdasarkan Sejarah Nasional Indonesia, Pemerintah Indonesia mengklaim Papua Barat bagian dari wilayah kekuasaan Majapahit. Sejarah Indonesia menyatakan bahwa wilayah kekuasaan Majapahit meliputi Kepulauan Madagaskar(sekarang Republik of Malagasy)  sebelah Timur negara Mozambiq benua Afrika hingga Pulau Pas disebelah Barat negara Chili Benua Amerika bagian Selatan, dinama wilayah Papua masuk kedalamnya.

    TANGGAPAN RAKYAT PAPUA BARAT:

    Rakyat Papua Menolak Alasan Sejarah Majapahit dan menilai alasan tersebut TIDAK BENAR. Mengapa?

    1. Karena hingga saat ini TIDAK PERNAH ditemukan satu bukti atau tulisan nyata penandatanganan wilayah penaklukan antara para raja-raja kerajaan Majapahit dengan para pemimpin pemerintahan adat Papua ketika itu, padahal ketika itu hanyalah wilayah-wilayah penaklukan sajalah yang selalu diklaim sebagai bagian dari kekuasaan sebuah kerajaan yang kuat.

    2. Jika Indonesia mengklaim Papua bekas wilayah kekuasaan Majapahit bagian dari Indonesia, maka MENGAPA INDONESIA TIDAK MENGKLAIM Malagasi, Mauritius, Srilangka, Thailand, Malaysia, Singapore, berbagai negara Micronesia, Melanesia dan Polynesia termasuk Pulau Pas di Chili bagian  dari Negara Kesatuan Republik Indonesia?

    B. Papua Barat bekas jajahan Belanda bagian dari Indonesia.

    Pemerintah Indonesia mengklaim bahwa wilayah Papua Barat yang dulunya bekas jajahan pemerintah colonial Belanda adalah bagian dari NKRI.

    TANGGAPAN RAKYAT PAPUA:

    Rakyat Papua Menolak Alasan Bekas Jajahan Belanda Bagian Dari Indonesia.
    Alasan ini TIDAK dapat dibenarkan sebagai alasan pemerintah Indonesia untuk mengklaim wilayah Papua Barat bagian dari NKRI. Sebab jika pemerintah tetap berpegang pada alasan ini, maka megapa pemrintah Indonesia TIDAK mengklaim negara Suriname di Amerika Latin, Afrika Selatan dan Guinea Antilen di  Benua Afrika bagian dari Negara Kesastuan Republik Indonesia?

    C. New York Agreement 15 Agustus 1962 Menjamin Wilayah Papua Bagian Dari Indonesia.

    Pemerintah Indonesia berpegang pada New York Agreement sebagai dasar hukum internasional yang menjamin wilayah Papua bagian dari Indonesia karena lewat hukum inilah proses pengembalian Papua Barat oleh Belanda kepada Indonesia, selanjutnya lewat hukum ini pula PEPERA terlaksana dan mendapat pengakuan 84 negara ketika itu (tahun 1969).

    TANGGAPAN RAKYAT PAPUA
    Rakyat Papua Menyatakan New York Agreement Ilegal. Mengapa?

    Karena ketika New York Agreement ditulis oleh Elsword Bunker (dipolomat Amerika ketika itu) sampai pada diratifikasikan oleh PBB, Badan dunia ini termasuk Amerika dan sekutunya sama sekali TIDAK pernah melibatkan wakil rakyat Papua membahas isi dari pasal-pasal agreement tersebut. Terlebih lagi ketika Pemerintah Kerajaan Belanda menyerahkan wilayah Papua Barat kepada PBB, Pemerintah kerajaan Belanda sama sekali TIDAK pernah melakukan konsultasi atau melibatkan wakil rakyat Papua membicarakan masalah peralihan kekuasaan wilayah Papua Barat ini dari Pemerintah Kerajaan Belanda kepada PBB dan sebagainya.

    D. Pelaksanaan PEPERA tahun 1969 Menjamin Wilayah Papua Barat bagian dari NKRI
    Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia berpegang kokoh pada alasan PEPERA tahun 1969 yang menurut mereka telah melibatkan rakyat Papua Barat memilih bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    TANGGAPAN RAKYAT PAPUA BARAT:
    PEPERA 1969 TIDAK melaksanakan :
    • Pasal XVIII d New York Agreement yang menyatakan bahwa, semua orang dewasa perempuan dan laki-laki Papua diwajibkan HARUS memberikan suaranya dalam menentukan masa depan Papua (status politik Papua Barat kedepan). Melaikan HANYA mewakilkan 1.022 orang Papua yang DITUNJUK SECARA PAKSA dibawah todongan senjata TNI lewat extra intelligent tingkat tinggi dibawah komando langsung Majen  Ali Mortopo, yang dikoordinir secara rapih oleh pemrintah Indonesia di bawah Presiden Indonesia Letjen Soeharto.

    • Pasal XXII New York Agreement yang mejamin kebebasan rakyat Papua bergerak, berpikir,  mengeluarkan pendapat serta bebas berpicara mengungkapkan hak-hak politiknya.

    Terhitung 1 Mei 1963 wilayah Papua Barat dialihkan kepada Indonesia oleh PBB, ketika itu pula Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno mengeluarkan INPRES 1 Mei 1963 yang isinya:

    (a).  Wilayah Papua tertutup terhadap dunia luar/internasional. Mengapa?
    Tentunya pemerintah Indonesia telah memiliki rencana jahat berupa penangkapan terhadap rakyat Papua, penyiksaan, penculikan hingga pembunuhan secara sistematik terhadap rakyat Papua Barat yang akan menyuarakan hak kemerdekaannya enam tahun kedepan (1963-1969).

    (b). Wilayah Papua Barat dinyatakan sebagai Daerah Operasi Militer/DOM
    Ketika wilayah Papua Barat dirtutup oleh pemerintah militerisme Indonesia penjajah bangsa asing baru ketika itu dari dunia luar, disitulah militer Indonesia dengan leluasa melakukan penangkapan, penculikan, penyiksaan hingga pembunuhan kilat secara sistematik terhadap rakyat Papua Barat yang menyuarakan hak politiknya saat itu antara 1963 -1969 (enam tahun kedepan).

    (c)  Diberlakukannya Undang-Undang Subversive nomor 11/PNPS/Tahun 1963.
    Undang-undang ini diberlakukan sebagai landasan hukum negara NKRI guna menjerat dan menghukum siapapun aktivis Papua yang hendak memperjuangkan hak kemerdekaannya, dengan tuduhan merongrong kewibawaan NKRI/penjahat negara.

    Berdasarkan data Indonesia human Rights TAPOL yang berkedudukan di London England mengatakan bahwa untuk membungkam suara rakyat Papua antara 1963 – 1969 (selama enam tahun itu) ABRI telah membunuh lebih dari 10.000 jiwa rakyat Papua Barat yang menuntut hak politiknya. Tindakan pembunuhan, penyiksaan, penculikan,  pemejaraan dan sebagainya adalah tindakan TERROR yang telah direncanakan secara sadar terkendali bagian STRATEGIS CIPTA RASA TAKUT agar rakyat Papua tidak buka mulut menyatakan hak kemerdekaannya. Tindakan ini telah membuktikan bahwa Pemerintah Indonesia dan PBB BELUM PERNAH atau sama sekali TIDAK MENJALANKAN Pasal XXII New York Agreement 15 Agustus 1962.

    F. Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 2504, 19 NOVEMBER 1969

    Pemerintah Indonesia mengklaim wilayah Papua bagian dari Indonesia dengan alasan bahwa “HASIL PEPERA tahun 1969” menunjukan rakyat Papua memilih bergabung dengan NKRI yang dilanjutkan lewat Resolusi Majelis Umum PBB tanggal 19 November 1969 menunjukan 84 negara anggota PBB mendukung Indonesia menyatakan bahwa wilayah Papua bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    TANGGAPAN RAKYAT PAPUA BARAT

    Dukumen PBB menyangkut pelaksanaan, pelaporan hasil PEPERA hingga proses penyelesaian di tingkat Majelis PBB untuk mengeluarkan Resolusi PBB  yang dikopi oleh Departemen Penerangan Indonesia dalam Buku yang berjudul: PEPERA di Irian Barat, Departemen Penerangan RI, 1969, halaman 488-497” memuat terlampau banyak penyimpangan yang patut dipertanyakan sebagai berikut:

    • ketika Sidang Majelis Umum PBB sedang berlangsung, tuan Ortiz Sanz TIDAK HADIR untuk memberikan kesaksian sebenarnya tentang ya tidaknya prosedur pelaksanaan PEPEARA  berdasarkan Pasal XVIII ayat d dan Pasal XXII New York Agreement 15 Agustus 1962 (halaman 488).
    • Pada tanggal 27 Oktober 1969 delegasi Indonesia telah mendesak Sekjen PBB  U Thant lewat wakilnya Mr Rols Bennet agar TIDAK mengadakan perobahan atau perbaikan hasil laporan Indonesia yang telah diserahkan langsung oleh pihak pemerintah Indonesia kepada PBB lewat Ortiz Sanz tanggal 18 Agustus 1969, dan U Thant menerima usul ini lewat wakilnya Mr Rols Bennet. Dengan demikian Indonesia dan PBB telah melakukan tindakkan KOLUSI dan NEPOTISME (halaman 489), ini artinya PBB dan Indonesia telah megeluarkan resolusi sebelum Majelis Umum PBB mengadakan konferensi PBB tanggal 19 November 1969.
    • Mr Ortiz Sanz mengakui bahwa PEPERA yang dilaksanakan itu TIDAK SESUAI dengan praktek-praktek penyelesaian internasional (halaman 491).
    • Berdasarkan penyimpangan ini maka 30 negara mayoritas negara-negara Afrika + Israel dari Timur Tengah MENOLAK mendukung Indonesia + 12 negara lainnya TIDAK HADIR sebagai protes bahwa PBB TELAH BERSIKAP TIDAK JUJUR dalam menjalankan misinya selaku Badan Dunia bagi penyelesaian masalah Bangsa-Bangsa di dunia ini (halaman 497)

    MASALAH
    Rakyat Papua Barat menuntut hak kemerdekaannya yang telah diperjuangkan selama 42 tahun (1 Mei 1963 – sekarang ini), namun selalu saja terkandas. APA DAN MENGAPA rakyat Papua selalu gagal dan gagal? Padahal kemauan seluruh rakyat Papua Barat telat bulat dan menyatu.

    Jawabannya adalah sangat sederhana sekali. Karena rakyat papua Barat BELUM memahami INTI masalah ini dengan benar, BELUM memahami TAHAPAN PROSEDUR penyelesaian kemerdekaan dengan BENAR.

    Saudara-saudari rakyat Papua Barat yang kami sangat kagumi, hargai dan hormati, masalah INTI yang HARUS kita pahamai saat ini adalah “ARGUMEN/ALASAN INTI Pemerintah Indonesia menklaim Wilayah Papua bagian tak terpisahkan dari NKRI” sebagai berikut:

    SEJARAH MAJAPAHIT
    WILAYAH PAPUA BARAT BEKAS JAJAHAN BELANDA BAGIAN INDONESIA
    NEW YORK AGREEMENT 15 AGUSTUS 1962
    PEPERA TAHUN 1969 DAN HASILNYA
    RESOLUSI MAJELIS UMUM PBB 19 NOVEMBER 1969

    Ke- lima alasan ini selalu dijadikan pedang ampuh pemerintah Indonesia untuk meyakinkan masyarakat dunia dan badan-badan dunia bahwa Papua bagian tak terpisahkan dari NKRI.

    UPAYA PENANGGULANGAN MASALAH

    Untuk meraih kemerdekaan yang berjalan sangat lama ini, maka rakayat Papua diwajibkan HARUS  mampu memberikan ARGUMENTASI yang kuat guna MENOLAK atau MENGGUGURKAN lima (5) point argument/alasan pemerintah NKRI tersebut diatas yang harus didukung  BUKTI-BUKTI kebenaran yang kuat dan dapat dipertanggunjawabkan secara local, nasional dan internasional. Untuk mencapai penanggulangan masalah ini kita dituntut melewati TAHAPAN penyelesaian yang berprosedur.

    Untuk memberi dan mengkanter agumentasi pemerintah Indonesia, rakyat Papua HARUS kembali melibatkan PBB dan masyarakat dunia sebagai pihak PENENGAH. Mengapa? Alasannya sangat sederhana pula, bahwa ketika pertikaian dua pemerintah bangsa asing Belanda  terhadap Indonesia merebut Tanah Papua Barat pihak PBB dan masyarakat dunia terlibat langsung maupun tak langsung mengeluarkan Belanda dari wilayah Papua Barat dan memasukan penjajah Bangsa asing baru Pemerintah Indonesia kedalam wilayah Papua Barat. Itu sebabnya PBB dan masyarakat dunia HARUS DILIBATKAN KEMBALI dalam upaya penanggulangan masalah yang mereka telah lakukan dengan mengizinkan Indonesia kedalam wilayah Papua Barat sejak 1963 TANPA HAK sedikipun rakyat Papua Barat selaku pemilik sah negeri ini.
    MASALAH PAPAUA BARAT HARUS DIGIRING KEMBALI KE PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
    Papua dan Indonesia HARUS digiring kembali ke PBB adalah pekerjaan yang tidak gampang. Hal ini memerlukan kerja keras, mau tak mau rakyat Papua HARUS kerjakan dengan memenuhi criteria dan tata terib internasional bertahap agar masalah Papua dapat di AGENDAKAN pada agenda PBB.

    PERTANYAAN:

    1. Siapa yang berwenang mengagendakan masalah Papua Barat ke agenda PBB?
    2. Bagaimana caranya mendapat negara merdeka resmi mendukung masalah Papua di PBB?
    3. Agenda dan Program inti macam mana yang telah menjadi kesepakatan nasional Papua Barat yang  akan diajukan untuk ditinjau kembali ditingkap PBB dan tingkat Nasional Indonesia?

    JAWAB

    1. Yang bewenang dan bertanggung jawab mendaftarkan masalah Papua Barat dalam Agenda PBB adalah lebih dari separoh negara merdeka penuh yang juga anggota PBB. Bukan perorangan atau sebuah kelompok organisasi perlawanan Papua Merdeka.

    2. Cara untuk mendapatkan negara pendukung menuju PBB, maka rakyat Papua Barat HARUS memiliki suatu kesatuan gerakan perjuangan terpadu yang terdiri dari KAMIP POLITIK, KAMIP DIPLOMATIK, KAMIP MILITER DAN KAMIP INTELLIGENT yang jelas yang HARUS berada dibawah sebuah Badan Perjuangan Kemerdekaan yang jelas yang sering disebut Pemerintahan Transisi atau Otoritas Nasional atau sering disebut dengan BADAN POLITIK NASIONAL. Terobosan ke tingkat PBB MEMBUTUHKAN kemampuan individu, maupun kelompok diplomat guna mendapatkan paling sedikit satu atau lebih dari satu negara merdeka resmi  selaku penyambung lidah rakyat Papua Barat dalam memenangkan lebih dari separoh negara anggota PBB untuk mendaftarkan masalah Papua di PBB. Langkah – langkah efektif sebaiknya dimulai dari negara-negara sekawasan, seperti lewat The Melanesian Spearhead Group (MSG), the Pacific Islands Forum (PIF) dan seterusnya berkembang ke negara-negara Afrika, Caribbean dan seterunya.

    Jika masalah Papua Barat telah mendapat dukungan lebih dari separoh negara-negara anggota PBB;
    v  TAHAPAN PERTAMA adalah MENDAFTARKAN masalah Papua Barat ini KE DALAM AGENDA PBB lewat seksi Dekolonisasi PBB.

    v  TAHAPAN KEDUA yaitu wakil-wakil rakyat Papua Barat didampingi negara-negara pendukung Papua MENDAFTARKAN masalah Papua Barat ini ketingkat lanjut the SECTION OF LEARNING AND LIAISON PBB. Kalau masalah Papua Barat akan tiba di the Section of Learning and Liaison maka lima point masalah argumentasi Indonesia itu sudah dapat didebat  dengan melibatkan langsung wakil-wakil resmi rakyat Papua Barat yang memiliki pemahaman luas dan khusus ahli dalam administrasi PBB, sehingga peninjauan kembali lima argumentasi/alasan Indonesia dapat terlaksana dengan segera oleh PBB. Dengan demikian rakyat Papua Barat akan tahu dengan pasti kapan mereka akan meraih kemerdekaan yang diperjuangkan itu.

    3. Agenda dan Program yang dimaksud disini adalah materi apa yang disepakati bersama SECARA NASIONAL yang akan menjadi agenda dan program prioritas nasional jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

    CONTOH.
    Dokumen Papua Barat yang telah dipersiapkan ke PBB berjudul:

    Re-view Act Of Free Choice (peninjauan kembali PEPERA 1969) (SASARAN/TARGET)

    TAHAP PERTAMA         : Menyiapkan Biaya pendukung Lobing.
    TAHAP KEDUA             : Melakukan Lobing.
    TAHAP KETIGA        : Target memperoleh lebih dari separoh negara anggota PBB mendaftar masalah Papua Barat the section of decolonization PBB.
    TAHAP KE-EMPAT     : Negara-negara anggota PBB pendukung Papua mendampingi wakil resmi nasional Papua Barat mendaftarkan masalah Papua Barat ke the Section of Learning and Liaison PBB.
    TAHAP KE-LIMA     : setelah melewati tahap pertama hingga tahap ke-empat, maka rakyat Papua akan memperoleh  Wakil Papua di PBB yang akan bertugas MENGAJUKAN peninjauan kembali PEPERA tahun 1969 sebagai SASARAN atau TARGET dari Agenda dan Program Nasional Papua Barat.

                                                                     _____wpna____
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif