Welcome to La Pago ★ Heart of Papua ★ Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua ★ Perjuangan Melawan Antara Tipu dan Benar, Benar Melawan Tipu".
Headlines News :
 photo SYUKUR1_zpsb8b9b75c.gif
 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
★LA PGO ★HEART OF PAPUA ★Voice of the Free Papua Central Highlands Region of Papua★. Diberdayakan oleh Blogger.
    ★★★Ingin Bergabung Bersama Kami Kontak Di★★★ =======>>>melanesiapost@gmail.com<<<=======

    ★★★Komando Nasional TPN PB★★★

    ★★★Markas Pusat Pertahanan TRWP★★★

    Tampilkan postingan dengan label Lembah Baliem. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Lembah Baliem. Tampilkan semua postingan

    Sejarah Perjuangan Papua Merdeka

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg  photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    Sejarah Perjuangan Papua Merdeka

    Ulasan Singkat untuk Menempatkan PMNews dalam Konteks Kampanye Papua Merdeka

    Fakta dari perjuangan bangsa Papua antara lain:

    1. Perjuangan identitas ASPIRASI bangsa Papua di Babo Bentuni 1930-an.
    2. Perjuangan bersenjata KORERI di Biak Teluk Gelvijnk/ Cenderawasih 1940-an.
    3. Permulaan nama post Hollandia 1910.
    4. Waktu Sekutu Gen.MacA rthur1944 Belanda mulai buka tata administrasinya namanya NICA (NederlandsIndies Adsministration). Sebelum perang Pasifik tanah Papua tidak termasuk dalam wilayah East Indies /VOC/ pemerintahan Batawi.
    West Papua Topographic Map
    West Papua Topographic Map (Photo credit: Wikipedia)

    Proklamasi Kemerdekaan 1 Juli 1971

    Papua Merdeka News mengakui berdasarkan Undang-Undang Revolusi West Papua tentang Proklamasi Kemerdekaan 1 Juli 1971 di Waris Raya, Port Numbay.

    PROKLAMASI

    Kepada seluruh rakyat Papua, dari Numbai sampai ke Merauke, dari Sorong sampai ke Balim (Pegunungan Bintang) dan dari Biak sampai ke Pulau Adi.

    Dengan pertolongan dan berkat Tuhan, kami memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumumkan pada anda sekalian bahwa pada hari ini, 1 Juli 1971, tanah dan rakyat Papua telah diproklamasikan menjadi bebas dan merdeka (de facto dan de jure).

    Semoga Tuhan beserta kita, dan semoga dunia menjadi maklum, bah-wa merupakan kehendak yang sejati dari rakyat Papua untuk bebas dan merdeka di tanah air mereka sendiri dengan ini telah dipenuhi.

    Victoria, 1 Juli 1971
    Atas nama rakyat dan pemerintah Papua Barat,

    Seth Jafet Rumkorem

    (Brigadir-Jenderal)
    3 Desember 1974

    Dalam upacara pembacaan proklamasi itu, Rumkorem didampingi oleh Jakob Prai sebagai Ketua Senat (Dewan Perwakilan Rakyat?), Dorinus Maury sebagai Menteri Kesehatan, Philemon Tablamilena Jarisetou Jufuway sebagai Kepala Staf Tentara Pembebasan Nasional (TEPENAL), dan Louis Wajoi sebagai Komandan (Panglima?) TEPENAL Republik Papua Barat.

    Era Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1 Juli 1971

    Setelah proklamasi kemerdekaan ini terjadilah perpecahan di dalam tubuh OPM, khususnya antara Seth Jafet Roemkorem dengan Hendrik Jacob Prai yang berakibat perpecahan basis atau markas pertahanan mereka. Organisasi perjuangan sayap militer juga terpecah menjadi Tentara Pembebasan Nasional (TPN) di bawah komando Seth Jafeth Roemkorem yang sering dijuluki sebagai kubu Markas Victoria (disingkat Marvic) dengan Tentara Pembebasan Nasional (TPN); dan Kubu Pembela Kebenaran (atau disingkat Markas Pemka) pimpinan Hendrick Jacob Prai dengan Tentara Pembebasan Nasional (TEPENAL).

    TEPENAL kemudian membentuk beberapa Panglima Daerah dan bentukan KODAP (Komando Daerah Pertahanan) dan sampai saat ini masih eksis di rimbaraya New Guinea, yaitu antara lain KODAP III Nemangkawi untuk wilayah Kabupaten Fak-Fak (Panglima Kelly Kwalik), KODAP II untuk kabupaten Jayawijaya (Panglima Mathias Wenda), KODAP V wilayah Papua Selatan (Panglima Bernardus Mawen); dan KODAP IV Paniai (Panglima Tadius Yogi).

    Para panglima bentukan Jacob Hendrik Prai ini masih beroperasi sampai hari ini, sementara turunan dari Markas Victoria terbagi menjadi beberapa kubu seperti Hans Richard Joweni (di wilayah Sarmi) dan Melkias Awom (di Biak). Markas Victoria kemudian dikendalikan oleh Brig. Jend TPN Hans Bomay bersama Letnan Jenderal TPN Lukas Tabuni, bersama Rev. Jend. Mandin Maah Jikwa dan Chief Jend. Obarek B. Yikwa, yang telah meninggal dunia, dan diteruskan oleh General Tiben Pagawak, Lego Yikwa dan Danny Kogoya. Kini (2014) Lego Yikwa dan Danny Kogoya telah meninggal dunia.

    Sebelum penyerahan tongkat komando kepada General Mathias Wenda basis Markas Victoria (TPN) pimpinan Seth Jafet Roemkorem telah kosong karena friksi dan perang saudara antara kubu PEMKA dengan kubu Victoria. Capt. Mathias Wenda sebagai Komandan Operasi di era kepemimpinan Jacob Prai diperintahkan untuk mengamankan situasi lapangan, khususnya pucuk pimpinan komando Papua Merdeka yang mendua sehingga terjadi peperangan hebat antara kedua kubu di wilayah perbatasan West Papua - Papua New Guinea, tepatnya di kampung Wutung.

    Penangkapan dan Pengasingan Pimpinan OPM oleh Pemerintah Papua New Guinea

    Menanggapi pertikaian di dalam tubuh perjuangan Papua Merdeka yang tidak sehat, maka pemerintah Papua New Guinea melangsungkan Operasi Penangkapan para kunci pecah-belah dalam tubuh perjuangan Papua Merdeka. Hasilnya Jacob Prai, Seth Roemkorem dan Otto Ondawame ditangkap dan dijebloskan ke penjara Bomana, Papua New Guinea, disusul beberapa komandan lapangan mereka seperti Alex Derey dan Geradus Tom (Komandan Mata Satu). Seth Roemkorem dan dua komandan lapangan ini minta suaka dan diterima menetap di Negeri Belanda. Sementara sang Komandan PEMKA Jacob Prai dan sekretarisnya Otto Ondawame memintakan suaka dan diterima oleh Pemerintah Sosialis Swedia waktu itu, dan sampai hari ini keduanya berkewarga-negaraan Swedia.

    Skenario pemerintah PNG waktu itu kedua kubu diberi Surat Undangan secara terpisah tetapi pada waktu bersamaan. Isu Surat menyatakan perlu ada pertemuan antara pimpinan OPM dan pimpinan PNG untuk membicarakan bantuan PNG untuk Papua Merdeka. Untuk itu mereka diundang datang ke Kota untuk pembicaraan lebih lanjut. Karena undangan dimaksud ditandatangani oleh pejabat resmi dengan kop surat yang resmi, maka tanpa diketahui baik Prai maupun Ondowame dan Roemkorem datang ke kota pada waktu bersamaan. Mereka kemudian ditangkap pada waktu bersamaan, dan dipenjarakan di penjara Bomana Papua New Guinea secara bersama-sama sambil menunggu mereka minta suaka.

    Menyusul mereka juga ditangkap panglima lain, yaitu Alexander Derey dan Geradus Tom (sering dipanggil Komandan Mata Satu). Keduanya kini berkewarga-negaraan Belanda dan aktiv berbicara atas nama OPM di pertemuan-pertemuan informal di antara orang Papua.

    Sementara terjadi operasi sapu bersih di antara pejuang Papua Merdeka sendiri telah juga hadir Ottow Ondawame, seorang pemuda dari Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih dan Leo Wakerkwa dari Program Studi Bahasa Inggris FKIP Universitas Cenderawasih. Kedua pemuda membantu Panglima PEMKA Jacob Prai.

    Laurentz Dloga dan Tentara Revolusi West Papua

    Di antara mereka juga hadir seorang tokoh perjuangan Papua Merdeka yang telah melakukan banyak pekerjaan yang cukup berarti bagi kemerdekaan West Papua, yaitu Laurentz Dloga (Logo). Kehadiran dia memungkinkan terbentukan Tentara Revolusi West Papua, dan telah menjalin kerjasama dengan Negara-negara yang sudah merdeka, terutama Papua New Guinea. Menteri perhubungan dan juga perdana Menteri Papua New Guinea waktu itu Iambeki Okuk (seorang Kepala Suku dari pegunungan Papua Timur, tepatnya Provinsi Goroka). Keduanya dibantu oleh Gabriel Ramoy dan Powes Parkop yang waktu itu ialah mahasiswa.

    NKRI bekerja extra keras dan mereka berhasil menghabisi nyawa dari Iambeki Okuk di Australia, membunuh Laurentz Dloga di Markas Victoria (oleh pasukannya sendiri) dan membenjarakan Powes Parkop (saat ini -2014- menjadi Gubernur DKI Port Moresby) dan Gabriel Ramoy (saat ini -2014- anggota parlemen di Provinsi Sandaun.

    Ada yang menganggap penangkapan ini sebagai keberhasilan operasi intelijen NKRI, akan tetapi menurut PMNews peristiwa ini murni sebagai tanggapan PNG terhadap realitas friksi dan faksi yang ada di dalam perjuangan Papua Merdeka. Buktinya selang beberapa pekan setelah penangkapan mereka, maka Laurentz Dloga dan Mathias Wenda dipanggil dan diarahkan oleh pemerintah Papua New Guinea untuk merapihkan barisan pertahanan dan meneruskan perjuangan bangsa Papua di pulau New Guinea.

    Papua New Guinea shares the island of New Guin...
    Papua New Guinea shares the island of New Guinea, world's second largest, with two Indonesian provinces (Photo credit: Wikipedia)

    Pucuk Komando Jatuh ke Tangan Gen. TEPENAL Mathias Wenda

    Tongkat Komando TEPENAL diserahkan oleh Jacob Prai kepada Matius Tabu (karena Jacob Prai ditangkap oleh polisi PNG waktu itu). Kemudian Matisu Tabu juga ditangkap oleh NKRI. Beberapa hari menjelang penangkapannya tongkat Komando diserahkan kepada BrigGend. TEPENAL Mathias Wenda.
    Sebelum penyerahan tongkat komando telah diakukan penaikan pangkat dalam masa darurat untuk Gen. Mathias Wenda dari Brig.Gend menjadi General TEPENAL Mathias Wenda. Masa ini tongkat komando Revolusi West Papua ada dalam kondisi genting karena pertikaian di dalam tubuh Organisasi Papua Merdeka dan operasi dari pemerintah PNG serta operasi pengejaran dan penangkapan oleh ABRI NKRI.
    Setelah tongkat Komando jatuh ke tangan Gen. TEPENAL Mathias Wenda, maka dilakukan rapat-rapat tingkat Perwira antara kubu Pemka dengan kubu Viktoria, yang akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk menggabungkan kedua faksi ke dalam satu kubu bernama Tentara Pembebasan Nasional - Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM).

    Sejak masa inilah nama TPN/OPM mulai santer dipakai. Sedangkan sebelumnya nama TEPENAL dan TPN dipakai secara terpisah, tidak digabungkan dengan penggunaan nama OPM.

    General Mathias Wenda sebagai seorang Kepala Suku Besar dari Suku Walak di Lembah Baliem, maka perbedaan dan pembedaan antara organisasi perjuangan Papua Merdeka sayap militer dan sayap politik menjadi kabur. General Wenda menjalankan kepemimpinan ala Panglima Perang dalam suku-suku di pegunungan Tengah Papua.

    Setelah puluhan tahun lamanya, dengan kemunculan pemuda dari Tanah Papua seperti Jonah Penggu (sering memanggil dirinya bermarga: Wenda) Amunggut Tabi dan disusul Benny Wenda, maka terjadi upaya-upaya pembenahan lebih lanjut. Diupayakan berkali-kali untuk harmonisasai dan konsolidasi hubungan kubu Pemka dan Victoria, tetapi usaha-usaha di rimba New Guinea tidak begitu sukses. Yang berhasil dan nampak ada hasilnya ialah pembentukan WPPRO (West Papua Peoples Representative Office) oleh Andy Ayamiseba (OPM Victoria) dan Otto Ondawame (OPM Pemka).

    Kedua tokoh OPM (Ayamiseba dan Ondawame) terus membangun komunikasi dengan para gerilyawan di rimba New Guinea. Hasilnya para penglima dari kubu Pemka dan Viktoria berhasil menjumpai kedua pemimpin di Vanuatu mulai tahun 2003 sampai 2007 secara berturut-turut datang dan pergi secara bergantian. Dalam pada itu dibentuk-lah organisasi baru bernama WPNCL (West Papua National Coalition for Liberation) di mana para tokoh OPM kubu Victoria (Rex Rumakiek dan Andy Ayamiseba) dan OPM kubu PEMKA (Amungut Tabi, Benny Wenda dan Otto Ondawame) membangun komunikasi konstruktiv untuk menghapus dan menyembuhkan luka-luka tidak diharapkan yang pernah muncul dalam sejarah perjuangan Papua Merdeka.

    Akhirnya terbukti, Jend. TPN Hans Richard Joweni diangkat sebagai Ketua WPNCL dan Dr. John Otto Ondawame sebagai Sekretaris Jenderal. Perbedaan Pemka-Viktoria ternyata lebih berarti dan lebih berpengaruh di era kepemimpinan Prai-Roemkorem. Setelah Roemkorem meninggal dunia dan diteruskan oleh Ayamiseba, Rumakiek, dan Joweni serta Prai menjadi pensiun dari kegiatan politik Papua Merdeka dan diteruskan oleh Ondawame, Amunggut Tabi dan Benny Wenda tanpa ada bayangan atau pengaruh sedikitpun dari perpecahan yang pernah terjadi.

    Perpecahan dan perang saudara yang pernah terjadi kini menjali sejarah pahit, tetapi tidak berpengaruh begitu besar terhadap generasi muda pejuang Papua Merdeka. Walaupun begitu para lawan politik dan musuh kebenaran tidak pernah tinggal diam.

    Telah banyak kali NKRI berupaya menangkap dan memenjarakan dan juga membunuh khususnya Panglima Mathias Wenda, tetapi General Wenda dengan ketangkasannya telah meloloskan diri dari maut. Beberapa kali pernah dipenjarakan di Papua New Guinea dan diadili di sana, dengan tuduhan melakukan kegiatan illegal di Negara PNG. Akan tetapi dengan Hukum Adat sebagai seorang Kepala Suku ia berhasil membela diri, memupuskan harapan dan doa NKRI untuk merepatriasi Gen. Wenda ke Indonesia untuk dijatuhi hukum sesuai hukum colonial NKRI.

    Situs ini milik Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komute Kota Surabaya-Malang, copyright@SPM News Group Online Services dan dikelolah oleh Biro Pendidikan dan Propaganda.

    Masyarakat Adat Balim La-pago Papua Protes Dituduh Makar

    Masyarakat Adat Balim La-pago Papua Protes Dituduh Makar

    Chandra Harimurti 
     

    Proses penahanan dan pemeriksaan dilakukan secara berlebihan yaitu dengan tekanan dan teror.

     

    JAKARTA, Jaringnews.com - Masyarakat adat Balim La-pago di Papua melakukan protes atas tuduhan makar yang dilayangkan kepada Ketua Dewan Adat Lani Besar, Areki Winimbo. Areki ditangkap Polresta Jayawijaya bersama 2 petani, 1 aktivis dan 2 wartawan asing.

    Dewan Adat Balim La-pago, Lemok Mabel menjelaskan mereka yang ditangkap bersama Areki adalah petani Deni Dow, pertani Jornus Wenda, aktivis pendidikan Ahky Logo, wartawan Thomas Charles dan wartawan Valentine Baurrat. Mereka ditangkap, Rabu (6/8) lalu pukul 14.00 WIT. Sebelum menangkap, Polres Jayawijaya melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti.

    "Mereka ditangkap dan ditahan tanpa melalui suatu prosedur yang benar, proses penangkapan, penggeledahan, penyitaan dan penahanan oleh anggota kepolisian di Wamena, Kabupaten Jayawijaya penuh rekayasa dan tidak sesuai dengan mekanisme dan prosedur hukum," kata Lemok dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (23/8).

    Lemok menjelaskan proses penahanan dan pemeriksaan dilakukan secara berlebihan yaitu dengan tekanan dan teror. Mereka ditahan di tempat terpisah. Dua wartawan asing ditahan 6 Agustus malam, sementara 3 warga sipil ditahan keesokan harinya di Polres Jayawijaya. Namun mereka dipulangkan.

    Sementara Ketua Dewan Adat Lani Besar, Areki Winimbo ditahan dan ditetapkan sebagai tengsangka. Kepolisian Jayawijaya menuduh Areki melakukan perbuatan kar bersama anggota kelompok bersenjata di sana.

    "Tuduhan makar yang dituduhkan kepada kepala suku Lani Besar sangat tidak wajar dan tidak terbukti. Pemeriksaan terhadap Areki dilakukan di bawah tekanan kepolisian hinga dia menandatangani berita acara pemeriksaan dan surat penahanan," lanjut Lemok.

    Lemok bercerita, pasca penahanan itu tokoh masyarakat dan kepala suku di 3 kawasan besar, yaitu Suku Yali, Suku Hubula, dan Suku Lani beraudiensi dengan Polres Jayawijaya, 12 Agustus kemarin. Namun gagal.

    "Pihak Kepolisian Jayawijaya memilih bermusuhan dengan rakyat dari 3 suku besar itu," papar Lamok.

    Perlakukan Kepolisian Jayawijaya ini bukan pertama kalinya dilakukan kepada Masyarakat Adat Balim La-pago. Sebelumnya di tahun 2008 dilakukan penembakan kepada anggota masyarakat adat Balim, Opinus Tabuni, lalu Ismail Lokobal di 2010. Di 2012 juga dilakukan pembakaran terhadap kantor Masyarakat Adat Balim La-pago oleh kepolisian.

    Maka itu Masyarakat Adat Balim La-pago menyatakan sikap tidak percaya dengan kinerja kepolisian Jayawijaya. Dia meminta Polres Jayawijaya membebaskan Areki, 3 sipil dan 2 warga asing. Mereka juga meminta polisi berhenti melakukan pemanggilan terhadap warga adat.

    "Tuduhan terhadap Areki Wanimbo dengan tuduhan makar dan memilik hubungan dengan dua warga asing tidak benar dan tidak mendasar demi hukum. Itu harus dibatalkan demi hukum," jelas Lemok.
    (Chm / Hal)

    Lembah Baliem, Heart of Papua

    Kawin lagi... Suamiku istrinya baru lagi...
    Nangis lagi.. Aku jadi nang...


    "Halo pabos.. Selamat pagi"
    "Tumben sopan, biasanya hola halo doang. Besok cabut ya, ke gunung. Jangan sok iye, keenakan jadi anak pantai. Oke? Bersiaplah!"
    "Kemana bos...."

    Tuut...tuutt...tuutt..

    Lah?

    Pagi2 nomernya si bos udah nongol aja di layar hengpon.
    Gak pake endebra endebro si bos langsung nyuruh ogut cabut ke gunung. Pake sok misterius lagi.
    Nah, agak siangan baru dah itu email tiket masuk.

    Ternyatah sodara-sodara, saya mesti cabut ke...


    TARRRAAAA....





    Wamena mem! WAMENA!
    Pakubuminya Papua! Jantung Papua!
    Dan saya akan berada di bawah puncak tertinggi di Pasifik!
    Mamayoo, ini sungguh spektakuler..

    Ini, apaan sih..?


    Okelah,
    Berhubung posisi terakhir saya ada di Sorong, jadi satu-satunya cara ke Wamena adalah melipir dulu ke Jayapura.
    Dan satu-satunya cara dari Sorong ke Jayapura, pastilah lewat Manokwari.
    Pesawat sih banyak, tapi semuanya pasti mampir dulu di Manokwari.
    Jadi ya engkira-engkira rutenya akan menjadi seperti ini



    Biasalah, mentang-mentang mau diusir dari Sorong, jadi aja saya dipalak karokoe semaleman. Mending konser beneran, ini mah longser! Lagunya gak jauh2 dari Talak Tilu. Padahal subuh2 mesti udah cabut ke bandara buat nyegat Garuda dari Makassar. Walhasil barudak gak ada yang bisa dibangunin. Dasar pemalas dan tida tau sopan santun. Udah malak semaleman, gak ada yang mau nganter lagi. Ya sudah, motor kubawa sendiri aja ke bandara. Kuncinya dititipin di tukang abon gulung depan bandara. Biar ntar mereka ambil sendiri. Wakakaka....

    Nah, bagian depan Bandara DEO Sorong. Sebenernya foto ini diambilnya beberapa hari sebelumnya. Tapi pan sekarang datengnya subuh-subuh, nyetir motor sendiri lagi. Jadi pinjem foto dari masa lalu supaya ceritanya lebih runut. Hehehe..



    Nah, untung ibu tukang abon gulung sudah buka. Jadi bisa dititipin konci motor.
    Sayanya langsung masuk, cek in pake kalimat sakti, "Minta jendela dong mbaaakk..." Sambil dikedipin.



    Liat tipi dulu. Lumayan beragam destinasinya.



    Ruang tunggu di Bandara DEO terbagi ke dalam 2 section (#pret).
    Setelah lewat pos grepe-grepe (Ah saya demen!), inilah ruang tunggu section pertama.
    Biasanya jarang yg duduk sini. Paling yang mau udud-udud aja.



    Nah, di depannya baru ruang tunggu section dua yang lebih luas sekaligus gate gate gate.
    Masih sepi. Penumpang Wings ke Ambon su boarding.





    Daripada kesepian, mendingan ngumpul sama yang sejenis.



    Boarding pake bus setipe sama metro mini.
    Langsung masuk saja ke dalam perut PK-GRG



    Sedikit ngecek-ngecek di luar. Kali aja nemu susuatu. Ternyata tidak.



    Abis mbak-mbak pramugari helo-helo, langsung dah tancap.
    Ojol-ojol udah di atas langit pagi yang cerah.





    Puncak-puncak gunung menyembul di balik awan



    Lho eee.. Mangkin banyak puncak gunung yang ngintip.



    Lama-lama malah awannya yang sekarang ngumpet-ngumpet di antara gunung



    Sekarang clearr top ten. Gak ada awan. Jadi semua keliatan jelas.
    Sungai mengalir indah di selempitan gunung.
    Aeh. Bahasa apa itu selempitan



    Sayang kameranya kurang mumpuni. Maklum, kamera hengpon.
    Kalo pake kamera yang bisa dikeker-keker pasti lebih yahud.



    Ga pake lama, sudah mau landing di Manokwari. Cepat sekalih. Merem aja belum..





    Teluk di ujungnya runway Rendani.





    Nah entu runwaynya nongol dari bawah



    Muter dulu, dikasih bonus terbang toooh..



    Muter atas Pulau Mansinam. Kotanya ada di seberang laut sana



    Keliatan patung Yesus yang baru selesai dibangun di puncak bukit



    Dan.., tinggal nunggu ban pesawat bergesek-gesek dengan landasan Rendani



    Transit di Manokwari cuma setengah jam, penumpangnya gak boleh turun.
    Jadi saya bobo-bobo ganteng aja dah.
    Ealah taunya kebo beneran. Kebablasan. Bangun-bangun udah mau landing di Sentani aja.

    Danau Sentani, tapi kok masih tinggi banget ya.



    Mangkin jauh ninggalin danau. Kebablasan masuk Papua Nugini lagi ntar ah.





    Seperti yang telah dinyana sebelumnya, disuruh ter muter dulu.



    Ya udah, liat-liat pemandangan aja walaupun mata tetep kiyip-kiyip



    Muter sampe 4 kali! Mamayooo.. Sibuk kalipun bandara Sentani ini. Jam-jam segini semua pesawat dari barat pada berdatangan, ngetem sebentar, langsung balik lagi. Belum pesawat-pesawat cargo yang jumlahnya juga bejibun. Belum pesawat-pesawat kolecer ke pedalaman, belum pesawat-pesawat misi. Jayarame pura sekali dah. Jadinya gak pandang bulu, mau pake tulisan Skyteam ngejeblak, tetep antri yaw. Hehehe.. Ga nyambung jek



    Akhirnya makin rendah dan lurus,







    Dikit lagi



    Rem om.. reemm..



    Kalo sudah liat terminal, berarti sudah di ujung runway. Hehe, eh, siyus. Posisi terminalnya hampir di ujung runway itu DJJ.



    Wis, bubar! Bubar!



    Sambil nunggu bagasi datang, kita popotoan dulu suasana daripada ruangan ambil bagasi.
    Signage-nya ke-UPG-UPG-an yak. Gapapa, bagus.



    Ternyata salah satu conveyor di DJJ sudah bergaya masa kini. Model yang miring-miring gituh..
    Jangan2 ini yang pertama di Indonesia yak? Super sekali.



    Lima menit kemudian, sebuah kebodogolan baru ogut sadari sendiri. What is 'kebodogolan'?
    Saya tidak punya bagasi. Ngapain ikut sok sibuk nunggu bagasi? Cabuuutt..!

    Begitu keluar langsung dihadang pegunungan Cycloops (Bener ga ya nulisnya? Kayaknya si bener)



    Berhubung tiket lanjutan ke Wamena baru dapet 2 hari kemudian, jadi saya mesti nginep dulu di Sentani. Iya nginepnya di daerah Sentani aja biar ga jauh dari bandara. Soalnya pusat kota Jayapura itu jauh banget. Sejaman lah naik mobil dari Sentani. Itu kalo gak macet. Kalo macet ya.. sejam lebih sepuluh menit. Hahaha... Eh, jangan salah, disini udah mulai macet jugak. Apalagi di daerah Abepura, pertengahan antara Sentani dan Jayapura. Gak tau apaan itu yang bikin nyumbat.

    Besok lagi ya, lapar nih. Cao.

    Ending yang sangat tida sopan
     
     photo TPamonaanigif_zpsabf50008.gif