Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Gereja. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Gereja. Tampilkan semua postingan

    Gereja-Gereja di Tanah Papua Mencari Keadilan, Kedamaian dan Stabilitas di Tanah Papua

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Gereja-Gereja di Tanah Papua Mencari Keadilan, Kedamaian dan Stabilitas di Tanah Papua

    Tepat tanggal 1 Mei 2015, Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKITP) hadir dalam konferensi World Council of Churches (WCC) dan menyampaikan berbagai laporan tentang pelanggaran HAM di Tanah Papua.

    Artikel berjudul “Churches in Tanah Papua seek justice, peace and stability” ini menjelaskan berbagai permasalahan yang dialami di tanah Papua, terkait dengan pelanggaran HAM, dan pembunuhan yang terjadi secara terus-menerus.

     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Socratez Yoman: RUU Pemerintahan Papua Hasil Jiplak UU Pemerintahan Aceh

    Socrates Sofyan Yoman
    Jayapura — Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemerintahan Papua yang sebelumnya disebut Undang-Undang Otonomi Khusus Plus Papua merupakan hasil jiplakan atau copy paste langsung dari UU Pemerintahan Aceh. 

    Hal ini disampaikan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua (PGBP), Pdt. Socratez Sofyan Yoman, ketika menghubungi suarapapua.com, Kamis (22/8/2013). 
    “Saya sudah baca naskah akademis RUU Pemerintah Papua yang disusun oleh Felix Wanggai Cs, dan saya bisa katakan dengan tegas, bahwa RUU ini murni menjiplak UU Pemerintah Aceh,” ujar Yoman.
    "Yoman mencontohkan, pada halaman 89, pasal 1 dari naskah akademisi pokok-pokok pemikiran tentang RUU Pemerintahan Papua berbunyi, “Pemerintahan Papua mempunyai kewenangan menetapkan ketentuan di bidang pers dan penyiaran berdasarkan nilai Islam.”
    “Ini agak ganjil sekali, apakah penyiaraan dengan nilai-nilai Islam sangat relevan dan kontekstual dengan situasi di Papua? Kan tidak, kalau Aceh memang tepat karena mayoritas Islam. Ini jelas-jelas copy paste dari UU Pemerintah Aceh,” tegas Yoman.
    Contoh lain, beber Yoman, pada halaman 99 point 5 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) berbunyi, “Tindak Pidana yang dilakukan oleh prajurit TNI di Aceh diadili sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”
    “Ketahuaan jiplak atau copy paste, UU Pemerintah Papua, kok nama Aceh masih dibawa-bawa dalam RUU ini. Saya kira Felix Wanggai Cs telah menunjukan ketidaktahuaan mereka lagi,” ujar Yoman.
    Contoh lain lagi, lanjut Yoman, pada halaman 100 point 6 berbunyi, “Pemberhentian Kepala Kepolisian Aceh dilakukan oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.”
    “Bisa dilihat, lagi-lagi nama Aceh disebut-sebut dalam naskah akademis RUU Pemerintah Papua yang disusun, dan dianggap kontekstual dengan kebutuhan di tanah Papua. Saya kira ini sangat tidak masuk di akal,” tegas Yoman.
    Menurut informasi yang dihimpun media ini, RUU Pemerintahan Papua dibuat dengan melibatkan akademisi dari Universitas Cenderawasih Papua, yang diketahui langsung oleh Dekan Fakultas Hukum Uncen, Martinus Salosa.
    OKTOVIANUS POGAU - Suara Papua
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Bomomani Untuk Mengenang Kemerdekaan Papua

     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Bomomani Untuk Mengenang Kemerdekaan Papua

    Jayapura, Jubi – Masyarakat di Kabupaten Dogiyai Distrik Mapia melaksanakan doa bersama untuk memperingati 1 Desember lalu. Ibadah dipimpin langsung oleh Pdt. Obed Magai di Gereja St.Maria Menerima Kabar Gembira, Bomomani Keuskupan Timika. Perayaankudus ini dihadiri oleh kurang lebih 5.000 umat dari 4 Paroki dan satu klasis di wilayah Tota Mapiha Kab.Dogiyai.
    “Kami telah berdoa sesuai budaya kami untuk Papua. Ini penting karena doa merupakan kekuatan Tuhan bagi bangsa Papua yang pernah disembunyikan pemerintah selama lima dekade,”
    ujar Magai kepada Jubi Selasa (1/12).
    Dalam doanya, ia mendoakan pejuang kemerdekaan Papua di hutan, kota dan di luar negeri.
    “Kami telah berdoa buat utusan rakyat bangsa Papua yang telah memenuhi undangan Perdana Menteri Vanuatu H.E Joe Natuman yang berlangsung hari ini di Vanuatu agar Papua dapat diterima, anggota MSG nanti,”
    Selain itu, mereka juga mendoakan bagi para pejuang Papua yang telah dibunuh oleh pemerintah Indonesia.

    “Semoga melalui doa kami, arwah mereka dapat diterima Allah di surga. Intinya, kami sudah doa untuk kedaulatan kemerdekaan Papua karena ini maha baik untuk Papua,” katanya.

    Perayaan tersebut dimulai pukul 09.00 hingga 01.00 siang. Tata liturginya dirayakan secara inkulturatif.
    Ketua Sekolah ST FT Fajar Timur Abepura, Pater Neles Tebay Pr, mengatakan rakyat yang ada di seantero Papua telah memaknai 1 Desember ini dengan doa karena selain doa, kekuatan, juga merupakan panah dan tombak perdamaian universal antara Allah dengan dunia dan dunia dengan manusia demi keselamatan bersama dan kemuliaan nama-Nya. (Ernest Pugiye)

    Sumber: Penulis : Ernest Pugiye on December 3, 2014 at 15:47:57 WP, Jubi

    Lagi, Para Pimpinan Agama di Fiji Dukung Papua Merdeka

    Lagi, Para Pimpinan Agama di Fiji Dukung Papua Merdeka

    Methodist Leader
    Fiji, KNPBnews – Setelah sebelumnya Gereja-Gereja Kepulauan Solomon menyatakan dukungan Papua Merdeka, kemarin, Kamis (19/6), para Pemimpin Gereja terkemuka di Fiji -Gereja Methodist- menaikan dukungan kemerdekaan Papua dengan cara membagi-bagi Pita Merah hitam oleh Konferensi Gereja Pasifik dan Jaringan Globalisasi Pasifik.

    Dalam Siaran Pers pagi, melalui halaman resmi Pacific Conference of Churches Secretariat, Gereja Methodis menyatakan bahwa kegiatan itu merupakan komitmen dari Konferensi Gereja-Gereja Pasifik dan Dewan Gereja Fiji.

    “Karena itu kami mendukung seruan untuk mengakhiri pelanggaran HAM di Tanah Papua, untuk pemberdayaan sosial, ekonomi dan politik mereka dan untuk menentukan nasib sendiri,” kata pernyataan itu.

    “Kami berdiri dalam solidaritas dengan saudara-saudari dan anak-anak dari Tanah Papua. Kami telah menerima seruan mereka dan kami akan echo dan berbicara kebenaran ini lebih kuat.

    “Kami menegaskan pekerjaan Konferensi Gereja-gereja Pasifik terhadap masalah West Papua dan kami berharap dapat bekerja sama dengan mereka untuk memungkinkan penentuan nasib sendiri dalam arti sepenuhnya untuk rakyat Tanah Papua.

    Aksi solidaritas itu dilakukan pada hari Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan meninggalkan Fiji.

    Sumber: http://knpbnews.com/?p=4276

    Hari Ini, SBY Menjadi Tamu Utama PIDF di Fiji: Ini Isu Utama dan Nama Menteri yang Dibawanya

    Hari Ini, SBY Menjadi Tamu Utama PIDF di Fiji: Ini Isu Utama dan Nama Menteri yang Dibawanya

    Saat SBY melakukan pertemuan bersama Presiden Fiji Ratu Epeli Nailatikau di Sheraton Resort Denarau, Nadi, Fiji. Foto: Ist.
    Jayapura, MAJALAH SELANGKAH --  Hari ini, Kamis, 19 Juni 2014, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikabarkan menjadi tamu utama dan memberikan pidato pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-2 The Pacific Islands Development Forum (PIDF) atau Forum Pembangunan negara-negara Kepulauan Pasifik di Fiji.

    SBY bertolak ke Fiji  Selasa, 17 Juni 2014 lalu didampingi Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menlu Marty Natalegawa, Menteri Perikanan dan Kelautan Syarif Tjitjip Sutardjo, Menpora Roy Suryo, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam dan Kepala BIN Marcino Noorman.

    Kemarin, Rabu, 18 Juni 2014, pukul 12.00 waktu setempat, SBY melakukan pertemuan empat mata dengan Presiden Fiji Ratu Epeli Nailatikau di Sheraton Resort Denarau, Nadi, Fiji.

    Apa agenda kunjungan Presiden RI pertama sejak Indonesia merdeka itu?

    Saat hendak bertolak ke Fiji, Presiden Yudhoyono mengatakan, Indonesia selama bertahun-tahun terakhir telah menjalin hubungan baik antara lain dengan negara Timor Leste, Papua Nugini, Australia, dan Selandia Baru. Presiden memaparkan hubungan baik dengan negara-negara di kawasan Pasifik tersebut juga berangkat dari kesepakatan bahwa mereka semua secara resmi menghormati kedaulatan Republik Indonesia.

    SBY menilai, Pacific Island Forum dan Melanesian Spearhead Group (MSG) kerap menjadi ruang kampanye politik bagi pihak-pihak yang ingin memerdekakan Papua. Maka, kunjungan SBY ke Fiji ini penting untuk menjelaskan kebijakan Indonesia tentang Papua dalam konteks hubungan internasional kepada negara-negara di Pasifik Selatan.

    Hingga berita ini ditulis, majalahselangkah.com belum mengetahui hubungan kerja sama apa yang dibangun Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Fiji. Juga, belum diketahui, isi pidato SBY pada KTT ke-2 PIDF.

    Diketahui, Sekretaris Jenderal West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) atau Koalisi Nasional Papua Barat untuk Kemerdekaan, Rex Rumakiek menegaskan, Pacific Island Forum dan MSG mendukung hak rakyat Papua Barat untuk menentukan nasib sendiri. (GE/003/MS)

    Sumber :  www.majalahselangkah.com

    Gereja Pasifik Komentari Kunjungan SBY dan West Papua

      Francois Pihaatae

    Francois Pihaatae
    Nadi, KNPBnews – Gereja-Gereja Pasifik melalui Sekretaris Jenderalnya, Pdt. Francois Pihaatae mengatakan Pemerintah negara-negara regional tidak seharusnya membiarkan kehadiran Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di Forum PIDF untuk mengaburkan isu hak penentuan nasib sendiri di West Papua.



    Pihaatae yang juga mewakili masyarakat sipil yang terdiri dari Pacific Conference of Churches  (PCC), Ecumenical Centre for Research, Education and Advocacy (ECREA) dan  the Pacific Network for Globalisation (PANG) mengatakan bahwa negara tidak boleh menghancurkan tanggung jawab masyarakat untuk mencari kebenaran.



    “Dimana perhatian hak penentuan nasib sendiri kami? apakah di bidang Pemerintahan, pembangunan dan Keamanan?, atau dukungan kuat kami untuk kemerdekaan West Papua? Kita tidak bisa membiarkan kunjungan kenegaraan untuk meredupkan kebijaksanaan dan penilaian kita,” kata Pihaatae dalam Press Release kemarin, Kamis (19/6) di Fiji.



    Gereja-Gereja di Pasific sangat konsen dengan hak penentuan nasib sendiri di regional Pasifik, terutama West Papua. Kunjungan SBY kemarin dinilai sebagai upaya Indonesia menggeser dominasi Selandia Baru dan Australia di Pacific Islands Forum (PIF).



    Menurut Radio New Zealand, para rohaniawan juga mempertanyakan apakah kunjungan Presiden SBY telah keluar dari keharusan di forum kemarin karena dukungan kemerdekaan West Papua telah mencapai tingkat kritis tersebut dalam Fiji, ujung tombak Melanesia Group (MSG), dan kawasan yang lebih luas.
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif