Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Papua Barat. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Papua Barat. Tampilkan semua postingan

    Terima kasih Bapak Gus Dur atas perubahan Irian jadi Papua

    Gus Dur, Bapak Orang Papua
    Oleh : Frans Tomoki K | KabarIndonesia

    KabarIndonesia - Thaha Al-Hamid, Sekretaris Jenderal Presidium Dewan Papua (PDP) itu tidak dapat menahan haru ketika berbicara mengenai sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dengan terbata-bata dan mata memerah dia mengambil tisu di atas meja dan menyeka air matanya. Thaha menganggap, Gus Dur sangat paham akan jati diri orang asli Papua. Selama bergaul dengan Thaha, ketika dia menjadi sekretaris saya di Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI/HMI) Cabang Jayapura, 1978-1979 dan 1979-1980, saya menilai Thaha adalah orang yang berprinsip, berani dan tegar. Orangnya sederhana, dan rendah hati. Oleh karena itu ketika saya melihat Thaha menitikkan air mata yang diliput oleh salah satu stasiun televisi nasional, saya pun tersentak untuk menulis.

    Thaha yang tegar itu larut dalam suasana ketika menceriterakan kunjungan Gus Dur sebagai seorang Presiden RI ketika dia dan kawan-kawan ditahan. Pada kunjungannya di tahun 2000, Gus Dur sempat mengunjungi para anggota PDP di tahanan yang saat itu ditahan atas tuduhan makar. Beliau minta ke Kepala Kepolisian Daerah Papua yang waktu itu dijabat Pak Wenas.

    "Lalu Gus Dur katakan, saya harus ketemu ke lima orang PDP, Theys dan kawan-kawan. Hubungan Gus Dur dengan Theys luar biasa sekali. Terus pada kunjungannya di tahun 2006, Gus Dur juga sempat minta pemerintah Indonesia agar almarhum Ketua PDP, Theys Hiyo Eluay dinobatkan sebagai pahlawan nasional,” ujar Thaha.

    Theys, nama lengkapnya adalah Theys Hiyo Eluay. Dia tewas saat berumur 64 tahun, tepat pada Hari Pahlawan 10 November 2001, setelah menghadiri upacara Hari Pahlawan yang diselenggarakan Pemerintah Daerah (Pemda) Irian Jaya di Jayapura. Sepulangnya menghadiri Hari Pahlawan itu menuju rumahnya di Jalan Bestirpos 5, Sentani Kota, yang berjarak sekitar 55 km, Theys tidak pernah lagi pulang ke rumah. Setelah dicari-cari, akhirnya jenazah Theys ditemukan tertelungkup di jok mobil miliknya, jenis Toyota Kijang bernomor polisi B 8997 TO dengan wajah babak belur dan luka dipelipis, dahi dan leher. Posisi mobil nyaris masuk jurang. Mobil yang kaca depannya hancur itu, masih tertahan pada sebatang pohon. Dari kondisi jenazah, muncul dugaan, Theys dibunuh setelah diculik.

    Sebagaimana sosok Thaha Al-Hamid yang taat beragama Islam, Theys sebenarnya bukanlah tokoh oposisi. Theys adalah mantan anggota Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969. Dia sangat berjasa dalam mempertahankan masuknya Irian Jaya ke wilayah Indonesia. Bahkan pernah juga menjadi anggota DPRD Irian Jaya dari Golkar selama tiga periode. Tetapi entah apa yang melatarbelakanginya, akhirnya Theys menyebut dirinya Pemimpin Besar Dewan Papua Merdeka sekaligus menjadi Ketua Presidium Dewan Papua. Kembali ke sosok Gus Dur, Thaha menganggap bukan hanya dirinya merasa cukup dekat dengan Gus Dur, juga hampir seluruh orang Papua merasa dekat dengan Gus Dur. Misalnya, Gus Dur juga sangat dekat dengan Ketua Dewan Adat Papua dan tokoh-tokoh adat lainnya di Papua, termasuk Tom Beanal.

    "Bahkan beberapa kali jika kami sudah jarang mengunjunginya, Gus Dur akan tanya dan pasti kami datang mengunjungi beliau. Jadi silaturahmi kami dengan beliau tetap jalan, walau sudah tak menjabat presiden,” ungkapnya.

    Makna sosok Gus Dur, kata Thaha, terlalu luar biasa bagi Papua dan orang Papua. “Kita tak hanya kehilangan seorang kiai, seorang bekas presiden, dan seorang guru, tapi sebenarnya kita kehilangan kitab hidup. Sebuah kitab yang terus memberikan nasihat,” tutur Thaha mengenang sosok Gus Dur. Beberapa alasan menurut Thaha, ada beberapa alasan masyarakat di Papua tak pernah melupakan sosok Gus Dur. Misalnya, pada 31 Desember 1999, tanpa perlu berpikir panjang, Gus Dur yang saat itu sebagai Presiden Indonesia, mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua. Tentang nama ini, seperti diketahui, pada tahun 1961, Komite Nasional Papua yang pertama menetapkan nama PAPUA BARAT bagi Papua. Pada masa Pemerintahan Sementera PBB (UNTEA), digunakan dua nama, WEST NEW GUINEA/WEST IRIAN. Selanjutnya pada tanggal 1 Mei 1963, Republik Indonesia menggunakan nama IRIAN BARAT. Setelah Proklamasi kemerdekaan tanggal 1 Juli 1971, Pemerintah Revolusioner sementara Republik West Papua di Markas Victoria, menggunakan nama WEST PAPUA. Pada tahun 1973, Pemerintah Republik Indonesia telah mengubah nama menjadi IRIAN BARAT dan kemudian menjadikan IRIAN JAYA. Pada tahun 2000 nama Irian Jaya kembali menjadi Papua oleh hingga kini.

    Menurut beberara sumber, nama Papua, aslinya Papa-Ua, asal dari bahasa Maluku Utara. Maksud sebenarnya bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang raja yang memerintah di sini sebagai seorang bapak, itulah sebabnya pulau dan penduduknya disebut demikian. Papa-Ua artinya anak piatu. Dari sekian nama yang sudah disebut, Komite Nasional Papua pada tahun 1961, memilih dan menetapkan nama PAPUA, karena rakyat di sini kelak disebut bangsa Papua dan tanah airnya Papua Barat (West Papua). Alasan memilih nama Papua, karena sesuai dengan kenyataan bahwa penduduk pulau Papua sejak nenek moyang tidak terdapat dinasti yang memerintah atau raja di sini sebagaimana yang ada dibagian bumi yang lain. Orang Papua berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Tidak ada yang dipertuan untuk disembah dan tidak ada yang diperbudak untuk diperhamba. Raja-raja yang tumbuh seperti jamur di Indonesia, adalah akibat pengaruh pedagang bangsa Hindu dan Arab di masa lampau. Inilah sebabnya, rakyat Papua mengatakan anti kolonialisme, imperialisme dan neo-kolonialisme karena nenek moyang mereka tidak pernah menyembah-nyembah kepada orang lain, baik dalam lingkungan sendiri. Mereka lahir dan tumbuh diatas tanah airnya sendiri sebagai orang merdeka.

    Berbicara mengenai nama Irian, adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisiepo, almarhum, orang yang pertama mengumumkan nama ini pada konperensi di Malino-Ujung Pandang pada tahun 1945, antara lain berkata:
    “Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”. (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107-108). Nama Irian diciptakan oleh seorang Indonesia asal Jawa bernama Soegoro, bekas buangan Digul-Atas tetapi dibebaskan sehabis Perang Dunia kedua dan pernah menjabat Direktur Sekolah Pendidikan administrasi pemerintahan di Hollandia antara tahun 1945-1946.

    Perubahan nama Irian Barat menjadi Irian Jaya, terjadi pada tahun 1973, juga mengandung arti politik. Rejim Militer Indonesia tidak menginginkan adanya pembagian Pulau Papua menjadi dua dan berambisi guna menguasai seluruhnya. Pendirian ini berdasarkan pengalaman tentang adanya dua Vietnam-Selatan dan Utara, tentang adanya dua Jerman-Barat dan Timur, dan tentang adanya dua Korea-Selatan dan Utara. Irian Jaya, Irian yang dimenangkan. Jaya, victoria atau kemenangan. Jika huruf “Y” dipotong kakinya, maka akan terbaca Irian Java alias Irian Jawa. Sumbernya bisa dilihat di http://digoel. wordpress.com tentang-nama- papua.

    Selama hidupnya, Gus Dur beberapa kali mengunjungi ke Papua, yakni pada tahun 1999 untuk berdialog langsung dengan masyarakat dan disitulah dijinkan Kongres Papua II di Jayapura, serta menjadikan Bintang Kejora sebagai symbol budaya sehingga di ijinkan untuk berkibar berdampingan dengan bendera merah putih, selanjutnya pada tahun 2000 nama Irian Jaya dikembalikan menjadi Papua dan terakhir pada 2006. Inilah sekilas catatan dimana Gus Dur mengambil hati rakyat Papua sehingga tidak heran kalau dikalangan masyarakat Papua mengatakan bapak orang Papua, seperti dirilis sebuah lagu oleh kamasan biak dengan judul Terima kasih Bapak Gus Dur atas perubahan Irian jadi Papua.   (*) 


    "PAPA-UA" - Berdiri Sama Tinggi Duduk Sama Rendah

    Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
    Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
    Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
    www.kabarindonesia.com

     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Untukmu Papua Aku Berjuang

    Penulis : Tabita      
    Untukmu Papua aku berjuang. Berjuang dalam konteks menanam pendidikan yang sebagai alat demi mengelola tanah dan kekayaan alam yang sudah sedikit lagi tinggal cerita. 

    Perjuangan melawan ketidakberdayaan dengan pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah dan gampang, tetapi perjuangan untuk menjadi asing di kota studi adalah hak mutlak yang ada pada setiap pelaku (pejuang). 

    Kekawatiran, rasa memiliki, rasa bertanggungjwab, tetapi juga rasa bersalah ketika menjadi yudas di ranah politik, birokrasi, yang menusuk ke sumsum sehingga terus berjuang demi menjaga rona awal itu tetap ada dan terus dinikmati sampai pada anak-anak tanah. 

    Perjuangan dalam konteks pendidikan yang dirasakan oleh setiap anak bangsa Papua yang menggeluti itu terasa di setiap kelompok, yang melatarbelakangi etnis dan daerah yang berbeda tapi satu tujuan yaitu pendidikan. Pendidikan sebagai jembatan untuk menjembatani setiap keluh kesah dalam ketidakadilan akan pribadi, kelompok yang didesain sebaik mungkin untuk menemukan rasa tenang akan ketidakpuasannya suatu problem. 

    Banyak problem yang selau datang silih berganti hingga mengikis tujuan awal dari pendidikan. Segala sesuatu yang bergerak dalam suatu konstitusi ini sering tidak terlepas dari apa yang disebut dengan kost, back to money begitulah slogan yang trend dan marak.  

    Untuk menempuh suatu pendidika bukanlah suatu yang gampang tetapi juga gratis, semua ini perlu suatu dukungan dari biaya, tetapi juga dari diri itu sendiri. 

    Banyak sanggahan, temuan di lapangan akan eksistensi pendidikan dalam konteks penghambat semangat dikarenakan biaya. Sadar atau tidak sadar inilah yang sebagai universal dan juga sebagai virus psikolog yang dengan mudah dan cepat bergerak mematikan setiap pertahana semangat. 

    Kemudian dari pada itu timbul pertanyaan: untuk apa, dan untuk siapa saya berjuang?  

    Perjuangan yang ideal adalah perjuangan yang tanpa ditopang dengan menyuapkan ini dan itu demi Papua. Tetapi lahir dari rasa memilikinya akan segala kekurangan dan kekayaan akan Papua. 

    Otonomi Khusus yang adalah sentral bantuan yang diberikan demi terciptanya apa yang diinginkan masyarakt Papua sehingga dikemas dan diatur sesistematis mungkin itu tidak menjaminnya suatu perjuangan akan pendidikan itu. 

    Secara kasat mata hal ini hanyala suatu senyawa yang diberikan dan tentunya ada reaksi dari senyawa lain karena proses fiksasi. Otonomi Khusus diberikan bukan dilihat dari implementasi suatu harapan masyarakat Papua, tetapi adalah suatu yang diberikan oleh karena suatu tekanan akan tujuan yang mereduksi dari setiap keluh kesah. 

    Pemberian yang baik bukan dilihat dari balasan ataupun keharusan akan suatu pemberian namun dilihat dari suatu perhatian ingin mendengar. Otonomi Khusus diberikan hanya keterpaksaan saja, bukan dari suatu kerelaan. 

    Karena di dalam tujuan diberlakukannya itu ada suatu perjanjian akan suatu daerah demi menjaga dan menandatangani suatu pernyataan, yang tentunya di kemudian hari ketika terdapat kesalahan yang sama, maka secara tidak langsung kekuasaan sepenuhnya diatur oleh yang memberi Otonomi Khusus tanpa melihat dan merasa akan sesamanya. 

    Oleh sebab itu, kalau temuan pincangnya perjalaan Otonomi Khusus bagi Papua yang kurang lebih 13 tahun dan tinggal sedikit ini adalah bagian yang sudah ditanam sejak lahirnya UU Nomor 21 tahun 2001, niscaya akan begini hasilnya. Apa yang ditanam akan dituai sama seperti sekarang ini. Dan apa yang dialami sekarang ini merupakan apa yang dilakukan waktu itu.     


    Pemuda Kekinian Papua
    Pemuda jika dipandang dari fisik adalah alligator yang siap untuk memangsa setiap musuh yang datang dan ingin merampas haknya. 

    Pemuda Papua dalam era globalisasi ini hilang rasa bertanggungjawab akan dirinya sebagai ciptaan (imagodey) yang sama dan diadakan untuk melakukan tanggung jawab moral, iman kepada Yesus yang adalah sumber dari segalanya. 

    Pemuda Papua pada masa kekinian bukanlah pemuda berwibawa, berbudi perkerti, cakap, arif, militansi, pahlawan, melainkan pathogen yang sebagai musuh alami yang ingin merusak akan kelompok, komunitas bangsa dari citra budaya akan Papua. 

    Pemudi Papua tidak lagi menjaga kesuciannya sebagai penerus akan tanah ini, tentunya akan melahirkan anak yang beradat, karena kandungan serta mulut sengaja dinodai dengan kenikmatan duniawi akibat dari rasa kecewa akan kekasih, begitu juga sebaliknya bagi pemuda Papua.

    Pemuda yang adalah penerus tongkat estafet kini mati dan tidak berjalan dalam melakukan gebrakan-gebrakan demi terwujudnya suatu tujuan yang jelas dan hasilnya membawa perubahan. Pemuda hanya dilahirkan sebagai pelengkap akan jagat raya dengan begitu dapat dipakai sebagai pelengkap untuk suatu daerah baru. 

    Banyak pemuda Papua yang merusak harga diri dengan alkohol, HIV/AIDS, sex bebas, dan narkoba sebagai sahabat karib sehidup-semati. Apakah dengan begitu keberadaan Papua ke depan mungkinkah lebih baik atau justru lebih buruk?

    Jelas buruk. Sehingga Sodom dan Gemora akan terjadi di tanah yang penuh akan susu dan madu ini karena perilaku demikian. 

    Keterlibatan pemuda akan pengembangan diri dalam oganisasi kepemudaan, tetapi juga gereja dan masih banyak lagi sangatlah minim, kewajiban akan panggilan akan suatu organisasi kepemudaan tidak serta merta mencari dan menemukan pemuda Papua. 

    Pemuda Papua harus berjuang dan belajar serta jaga diri untuk masa depan Papua. Semoga!



    Tabita Nasadit adalah Mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Ilmu Biologi Konsentrasi Lingkungan, Universitas Kristen Tomohon Manado, Sulawesi Utara.
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif