Menanggapi berbagai kasus penembakan dan tanggapan yang datang dari berbagai pihak, PMNews menyempatkan diri menelepon langsung Panglima Tertinggi Komando Revolusi Tentara Revolusi West Papua, Gen. TRWP Mathias Wenda di Markas Pusat Pertahanan (MPP). Berbagai tanggapan dari dalam negeri dan luar negeri disampaikan. Gen. Wenda terfokus kepada berbagai tanggapan secara rentetan yang disampaikan oleh Ketua Sinode…
Sudah Jelas: Pdt . Albert Yoku itu Gembala Berbulu Domba was originally published on PAPUA MERDEKA! News
|
Tampilkan postingan dengan label Penghianat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penghianat. Tampilkan semua postingan
Sudah Jelas: Pdt . Albert Yoku itu Gembala Berbulu Domba
Label:
Berita,
Papua Post,
Penghianat,
tentara revolusi west papua,
TRWP
Ramses Ohee Penghianat Sejarah Perjuangan Bangsa Papua
Ramses Wali: Pro Kontra Kaukus Parlemen Inggris
SIKAP : Ketua Umum Barisan Merah Putih, Ramses Ohee ketika
menandatangani pernyataan sikap menolak pelaksanaan Kaukus Parlemen
Inggris, Senin (13/10) kemarin dikediamannya
JAYAPURA (PAPOS) –Komponen masyarakat Papua peduli NKRI, menolak
dengan tegas pelaksanaan Kaucus Parlemen Inggris untuk perjuangan Papua
Merdeka pada (15/10), dan rencana unjuk rasa pada 15-17 Oktober yang
dinilai mengarah pada disintegrasi bangsa.
Pernyataan sikap ini disampaikan Ketua Umum Barisan Merah Putih,
Ramses Ohee, dihadapan ratusan masyarakat, Tokoh masyarakat, pemuda dan
mahasiswa maupun puluhan anggota TNI yang hadir di kediamannya, Senin
(13/10) kemarin. Sementara itu, komponen masyarakat lainnya menyatakan
sikap yang berbeda. Mereka mendukung peluncuran parlemen internasional
untuk Papua Barat di London Inggris dengan akan menggelar aksi dukungan
moril ke DPRP, yang direncanakan akan dilaksanakan, Kamis (16/10).
Pernyataan dukungan ini, terungkap dalam talk show Review Pepera 1969
di aula STT IS Kijne Abepura, Senin (13/10) kemarin, yang dipadati
ratusan pemuda, mahasiswa, serta masyarakat umum maupun saksi
pelaksanaan Pepera 1969.
Komponen masyarakat ini menamakan diri Panitia Nasional Papua Barat
untuk IPWP (International Parlement for West Papua) juga menggelar
pamflet pernyataan sikap yang ditempel di depan masyarakat, pemuda, yang
memadati aula tersebut.(berita lengkapnya baca di hal 4).
Komponen masyarakat Papua peduli NKRI merasa prihatin, perkembangan
situasi di wilayah Papua saat ini, karena masih ada saudara-saudara yang
mempersoalkan dan mengangkat kembali masalah Pepera tahun 1969 yang
sudah final di PBB dan Papua sah merupakan bagian tidak terpisahkan dari
NKRI.
“Upaya-upaya untuk memperjuangkan Papua lepas dari NKRI oleh gerakan
separatis Papua Merdeka dengan cara menimbulkan gejolak sosial politik
yang dilaksanakan pada 15/17 Oktober merupakan pengingkaran dan
pengkhianatan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Ramses
Ohee yang juga adalah salah satu pelaku sejarah pejuang Pepera ini.
Untuk itu, lanjutnya, komponen masyarakat Papua peduli NKRI yang
terdiri dari Barisan Merah Putih, Ondoafi, Ondofolo, Kepala Suku,
Organisasi Keluarga Besar TNI/POLRI, Pejuang Trikora, Menwa, Pramuika,
Tomas, Todat, Toga, Toper, PKRI, Masyarakat Adat, Paguyuban, GM Trikora,
FKPPPIP menghimbau masyarakat agar tidak terprovokasi dan terpengaruh
serta tidak mengikuti ajakan SMS gelap maupun selebaran-selebaran yang
disebarkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
Hal ini terkait dengan rencana unjuk rasa yang mengarah pada
disintegrasi bangsa pada tanggal 15 dan 17 Oktober. “Kami meminta kepada
Gubernur, Ketua DPRP dan Ketua MRP untuk menyampaikan penolakan secara
tegas terhadap pelaksanaan Caucus Parlemen di Inggris untuk perjuangan
Papua Merdeka, karena Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dari
Indonesia dan negara lain tidak boleh ikut campur,” kata Ramses Ohee
menegaskan.
Selain itu, meminta agar eksekutif segera mensosialisasikan PP 77
tahun 2007 tentang lambang daerah, agar masyarakat di Papua mengerti
tentang pelarangan pengibaran bendera Bintang Kejora, lagu Hai Tanahku
Papua dan lambang burung Mambruk yang selama ini dipakai kelompok
separatis Papua merdeka, karena sebagai bangsa Indonesia mereka sudah
mempunyai bendera Merah Putih, lambang burung Garuda dan lagu kebangsaan
Indonesia Raya.
Sosialisasi ini perlu agar tidak terulang kembali kasus pembakaran PP
77 oleh DAP di depan kantor DPRP. Pihaknya juga meminta kepada aparat
keamanan mengambil langkah-langkah tegas sesuai hukum yang berlaku
terhadap gerakan separatis di Papua sehingga tidak mengganggu dan
menghambat pembangunan di Papua yang sedang melaksanakan Otsus.
Terakhir, pihaknya juga meminta kepada Gubernur, DPRP dan MRP segera
menyelesaikan Perdasi/Perdasus yang merupakan penjabaran UU Otsus
sebelum berakhir masa jabatan DPRP periode 2004/2009. (frida)
Ditulis Oleh: Frida/Papos Selasa, 14 Oktober 2008
Inilah Orang Papua yang Menjual Rakyatnya Sendiri Kepada NKRI
BMP Kecam Pendiskreditkan NKRI
Catatan SPMNews:
Ingatlah banga Papua, bahwa Gueteres Papua yang dulunya kita pikir orang dari tempat lain itu sudah muncul di ibukota Papua Barat, bernama Ramses Ohee. Coba dia maju lawan kalau bisa????
—————————
Ingatlah banga Papua, bahwa Gueteres Papua yang dulunya kita pikir orang dari tempat lain itu sudah muncul di ibukota Papua Barat, bernama Ramses Ohee. Coba dia maju lawan kalau bisa????
—————————
Ramses Ohee
JAYAPURA (PAPOS) –BMP (Barisan Merah Putih), mengecam ulah pihak-pihak
yang mengatasnamakan organisasi seperti DAP (Dewan Adat Papua), KNPB
(Komite Nasional Papua Barat), ONPB (Ototitas Nasional Papua Barat) yang
selama ini mendiskreditkan NKRI dan memprovokasi masyarakat.
“Kami minta tindakan sekelompok organisasi yang telah memprovokasi
masyarakat agar segera dihentikan, karena itu adalah upaya untuk
memisahkan Papua dari NKRI,” kata Ketua BMP Ramses Ohee kepada wartawan
usai acara pembacaan pernyataan BMP kepada wartawan kediamannya, Jumat
(5/12).
Sekelompok organisasi tersebut lanjut dia, telah memutarbalikan fakta dengan pernyataannya seakan pemerintah negara Vanuatu, Newzeland dan anggota parlemen dan lain-lain sebagainya mendukung untuk penentuan nasib bagi Papua Barat.
Menurutnya, pernyataan itu pernyataan yang menyesatkan karena sampai
saat ini pemerintah Newzeland, tidak pernah mengeluarkan surat dukungan
secara resmi kepada organisasi Papua Merdeka (OPM).
Bahkan pelaksanaan Pepera 1969 yang dinyatakan cacat, dan meminta PBB
mengakui kemerdekaan Papua Barat pada tanggal 1 Desember 1961, oleh
sekelompok organisasi tersebut juga merupakan pernyataan yang salah,
karena pada tahun 1969 rakyat Papua telah memutuskan untuk bergabung
dengan NKRI.
Ramses mengatakan, pernyataan bahwa Papua Barat merupakan tanah
darurat adalah pembohongan publik yang cenderung tendensius, karena
status tanah Papua berstatus tertib sipil dan situasi Papua hingga saat
ini aman dan kondusif.
Untuk itu BMP sebagai barisan yang peduli terhadap tanah Papua dan
juga NKRI meminta kepada TNI/Polri agar menindak tegas tokoh perorangan
maupun kelompok yang selama ini telah mengeluarkan statement anti
republik Indonesia, yang menyatakan suatu pernyataan pilitik dalam
memisahkan diri dari NKRI.
“Aksi sekelompok massa yang berlangsung pada tanggal 1 Desember di makan Theys juga merupakan aksi Makkar,” terang Ranses lagi.
Dikatakan, BMP dalam situasi apa pun siap mempertahankan Papua agar
tetap bersatu dengan NKRI, meski ada upaya sekelompok orang yang ingin
memisahkan Papua dari NKRI.
“Silahkan jika ada organisasi-organisasi yang mau menentang NKRI,
atau mau memisahkan Papua dari NKRI, kami BMP siap melawan mereka,” ucap
Ramses Ohee.
Sebagai anak-anak Papua, BMP, kata Ramses telah bertemu sekelompok
organisasi tersebut membicarakan tentang keinginan mereka memisahkan
diri dari NKRI, namun mereka tetap pada pendapatnya yang menginginkan
Papua tetap merdeka.(lina)
Ditulis Oleh: Lina/Papos
Sabtu, 06 Desember 2008
Sabtu, 06 Desember 2008
Ramses Ohee Menhianati Perjuangan Sejati Bangsa Papua
Ramses Ohee : Papua Tak Bisa Dipisahkan dari NKRI
[JAYAPURA] Barisan Merah Putih dan Komponen Masyarakat Peduli
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Tanah Papua menyatakan
Papua tak bisa dipisahkan dari NKRI. Sebab, Indonesia adalah negara yang
memiliki keagaman suku dan ras antara lain Melayu, Arab, Tionghoa, dan
Melanesia.
Karena itu Papua adaah bagian sah dari Indonesia Raya sejak integrasi
1 Mei 1963. Jadi pernyataan bahwa ras Melanaesia yang ada di Papua
adalah provokatif dan tidak berdasar.
Hal itu disampaikan Ketua Barisan Merah Putih, Ramses Ohee didampingi
sekretarisnya Yonas A Nussy dalam pernyataan sikap kepada wartawan di
Jayapura, Papua, Jumat (5/12) petang.
Pernyataan ini disampaikan Rames Ohee terkait atas Deklarasi Bangsa
Papua Barat yang dibacakan Sekjend Presedium Dewan Papua, Thaha Alhamid,
pada perayaan ibadah peringatan 1 Desember, hari yang disebut-sebut
Hari Kemerdekaan Papua Barat, di Taman Peringatan Kemerdekaan dan
Pelanggaran Hak Asasi Manusia (Memori Park Freedom and Human Right
Abuse) di Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin (1/12) lalu.
Diungkapkan seperti kita ketahui ras Melanesia adalah bagian yang
tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia, karena bukan hanya masyarakat
Papua saja yang memiliki ras Melanesia. Tetapi, di daerah Indonesia
lainnya seperti Nusa Tenggara Timur dan Pulau Maluku juga ras Melanesia.
Mereka hidup rukun dan damai bersama saudara-saudara-nya sebangsa dan
setanah air Indonesia, yang berideologikan Pancasila dengan semboyan
Bhinneka Tunggal Ika.
“Sedangkan pelaksanaan Pepera 1969 cacat hukum dan moral, serta tidak
sah serta meminta Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mengakui
kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961. Kami barisan Merah Putih di
Tanah Papua menyatakan bahwa pernyataan tersebut tidak berdasar, karena
saya selaku Ketua Umum yang juga sebagai pelaku sejarah Pepera 1969,
mengetahui secara persis bagaimana pelaksanaan Pepera 1969,”ujar Ramses.
Pembohongan Publik
Ditegaskan Ramses, rakyat Papua saat itu memutuskan untuk bergabung
dengan NKRI dan telah disetujui dan ditetapkan PBB melalui resolusinya
Nomor 2504 Tanggal 19 November 1969.
“Yang berarti, Papua adalah mutlak bagian yang tidak terpisahkan dari
NKRI. Pernyataan deklarasi politik yang menyatakan Pepera tidak sah
adalah pembohongan publik, untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu
yang ingin agar pembangunan di Papua melalui Otsus tidak berjalan
lancar, “ujarnya.
Sedangkan Papua tanah darurat, menurut Ohee, adalah pernyataan
pembohongan publik dan cenderung tendensius, karena sampai saat ini
status Tanah Papua merupakan tertib sipil dan tanah damai.
Dia menilai pernyataan PDP yang meminta PT Freeport ditutup dan
eksploitasi gas alam oleh British Petrolium Indonesia di Tangguh,
Bintuni, Papua Barat, harus ditutup karena melakukan pelanggaran hak
asasi manusia dan genoside di Tanah Papua adalah sangat tidak benar.
Barisan Merah Putih dan komponen masyarakat peduli NKRI meminta Tom
Beanal yang mengklaim dirinya sebagai Pemimpin Bangsa Papua Barat,
adalah salah satu komisaris PT Freeport yang digaji sekitar Rp 50 juta
per bulan, dan telah menikmati fasilitas yang diberikan Freeport harus
menolak rencana penutupan tersebut.
Selain itu, Ramses mempertanyakan, masyarakat tujuh suku di sekitar
area tambang PT Freeport yang menerima dana 1 persen dari pendapatan
perusahaan tersebut PT Freeport, berniat menutupnya.
“Sangatlah aneh apabila tujuh suku dengan tokohnya Tom Beanal sendiri
ingin menutup PT Freeport, sementara yang bersangkutan menikmati
fasilitasnya. Itu berarti Tom Beanal melakukan pembohongan terhadap diri
sendiri,” ujarnya.
Menanggapi dukungan dari berbagai Negara Uni Eropa, Amerika Serikat,
Vanuatu, Negara Kepulauan Pasifik, dan Anggota Parlemen Australia
terhadap penentuan nasib sendiri bagi Papua Barat, adalah pernyataan
yang tidak mendasar.
Karena tidak ada negara yang mengeluarkan surat dukungan secara resmi
pada organisasi Papua Merdeka. ” Sampai saat ini, negara-negara
tersebut masih mendukung keberadaan Papua sebagai bagian dari NKRI,
“ujarnya.[154]


